Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Te Extraño


__ADS_3

Langit cerah dengan hiasan awan putih yang berarak, menaungi kota Roma pada sore itu. Semilir angin pun terasa sangat bersahabat, menemani Juan Pablo yang duduk tenang di teras samping villanya. Adalah sebuah bukaan dengan hiasan tirai warna putih yang mengelilingi area tersebut. Sementara di sebelah bukaan tadi, terdapat kolam renang dan juga gazebo dengan halaman berlapis rumput hijau yang tertata rapi. Walaupun di sana terdapat beberapa pohon, tapi tak terlihat ada dedauan yang jatuh dan mengotori halaman itu.


Asap tipis mengepul dari sebatang rokok yang tengah diisap oleh Juan Pablo. Pria bermata cokelat madu itu menatap riakan air di kolam renang. Sorot mata pria itu begitu tajam, sementara pikirannya terpusat pada sesuatu yang masih terus mengusik hingga saat ini.


"Juan," suara sapaan lembut seorang gadis seketika membuyarkan semua konsentrasinya. Juan Pablo pun segera menoleh ke arah suara tadi.


Tak jauh dari tempat dia berada, telah berdiri seorang gadis cantik bertubuh semampai dengan rambut pirangnya yang panjang. Seperti biasa, gadis tadi selalu terlihat nyaman dengan skinny jeans dan t-shirt press body lengan pendek. Si pemilik mata biru itu tersenyum, saat menyambut Juan Pablo yang tengah berjalan ke arahnya. "Juan," sapa gadis itu lagi, sebelum sebuah ciuman membungkam mulutnya.


Untuk beberapa saat, Juan Pablo tak menghentikan adegan tersebut. Dia seakan ingin melepas segala kerinduannya kepada sosok gadis yang tiada lain adalah Gianna. Tak bertemu dengannya selama beberapa hari, membuat Juan Pablo diterpa sebuah perasaan yang aneh dan tak biasa. Kebahagiaan itu muncul, ketika dirinya dapat berhadapan langsung dengan si pemilik kulit putih tersebut.


"Apa kabar, Juan?" sapa Gianna setelah mereka berhenti berciuman.


"Sangat baik. Bagaimana denganmu?" Juan Pablo balik bertanya. Dia membelai lembut pipi Gianna.

__ADS_1


"Aku senang karena kita bisa bertemu lagi," sahut Gianna dengan senyuman lebar. Mata birunya pun tampak berbinar dengan indah. Dia lalu mengikuti Juan Pablo yang menuntunnya pada sebuah kursi kayu, yang terdapat di bukaan tadi. Gianna duduk tepat di sebelah Juan Pablo yang setengah menghadap padanya. "Bagaimana Amerika?" tanya adik tiri Adriano tersebut seraya menatap pria di sebelahnya.


"Biasa saja," jawab Juan Pablo singkat. Dia merentangkan tangan kirinya di atas sandaran kursi. Sedangkan tatapan mata yang dalam dan seakan penuh misteri, terus dia layangkan kepada si pemilik paras cantik yang telah berhasil mencuri perhatiannya. "Ibuku menitip salam untukmu," bisik Juan Pablo tepat di dekat telinga Gianna, bahkan hingga bibirnya menyentuh daun telinga gadis itu.


Apa yang Juan Pablo bisikkan, telah membuat Gianna seketika terbelalak saat mendengarnya. "Sungguh? Kau membicarakan tentang diriku kepada ibumu?" Gadis itu merasa tak percaya dengan apa yang Juan Pablo beritahukan padanya. Namun, pria asal Meksiko tadi masih terlihat biasa saja. Dia tak menunjukkan sikap yang berlebihan. Juan Pablo hanya tersenyum kecil seraya menggumam pelan.


"Kemarilah," Juan Pablo meraih tubuh ramping Gianna. Gadis cantik itu kini sudah berada di atas pangkuannya, dengan posisi menghadap ke depan. "Apa kau merindukanku?" tanya pria asal Meksiko itu. Lembut, tangannya menyibakkan rambut panjang yang jatuh dan sedikit menutupi wajah Gianna.


"Kenapa aku harus merindukanmu? Belum tentu kau juga merindukanku," sahut Gianna seraya memainkan ujung telunjuknya pada wajah serta dagu Juan Pablo, yang dihiasi janggut tipis dan sedikt tajam. "Apa kau baru bercukur?" tanyanya setengah berbisik, membuat Juan Pablo sedikit bereaksi. Tangannya yang kekar, menggenggam rambut panjang Gianna saat kening mereka saling bersentuhan.


Juan Pablo kemudian membawanya bangkit. Tanpa menurunkan tubuh Gianna, dia berjalan menuju kamar. Setelah itu, direbahkannya si gadis dengan hati-hati pada tempat tidur. Sedangkan Gianna tak melepaskan rangkulan eratnya. Sesekali, gadis itu mere•mas tengkuk kepala Juan Pablo yang berada di atas tubuhnya. Tak ada hal lain yang ingin mereka lakukan saat itu, selain melepaskan rindu.


