
“Aku kemari karena hendak menyampaikan sesuatu,” Juan Pablo mengubah posisi duduknya sehingga menghadap kepada Adriano. Dia meletakkan kedua tangannya pada tangan kursi sambil menyilangkan kaki.
“Katakanlah,” Adriano mencoba bersikap tenang dengan menyandarkan punggungnya di sofa, meskipun ada sedikit keresahan dalam tatap matanya.
“Proses pembangunan kasino sudah mencapai sembilan puluh persen, Tuan D’Angelo. Kurang dari sebulan lagi, bangunan raksasa itu akan berdiri sepenuhnya dan tinggal diisi dengan furniture serta peralatan lainnya. Kami mempercayakan semuanya pada tuan Timothy Dixon yang asli,” tutur Juan Pablo dengan raut serius.
“Ah, iya. Aku belum sempat bertemu dengan Timothy Dixon yang asli,” ujar Adriano. “Aku hampir mati gara-gara arsitek yang palsu,” pria rupawan itu terkekeh sembari mengusap janggutnya.
“Kami sungguuh-sungguh meminta maaf untuk itu, Tuan D’Angelo. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir, Don Vargas sudah menyiapkan kompensasi untuk mengganti kerugian yang telah Anda alami baik secara fisik maupun mental,” balas Juan Pablo.
“Kompensasi seperti apa?” Adriano mengernyitkan keningnya
“Semuanya. Kami akan mengganti setiap kerugian Anda dalam bentuk dollar,” jawab Juan Pablo lugas.
“Hm, begitu?” Adriano mengangguk-angguk sembari terus berpikir. Sebenarnya dia sama sekali tak mengharapkan ganti rugi dalam bentuk materi, karena dia tak pernah merasa kekurangan dalam hal itu. Namun, demi menghargai itikad baik dari koleganya tersebut, Adriano mau tidak mau harus menerima tawaran dari mereka. “Baiklah. Tolong sampaikan kepada Don Vargas bahwa aku mengucapkan terima kasih atas niat baiknya," ucap Adriano kemudian.
“Tentu saja, Tuan D’Angelo. Oh, ya, satu lagi. Don Vargas akan kembali ke Monaco besok. Dia berencana hendak mengadakan pesta tiga hari lagi. Anda harus hadir, karena anda termasuk salah satu dari lima tamu VIP,” ujar Juan Pablo lagi.
“Pesta? Dalam rangka apa?” tanya Adriano.
“Menyambut kasino baru yang akan segera rampung. Itu adalah kebiasaan Don Vargas, melepas penat selama proyek dengan pesta mewah,” jelas Juan Pablo, diiringi senyuman samar yang dapat ditangkap dengan jelas oleh Adriano.
“Kalau begitu, aku akan kembali ke Monaco secepatnya. Aku .…” Adriano tak sempat menyelesaikan kalimatnya ketika sang adik tiri melintas di ruang tamu. “Gianna?” dia mengalihkan perhatiannya pada gadis berambut pirang itu.
“Ah, ma’af. Aku tak bermaksud mengganggu. Padre menghubungiku. Dia ingin agar aku membantunya untuk memeriksa pekerjaan dia di perkebunan,” Gianna tampak serba salah. Apalagi saat menyadari bahwa ada sepasang mata elang yang menatapnya begitu tajam. Dia sempat mengamati pria asing yang duduk tak jauh dari kakak tirinya itu, lalu mengangguk dan segera berlalu dari sana dengan diiringi tatapan lekat Juan Pablo.
“Adik tiriku,” ujar Adriano seraya tersenyum kepada Juan Pablo yang segera mengalihkan tatapan padanya.
“Oh,” hanya kata itu yang keluar dari mulut Juan Pablo, sebelum tiba-tiba dia berdiri dan mengulurkan tangan. “Baiklah kalau begitu aku pamit dulu. Ada banyak tempat yang harus kusinggahi selama berada di Italia," terangnya.
__ADS_1
“Anda juga mempunyai tempat tinggal di sini? Apartemen?” nada bicara Adriano terkesan penuh selidik. Dia ikut berdiri.
“Ah, tidak. Aku menginap di hotel selama berada di Italia. Ini hanya sekadar mengunjungi kolega dari Don Vargas. Sebagai ajudan setia, aku hanya melakukan apapun sesuai perintahnya,” tangan Juan Pablo masih terus menggantung, menunggu Adriano untuk menyambutnya.
“Oh, begitu,” pada akhirnya Adriano membalas jabat tangan Juan Pablo, kemudian mengiringi pria itu hingga di depan kendaraannya.
“Sampai jumpa di Monaco, Tuan D’Angelo,” pamit Juan Pablo, lalu memasuki mobil dengan gagahnya. Mobil mewah bercat hitam itu memutari air mancur besar yang berada di tengah halaman depan Casa de Luca, sebelum melaju keluar meninggalkan kediaman mendiang Matteo.
Adriano terus memperhatikan kendaraan itu hingga menghilang dari pandangan. Dia sudah berbalik dan berjalan beberapa langkah ketika ponselnya berdering. Nama Arsen yang tertera di layar. “Parakalo,” sapa Adriano.
“Hei, Adriano. Apa kau sedang sibuk?” tanya Arsen dari seberang sana.
