
Pesta telah usai, meninggalkan kesan dan kenangan yang tak terlupakan bagi seorang Miabella Conchetta. Gadis kecil itu patut berbangga hati, karena dirinya memiliki orang-orang yang membuat dia tak kekurangan kasih sayang, meskipun tanpa adanya kehadiran seorang ayah.
Beberapa hari telah berlalu setelah perhelatan meriah tersebut. Adriano yang terlalu lama berada di Italia, nyatanya merasa rindu untuk segera kembali ke Monaco. Apalagi dirinya ingin segera menemui Pierre, yang masih dalam situasi berduka cita atas kepergian sang ayah tercinta.
"Apa kau yakin akan kembali ke Monaco saat ini, Mia?" tanya Francesca yang masih betah tinggal di Casa de Luca setelah pernikahannya dengan Coco. Pasangan pengantin baru itu, memang diminta secara khusus oleh Mia untuk menemani Damiano di sana.
"Aku sudah berkomunikasi dengan dokter. Dia mengatakan selama diriku tak mengalami keluhan apapun saat menjalani kehamilan ini, maka tak ada masalah sama sekali. Lagi pula, jarak antara Italia dan Monaco tidaklah jauh, Francy," jelas Mia sambil mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.
Sementara Adriano menyambut kedatangan seorang remaja yang akan turut dia ajak ke Monaco, yaitu Carlo. Remaja berusia tujuh belas tahun tersebut tampak sangat antusias, ketika dirinya telah tiba di Casa de Luca siang itu.
"Kau datang kemari sendirian, Carlo?" tanya Adriano seraya menepuk pundak remaja berambut gelap itu.
"Tentu saja, Tuan. Aku seorang laki-laki. Jadi, aku harus bisa hidup mandiri dan tidak takut apapun," ujar Carlo menanggapi pertanyaan Adriano.
"Baguslah. Kau telah mengingatkan diriku pada masa mudaku dulu. Saat aku masih seusiamu, aku pun pernah mengatakan hal yang sama pada paman Alessandro. 'Adriano tidak akan pernah takut pada apa atau siapa pun'. Kukatakan itu berulang kali, hingga diriku tumbuh dewasa," tutur Adriano bangga.
"Buktinya sekarang Anda menjadi orang yang sngat hebat dan disegani, Tuan," sanjung Carlo dengan penuh kekaguman. "Anda juga sepertinya memang tidak pernah merasa takut pada apa atau siapa pun," ucap pemuda itu lagi sambil terus menyertai langkah Adriano memasuki bangunan Casa de Luca.
Di teras, tampak Mia yang melambaikan tangan padanya. "Kau salah, Carlo. Ada satu hal yang membuatku takut," sanggah Adriano menghentikan langkahnya untuk sejenak.
"Apa itu, Tuan?" tanya Carlo dengan raut wajah yang terlihat sangat penasaran.
__ADS_1
"Wanita yang sedang berdiri di sana," jawab Adriano seraya mengarahkan matanya kepada Mia. "Iya, Sayang," serunya menanggapi lambaian tangan Mia yang menyuruhnya untuk segera mendekat. Adriano yang sudah bisa berjalan dengan jauh lebih normal, segera menghampiri sang istri.
"Hai, Carlo. Bagaimana kabarmu?" sapa Mia hangat dengan senyumannya yang selalu tampak bersahabat.
"Sangat baik, Nyonya," jawab pemuda dengan tinggi yang tidak terlalu jauh dari Adriano tersebut. Usia Carlo memang masih remaja. Namun, dia memiliki postur tubuh yang tegap. Untuk sesaat, pemuda tujuh belas tahun itu melirik kepada Adriano. Dia lalu mengulum senyumnya, saat teringat akan kata-kata sang ketua Tigre Nero tentang Mia.
"Apa kau sudah menyiapkan kamar untuknya, Mia?" tanya Adriano seraya merengkuh pinggang sang istri.
"Memangnya aku akan menginap dulu di sini, Tuan?" sela Carlo yang terlihat heran. "Kupikir kita akan langsung berangkat ke Monaco." Pemuda itu menggaruk kepalanya.
"Kita akan berangkat besok pagi. Istirahat dan nikmatilah dulu waktumu di sini," jawab Adriano.
"Ya, suamiku benar. Kamar untukmu juga sudah disiapkan oleh pelayan," timpal Mia. "Ayo, masuklah dulu. Lagi pula, sebentar lagi adalah waktunya makan siang," ajak Mia. Dia dan Adriano segera membalikkan badan, kemudian melangkah masuk. Carlo pun mengikutinya dari belakang.
