
Miabella melangkahkan kakinya yang masih terasa sakit sambil terus menggerutu. Dia bahkan tak memedulikan Adriana yang berdiri di koridor. Gadis belia bermata biru itu tersenyum serta melambaikan tangan. Si boneka hidup tersebut tadinya hendak menyapa sang kakak. Akan tetapi, Miabella tak menoleh sama sekali terhadap dirinya. Adriana pun segera mengikuti gerak langkah Miabella yang cukup cepat.
"Kakak, tunggu!" serunya dengan tidak terlalu nyaring.
"Jangan ganggu aku!" sergah Miabella jengkel.
"Ya ampun. Kenapa kau selalu marah-marah? Apa karena kau tidak punya tempat pelampiasan has ...." Adriana menghentikan langkahnya dengan segera, karena Miabella tiba-tiba berbalik dan melotot tajam ke arahnya. Putri bungsu Mia dan Adriano itu hanya terpaku dengan ekspresi wajah yang tampak lucu karena merasa terkejut bercampur takut.
"Apa kau sedang ada masalah pribadi, Kak?" Dia memberanikan diri untuk kembali bertanya.
"Ganti popokmu dulu sebelum bertanya macam-macam padaku!" ucap Miabella ketus. "Aku sedang kesal. Jadi, jangan menggangguku!" Telunjuk lentik dengan kuku berhiaskan kuteks warna pink pastel itu mengarah lurus kepada sang adik.
"Katakan padaku siapa yang telah membuatmu merasa kesal?" Adriana masih saja bertanya kepada kakaknya yang jelas-jelas tak ingin diganggu.
"Ayahmu!" sentak Miabella semakin jengkel.
"Ayahku?" Adriana menunjuk dirinya dengan raut tak mengerti. Gadis dengan gaya rambut kuncir kuda itu menautkan alis yang terbentuk rapi serta indah. "Ayahku adalah ayahmu juga, Kak," pikirnya.
Akan tetapi, Miabella tak ingin lagi menanggapi ucapan sang adik. Dia langsung saja berlalu dari hadapan Adriana dan melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Setibanya di dalam kamar, Miabella segera mengeluarkan tas jinjing dengan ukuran yang cukup besar. Gadis cantik berambut tebal itu mulai mengemasi beberapa pakaian dan juga barang-barang penting lainnya ke dalam tas tadi. Setelah selesai dengan aktivitas itu, Miabella kemudian merogoh saku celana jeansnya. Dia mengambil ponsel dari sana. Gadis cantik tersebut duduk di ujung tempat tidur sebelah tas jinjing tadi. Dia rupanya hendak menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Pronto," sapa suara berat seorang pria dari ujung telepon.
"Apakah tuan Adriano masih bersamamu, Carlo?" tanya Miabella.
"Tidak, nona. Tuan sudah kembali sejak beberapa saat yang lalu. Ada apa?" Carlo balik bertanya.
"Kalau begitu, datanglah ke kamarku," suruh Miabella dengan enteng.
"Kapan? Sekarang atau ...."
"Saat nanti aku sudah beruban!" jawab Miabella kesal seraya mengakhiri panggilan tadi begitu saja. Dia lalu meletakkan ponsel itu di sebelahnya. Gadis cantik tersebut termenung untuk sejenak, hingga terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar. Dengan segera, Miabella bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke sana.
Tampaklah wajah tampan Carlo dengan t-shirt round neck lengan pendek, yang memperlihatkan sebagian besar lengan berototnya dan dipenuhi tato. Pria bermata biru itu selalu memasang wajah yang terlihat bersahabat di hadapan Miabella, meski apapun yang sedang dia rasakan. "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.
"Tidak," jawab Carlo memperlihatkan sikapnya yang tenang. "Tuan hanya menegurku, tapi itu bukan sebuah teguran yang terlalu keras. Dia hanya tak ingin agar kau ke sana lagi. Aku harus bisa bersikap jauh lebih tegas padamu," jelas pria berambut gelap tersebut.
