
Siang itu, seorang tamu yang tak diduga datang ke mansion milik Adriano. Pierre menyambut tamu tersebut dengan ramah dan tentu saja penuh hormat. “Aku ingin bertemu dengan tuan D’Angelo,” ucap pria tampan yang tak lain adalah Juan Pablo, ajudan Vargas.
“Apa Anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanya Pierre.
“Belum. Don Vargas menyuruhku untuk datang kemarin. Berhubung ada sedikit urusan, jadi aku mengurungkannya,” jawab Juan Pablo dengan nada bicara yang teramat dingin. Sorot matanya sangat berbeda dengan orang-orang kebanyakan yang pernah Pierre temui.
“Oh, sayang sekali. Tuan D’Angelo sedang tidak ada. Dia sedang ada urusan di luar kota,” terang pria asal Perancis itu. “Apakah ada sesuatu yang penting, sehingga don Vargas sampai harus mengutus Anda kemari, tidak melalui email saja?"
Juan Pablo tidak menjawab. Pria dengan perawakan dan wajah yang sepintas mirip Matteo itu hanya mengangguk pelan. Sebuah jawaban yang teramat alakadarnya. “Baiklah. Jika tuan D’Angelo tidak ada, sebaiknya aku kembali saja,” ucap Juan Pablo seraya beranjak dari duduknya. Dia lalu merapikan blazer hitam yang melapisi kaos turtleneck gelap di dalamnya. Namun, sebelum dia beranjak dari ruangan itu, pandangannya terlebih dulu terkunci pada seraut wajah cantik yang tiba-tiba muncul di sana. Juan Pablo menatapnya dengan lekat.
Mia berjalan tanpa menyadari jika ada sepasang mata tajam yang tengah memperhatikannya. Dia menuntun Miabella yang saat itu terlihat merajuk, entah karena apa. Namun, tak lama wanita bermata cokelat tersebut akhirnya menyadari keberadaan Juan Pablo di sana.
Pierre tampak tersenyum seraya mengangguk sopan saat Mia menghampiri mereka. Perhatiannya kemudian beralih pada Miabella yang tampak cemberut. “Kenapa, Gadis Cantik?” tanyanya. Namun, Miabella tidak menjawab. Dia malah bersembunyi di balik tubuh ramping sang ibu. “Apakah ada masalah, Nyonya?” satu pertanyaan lagi yang kini dia tujukan kepada Mia.
“Bella merindukan Daddy Zio,” jawab Mia seraya tersenyum. Sebuah senyuman indah yang tak luput dari tatapan tajam Juan Pablo.
“Oh, Daddy Zio-mu akan pulang tidak lama lagi, Sayang,” ujar Pierre mencoba merayu gadis kecil itu.
“Aku sudah mengatakannya berkali-kali, tapi Bella tidak percaya juga. Aku bahkan sudah menghubungi ponsel Adriano, tapi sepertinya dia sangat sibuk sehingga tidak menjawab panggilanku,” terang Mia lagi seraya menyentuh kepala Miabella dan mengelus rambut panjang putri kecilnya.
“Ya, tuan D’Angelo memang selalu seperti itu saat sedang melakukan pekerjaan penting. Anda harus terbiasa mulai sekarang. Oh, iya. Apakah Anda sudah berkenalan dengan tuan Herrera? Dia adalah ajudan kepercayaan don Vargas, pria yang mengundang tuan D’Angelo beberapa malam yang lalu,” Pierre mengalihkan perhatiannya kepada Juan Pablo yang sejak tadi hanya terdiam menyimak obrolan mereka berdua, berhubung dirinya tak terlalu fasih bahasa Italia.
Mia mengalihkan pandangan kepada pria tampan itu. Seketika hatinya bergetar. Bayangan sosok Matteo muncul dalam wujud pria di hadapannya. Wanita cantik itu pun memaksakan diri untuk tersenyum. Dia menganguk pelan, dan menyapa Juan Poblo dengan menggunakan bahasa Italia.
“Tuan Herrera berasal dari Amerika latin. Dia tidak fasih berbahasa Italia. Jadi, gunakan bahasa Inggris saja, Nyonya. Kecuali jika Anda lancar berbahasa Spanyol,” ujar Pierre memberitahu Mia dengan sopan.
__ADS_1
Mia pun mengangguk tanda mengerti. Dia kembali menyapa Juan Pablo dengan menggunakan bahasa Inggris. Sementara Juan Pablo menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan, tanpa senyum atau simbol keramahan lain yang lazim dimiliki oleh orang-orang dalam pergaulan. Sementara Pierre saat itu harus menjawab panggilan masuk padanya. Pria berambut pirang tersebut pamit untuk berlalu ke ruangan lain, dan meninggalkan Mia bersama Juan Pablo. Sedangkan Miabella memperhatikan pria bertubuh tegap itu dengan diam-diam dari balik tubuh Mia.
“Aku tidak tahu jika Anda dan tuan D’Angelo sudah memiliki seorang putri,” pada akhirnya Juan Pablo memperdengarkan suara beratnya kepada Mia.
“Ah, tidak. Dia putriku ... maksudku putri dari mendiang suamiku yang telah tiada,” jelas Mia seraya melirik Miabella yang masih bersembunyi.
“Begitu rupanya,” Juan Pablo menanggapi. Sesaat kemudian, pria itu kembali terdiam dan memberikan kesan canggung di antara mereka berdua semakin kental. Mia tak tahu harus berkata apa. Dia juga merasa risih dengan tatapan intens dari pria di hadapannya tersebut. “Putrimu sangat cantik. Dia sangat mirip dengan Anda, Nyonya,” ucap Juan Pablo kemudian.
