
“Bereskan semuanya!” titah Coco seraya berjalan keluar. Raut wajah yang teramat tegang kini mulai sedikit menghilang dari pria itu. Puas rasa hati Coco karena telah berhasil menghabisi satu dari keempat yang menjadi eksekutor Matteo. Janjinya telah terpenuhi untuk mematahkan tangan sang pelaku. Andai saja tengah berada di Italia, Coco mungkin akan menyeret tubuh pembunuh bayaran itu hingga ke depan makam sahabat dekatnya tersebut. “Dua orang lagi, Theo. Setelah itu, dendammu akan benar-benar terbalaskan,” gumam Coco sambil terus berjalan menyusuri trotoar yang tadi dia lewati untuk kembali ke rumah sewaan yang dirinya dan Mia tempati.
Namun, sebelum masuk ke halaman rumah itu, Coco melihat ada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana. Dia sempat tertegun, saat mendapati seorang pria dengan mantel hitam dan bertopi memasuki mobil tersebut. Sebelum Coco berhasil mendekat, sedan hitam itu terlebih dulu melaju dengan cepat meninggalkan tempatnya. Coco kembali tertegun. Sekilas dia melihat plat nomor mobil tersebut. Akan tetapi, pikirannya kini tertuju kepada Mia. Tanpa membuang waktu, pria berambut ikal itu bergegas menuju ke rumah. Tampaklah empat orang anak buah Adriano yang tengah berjaga di teras depan. Melihat kedatangan Coco, mereka segera mengangguk hormat. “Apakah semuanya aman?” tanya pria bermata cokelat itu.
“Ya. Kami sudah berkeliling sebanyak dua kali. Tak ada satu pun hal yang mencurigakan di sekitar sini,” jawab salah satu dari mereka.
Coco hanya menanggapi hal itu dengan sebuah anggukan. Dia pun segera masuk. Entah saat itu Mia sudah tertidur atau belum, karena penunjuk waktu telah berada pada pukul dua dini hari lewat beberapa menit. Coco pun memilih untuk langsung ke kamarnya. Akan tetapi, sapaan dari Mia berhasil menghentikan langkah pria tersebut. Dia menoleh dan melihat Mia yang baru keluar dari dalam kamar. “Aku pikir kau sudah tidur, Mia,” ucapnya. Raut wajah Coco mulai berangsur normal seperti biasanya.
“Bagaimana aku bisa tidur, sementara kau belum juga kembali,” balas Mia sambil berjalan mendekat. Dia memperhatikan penampilan Coco yang terlihat kacau dan tak serapi saat pria itu pergi tadi. “Apa yang terjadi?” tanyanya cemas serta penasaran yang bercampur menjadi satu.
“Tidak apa-apa, Mia. Sebaiknya kau segera beristirahat, karena ini sudah malam. Sepertinya, aku juga akan tidur dengan nyenyak malam ini,” sahut Coco sambil tersenyum lebar. Sebuah senyuman yang selalu menjadi ciri khas dari dirinya. Setelah itu, Coco lalu membalikkan badan dan bermaksud untuk pergi ke kamar.
“Tunggu, Ricci,” cegah Mia, membuat Coco kembali menoleh. “Kau tadi mengatakan bahwa Adriano masih hidup. Apakah itu benar?” Mia mencoba meyakinkan apa yang Coco katakan padanya sebelum pergi.
“Ya, Mia. Dia mengirimkan pesan padaku. Namun, aku tidak bisa melacak keberadaan suamimu saat ini. Semoga saja dia kembali menghubungiku secepatnya,” tutur Coco.
“Apa yang dia katakan, Ricci?” tanya Mia lagi begitu penasaran.
Coco mengela napas pelan kemudian mengempaskannya. Niat untuk pergi ke kamar dia urungkan sejenak, dan memilih duduk di sofa. Mia pun segera mengikutinya. Wanita cantik bermata cokelat tersebut, terus melayangkan tatapan kepada sang calon adik ipar yang saat itu tengah melepas jaketnya.
__ADS_1
“Apa kau baru berkelahi dengan seseorang, Ricci?” selidik Mia lagi.
Mau tak mau, Coco memang harus bercerita kepada mantan istri dari mendiang sahabatnya tersebut. Mia pun berhak tahu atas apa yang sudah dilakukannya malam itu. “Ya. Ada penyergapan yang berujung pada perkelahian,” terang Coco mengawali ceritanya.
“Kau tidak membuat masalah di sini, kan?” tukas Mia.
“Tentu saja tidak,” bantah Coco dengan segera. “Adriano memintaku untuk mengikuti seorang pria yang ternyata adalah Thomas Bolton. Dia merupakan salah satu dari eksekutor Matteo,” terang Coco lagi membuat Mia seketika terhenyak saat mendengarnya.
“Bagaimana Adriano bisa menemukan dan merasa yakin jika itu merupakan orang yang sedang kita cari?” tanya Mia tak mengerti.
