
Hari menjelang sore, ketika Gianna tiba pada salah satu cafè yang cukup ternama di Roma. Walaupun gadis itu baru beberapa hari saja berada di ibu kota Italia tersebut, tapi tidak membuatnya merasa canggung untuk menjelajahi tempat-tempat bagus di sana. Rasa lelah, memaksa gadis berambut pirang tersebut untuk bersitirahat sejenak sambil meneguk minuman segar.
Gianna adalah orang yang supel. Tak sulit bagi gadis dua puluh empat tahun tersebut, untuk dapat mengakrabkan diri dengan sesama rekan kerjanya di klub. Baru beberapa hari saja, dirinya sudah dapat berbaur nyaman di sana.
Satu, dua, tegukan telah cukup untuk menghilangkan dahaga di tenggorokan Gianna. Dia pun mengeluarkan ponsel. Sesekali, pandangannya menyapu seluruh ruangan cafè yang yang terlihat sangat artistik. Namun, tiba-tiba sepasang mata birunya terkunci pada sosok cantik bertubuh molek yang duduk di bagian dalam cafè bersama seorang pria. Sosok yang tak lain adalah Carina de Rosi. Akan tetapi, Gianna tak tahu sipapakah pria yang tengah berbincang bersama wanita muda itu, karena si pria dalam posisi membelakanginya. Merasa penasaran, gadia berambut pirang itu memutuskan untuk menghampiri sahabat dekatnya tadi.
"Carina," sapanya hangat.
Sontak Carina terkejut melihat kehadiran adik tiri dari Adriano tersebut. Dia tak menyangka akan bertemu dengan Gianna di tempat itu. "Hai, sedang apa kau di sini?" dia balik menyapa. Akan tetapi, raut wajahnya terlihat sedikit gugup.
"Aku memang tinggal di Roma sekarang. Adriano memintaku untuk bergabung di klub malam miliknya, memegang urusan keuangan klub," jelas Gianna seraya bergerak lebih mendekat. Pada akhirnya, dia dapat melihat dengan jelas sosok pria yang tengah berbincang dengan Carina. Gianna pun menautkan alis seraya memperhatikan pria yang juga tengah menatapnya. "Apa kita pernah bertemu?" tanya gadis itu mastikan.
"Ya," jawab si pria, "kita bertemu di Casa de Luca," lanjutnya lagi yang tiada lain adalah Juan Pablo Herrera. "Apa kabar?" sapanya sambil berdiri, kemudian menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Baik," jawab Gianna segera membalas jabat tangan Juan Pablo. "Ya, aku ingat kita pernah bertemu di sana," ujar Gianna seraya manggut-manggut. Parasnya yang cantik dan juga imut, membuat Juan Pablo asyik menatapnya untuk beberapa saat.
"Kita belum sempat berkenalan. Namaku Gianna Bice Moriarty," ucap gadis itu lagi.
"Juan Pablo Herrera," balas pria berwajah tampan tetapi terlihat dingin. Dia lalu memicingkan matanya. Entah apa yang membuat Juan Pablo menjadi tertarik untuk terus memperhatikan adik tiri dari Adriano tersebut. Dari semenjak Gianna ikut bergabung dan berbincang akrab bersama Carina di meja itu, Juan Pablo lebih banyak diam. Dia terus mengamati setiap bahasa tubuh gadis bermata biru tadi.
__ADS_1
"Baiklah, silakan kalian lanjutkan perbincangan ini. Aku permisi dulu," merasa tak memahami obrolan kedua gadis itu, Juan Pablo memutuskan untuk berpamitan. Sebelum pergi, dia dan Carina sempat saling bertatapan untuk sejenak. Setelah itu, pria tiga puluh lima tahun tersebut segera berlalu dari sana.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Gianna terlihat sangat penasaran.
"Tidak. Bukan," jawab Carina. Dia membantah dengan tegas pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Apa dulu kalian berdua satu sekolah juga?" Gianna kembali memperlihatkan rasa penasarannya.
