
Adriano saling pandang untuk sejenak dengan Coco, sebelum dia kembali mengarahkan perhatiannya kepada pemuda yang sudah tak berdaya itu. “John siapa?” desak pria bermata biru tersebut. Rasa penasaran terlihat jelas pada raut wajahnya.
“John, te ... manku. Kukira di ... a sahabat yang ba-baik,” pemuda itu terbata karena napasnya mulai tersengal.
“Katakan padaku, di mana tempat tinggalnya? Aku butuh nama belakang John!” desak Adriano lagi tak sabar.
Sementara pemuda itu sesekali meringis karena menahan rasa sakit akibat luka yang dialaminya. “John Dixon. Dia beralamat di ....” dengan sisa-sisa napas yang masih tersisa, pemuda itu menyebutkan sebuah alamat flat di pinggiran kota London. Dia menyelesaikan kalimatnya bersamaan dengan kedua mata yang tertutup sempurna. Pemuda itu akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
“Apa dia mati?” Coco menatap Adriano dengan penuh tanda tanya.
“Ya. Dia mati dan sidik jariku memenuhi kausnya. Jejak ban mobil sewaan kita juga tertinggal jelas di sini,” setengah panik, Adriano berdiri dan menyapu pandangan ke sekeliling gudang itu, sebelum akhirnya kembali mengarahkan perhatian kepada Coco. “Apa kau bisa menghubungi detrktif Ranieri sekarang juga?” tanya Adriano pada akhirnya.
“Untuk apa?” Coco balik bertanya.
“Kita membutuhkan bantuannya untuk membereskan dan menutupi semua jejak yang kita tinggalkan di sini,” jawab Adriano memberikan penjelasan, membuat Coco dapat segera memahaminya dengan baik.
Tanpa menunggu lama, pria berambut ikal itu segera meraih ponselnya dan menghubungi detektif Ranieri. Coco tidak banyak berbasa-basi. Dia segera mengutarakan tujuan menghubungi detektif yang telah menawarkan kerja sama dengan mereka sebelumnya.
Ignazio Ranieri langsung menyanggupi hal itu. Dia tahu apa yang harus dilakukannya. “Segeralah pergi dari sana! Aku akan mengurus semuanya. Teman-temanku sudah bersiap di London,” ujar sang detektif.
Coco dan Adriano saling pandang kemudian sama-sama mengangguk. “Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan?” Coco mengangkat salah satu alisnya.
“Ayo kita cari alamat John Dixon,” balas Adriano. Mereka berdua pun bergegas kembali ke mobil dan meluncur dari sana menuju pinggiran kota London.
Tak sulit bagi Coco untuk mencari alamat yang telah disebutkan oleh si pemuda tadi.
Perhatiannya kini tertuju pada apartemen atau flat kumuh setinggi puluhan lantai. Di pintu masuk, Adriano bertanya pada pria tua yang sepertinya adalah seorang penjaga tempat tersebut. “Berapa nomor kamar John Dixon?” Adriano bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.
__ADS_1
“Apa kau salah seorang korbannya juga?” sahut pria itu.
“Apa maksudmu?” Adriano mengernyitkan kening seraya melipat tangan di dada.
“Dia pembohong besar! Bajingan itu telah menipuku sebanyak dua ratus poundsterling. Sudah seminggu ini dia tidak pulang kemari!” sungut pria tua tersebut penuh emosi. “Kalau kau memang bernasib sama denganku, tolong datangi ruangannya di lantai sebelas, nomor 43B. Bawa barang-barang berharganya yang bisa kujual,” tuturnya dengan logat Inggris Britania yang kental.
“Baiklah, akan kuingat,” Adriano dan Coco mengangguk, lalu memasuki lift. Adriano kemudian menekan angka sebelas. Sesampainya di sana, dia mengurutkan nomor kamar hingga mereka berhenti di depan pintu berangka 43B. Tanpa harus diminta, Coco segera memutar pegangannya. Namun, dia lalu menggeleng. “Dikunci,” ucap pria berambut ikal itu sambil mengangkat kedua bahunya.
“Minggirlah,” Adriano menggeser pelan tubuh Coco ke arah samping. Sekuat tenaga, dia kemudian menendang pintu itu hanya dengan sekali gerakan hingga jebol seketika.
“Wow,” Coco bertepuk tangan. “Kekuatanmu ternyata seimbang dengan Matteo,” sanjungnya sembari melewati Adriano dan masuk ke dalam ruangan yang tampak kosong itu.
“Berantakan sekali,” Adriano berdecak. Dia kembali bersikap waspada. Diperiksanya kamar demi kamar dengan saksama, meskipun harus berakhir kecewa. “Tak ada siapa pun di sini,” gerutu Adriano.
