Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Sambutan Panas


__ADS_3

“Genaro!” dengan diiringi senyuman hangat, Adriano merentangkan tangannya pada pria itu. Dia adalah seseorang yang amat dikenalnya sejak lama. Genaro merupakan ajudan sekaligus penasihat pribadi mendiang Vincenzo. Pria tersebut memutuskan untuk berhenti dari dunia hitam, setelah bosnya meninggal dunia. Genaro pun memilih untuk pindah ke Amerika.


“Kau makin tinggi dan tampan saja,” sambut Genaro seraya memeluk Adriano dengan penuh keakraban. “Apa yang membuatmu datang kemari?” tanyanya kemudian.


“Dia,” Adriano menunjuk ke arah Mia dan Miabella yang baru saja keluar dari hanggar dan datang menghampirinya.


“Siapa dia?” Genaro menautkan alisnya.


“Ini istriku, Florecita Mia. Dia adalah janda dari Matteo de Luca,” jawab Adriano sambil merengkuh pinggang ramping Mia.


“Matteo de Luca? Apa kabar pria bar-bar itu?” nada bicara Genaro terdengar setengah mengejek.


“Pria bar-bar yang kau maksud sudah meninggal. Dia tewas ditembak oleh orang tak dikenal,” sahut Mia dengan suara yang bergetar.


“Aku kemari bermaksud untuk menyelidiki kematiannya,” sambung Adriano.


Genaro tampak terkejut. Akan tetapi, raut wajahnya segera berubah saat Pierre Corbyn berjalan mendekat. Dia kembali memasang muka ramah. “Pierre, apa yang terjadi dengan majikanmu? Tiba-tiba saja dia sangat peduli pada musuhnya,” sindir Genaro sembari menyalami ajudan Adriano tersebut.


“Banyak hal yang berubah selama beberapa tahun terakhir ini,” Pierre menepuk pundak Genaro pelan.


Sementara Mia sama sekali tidak merasa nyaman dengan Genaro. Hal itu terlihat dari gesturnya yang gelisah. Demikian pula Miabella yang lebih banyak bersembunyi di balik tubuh ramping ibunya.


“Kuharap kau tidak lupa akan apa yang Matteo lakukan pada Vincenzo,” mata Genaro tajam menatap wajah tampan Adriano.


“Aku sudah mencari tahu tentang semuanya. Bukan Matteo yang telah melenyapkan kakak sepupuku,” sanggah Adriano yakin, tetapi masih dengan gayanya yang terlihat kalem.

__ADS_1


“Oh, ya? Apakah janda Matteo yang mengatakannya padamu?” sindiran Genaro terdengar semakin pedas, membuat Adriano merasa harus bertindak tegas.


“Hentikan! Kau memang salah satu temanku, tapi itu tak berarti kau boleh berbicara seenaknya! Aku tak akan membiarkan siapapun menyinggung atau menyakiti Florecita Mia! Dia adalah istriku sekarang. Sudah menjadi kewajibanku untuk melindunginya! Suka atau tidak, kau harus menerima kenyataan itu!” suasana yang tadinya hangat dan akrab, kini berubah menjadi tegang. Namun, hati Mia mendadak menghangat. Secara terang-terangan, Adriano membela dirinya, membuat Mia terkesan pada pria bermata biru itu.


Pierre dapat memahami keadaan secara cepat. Dia segera bertindak sebagai penengah. “Hei, sudahlah. Jangan sia-siakan momen langka ini. Sudah lama kita tak saling bertemu. Ayolah,” bujuknya dengan nada bicara yang terdengar setenang mungkin.


Adriano mendengus kesal, lalu merangkul Mia. Dia pun tak ingin semakin tersulut emosi, apalagi di sana ada Miabella. “Tadinya aku ingin bersantai di rumahmu sambil membicarakan banyak hal. Sepertinya aku harus mengubah rencanaku,” keluhnya. “Ayo, Mia!" ajaknya.


Adriano sudah mengajak Mia ke arah lain saat Genaro memanggilnya.


“Tunggu! Maafkan aku, Adriano. Aku hanya sedikit terkejut. Itu saja. Namun, kuhargai setiap keputusanmu,” Genaro kembali merentangkan tangannya, memandang Adriano penuh sesal.


Adriano kembali berbalik dan menatap Genaro dengan lekat. “Apa kau masih menyediakan kopi kesukaanku?” kelakarnya, lalu tersenyum lebar. Senyuman yang dibalas dengan tawa lebar dari Genaro. Kedua pria itu kembali berpelukan.


Namun, tak lama mereka saling melepaskan pelukan ketika terdengar celotehan Miabella. “Daddy Zio, aku ingin berteduh. Di sini panas sekali. Nanti rambutku menghitam seperti rambutnya bibi.”


