Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
White Handkerchief


__ADS_3

Sudah beberapa hari keluarga kecil Adriano tinggal di Italia. Entah sampai kapan mereka akan berada di negeri pizza tersebut, karena Adriano tak sekalipun mengatakan hendak mengajak Mia dan Miabella pulang ke Monaco. Mia juga sepertinya tak merasa keberatan. Dia justru tampak sangat bahagia, saat melihat Adriano begitu menikmati waktunya di Italia. Seperti saat itu, ketika pria bermata biru tersebut mengajak dia dan juga Miabella untuk berjalan-jalan ke pasar malam, dan pekan hiburan yang kerap diadakan di alun-alun kota Brescia.


“Aku ingin naik bianglala, Daddy Zio,” pinta Miabella antusias, sesaat setelah mereka tiba di sana. Jemari mungilnya menunjuk lurus ke arah bianglala yang berukuran cukup besar.


“Apakah itu aman, Adriano?” Mia merasa sedikit was-was karena ini adalah pertama kalinya dia mendatangi pasar malam bersama Miabella.


“Sepertinya tempat itu cukup luas untuk diisi oleh kita bertiga,” jawab Adriano dengan intonasi yang menenangkan. “Ayo,” tanpa ragu, Adriano menggandeng Mia sekaligus menggendong Miabella hingga mendekat ke barisan antrian. Baru kali ini dia harus berdesakan serta bersabar saat mengantri, sampai tiba gilirannya untuk membeli dan mendapatkan tiket. Akan tetapi, wajahnya terlihat begitu ceria dan bahagia.


“Dulu, aku hanya bisa memandang pasar malam dari jauh. Di saat Claudia mengajak saudara-saudara tiriku pergi ke pasar malam, dia malah memaksaku masuk ke kandang anjing. Claudia menyuruhku untuk berdiam di sana semalaman,” tutur Adriano dengan sorot pilu.


“Astaga,” wajah Mia menampakkan rasa iba yang teramat sangat.


“Padre mengetahui akan hal itu, tapi dia diam saja. Keesokan harinya, padre diam-diam mengajakku ke pasar malam sendirian. Kami menghabiskan waktu dengan mencoba segala macam permainan. Terakhir, kami menaiki bianglala,” cerita Adriano terjeda saat dirinya sudah tiba di depan loket dan menukar uangnya dengan tiga lembar karcis.


Seorang penjaga bianglala kemudian mengantarkan mereka masuk ke dalam salah satu bilik wahana permainan itu, lalu menutup pintu dan menyelotnya dengan sempurna. Tak berapa lama, bianglala itu berputar perlahan searah jarum jam. “Wah, kurungannya mulai bergerak, Daddy Zio! Asyik!” Miabella berseru antusias sambil bertepuk tangan seraya melompat-lompat, saat bianglala bergerak membawanya semakin tinggi.


“Sayang, tenanglah. Ayo, duduk. Lihat, bilik kita bergoyang lebih kencang jika kau terus melompat-lompat seperti itu,” tegur Mia yang segera dituruti oleh putri semata wayangnya. Sementara Adriano hanya terkekeh melihat interaksi antara ibu dan anak tersebut.


“Kau tahu, Mia?” ucap Adriano beberapa saat kemudian. “Ternyata, entah bagaimana caranya Claudia mengetahui bahwa padre telah mengajakku bersenang-senang. Akhirnya dia marah besar. Pada pagi berikutnya0 ketika aku hendak bergabung untuk sarapan bersama, tiba-tiba saja nenek sihir itu menendang tubuhku. Dia mengusir diriku tanpa ada belas kasihan. Dia benar-benar memaksa agar aku meninggalkan kediamannya saat itu juga,” Adriano mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya kembali.

__ADS_1


“Aku terpaksa keluar dari neraka itu tanpa sempat mengisi perut, bahkan tanpa sepotong roti pun. Namun, aku sangat bersyukur, Mia. Kau tahu kenapa?” Adriano yang duduk berhadapan dengan Mia, mendekatkan wajahnya pada paras cantik sang istri.


“Tidak," jawab Mia, "kenapa?” dia balik bertanya.


“Karena dengan adanya kejadian tersebut, ternyata hal itu telah membuatku dapat bertemu denganmu,” senyum Adriano semakin terkembang seraya mengecup bibir Mia. Adriano sudah bersiap mencium dan ******* dengan lebih dalam, ketika tiba-tiba bianglala berhenti bergerak, sampai menimbulkan goncangan yang cukup kencang di dalam bilik.


“Ada apa ini, Ibu?” wajah ceria Miabella berubah menjadi raut ketakutan. Balita cantik itu segera menghambur ke dekapan Adriano yang duduk tepat di sampingnya.


