
Juan Pablo tertawa sinis sebelum mengarahkan pistol ke arah layar hologram tadi. Sesaat kemudian, tatap matanya menyipit, tapi terlihat sangat tajam. “Beristirahatlah dulu, Pak Tua. Biarkan aku melanjutkan pekerjaan yang tertunda,” ucapnya seraya melesatkan peluru pada kamera proyektor yang menempel di langit-langit terowongan. Gambar pria tua dalam hologram itu pun menghilang. Juan Pablo kemudian melanjutkan perjalanannya, hingga dia tiba di sebuah gerbang besi yang jauh lebih tebal dan juga lebih gelap dari gerbang sebelumnya.
Pria asal Meksiko itu mencoba membuka pintu penghalang tersebut, dengan cara menembak tombol panel yang berada di sisi gerbang. Akan tetapi, ternyata cara itu tak membuahkan hasil. Tak ingin menyerah, dia membuka tombol panel yang tertutup oleh kaca tadi. Beberapa saat lamanya, Juan Pablo mengamati angka-angka yang berada di sana dan mencoba memasukkan kata sandi. Namun semua usaha yang dia lakukan selalu saja gagal. Juan Pablo yang awalnya mencondongkan badan ke depan, kini menegakkan tubuhnya sambil mengacak-acak rambut. “Sial!” gerutu pria itu dengan penuh emosi. Dia lalu menghantam tombol penuh angka di depannya itu dengan sekencang mungkin.
Tak disangka, layar hologram yang tadi sempat menghilang, perlahan muncul kembali pada permukaan gerbang yang tertutup. “Sandi ini sebenarnya sangatlah mudah. Kau hanya perlu menekan sembilan kali angka enam,” ujar pria tua yang wajahnya kembali terbentuk melalui hologram.
Juan Pablo terdiam sejenak sambil menatap pria tua itu. “Untuk apa kau membantuku?” tanyanya dengan nada sinis.
“Tentu saja agar semuanya cepat selesai,” jawab pria tua itu sebelum kembali menghilang.
Juan Pablo terpekur untuk sesaat, sebelum pada akhirnya dia menggunakan sandi yang disebutkan pria tua tadi. Gerbang besi tersebut perlahan terbuka. Tampak sebuah ruangan luas yang lengang di baliknya. Ruangan itu dipenuhi meja kerja yang tertata rapi, membentuk setengah lingkaran dan mengelilingi sebuah layar monitor besar di tengah-tengah ruangan tersebut.
Di sana, terdapat satu unit komputer yang berada pada setiap meja dan kesemuanya berada dalam keadaan menyala. “Apa mereka terburu-buru meninggalkan tempat ini?” pikir Juan Pablo curiga sambil bersikap waspada. Dia juga sempat mengisi ulang dua pistol dalam genggamannya yang hampir kehabisan peluru.
Juan Pablo kemudian melangkah perlahan sambil mengelilingi ruangan. Mata elangnya mengamati satu per satu meja yang seperti baru saja ditinggalkan oleh pemiliknya. Saat itulah, insting Juan Pablo bekerja. Dengan gerakan cepat, dia menengadah dan merentangkan kedua tangannya yang memegang senjata, lalu menembakkannya ke atas. Tubuh jangkung itu berputar, seakan menari. Rentetan desing peluru yang melesat dari moncong pistol milik Juan Pablo pun terbang, lalu bersarang pada tubuh-tubuh yang bersembunyi di balik dinding tipis berwarna putih. Pada akhirnya, tubuh-tubuh itu roboh menerjang tembok tipis dan terkapar di lantai secara bersamaan.
Juan Pablo kembali menghitung keseluruhan sosok berpakaian tentara yang terkapar tak bernyawa. “Ada empat belas,” gumamnya. “Total sudah ada empat puluh orang,” Juan Pablo mengusap dagunya menggunakan punggung tangan.
__ADS_1
“Di mana yang sepuluh lagi?” desisnya dengan tatapan tajam. Dia lalu berjalan menuju tangga berbentuk meliuk yang terdapat di sisi ruangan. Namun, sesampainya di lantai atas, Juan Pablo tak menemukan siapa pun. Di sana hanya ada meja yang biasa digunakan untuk pertemuan berbentuk oval. Meja tadi juga dalam keadaan kosong. Pria itu kemudian duduk di salah satu kursi sambil menopang dagu. Dia tampak berpikir untuk beberapa saat.
Anak asuh dari Don Vargas itu kemudian teringat satu hal. Ditatapnya bagian tengah meja yang berlapis kaca. Dia lalu berdiri dengan setengah membungkuk. Pria itu mengamati satu simbol bergambar mata Dewa Ra. Simbol itu sama persis seperti gambar pada batu besar yang terdapat di lembah tadi, sebelum dia masuk ke dalam markas tersebut.
Juan Pablo kemudian mengarahkan pistol lalu menembakkannya pada simbol tersebut. Apa yang dia lakukan, telah membuat seluruh ruangan itu menjadi gelap gulita. Juan Pablo segera meraba ransel yang sejak tadi berada di punggung. Dia lalu mengeluarkan kaca mata infra merah dan memakainya. Dengan benda itu, Juan Pablo tak akan kesulitan meskipun tidak ada penerangan di sekitarnya.
Pria berwajah dingin tersebut kembali melanjutkan perjalanan. Melalui kaca mata yang dia gunakan tadi, dirinya dapat melihat bayangan merah yang menunjukkan adanya seseorang atau sesuatu yang memancarkan panas tubuh. Tanpa berpikir panjang, Juan Pablo segera menembak sosok itu. Terdengar bunyi berdebum di telinganya.