“Entahlah, Mia. Aku hanya mengikuti petunjuk darinya melalui pesan suara yang Adriano kirimkan. Setelah mengikuti pria itu, aku dapat memastikan jika dia memang Thomas Bolton yang disebutkan oleh Andreja Borislav. Pria asal Kroasia yang sudah berhasil suamimu habisi tempo hari,” jelas Coco. Sedangkan Mia seakan tak dapat berkata apa-apa lagi. “Artinya, tinggal dua orang lagi. Setelah kita menemukan kedua orang itu, maka dendam atas kematian Matteo akan segera terbalaskan. Kau tidak perlu khawatir, Mia. Saat ini, aku mulai menyetujui keputusan yang telah kau ambil untuk meminta bantuan Adriano. Pria itu memang bisa kita andalkan,” Coco kembali tersenyum, meskipun tidak selebar biasanya.
Akan tetapi, lain halnya dengan Mia. Raut penuh kecemasan masih menggelayuti wajah cantik wanita dua puluh sembilan tahun itu. Ibu dari Miabella tersebut tak akan merasa tenang, selama dirinya belum melihat kondisi Adriano secara langsung. “Aku sangat mengkhawatirkannya, Ricci. Entah bagaimana keadaan Adriano saat ini,” resah Mia sambil sesekali menggigit kuku jari telunjuknya.
Adalah sebuah panggilan dari Marco. Coco pun segera menjawabnya. “Pronto. Apakah kau tidak punya waktu lain untuk menghubungiku?” protes Coco yang merasa terganggu.
Bukannya tersinggung, Marco malah tertawa lebar. “Aku tahu kau pasti belum tidur. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja,” ucap sang ketua klan de Luca tersebut.
“Memangnya kenapa?” Coco naik ke tempat tidur dan duduk sambil bersandar. Dia meluruskan kakinya yang terasa pegal.
__ADS_1
“Ranieri menghubungiku. Dia mengatakan semuanya padaku. Apakah Adriano sudah memberikan kabar terbaru tentang kondisinya saat ini?” tanya Marco lagi.
“Belum,” sahut Coco, “semoga saja besok dia menghubungiku lagi,” lanjutnya dengan lesu.
“Semoga Adriano lekas keluar dari persembunyiannya. Apalagi sekarang Thomas Bolton sudah mati,” ujar Marco.
“Ya, lagi pula ... Mia tampak sangat mengkhawatirkannya. Kurasa ....” Coco menghentikan kata-katanya.
“Kenapa?” kejar Marco yang tak sabar.
“Kurasa, Mia telah memperlakukan Adriano sama seperti dirinya memperlakukan Matteo dulu,” jawab Coco dengan intonasi yang terdengar lemah.
“Ah, kupikir ada sesuatu yang penting. Memangnya, apa yang kau harapkan, Amico? Kau ingin Mia terus meratapi Matteo seumur hidup? Itu tak adil baginya. Kita semua tahu bagaimana terpuruk dan hancurnya Mia ketika Matteo terbunuh, seakan-akan dia tak akan bisa kembali pulih. Lalu, lihatlah kini keadaannya. Dia kembali menjadi dirinya yang dulu saat bersama Adriano. Walaupun pernikahan mereka hanyalah pernikahan di atas perjanjian pada awalnya,” tutur Marco panjang lebar.
“Aku hanya takut jika ... jika Matteo terlupakan,” bergetar suara Coco saat mengucapkan kalimat tersebut.
“Itu tidak mungkin! Aku mengetahui dengan pasti, seberapa besar cinta Mia terhadap Matteo. Dengar, Amico. Hentikan pemikiran yang tak berguna ini. Fokuslah pada tujuan kita yang akan tercapai sedikit lagi. Aku rasa kau juga seharusnya berterima kasihlah kepada Adriano yang telah membukakan jalan untuk kita. Dia telah melakukan banyak hal. Adriano sudah berkorban waktu, tenaga, dan juga entah berapa besar biaya yang telah dia keluarkan untuk mengungkap kasus ini. Hargai itu,” tegas Marco yang kemudian mengakhiri panggilannya, meninggalkan Coco termenung sendirian di atas ranjang. Apa yang Marco katakan sangatlah benar, meskipun ketakutan Coco juga sedikit beralasan. Pada kenyataannya, Mia memang sangat mengkhawatirkan Adriano.
Di dalam kamarnya, wanita itu sama sekali tak dapat memejamkan mata. Terbayang olehnya setiap detail sosok rupawan itu, bagaimana cara Adriano memperlakukannya dengan sangat lembut dan juga melenakan. Bagaimana pria itu menunjukkan cintanya yang begitu besar hanya kepada Mia.
__ADS_1
“Ah, Adriano ....” desah Mia seraya memegangi kepalanya. Setitik air mata mulai menetes di pipi mulus itu. Entah apa yang Adriano lakukan saat ini.
Sementara, pria yang sangat Mia khawatirkan kini tengah duduk diam di atas ranjang kayu sederhana, di dalam sebuah pondok di tepi kawasan hutan lindung. Dia juga sama gelisahnya dengan wanita cantik itu. Benaknya pun tak bisa lepas dari senyuman indah sang istri. Perlahan, Adriano beringsut turun dari ranjang, lalu mendekat ke arah jendela. Sedikitnya penerangan membuat pria bermata biru itu tak dapat melihat apapun di luar sana, menjadikan bayangan tentang Mia semakin merajai angannya.