Bukannya menjawab, Mia malah menasihati Miabella, “Rambut hitam itu indah, Sayang. Daddy Zio, ayahmu dan Zia (bibi) Olivia, semuanya berambut gelap dan indah. Ibu sangat menyukainya.” Tak hanya Olivia, Adriano pun tersipu akan ucapan lembut Mia.


“Baiklah. Cukup dengan membuang waktunya. Kuantar kalian ke rumahku. Kita bersantai sejenak di sana,” Genaro mengangkat tangan sebagai isyarat agar semua orang mengikutinya.


Di luar hanggar, tampak beberapa mobil bercat hitam sudah siap menyambut Adriano dan rombongan. “Masuklah. Mereka akan mengantarkan kalian ke tempatku,” ujar Genaro ramah.


Tanpa menunggu lama, Adriano segera mengajak istrinya dan juga Miabella serta Olivia untuk masuk dalam salah satu kendaraan. Sementara Pierre dan beberapa anak buahnya memasuki mobil yang lain.


Kendaraan itu berjalan beriringan menuju satu kawasan di pusat kota Miami, lalu berhenti di sebuah rumah tiga lantai yang terlihat megah dengan halaman luas.

__ADS_1


“Selamat datang,” Genaro yang turun terlebih dulu. Dia segera membukakan pintu untuk tamu-tamunya.


Ragu, Mia melangkah di belakang tubuh tegap Adriano. Tangannya menggenggam erat jemari Miabella. Rasa tidak nyamannya semakin menjadi kala berkali-kali Genaro meliriknya dengan sorot aneh dan tak dapat diartikan.


“Kamar kalian ada di atas. Beristirahatlah dulu. Aku akan berbincang dengan suamimu,” ucap Genaro tanpa memandang pada Mia. Dia sibuk menunjukkan letak kamar pada kedua wanita tersebut.


“Genaro benar. Kalian beristirahatlah dulu,” ucap Adriano sembari mengecup lembut kening Mia. Sejenak dia mengawasi sosok istrinya bersama Miabella hingga menghilang ke lantai atas.


“Apa yang ingin kau selidiki di sini, Adriano?” tanya Genaro ketika di lantai bawah hanya tinggal mereka berdua.


“Seorang pria bernama Marcus Bolt memajang senjata rakitan Matteo de Luca di websitenya. Setelah kuselidiki alamat IP-nya, ternyata dia berada di negara bagian Florida,” papar Adriano.


“Di kota mana tepatnya?” tanya Genaro lagi.


“Di sini. Di Miami,” jawab Adriano sedikit berbisik.


“Marcus Bolt,” ulang Genaro seraya mengusap dagu. “Tunggu,” pria paruh baya itu lalu meraih ponsel dari saku celananya lalu menghubungi seseorang. Beberapa saat lamanya, Genaro bercakap-cakap dengan orang tersebut di telepon. “Akan kutunggu,” ucapnya sebelum mengakhiri panggilan.


“Kenalanku. Dia ahli dalam mencari nama seseorang,” Genaro mengarahkan telunjuknya pada layar ponsel yang baru saja mati. “Dia seorang hacker hebat. Lima menit lagi dia akan meneleponku," lanjutnya.


Tak lama setelah Genaro mengakhiri kalimatnya, ponsel pria itu kembali berdering. Genaro segera menjawab panggilan itu lagi dan mengangguk tanda mengerti. Raut wajahnya menandakan bahwa dia seakan tengah menghapal sesuatu. “Baik,” tutupnya kemudian. Dia lalu bergegas mencari alat tulis. Genaro tampak mencatat sesuatu di atas secarik kertas dan memberikannya pada Adriano. “Aku tak tahu kenapa harus membantumu dalam hal ini. Jujur saja, aku membenci Matteo karena telah menghancurkan klan Moriarty, tapi aku menyayangimu, Nak,” ucapnya tulus.


Adriano menerima kertas kecil itu dan membacanya. “Di daerah mana alamat ini?” Adriano mengernyitkan keningnya.


“Tidak jauh dari sini. Apa kau akan menyelidikinya hari ini juga? Jika kau mau, aku bisa mengantarmu,” tawar Genaro.

__ADS_1


“Aku akan mengajak Mia. Aku memerlukannya untuk menjelaskan tentang seluk beluk pekerjaan Matteo secara detail,” sahut Adriano. Dengan segera, dia menuju ke lantai atas dan memanggil sang istri. Sesaat kemudian, sepasang pengantin baru tersebut menuruni anak tangga sembari bergandengan tangan.


Sementara Genaro memandang mereka berdua dengan sorot pilu. “Aku yang menyetir,” ujarnya tanpa basa-basi, ketika Mia sudah berdiri di hadapannya. Wajah ramah pria itu hilang seketika. Dia pun berlalu mendahului mereka berdua.


__ADS_2