Tak berapa lama, penerangan kembali menyala. Juan Pablo melepas kaca mata tersebut lalu menyelipkan satu pistol di pinggang. Dia melihat ada mayat di dekat kakinya. Mayat itu memakai setelan hitam dan menggenggam sesuatu di tangannya. Dengan tenang, Juan Pablo meraih sesuatu yang berbentuk seperti sebuah remote.
Diamatinya benda kecil itu untuk beberapa saat. Juan Pablo kemudian menekan tombol yang terdapat pada benda tadi. Dengan tiba-tiba, lantai tempat dia berpijak bergerak dan juga terbuka. Tepat di balik lantai itu, terlihat anak tangga menuju ke bawah. Sebelum memutuskan untuk turun, dia meraih satu pistol di balik pinggang dan mengokangnya lagi sambil berjalan menyusuri anak tangga satu per satu dengan tanpa suara.
Juan Pablo pun menajamkan pendengarannya. Dia mendekatkan telinga pada setiap pintu. Di pintu terakhir, pria asal Meksiko itu berhenti. Dengan posisi tubuh tegak, Juan Pablo menghadap lurus ke arah pintu tersebut lalu menendangnya sekuat tenaga, dengan kedua tangan yang terulur ke depan. Sembari berjalan memasuki ruangan, Juan Pablo menembakkan senjatanya pada setiap orang yang berada di dalam ruangan itu.
Raut wajahnya terlihat begitu datar, ketika dia berhasil menghabisi semua orang di dalam ruang rahasia tersebut. Di ujung ruangan yang juga merupakan tempat pertemuan tadi, terdapat sebuah rak pajangan berukuran besar. Di kolom teratas rak tersebut, Juan Pablo melihat sebuah brankas yang terbuat dari kaca tebal dan juga bening, sehingga dia dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalam brankas tersebut.
“El Tio,” geramnya ketika melihat potongan kepala Don Vargas yang ditenggelamkan ke dalam larutan formalin. Rahangnya mengetat sampai otot-otot lehernya mencuat ke permukaan kulit.
__ADS_1
“Akhir-akhir ini Lionel memang sering berada di luar kendali,” ujar seseorang dari arah belakang Juan Pablo. Pria Meksiko itu segera berbalik dan melihat sosok tua yang kini sudah tidak lagi berada dalam layar hologram. Dia berdiri tegak di hadapan Juan Pablo secara nyata.
“Di mana bajingan itu?” tanya Juan Pablo dengan nada yang teramat dingin dan datar. Suaranya bergetar karena menahan emosi yang sangat besar.
“Dia masih berada di Italia, untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Nenad Ljudevit,” jawab pria tua itu sembari duduk di salah satu kursi. “Aku sungguh tak mengira jika ternyata kau adalah Elang Rimba, Nak,” lanjutnya.
“Siapa yang telah berhasil membongkar identitas asliku?” Juan Pablo kembali bertanya dengan sikap yang masih sama seperti tadi, meskipun dirinya belum mengubah posisi sama sekali.
"Siapa lagi kalau bukan Lionel. Dia secara tak sengaja mengungkap identitas dirimu yang sebenarnya," jawab pria tua itu memandang lurus pada Juan Pablo.
"Semua berawal ketika Lionel bermaksud untuk mengupas sidik jari Don Vargas, guna mencari keberadaan tangan kanannya yang tak lain adalah dirimu. Namun, pada akhirnya dari satu sidik jari itu semua tabir justru terungkap,” jelas pria tua itu panjang lebar dengan gaya bicaranya yang tampak sangat tenang. Dia tak terlihat takut sama sekali, meskipun tahu bahwa Juan Pablo tak akan menyisakannya.
“Aku selalu ingin bertanya seperti ini padamu, Nak. Kenapa kau keluar dari organisasi dan malah mengabdi kepada Don Vargas?” sebuah pertanyaan yang menyiratkan sebuah kekecewaan, dilontarkan oleh pria tua itu terhadap Juan Pablo.
“Karena el tio adalah rekan ayahku. Aku harus melindunginya demi persahabatan mereka. Lagi pula, el tio jugalah yang telah membimbingku, sehingga bisa menjadi lebih matang seperti sekarang,” jelas Juan Pablo. Perlahan, dia mengangkat pistol kemudian mengarahkannya lurus pada pria tua itu. “Maaf Tio Pedro, aku harus menghancurkan markas ini dan seluruh isinya.” Suara Juan Pablo kembali terdengar bergetar saat mengatakan hal itu.
“Tidak apa-apa, Nak. Lakukanlah,” pria tua itu memejamkan mata. "Lagi pula, saat ini usiaku sembilan puluh tiga tahun. Sudah terlalu lama aku hidup di dunia. Waktunya diriku beristirahat,” ucap pria tua itu dengan lirih. Dia telah pasrah untuk menerima ajalnya. “Satu hal yang harus kau ketahui. Aku merasa bangga karena pernah membimbingmu selama berada di organisasi ini. You, sad little boy. Kaulah yang terbaik,” pria tua bernama Pedro itu merentangkan tangan dan mendongak.
__ADS_1
Tanpa disadari, Juan Pablo tampak menitikkan air mata. Akan tetapi, dengan segera dia mengusapnya. Pria itu kembali fokus untuk menarik pelatuk dan menembak dada kiri Pedro. Dalam hitungan sepersekian detik, kepala pria tua tadi terkulai lemah di atas meja pertemuan dengan tubuh tak bernyawa.