Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Flattered


__ADS_3

Olivia sekuat tenaga mendorong pria tinggi besar itu, meskipun dia tahu bahwa usahanya mungkin akan sia-sia. Namun, gadis itu tak mau tinggal diam. Olivia tak ingin kejadian memilukan yang pernah menimpanya kembali dia alami. Karena itu, sebisa mungkin wanita muda tersebut berusaha untuk mempertahankan dirinya.


Sementara pria tadi terus memaksa untuk mencium Olivia. Wajahnya kemudian menelusup serta menjelajahi pundak dan leher istri dari Arsen Moras, sembari meremas bagian depan dress yang dikenakannya. Olivia tak bisa untuk tidak menjerit, terlebih ketika tangan besar si pria berhasil merusak kancing dan menyobek bajunya. Benda-benda bulat tersebut jatuh dan berserakan di lantai.


“Hentikan!” teriakan nyaring menggema di dapur yang luas itu. Tampak Arsen berdiri sambil terengah-engah di pintu yang menuju ke taman belakang. “Kau apakan istriku!” seru pria tampan itu seraya menghambur ke arah pria tersebut.


Olivia beringsut mundur, lega sekaligus bergetar perasaannya, ketika Arsen menyebut dia sebagai ‘istri’ dengan suara yang begitu nyaring. Ditatapnya pria yang selama ini selalu tampil santai dan murah senyum, kini tengah dilanda amarah yang luar biasa.


Arsen membalas pria yang jauh lebih tinggi dan besar darinya itu tanpa rasa takut. Dia melayangkan pukulan berkali-kali ke bagian wajah, ulu hati dan juga perut. Pria itu tak sempat melakukan perlawanan karena gerak Arsen demikian cepat dan kuat. Dia tak berhenti memukuli sampai pria tersebut roboh dan jatuh tertelungkup di dekat kakinya. Arsen mengakhiri serangan dengan menginjak punggung pria itu sekuat tenaga hingga pingsan.


Merasa puas, Arsen menyeringai lalu menoleh ke arah Olivia. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan sorot mata yang seketika berubah.


Olivia mengangguk dengan tubuh yang masih gemetaran. Saat itu dia tak menyadari jika bajunya sudah robek dan menampakkan sebagian dada indahnya yang tertutup bra. Segera saja Arsen melepas blazer abu-abunya. Setengah berlari, diabmendekati Olivia dan memakaikan jas itu untuk menutupi bagian depan tubuh wanita cantik tersebut.


“Ayo, kuantar ke kamarmu,” ajak Arsen lembut. Direngkuhnya lengan sang istri, kemudian ditatap untuk sesaat. Dia dapat merasakan ketakutan yang teramat sangat dari tubuh rapuh wanita muda itu. "Ayo," ajaknya lagi. Arsen meraih pergelangan tangan Olivia, lalu menuntunnya menuju kamar. Selama tinggal di sana, mereka berdua memang tidur di ruangan terpisah.


Awalnya, Olivia menurut saja ketika Arsen menuntun dirinya. Akan tetapi, di saat mereka sudah setengah jalan, Olivia mendadak berhenti dan membeku. Dia menatap Arsen sembari menggeleng. “Kenapa?” tanya pria asal Yunani itu seraya mengernyitkan kening. Dia terlihat keheranan atas sikap sang istri.


"Aku takut,” Olivia mulai terisak. “Kenapa semua orang ingin menyakitiku?” dia mulai terisak pelan.

__ADS_1


Rasa bersalah di dalam diri Arsen kembali hadir. Olivia menjadi terlihat begitu lemah karenanya. Namun, Arsen harus tetap menunjukkan wibawanya. Dia tak ingin terlihat berlebihan. “Ayo. Ikutlah denganku,” pria tampan itu menarik lembut tangan Olivia yang telah sah menjadi istrinya. Dia membawa wanita muda tersebut ke dalam kamarnya di lantai dua. “Sudah kukatakan agat kita tidur sekamar saja. Dengan begitu, semua yang ada di sini tahu bahwa kau adalah milikku,” kelakarnya mencoba untuk menghibur sang istri yang masih terlihat bersedih.


“Itu hanya alasanmu saja!” sungut Olivia. Namun, dia tak menolak ketika Arsen membawanya ke kamar dengan ukuran lebih luas jika dibandingkan dengan kamar yang dia tempati.


“Duduklah,” tunjuk Arsen pada sofa yang terletak di dekat jendela. Setelah itu, dia membuka lemari baju berukuran besar yang terdapat di sudut lain kamar tersebut. Arsen berdiri di depan lemari tadi untuk beberapa saat. Setelah menemukan apa yang dia cari, barulah dirinya menarik sehelai pakaian.


“Aku sudah membelikanmu beberapa potong baju. Besok atau lusa, kita akan berbelanja lagi,” dia berjalan mendekati Olivia lalu duduk di sampingnya sambil menyodorkan dress manis berwarna biru muda.


