Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Young Eagle


__ADS_3

Juan Pablo duduk bersandar pada dinding, sambil menekuk sebelah kakinya. Dia mengeluarkan sebatang rokok yang baru diambil dari kamar. Dengan tenang dan tanpa beban sedikit pun, pria tiga puluh lima tahun itu mengisap rokok kemudian mengepulkan asapnya. Sesekali, Juan Pablo memejamkan mata, merasakan tubuh yang terasa lelah. "Sialan kau, Melker! Jadi, kau menguntitku rupanya," umpat pria bermata cokelat madu tersebut, saat mengingat ucapan terakhir Lionel tentang dirinya dan Gianna.


Untuk beberapa saat, Juan Pablo memandangi jasad dengan isi perut yang terburai, dan darah yang menggenang di sekitarnya. Sebuah pemandangan yang mengerikan, tapi sangat menyenangkan bagi seorang Elang Rimba. "Mayatmu akan membusuk di sini. Menyedihkan sekali," cibir Juan Pablo lagi dengan seutas senyuman di sudut bibirnya. Dengan tangan yang masih berlumur darah, pria asal Meksiko tersebut meraih ponsel yang tadi dia ambil bersama rokok dari kamar. Sementara sorot matanya penuh kepuasan. Juan Pablo memotret jasad Lionel yang terlihat sangat mengenaskan. Setelah itu, dia kembali menyunggingkan senyuman sinis.


Hadiah untuk anda, tuan D'Angelo.


Sebuah caption Juan Pablo sertakan, dalam foto yang dikirimkannya kepada Adriano. Setelah itu, dia kembali meletakkan ponsel tersebut di sebelahnya. Kembali ditatapnya jasad Lionel. Itu bukanlah kali pertama dia menghabisi seseorang dengan brutal. Entah berapa banyak nyawa yang telah terlepas dari raganya, akibat perbuatan Elang Rimba.


Bayangan Juan Pablo kembali pada belasan tahun silam, ketika dirinya masih remaja. Saat itu, usianya baru sekitar tujuh belas tahun, waktu dia bergabung dengan organisasi Killer X. Juan Pablo yang sudah memiliki kemampuan luar biasa sejak beranjak remaja, telah menarik perhatian Pedro.


Siang itu, cuaca terasa begitu terik. Juan Pablo berjalan seorang diri dengan wajah yang menatap langkah kakinya sendiri. Namun, tiba-tiba dia harus tertegun ketika ada beberapa remaja pria yang menghadang lajunya. Juan Pablo seperti sudah tahu siapa mereka, karena itu dia memilih untuk mengambil jalan lain yang kosong. Dengan langkah tenang dan kedua tangan berada di dalam saku hoodie, dia tak memedulikan ketiga remaja yang terdengar mengejek dirinya lewat sebuah tawa.


"Huérfanos (Anak yatim)," ledek salah satu dari mereka, disambut gelak tawa dari kedua rekannya.


Juan Pablo tertegun mendengar sebutan itu. Dia tak menoleh sedikit pun dan hanya berdiri tanpa mengeluarkan tangan dari dalam saku jaketnya. Namun, ketika dia merasakan sebuah tepukan di pundak, Juan Pablo segera berbalik dengan langsung menyarangkan tendangan keras yang ditujukan terhadap orang di belakangnya.


Remaja itu seketika terjengkang beberapa meter jauhnya sambil memegangi dada. Sementara kedua rekannya tersentak. Salah seorang dari mereka segera maju untuk menyerang Juan Pablo. Dia melayangkan tinjunya lurus ke arah muka. Akan tetapi, itu bukan hal sulit untuk ditahan oleh Juan Pablo. Dia memegangi kepalan tangan pemuda tadi, kemudian memelintirnya hingga tubuh si pemuda setengah berjinjit karena mengikuti gerakan pergelangan tangannya yang diputar. Pemuda berambut pirang tersebut memekik kesakitan. Namun, Juan Pablo tak melepaskannya sama sekali. Dia justru menambah serangan dengan sebuah tendangan keras. Si rambut pirang pun terjengkang, sama seperti rekannya yang pertama.


Melihat kedua temannya dikalahkan dengan mudah, seorang lagi yang sejak tadi hanya terpaku, seketika terlihat ketakutan. Tanpa memedulikan kedua sahabatnya yang sedang berusaha untuk bangkit, remaja itu bergegas lari tunggang langgang.


Sementara Juan Pablo segera berbalik dan melanjutkan langkah menuju ke rumahnya. Namun, lagi-lagi pemuda tujuh belas tahun itu harus kembali tertegun. Dia menoleh ke belakang saat merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Juan Pablo melihat ke sekeliling tempat itu. Akan tetapi, dia tak melihat ada seseorang yang mencurigakan. Dia pun kembali melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Tepat pada sebuah gang yang cukup sepi. Juan Pablo berbelok. Sigap, tangannya meraih tubuh seorang pria dewasa yang dia yakini sebagai si penguntit. Juan Pablo melingkarkan lengannya di leher pria itu.