Sebuah senyuman indah terlukis di bibir Mia. “Ayo. Bella. Ucapkan terima kasih pada paman ini,” ucap Mia lembut, membujuk putrinya agar berhenti merajuk.
“Tidak mau!” tolak Miabella dengan ketus dan juga keras. Hal itu membuat Mia merasa tak enak terhadap Juan Pablo.
“Bella! Kau tidak boleh bersikap seperti itu!” tegur Mia dengan cukup tegas, membuat Miabella berlari entah ke mana. Sementara Mia terdengar mengempaskan napas pendek. “Maafkan putriku, Tuan Herrera,” sesal Mia.
“Ya, itu benar. Suamiku sedang pergi ke luar kota. Dia ....” Mia tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena terdengar suara Francesca yang memanggil. Mia pun menoleh ketika sang adik datang menghampirinya. Namun, gadis bermata hazel itu seketika tertegun dan tampak terkejut. Dia sempat memegangi dadanya untuk sesaat.
“Aku permisi dulu, Nyonya,” Juan Pablo mengangguk pelan kemudian berbalik dan melangkah dengan gagah menuju pintu keluar, dengan diiringi tatapan Mia dan juga Francesca.
“Siapa dia, Mia? Kenapa aku merasa jika pria itu mengingatkanku pada seseorang?” Francesca tampak menautkan alisnya.
“Kau benar, Francy,” jawab Mia dengan wajah sendu. Dia pun berbalik dan berjalan keluar dari ruang tamu yang luas itu. Sementara Francesca masih tertegun di tempatnya.
......................
Sudah dua hari Adriano pergi ke Sicilia. Pria itu pun tak dapat dihubungi. Dia tidak menjawab panggilan telepon dari Mia, sehingga membuat sang istri menjadi gelisah. Sama halnya dengan Marco dan Coco. Kedua pria itu pun tak dapat dihubungi sama sekali. Mia telah meminta Daniella dan Francesca untuk menghubungi kedua pria tersebut. Namun, hasilnya sama saja. Sementara Miabella masih saja merajuk dan meminta agar Mia mengantarkannya untuk menyusul Adriano ke Sicilia.
__ADS_1
Malam itu, waktu sudah menunjukan pukul sebelas lebih beberapa menit. Mia terbangun dari tidurnya. Dia mencoba untuk kembali memejamkan mata, tetapi rasanya begitu sulit. Mia pun bangkit dan memilih untuk duduk sambil bersandar. Dilihatnya bantal yang biasa menjadi penopang kepala Adriano. Dia lalu mengeluh pelan.
Pandangan Mia kini beralih pada layar monitor yang terhubung ke kamera pengawas di kamar Miabella. Gadis kecil itu tampak tertidur dengan nyenyak. Miabella memang tidak suka tidur dalam keadaan lampu yang dimatikan. Karena itu, Mia membiarkan kamar putri kecilnya tetap dalam keadaan terang.
Mia kembali terdiam dan termenung sejenak, sebelum dirinya memutuskan untuk menyibakan selimut dan turun dari tempat tidur. Dia juga memilih keluar kamar, setelah selesai mengenakan kimono satin merahnya.
Berjalan dengan tenang menyusuri koridor, akhirnya Mia tiba di lawang pintu berbentuk melengkung dengan ukuran yang cukup lebar. Dia ingat betul jika dulu dirinya pernah melewati jalan menuju ke lantai bawah mansion, di mana terdapat sebuah aula dan juga ruang kerja milik Adriano.
Adriano sendiri sudah memberikan akses kepada Mia untuk bisa keluar-masuk ruang kerjanya dengan leluasa, berhubung ruangan itu tidak perkenankan untuk dimasuki setiap orang. Pelayan yang bertugas untuk bersih-bersih pun harus atas seizin Adriano dan dalam pengawasan Pierre tentunya. Namun, kini Mia ingin mempergunakan akses istimewa itu. Dia tahu jika di dalam ruang kerjanya, Adriano memiliki banyak sekali koleksi buku. Wanita itu pun masuk ke sana dan tertegun untuk sejenak.
Mia mengedarkan pandangan pada setiap sudut ruangan bernuansa merah hati dengan interior yang membuat dirinya seakan tengah berada di dalam sebuah istana, meskipun suasana di sana agak temaram. Mia lalu menyalakan lampu utama, yaitu sebuah lampu gantung hias dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Kini suasana di sana menjadi jauh lebih terang, sehingga dia dapat melihat keadaan ruang favorit dari sang suami dengan jelas.
Satu hal yang menjadi perhatian Mia saat itu, yaitu sebuah pintu yang entah menuju ke ruangan apa. Mia berpikir jika itu adalah pintu ke toilet. Namun, di bagian lain yang jauh lebih tersembunyi, masih terdapat pintu yang lain. Mia melangkah ke sana, mendekati pintu yang terbuat dari kayu mahoni, sama seperti furniture lainnya yang ada di dalam ruang kerja tersebut. Dengan agak ragu, dia memutar gagangnya hingga terbukalah pintu tersebut dengan cukup lebar.
Ruangan itu cukup gelap. Mia masuk dan mencari letak saklar. Tak berselang lama, dirinya menemukan apa yang dia cari. Setelah semua lampu menyala dan ruangan menjadi terang benderang, barulah Mia dapat melihat pemandangan yang seketika membuat dirinya terkejut bukan main, hingga dia harus mundur beberapa langkah dan bersandar pada dinding. Mia tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu.
🍒
🍒
🍒
Rekomendasi novel keren dan pasti seru untuk dibaca. Sambil menunggu kelanjutan kisah Adriano dan Mia.
__ADS_1