“Tidak juga. Ada apa? Apa ada masalah?” Adriano balik bertanya sembari mulai berjalan. Dia berniat untuk menyusul Mia yang kemungkinan tengah berada di kolam dekat taman belakang Casa de Luca.
“Tidak ada. Aku hanya ingin meminta izin padamu saja untuk langsung pulang ke Yunani,” jawab Arsen.
“Ya, Don Vargas mengatakan bahwa aku boleh meninggalkan Inggris karena sudah tidak ada yang perlu diawasi di sini,” terang Arsen.
“Kenapa kau tidak mampir ke Monaco terlebih dulu? Juan Pablo baru saja datang dan mengabarkan bahwa dia akan mengadakan pesta di Monaco. Bukankah kau penggila pesta?” Adriano tersenyum kecil jika mengingat karakter dari rekannya tersebut.
“Rasanya tidak untuk sekarang. Aku terpaksa menolaknya karena aku harus menemui kedua orang tuaku di Plaka,” sahut Arsen.
“Sepertinya serius sekali. Apakah orang tuamu baik-baik saja, Arsen?” rasa khawatir Adriano dia tunjukkan untuk salah satu teman dekatnya itu.
“Semuanya baik-baik saja, Adriano. Jangan khawatir. Aku hanya tidak sabar untuk mengenalkan istriku pada ibu dan ayahku,” jawab Arsen seraya tertawa riang.
Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan Adriano. Dia begitu terkejut sampai-sampai kakinya terantuk sesuatu kala melewati selasar yang menghubungkan bangunan utama dengan taman belakang. Arsen yang merupakan seorang penggoda dan pemuja banyak wanita baru saja mengatakan bahwa dirinya telah memiliki seorang istri. Sesuatu yang sangat tak masuk akal bagi Adriano, karena dia sangat paham sifat dari temannya itu. “Kau tidak sedang bercanda, kan?”
Arsen kembali terbahak. “Untuk apa aku bercanda,” sahutnya. “Sudahlah, aku akan bersiap-siap. Sampai jumpa lagi, Adriano,” pria asal Yunani itu bermaksud untuk mengakhiri panggilan.
__ADS_1
“Tidak, tunggu! Jangan tutup dulu teleponnya!” seru Adriano. “Katakan padaku, wanita mana yang bersedia menjadi istrimu?”
Arsen tak langsung menjawab. Pria itu sepertinya sengaja membuat Adriano penasaan. “Arsen?” Adriano sampai harus memanggilnya lagi.
Tak lama terdengar suara Arsen yang terkekeh pelan. “Aku menikahi Olivia, Adriano. Dia istriku sekarang,” selesai berkata demikian Arsen buru-buru menutup teleponnya, membiarkan Adriano yang kini berdiri membeku. Saking terkejutnya pria rupawan itu sampai tak bisa berkata-kata. Beruntung, saat itu dia sudah berada di tempat Mia berada.
“Daddy Zio!” melihat sosok sang ayah sambung, Miabella segera menghambur ke arahnya. Padahal saat itu dia sedang memegang pancing kecil dan melemparkan benda itu begitu saja saat Adriano datang.
“Principessa,” Adriano tersadar dari rasa terkejutnya dan langsung menggendong balita cantik itu. “Kau sudah berhasil mendapatkan ikan?” tanyanya sambil menciumi pipi gembul Miabella.
“Ada apa, Adriano?” Mia yang awalnya duduk di bangku dekat kolam, langsung berdiri dan menghampiri suaminya yang memasang raut aneh.
“Kau tak akan mempercayai ini, Mia,” Adriano menuntun Mia kembali ke tempatnya, kemudian duduk di samping wanita itu. Sementara Miabella kembali ke dekat kolam dan mengambil pancingnya. “Jangan terlalu dekat, Bella. Jangan sampai kau terjatuh,” Adriano merasa was-was ketika Miabella bergerak aktif di tepi kolam. “Apakah kolam itu dalam, Mia? Apakah aman untuk Miabella?” Adriano menoleh pada Mia penuh kekhawatiran.
“Tenang saja, Adriano. Kolam itu dangkal. Lagi pula, paman Damiano sudah mengajari Miabella,” Mia tersenyum bahagia. Rasa hangat mengaliri dadanya, ketika Adriano tampak begitu mengkhawatirkan putrinya. “Sekarang katakan padaku, apa yang hendak kau ceritakan tadi?”
“Kau tidak akan mempercayai ini, Sayang. Arsen ternyata telah menikah, dan kau tahu siapa yang dia nikahi?” ujar Adriano berapi-api.
“Olivia,” sahut Mia dengan tenang, lalu tersenyum lebar sehingga membuat Adriano terbelalak dan terkejut untuk kedua kalinya.
“Kau .. kau sudah tahu? Bagaimana bisa? Sejak kapan, Mia? Kenapa kau tidak memberitahuku?” Adriano memberondong istrinya dengan pertanyaan.
“Karena Arsen melarangnya. Mungkin dia ingin memberitahumu secara langsung. Kenapa, Adriano? Apa kau marah? Kau cemburu?” giliran Mia yang mencecar sang suami sambil mendekatkan wajahnya ke arah Adriano.
🍒🍒🍒
Hai, hai, ini ceuceu persembahkan lagi satu karya keren lainnya.
__ADS_1