Dengan agak ragu, Olivia mengulurkan tangan. Diamatinya dress baru itu tanpa bersuara. Apa yang Arsen berikan untuknya terlihat sangat indah. Dia pun akan merasa tidak sopan, jika tak berbasa-basi kepada pria yang merupakan suaminya sendiri. “Terima kasih,” ucap Olivia kemudian sambil menunduk dan mere•mas dress itu dengan lembut. Dari bahannya saja, dia sudah dapat memastikan bahwa pakaian yang Arsen berikan pasti dibanderol dengan harga mahal. Wanita muda berambut hitam tersebut kemudian memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya.


“Tak perlu berterima kasih. Kau sudah menjadi istriku. Merupakan kewajibanku untuk memenuhi segala kebutuhanmu," ujarnya. "Pakailah baju itu,” Arsen tersenyum lembut dan terlihat begitu menawan, membuat Olivia tertegun sejenak. Namun, dengan segera dia memalingkan wajah. Olivia tak ingin jika Arsen sampai melihat wajahnya yang mulai memerah karena malu.


“Aku tidak menangis,” jawab Olivia yang segera menutupi wajah. Usia yang masih terbilang muda jika dibandingkan dengan Arsen, membuat sisi manja wanita asal Italia itu terlihat dengan jelas.


Arsen mengembuskan napas pelan. “Sampai kapan kau menolak kehadiranku? Kenyataannya, kita sudah menjadi pasangan suami istri. Sebenci itukah dirimu padaku, Olive?" tanyanya. Dia lalu terdiam sejenak.


"Apakah aku tidak berhak mendapatkan maaf dan kesempatan untuk memperbaiki semuanya?” tanya Arsen lagi, meskipun pertanyaan pertama pun belumlah dijawab.


Olivia hanya terdiam. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Tak ada sepatah kata pun yang dia ucapkan. Olivia justru semakin rapat menutupi wajah cantiknya.

__ADS_1


“Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Kau jelas membutuhkan waktu untuk menerima semua ini. Maafkan aku, Olive,” ucap Arsen. Setelah itu, terdengar ketukan kencang di pintu kamar.


Hal itu membuat Olivia seketika berjingkat dan menjatuhkan baju baru yang dia letakkan di atas pangkuannya.


“Si-siapa itu?” tanyanya terbata. Rasa takut kembali muncul dan menguasai wanita muda tersebut.


“Tidak apa-apa. Ada aku di sini. Aku akan selalu melindungimu, Olive” ucap Arsen. Sudah menjadi tugasnya untuk menenangkan sang istri. Dengan langkah tegap dan juga terlihat tenang, dia berjalan ke arah pintu lalu membukanya sedikit. Arsen melihat dua orang berwajah sangar tengah berdiri di depan kamar. “Ada perlu apa?” tanyanya dengan nada datar.


“Apakah Anda yang menghajar Carlo hingga terluka?” salah satu dari dua penjaga itu balik bertanya padanya.


“Ya! Salahnya sendiri karena telah berani melecehkan istriku!” jawab Arsen dengan tegas.


“Istri?” ulang kedua orang itu kebingungan. "Siapa istri Anda?" tanya salah seorang dari mereka.


“Asal kalian tahu, Olivia adalah istriku. Barang siapa yang berani menyentuhnya, maka siapa pun itu akan berhadapan langsung denganku!” tegas Arsen tanpa rasa takut sedikit pun, padahal kedua pria di hadapannya memiliki postur yang lebih besar darinya.


“Benarkah itu? Kami harap Anda tidak berbohong, Tuan Moras. Tuan D'Angelo tidak akan menyukainya,” ancam pria itu dengan halus.


“Oh, tenang saja. Aku sudah mengenal lama bos kalian. Dia juga tahu jika aku bukanlah seorang pembohong. Olivia memang istriku. Ini peringatan untuk semua. Jika sampai ada di antara kalian yang berani mengganggu Olivia, maka selain berurusan denganku kalian juga akan kulaporkan kepada Adriano!” Arsen mengancam balik mereka. “Katakan juga kepada Carlo bahwa untuk saat ini aku akan berbaik hati padanya dengan tutup mulut. Akan tetapi, jika dia berani mengulangi lagi, maka jangan harap aku akan mengampuninya!”

__ADS_1


Dari dalam kamar, Olivia mendengarkan setiap kata yang terlontar dari mulut Arsen. Hati kecil wanita berambut hitam itu menghangat, tatkala pria tersebut secara terang-terangan membela dan melindungi dirinya. Kini, Olivia merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita, dan tentu saja dia harus berterima kasih atas apa yang telah Arsen lakukan untuknya. Tanpa sadar, sebuah senyuman muncul di sudut bibir. Olivia. Dia merasa begitu tersanjung. Ditatapnya Arsen yang telah kembali ke dalam kamar. Olivia pun segera menghampiri pria tersebut


__ADS_2