"Bella sedang bersama Stellina di belakang. Sepeninggal Romeo dan Tobia, dia tidak punya teman bermain," jawab Mia diiringi senyuman. "Rosaria," panggil wanita cantik itu pada seorang pelayan perempuan seusia dirinya. "Antarkan tuan muda ini ke kamar tamu yang sudah disiapkan," suruhnya kemudian. Si pelayan itu pun mengangguk. Dia mempersilakan Carlo agar mengikutinya. Pemuda berambut gelap tersebut kemudian berpamitan kepada Mia serta Adriano.
"Tak lama lagi Miabella akan masuk sekolah. Dia pasti mendapat banyak teman," ucap Adriano duduk sejenak sambil menunggu waktu makan siang tiba.
"Kuharap begitu. Kau tahu sendiri seperti apa karakter Miabella. Dirinya tidak mudah dekat dengan orang baru. Aku harap dia nanti tak mendapat kesulitan untuk bergaul," balas Mia pelan seraya menyandarkan kepalanya di pundak Adriano.
Sementara itu, Carlo mendapat kamar yang berada di sebelah halaman belakang. Ruangannya memang tidak terlalu luas, tetapi tentu jauh lebih nyaman dari kamar saat berada di panti. Di sana, dia tidur pada ranjang tingkat bersama tiga orang rekan yang lain, karena dalam satu kamar terdapat dua tempat tidur. Itu khusus untuk penghuni panti yang telah berusia remaja. Sedangkan bagi anak usia sepuluh tahun ke bawah, ditempatkan dalam satu ruangan luas dengan tempat tidur yang berderet rapi.
__ADS_1
Pemuda berusia tujuh belas tahun itu kemudian meletakkan ransel yang berisi baju ganti, dan juga beberapa barang pribadinya di atas ranjang berlapis sprei putih. Dia lalu melangkah ke dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke halaman belakang. Dari sana, Carlo melihat Miabella tengah bermain sendiri. Gadis itu juga berjalan-jalan di dekat kolam ikan tempat biasa dirinya memancing bersama Damiano.
Carlo terus memperhatikan gadis kecil itu. Dia lalu membuka jendela kaca lebar-lebar. Terbiasa hidup dengan anak-anak balita, pemuda itu tak merasa risih saat mengawasi setiap gerak-gerik Miabella yang masih berjalan-jalan di dekat kolam dengan ukuran tidak terlalu lebar tersebut. Namun, seketika Carlo tersentak saat melihat Miabella yang tiba-tiba terpeleset sehingga jatuh tercebur ke dalam tempat pemancingan tadi.
Refleks, pemuda berpostur jangkung tersebut melompati jendela. Dia berlari sekencang mungkin sambil melepas sepatunya satu per satu dan membiarkan begitu saja. Carlo bergegas menuju kolam di mana Miabella tengah berjuang agar tidak tenggelam. Setibanya di sana, pemuda itu segera menceburkan diri dan mencoba untuk meraih tubuh mungil putri dari tuannya. Namun, Carlo cukup kesulitan hingga akhirnya dia dapat menarik ujung gaun pendek Miabella.
Segera didekapnya gadis kecil tadi, kemudian dia bawa ke tepian. Miabella tampak sangat ketakutan. Dia juga tampaknya menghirup banyak air, sehingga dirinya menjadi kelabakan. Tanpa banyak bicara, Carlo pun menepuk-nepuk pelan belakang leher balita tersebut hingga Miabella menjadi batuk-batuk. Saking ketakutannya, gadis kecil dengan rambut dan pakaian basah kuyup tersebut akhirnya terisak.
"Eh, sudah. Jangan menangis," cegah Carlo. Tanpa sungkan, dia membopong tubuh mungil Miabella yang masih terlihat shock. "Tuan Adriano! Nyonya Mia!" panggil pemuda itu sambil berseru nyaring, membuat Mia dan Adriano yang tengah duduk tenang menjadi saling pandang dengan heran.
Namun, tak lama tatapan heran mereka berubah menjadi kecemasan, saat melihat Miabella yang berada dalam gendongan Carlo dengan keadaan basah kuyup.
"Bella!" seru Mia panik. Dia bergegas menghampiri Carlo yang berdiri dalam kondisi basah kuyup juga.
"Apa yang terjadi?" tanya Adriano.
"Nona terjatuh ke kolam di halaman belakang. Sepertinya dia menghirup banyak air, jadi mungkin merasa tidak nyaman," jelas Carlo membuat Mia terkejut bukan main.
🍒 🍒 🍒
Rekomendasi novel keren dan layak untuk dimasukan daftar favorit. Cek 😉
__ADS_1