“Tidak apa-apa, Principessa. Ini mungkin hanya ada kesalahan teknis di bawah sana. Mereka pasti akan segera memperbaikinya,” hibur Adriano sambil memeluk Miabella dengan erat. Selesai berbicara demikian, bianglala itu kembali berputar dan bergerak normal.


“Benar ‘kan apa kata Daddy Zio?” Mia ikut menghibur Miabella yang masih terlihat ketakutan. Pasangan suami istri itu terus menerus mengalihkan perhatian putri kecil mereka, hingga tanpa terasa bilik yang ketiganya tempati sudah berhenti di tempat semula. Seorang penjaga bianglala segera membukakan pintu, kemudian menurunkan Miabella terlebih dulu. Sementara Mia mengikuti di belakangnya. Sedangkan Adriano turun paling terakhir.


“Daddy Zio, aku ingin permen kapas,” permintaan Miabella yang terdengar cukup nyaring, seketika mengaburkan konsentrasi Adriano. Pria berambut gelap itu pun tersadar, kemudian menoleh kepada gadis kecil yang kini telah kembali ceria.


“Kau kenapa, Adriano?” Mia yang merasa heran, mampu menangkap keanehan pada mimik yang diperlihatkan sang suami.


“Tidak ada apa-apa para bidadariku,” canda Adriano. “Ayo, kita beli permen kapas,” pria jangkung itu lalu menuntun Miabella ke arah stan penjual berbagai macam makanan ringan. Sedangkan Mia sibuk merogoh tas kecil yang dia selempangkan di pundak karena merasa ponselnya bergetar. Dengan segera, wanita cantik itu mengecek layar ponsel. Akan tetapi, ternyata tak ada satu pun pesan atau panggilan yang masuk ke nomornya.


Mia kemudian bergumam pelan, lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Saat itulah dia baru menyadari bahwa dirinya telah terpisah dengan Adriano dan juga Miabella. Setengah panik, Mia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Wanita bermata cokelat itu berusaha mencari sosok suami serta putrinya. Akan tetapi, dia kesulitan menemukan keberadaan mereka berdua di antara lautan manusia yang terus berlalu-lalang tanpa henti.

__ADS_1


Dengan masih mengedarkan pandangan, Mia mulai berjalan mengelilingi area pasar malam yang cukup luas di alun-alun kota. Berkali-kali dia menyibakkan kerumunan orang-orang, hingga akhirnya Mia menyadari bahwa dirinya telah terpisah semakin jauh dari Adriano. “Aduh, bagaimana ini?” gumamnya pelan. Rasa sesal semakin bertambah karena selama tinggal di Brescia, Mia tak pernah ke luar terlalu jauh dari area Casa de Luca. Mengunjungi alun-alun kota itu adalah yang kedua kalinya bagi wanita tersebut. Tak kehilangan akal, dia bermaksud untuk mengambil kembali ponsel. Namun, hal itu diuringkan karena sapaan seseorang terhadapnya.


“Apakah Anda kehilangan sesuatu, Nyonya? Anda terlihat bingung,” tiba-tiba saja dari arah belakang, terdengar suara seorang pria.


Dengan segera, Mia menoleh dan mendapati seorang pria jangkung bermata hijau tersenyum aneh kepadanya.


“Tidak. Aku tidak kehilangan apapun. Permisi,” Mia mundur perlahan untuk menjauhi pria asing tersebut. Akan tetapi, lengannya telah lebih dulu dicengkeram oleh tangan kanan pria tak dikenal itu.


“Aku yakin sapu tangan ini milik Anda,” tangan kiri pria itu memegang sapu tangan sutra putih sambil melambai-lambaikannya perlahan.


“Tidak. Aku tak pernah mempunyai sapu tangan,” elak Mia seraya berusaha melepaskan cengkeraman pria tadi.


Alih-alih melepaskan, tangan pria asing itu malah semakin kuat memeganginya. Dia bahkan menarik Mia hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. “Lihat ini baik-baik,” pria misterius tersebut mengarahkan sapu tangan ke wajah dan berusaha membekap mulut wanita itu.


Mia tak ingin tinggal diam. Dia berusaha memberontak dan hendak berteriak. Namun, pria tadi jauh lebih kuat dengan gerakan yang cepat pula. Sapu tangan putihnya berhasil mendarat di wajah Mia dan membuat wanita cantik itu sedikit kehilangan kesadaran. Tubuh rampingnya limbung dan terjatuh ke atas tanah berumput.


Samar-samar, Mia melihat pria asing itu semakin mendekati dan berniat hendak menggendongnya. Namun, sebelum itu terjadi, telinga Mia masih sanggup menangkap suara berat yang amat dia kenal tengah meneriakkan namanya.


“Mia!” seruan Adriano membuat pria di depannya itu segera menegakkan badan dan berlari pergi. Hal terakhir yang dapat dia lihat sebelum tak sadarkan diri adalah wajah panik Adriano, diiringi tangisan Miabella yang terdengar begitu menyayat perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2