"Bercintalah denganku, Juan," pinta Gianna dengan setengah berbisik. Sesekali, terdengar sebuah desa•han lembut dari bibir gadis itu, saat mendapati cumbuan-cumbuan mesra yang dilayangkan oleh Juan Pablo padanya. Perasaan gelisah pun sudah tak tertahankan. Gianna tak mampu lagi mengontrol dirinya yang sudah kian terbakar gairah.

__ADS_1


Sentuhan demi sentuhan mengiringi setiap helaan napas berat kedua insan itu. Wajah dan kulit tubuh Gianna yang putih, kini terlihat memerah saat menahan gejolak rasa yang begitu besar dalam dirinya. Untuk yang kedua kali, dia kembali merasakan kegagahan seorang Juan Pablo di atas ranjang. Pergumulan panas menguras energi, yang kini mulai menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka berdua.


Pria itu benar-benar luar biasa. Dia tak hanya tampan dan menawan, tapi juga begitu paham bagaimana cara memperlakukan seorang wanita, meski pada kenyataannya bagi Juan Pablo pun itu merupakan hal yang baru.


"Juan ...." Gianna membuka mulutnya ketika Juan Pablo berhasil membuat dia merasa takjub, akan keindahan tiada dua dalam hidup Gianna. Rasanya begitu nikmat, ketika gadis itu mendapatkan perlakuan istimewa dari pria asal Meksiko tersebut. Gianna tak lagi merasa risih ataupun malu-malu. Dia tak juga terganggu, ketika Juan Pablo membolak-balikkan tubuh polosnya, meraba apapun yang menjadi daya tarik bagi pria berkulit eksotis tersebut. Tak ada satu jengkal pun dari raga indah si gadis, yang luput dari sentuhan tangan sang pemilik villa mewah itu.


Waktu terus bergulir. Tetesan keringat telah membasahi tubuh keduanya. Rasa lelah yang mendera pun seakan tak mereka pedulikan. "Aku menyukai ini, Juan," bisik Gianna di sela-sela desa•hannya. Dia mengalihkan wajahnya ke samping, di mana terdapat paras Juan Pablo dengan sorot mata yang tampak aneh. Pria itu seakan tengah menahan sesuatu dalam dirinya. Namun, dia tak melewatkan untuk kembali mencium gadis itu.


Beberapa saat berlau. Sedikit lagi, Juan Pablo akan tiba pada puncak permainan panas tersebut. Dia mempercepat gerakan, membuat Gianna semakin terengah menerima setiap hentakan kuat darinya. Sesaat kemudian, Juan Pablo pun meringis kecil yang disertai suara desisan pelan. Dia mengakhiri pengobat rindu antara dirinya dengan Gianna, lewat sebuah ciuman yang jauh lebih mesra.


Gianna tertawa pelan, ketika pria itu mengangkat tubuhnya. Gadis cantik itu menoleh, kemudian menatap paras rupawan Juan Pablo yang terlihat begitu seksi. Sementara Juan Pablo hanya menyunggingkan sebuah senyuman kecil. Pria itu lalu melepaskan dirinya dari Gianna. Dia mengambil dua lembar tisu, dan segera mengelap sesuatu yang menetes dari dalam diri si gadis. "Kau baik sekali, Juan," ucap Gianna seraya membalikkan badan, sehingga jadi menghadap kepada Juan Pablo. Dia kembali melu•mat bibir pria yang baru saja membawa dirinya menjadi seorang wanita dewasa.


"Aku lelah," ucap Juan Pablo setelah selesai berciuman. Dia mengempaskan tubuhnya di atas bantal dengan posisi tengkurap. Sementara Gianna hanya memandangi postur tegap yang masih dalam keadaan telanjang bulat. Dia lalu menindih Juan Pablo dengan posisi yang sama seperti pria itu.

__ADS_1


Gianna tak merasa sungkan lagi. Dikecupnya pundak bagian belakang Juan Pablo beberapa kali. Setelah itu, dia merebahkan kepalanya di sana. Sementara, kedua tangan menyusuri lengan kekar pria yang hanya menanggapi sikapnya dengan sebuah gumaman pelan. "Kau pria yang luar biasa, Juan," sanjung gadis itu kembali menegakkan kepalanya. Tatapan Gianna lalu tertuju pada tato di belakang leher Juan Pablo. Adalah sebuah tulisan dalam bahasa Spanyol. "Águila de la selva," gumam Gianna membaca tulisan tersebut. "Apa artinya, Juan?" tanyanya kemudian.


"Aquilla della giungla (Elang Rimba)," Juan Pablo menjawab dalam bahasa Italia.


__ADS_2