“Lihat yang kutemukan ini,” Coco memungut beberapa kartu nama yang tercecer di atas meja. Dibacanya satu persatu. Namun, pada akhirnya dia kembali membuang kartu-kartu kecil itu ke atas meja tadi, “Ternyata hanya nama-nama wanita panggilan," ucapnya kecewa bercampur jengkel.
“Apa Anda mengenal orang yang menempati ruangan ini?” Adriano bertanya dengan sikapnya yang terlihat ramah.
“Ya! Dia tetanggaku, memangnya kenapa?” jawab wanita itu masih dengan nada tinggi. Sorot matanya penuh dengan curiga pada kedua pria yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Apa Anda tahu di mana dia sekarang?” tanya Adriano lagi masih dengan sikapnya yang tenang.
“Mana kutahu!" sahut wanita itu tak acuh dan amat ketus. "Dia sudah seminggu tak pulang! Coba saja kalian cari ke tempat kerjanya di Devil’s Angel Pub and Restaurant!” jelas wanita itu dengan suara lantang. Sikap tenang dan ramah yang Adriano tunjukan padanya, ternyata tak membuat sikap wanita itu menjadi lunak.
“Di mana itu?” giliran Coco kini yang bertanya padanya.
“Ah, kalian jelas bukan orang Inggris! Pub yang sangat terkenal itu pun kalian tak tahu? Luar biasa,” cibir wanita tadi masih dengan nada bicaranya yang tidak bersahabat.
__ADS_1
“Katakan saja di mana, Nyonya! Tolonglah,” Coco memasang tampang memelas seraya merekatkan kedua telapak tangannya di dekat dada.
“Tempat itu berada di pusat kota London! Sekarang pergilah kalian semua dari sini atau aku akan menelepon polisi! saat ini juga. Dasar penyusup!” ancam wanita itu tegas.
“Tak kau suruh pun, kami sudah pasti akan pergi,” Coco mengedipkan sebelah mata, lalu berjalan melewati wanita tadi dengan begitu saja.
Demikian pula Adriano yang mengikutinya dari belakang. Dia berniat mendatangi tempat yang disebutkan wanita tadi malam itu juga. Akan tetapi, ponsel yang berdering menghentikan langkah tegapnya. Adriano semakin membeku ketika dia melihat nama Mia lah yang tertera di layar ponselnya.
"Ah, sial! Istriku terbangun. Aku tak boleh membuatnya khawatir,” ucap Adriano seraya menelan ludah. Dia berjalan sedikit menjauh dari Coco. "Mia," sapa Adriano membuka percakapan.
"Aku terbangun dan tak menemukanmu di manapun. Kau ada di mana sekarang?" tanya Mia dengan suaranya yang terdengar agak parau.
"Aku keluar sebentar bersama Ricci. Kami hanya ingin mencari angin sambil menikmati malam di kota London, sebelum berangkat ke Birmingham," jawab Adriano mencoba tetap tenang, meskipun dirinya tak enak karena harus berbohong kepada Mia.
"Kau pikir aku akan percaya begitu saja?" Mia terdengar curiga.
Adriano tertawa pelan. Dia memberi isyarat kepada Coco agar mendekat. Dia lalu memberikan ponselnya kepada pria itu. "Hai, Mia. Sebaiknya kau lanjutkan tidurmu dan berhenti mengganggu kami. Jangan cemas, karena aku tak akan segan memukul suamimu andai dia melirik gadis-gadis berpinggul besar di sini," celoteh Coco yang segera berbalas sebuah sikutan dari Adriano. Dengab segera, Adriano merebut ponselnya dari tangan Coco.
"Katakan padaku ada di mana kalian sekarang!" suara Mia tiba-tiba terdengar jauh lebih tegas dari sebelumnya.
"Jangan dengarkan dia, Mia. Kami hanya duduk-duduk di sekitar hotel. Tak ada gadis berpinggul besar di sini," ucap Adriano meyakinkan sang istri. "Kami akan ke kamar sebentar lagi. Sebaiknya kau kembali tidur dan temani Miabella. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja," pelan dan dalam suara Adriano terdengar begitu menenangkan bagi Mia.
"Baiklah. Aku ingin kau kembali sebelum pukul dua belas. Jika tidak, maka aku tak akan membukakan pintu kamar untukmu," ancam Mia sebelum menutup sambungan teleponnya.
Adriano mengempaskan napas panjang. Dia menggaruk keningnya untuk sesaat. "Kau harus siap untuk bernasib sama sepertiku," ujar pria bermata biru itu seraya berlalu mendahului Coco yang segera mengikutinya.
"Aku yakin Francy tak akan bersikap seperti itu," balas Coco. "Ya, semoga saja tidak," ucapnya lagi dengan ragu. Sementara Adriano tak menanggapi ucapan pria berambut ikal tersebut. Dia segera masuk ke mobil dan mengambil alih kemudi. "Kenapa kau yang menyetir?" protes Coco.
__ADS_1
"Untuk mencari aman," jawab Adriano dengan sangat tenang.