"Oh ya?" Miabella melipat kedua tangannya di dada. Tatap mata gadis itu tampak aneh, seperti tak ada rasa percaya di sana.
"Ya begitulah," sahut Carlo tanpa berusaha untuk meyakinkan gadis di hadapannya.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo ikut denganku," ajak Miabella. Dia menarik tangan Carlo setelah menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Putri sulung Mia tersebut berjalan menyusuri koridor hingga menjauh dari sana, sambil terus menuntun tangan sang pengawal pribadi. "Katakan di mana daddy zio sekarang?" tanya Miabella tanpa menghentikan langkah. Dia juga tak menoleh sedikit pun kepada Carlo yang menurut saja bagai kerbau dicocok hidung.
__ADS_1
"Aku rasa tuan ada di ruang keluarga. Saat sedang berbicara denganku tadi, nyonya menghubunginya dan meminta tuan untuk menemani dia merajut," jawab Carlo terus mengikuti langkah gadis itu.
"Baiklah," sahut Miabella menimbulkan sejuta prasangka dalam hati Carlo. Dia hanya berharap agar gadis itu tak berulah macam-macam lagi. Namun, Carlo tak ingin mengatakan apapun. Pikiran pria sangar tetapi tampan tersebut masih tertuju pada ucapan Adriano yang akan menggantikan posisi dirinya sebagai pengawal Miabella dengan orang lain.
"Apa kau akan merasa nyaman ditemani orang lain, Nona?" tanya Carlo saat mereka sedang berada di dalam lift, yang akan membawa keduanya menuju lantai pertama mansion.
"Tidak akan ada orang lain selain suamiku kelak," jawab Miabella tanpa menoleh kepada Carlo yang tengah menatapnya.
"Itu akan jauh lebih baik. Seorang suami mungkin jauh lebih tepat menjadi penjaga setiamu," sahut pria dengan postur 188 cm itu. Miabella yang memiliki tinggi sekitar 170 cm hanya sebatas pundaknya saja.
"Aku belum ingin menikah. Masih banyak hal yang membuatku merasa penasaran di dunia ini," ujar Miabella kembali meraih jemari Carlo dan membawanya keluar dari lift. Lagi-lagi, pria dengan postur tegap itu hanya menuruti gadis muda tadi. Mereka berjalan menuju ruang keluarga, di mana Adriano dan Mia berada.
Benar saja, saat itu suami istri tersebut memang sedang berada di sana. Terdengar perbincangan hangat dan santai di antara mereka, ketika Miabella masuk sambil terus menuntun Carlo. Gadis itu bahkan tak melepaskan genggamannya dari tangan si pria meskipun mereka telah berdiri di dekat meja. Sedangkan Mia dan Adriano duduk di kursi yang sama.
"Sayang," sapa Mia yang melihat kehadiran putri sulungnya di sana. Tatapan wanita cantik itu sekilas tertuju pada tangan Miabella yang memegangi jemari Carlo. Rupanya, Adriano pun menyaksikan hal yang sama. Akan tetapi, pria itu tak ingin banyak bicara. "Ada apa ini?" tanya Mia yang segera menghentikan aktivitasnya. Sedangkan Adriano kembali pada ponsel yang sedang dia genggam.
"Bolehkah kupinjam sebentar pria tertampan di daratan Eropa itu, Bu?" tanya Miabella dengan ekor mata yang mengarah kepada Adriano.
"Ow, kenapa tidak?" Mia menoleh kepada sang suami yang masih menunduk, menatap layar ponselnya. "Sayang, ada gadis cantik yang ingin meminjam dirimu dariku," ujar Mia seraya mengulum senyuman.
"Katakan padanya bahwa aku sedang ingin berduaan saja dengan istriku yang paling cantik." Adriano menanggapi ucapan Mia.
__ADS_1
"Apa kau dengar itu, Bella?" Mia kembali mengarahkan perhatiannya kepada Miabella yang memasang wajah serius. Sementara Carlo merasa bodoh dengan berdiri di sana, bagaikan manekin dalam etalase kaca.