"Cálmate (Tenanglah)," pinta si pria seraya memegangi lengan Juan Pablo, agar tak terlalu erat mencekik lehernya.


"Siapa kau?" tanya Juan Pablo dingin.


"Lepaskan dulu. Setelah itu kita akan bicara baik-baik," pinta pria itu lagi dengan tenang.


"Apa jaminannya bahwa kau bukan orang yang hendak mencelakaiku?" Juan Pablo tak bersedia melakukan permintaan pria tadi. Dia justru semakin mengeratkan lengannya pada leher si pria.


"Tidak, Nak. Tidak," cegah pria itu dengan segera. "Namaku Pedro Alcaraz, dan aku tak bersenjata. Kau boleh memeriksanya," ujar pria bernama Pedro itu meyakinkan Juan Pablo. Dia tak mencoba untuk melawan, hingga Juan Pablo merenggangkan belitan pada lehernya. Namun, pemuda tujuh belas tahun tersebut tak melepaskannya.


"Katakan apa yang kau inginkan?" tanya Juan Pablo lagi dengan sinis.


"Tempat apa?" tanya Juan Pablo lagi tanpa mengubah gaya bicaranya.


"Tempat di mana kau bisa menyalurkan segala emosi dalam dirimu," jelas Pedro.


"Apa maksudmu, Pak Tua?" Juan Pablo tak mengerti dengan ucapan Pedro.


"Aku melihatmu, Nak. Aku menyaksikan semuanya. Ketangkasan dan cara kau mengendalikan segala luapan emosi terhadap orang-orang di sekitarmu. Aku tertarik dengan hal itu," jelas Pedro lagi.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Juan Pablo lagi penuh selidik.


"Untuk bertemu dengan Melker. Kebetulan dia sedang berada di kota ini," jawab Pedro tanpa ragu.


"Siapa Melker?" Juan Pablo kembali bertanya.


"Kau akan mengetahuinya jika dirimu bersedia ikut denganku," ujar Pedro lagi meyakinkan Juan Pablo.


Sesaat kemudian, Juan Pablo lalu merenggangkan lengannya dari leher Pedro. Dia juga melepaskan pria itu, sehingga Pedro akhirnya dapat bernapas dengan leluasa. Tanpa disangka, Juan Pablo juga bersedia untuk menerima tawaran tadi. Dia mengikuti langkah Pedro yang membawanya ke suatu tempat. Di sana, Juan Pablo bertemu dengan seorang pria berambut pirang dan memiliki mata hijau yang sangat khas. Kelihatan sekali jika pria itu bukanlah berasal dari Amerika Latin.


"Dialah Melker," tunjuk Pedro pada pria yang tengah asyik mengisap rokoknya.


"Siapa dia, Pedro?" tanya pria bernama Melker itu.


Pedro yang belum tahu nama pemuda di sebelahnya, segera menoleh dan memberi isyarat agar Juan Pablo memperkenalkan diri. Sementara Melker memperhatikan pemuda tujuh belas tahun tadi dengan saksama.


"Juan Pablo Herrera," pemuda berkulit eksotis itu menyebutkan namanya. Sepasang mata berwarna cokelat madu Juan Pablo menajam, saat mengikuti gerak tubuh Melker yang beranjak dari kursi. Pria berambut pirang tersebut berjalan mendekati Juan Pablo yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Juan Pablo Herrera," ucap Melker tepat di hadapan wajah pemuda itu. "Berapa usiamu, Nak?" tanyanya.


"Tujuh belas tahun," jawab Juan Pablo dengan segera.

__ADS_1


Seketika Melker tertawa lebar saat mendengar Juan Pablo menyebutkan usianya. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Pedro. Tawa Melker pun berhenti dan berubah menjadi sebuah tatapan dingin. "Apa-apaan ini, Pedro? Kau menyodorkan seorang bocah ingusan padaku?" protesnya keras. "Apa yang bisa dia lakukan?" Melker terdengar menyangsikan kemampuan Juan Pablo. Pria itu kembali mengarahkan perhatiannya kepada pemuda yang tak terpengaruh sama sekali dengan ejekan dari dirinya. "Seberapa besar kemampuanmu?"


"Aku bisa menghancurkan kepalamu, hanya dengan satu kali tarikan dari senjata laras panjang milikku," sahut Juan Pablo dengan datar dan dingin. Sebuah jawaban yang membuat pria di hadapannya seketika terdiam.


__ADS_2