"Tidak juga. Aku mengenal Juan beberapa tahun yang lalu. Dia pria yang dingin dan jarang bicara. Kau ingin tahu sesuatu? Selama ini, aku belum pernah melihat dia bersama wanita manapun," ujar Carina yang kemudian meneguk minumannya.
"Maksudmu? Dia tipe pemilih atau memang ...." Gianna tidak melanjutkan kata-katanya. Kedua bola mata gadis itu bergerak dengan tak beraturan.
"Entahlah. Aku juga tidak yakin, tapi ...." Carina kembali meneguk minumannya.
Gelap mulai menyelimuti kota, ketika Gianna keluar dari cafè tadi bersama Carina. Artis cantik itu mengajak sahabat dekatnya tersebut untuk pulang bersama. Akan tetapi, Gianna menolaknya dengan alasan hendak mampir dulu ke klub, yang memang berjarak hanya beberapa meter dari cafè tadi. Gianna memilih untuk berjalan kaki. Setibanya di klub, dia tampak bebincang sebentar dengan beberapa orang di sana. Setelah itu, barulah dirinya keluar dan kembali berjalan sendiri. Niat gadis itu hendak pulang ke apartemen yang juga masih terletak tidak terlalu jauh dari klub.
Namun, langkah Gianna tiba-tiba terhenti ketika dia merasa bahwa ada seseorang yang mengikutinya. Gadis itu menoleh dan melihat ke sekeliling. Semuanya masih tampak normal. Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan sama sekali. Gadis berambut pirang itu pun melanjutkan perjalanan, hingga tiba di depan aprtemen yang dulunya merupakan milik Adriano.
Lagi-lagi, Gianna harus menghentikan langkah. Dia kembali tertegun dan menoleh serta melihat ke sekeliling. Perasaannya mulai was-was. Tanpa banyak berpikir lagi, gadis berambut pirang itu bergegas masuk ke.gedung apartemen yang dia tempati.
__ADS_1
Keesokan harinya, adik tiri dari Adriano itu kembali memulai aktivitas. Dia kembali ke klub. Ada beberapa hal yang dilakukannya di sana. Menjelang siang, barulah gadis itu keluar. Ketika dirinya tengah asyik berjalan sendiri, terdengar sebuah panggilan yang membuat dia seketika menoleh.
"Nona Moriarty!"
Gianna tersenyum kecil, ketika melihat Juan Pablo yang baru keluar dari mobilnya. Dengan t-shirt hitam lengan panjang yang sengaja dinaikkan hingga tiga per empat, pria itu tampak sangat menawan. Namun, Gianna tak melupakan ucapan Carina kemarin. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini," ucap Juan Pablo dengan raut wajah seperti biasanya.
"Tuan Herrera? Sedang apa kau di sini?" tanya Gianna. Saking kurang berkonsentrasi, dia lupa bahwa mereka tengah berada di jalan umum.
"Apa jalan ini memang dibatasi?" Juan Pablo mengernyitkan kening seraya berdiri di hadapan Gianna. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans.
"Aku rasa ... tidak," Gianna memaksakan diri untuk tersenyum. "Aku baru di kota Roma, jadi belum terlalu tahu dengan segala macam kebiasaan orang-orang di sini," jelas gadis itu. Sesekali dia menatap Juan Pablo, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Apa hari ini kau sedang sibuk?" tanya Juan Pablo lagi.
"Tidak juga. Pekerjaanku sudah selesi. Memangnya kenapa?" Gianna balik bertanya.
"Aku ingin mengajakmu berbincang-bincang. Itu juga jika kau bersedia," tawar Juan Pablo. Sekilas, raut wajah pria itu tampak berubah. Akan tetapi, Gianna tidak merasa yakin. Dia belum mengenal pria itu dengan baik.
"Jangan khawatir. Aku bukanlah orang jahat," ucap Juan Pablo saat melihat Gianna terdiam dan berpikir
__ADS_1
"Semua pria mengatakan hal seperti itu pada awalnya," sahut Gianna dengan diselingi tawa pelan.
"Aku berbeda," balas Juan Pablo dengan segera.