
Adriano tentu saja tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas yang sudah berhasil dia dapatkan. Pria itu semakin merekatkan tubuh tegapnya kepada Mia. Dia menciumnya dengan jauh lebih dalam, meski sesekali pria itu melepaskan bibir Mia dan membiarkannya bernapas. Namun, itu tak berarti Adriano berniat untuk menghentikan adegan manis tersebut. Dia mengulanginya lagi dan lagi.
Rasanya sungguh berbeda bagi Mia. Sama seperti tatapan yang selalu Adriano layangkan terhadap dirinya, sentuhan bibir pria itu pun ternyata amat menghanyutkan. Lembut tapi terasa begitu mematikan. Kenyataannya, ciuman seorang Adriano telah mampu melumpuhkan pertahanan Mia dengan begitu mudahnya. Untuk sesaat, wanita cantik bertubuh ramping tersebut begitu menikmati pertautannya dengan Adriano. Namun, dengan segera janda dari Matteo de Luca itu segera tersadar. Dihentikannya adegan yang tengah berlangsung tersebut. “Tidak ....” tolak Mia pelan. Suaranya tertahan. Akan tetapi, dia juga tak sempat melanjutkan kata-kata, karena Adriano kembali melu•mat bibirnya tanpa banyak bicara. Pria itu menangkup wajah Mia, sehingga ibu dari Miabella tersebut lagi-lagi tak bisa menghindar.
Sementara itu, Olivia yang masih terjaga sejak tadi memutuskan untuk keluar kamar. Gadis manis tersebut berjalan menaiki deretan anak tangga menuju lantai dua. Niatnya untuk sekadar mencari angin dan menikmati panorama laut di malam hari, harus segera dia urungkan. Rasanya terlalu menyesakkan ketika mendapati pemandangan yang ada di hadapannya.
Sejenak, Olivia terpaku di tempat dia berdiri. Makin lama, gadis berambut hitam itu semakin tak kuasa menahan perasaan cemburu yang menerpa hatinya. Air mata menetes tanpa permisi, membasahi pipi mulus kemerahannya. Dia pun memutuskan untuk kembali ke kamar yang berada di lantai satu.
Sedangkan di lantai dua, sepasang suami-istri itu masih belum juga berhenti berciuman. Akan tetapi, suara rengekan Miabella kembali menyadarkan Mia dari buaian lembut bibir Adriano. Kembali dilepaskanmya ciuman pria itu. “Aku harus melihat keadaan Miabella,” ucap Mia beralasan. Mau tak mau, Adriano pun kali ini harus membiarkannya. Dia tak banyak bicara ketika Mia berlalu begitu saja menuju ke kamar mereka.
Begitu Mia membuka pintu, didapatinya Miabella yang sudah terduduk dengan mata sayu setengah terkatup. Kelihatannya gadis kecil itu mengigau dalam mimpinya hingga terbangun.
“Ibu ....” rengek Miabella parau. Mia pun segera menghampiri dan memeluknya, untuk kemudian kembali merebahkan putri kecilnya tersebut dengan hati-hati. Ditepuk-tepuknya pinggul sang putri hingga dia kembali terlelap. Sementara Mia tampak termenung, memikirkan sesuatu yang baru saja dia dan Adriano lakukan.
Wanita itu mengulum bibirnya. Ada setitik penyesalan dalam hati, tapi dengan segera dia bantah. Adriano adalah suaminya yang sah. Bukan sebuah dosa andai pria itu meminta haknya, meskipun ada perjanjian terlebih dahulu di antara mereka. Sebuah persyaratan yang belum dapat Adriano penuhi. Namun, mungkin sebuah ciuman dirasa cukup untuk membuktikan kepada pria bermata biru itu bahwa Mia tak sedang bermain-main.
Makin lama Mia termenung, hingga tanpa dia sadari kedua matanya terpejam sempurna. Dia pun akhirnya terlelap di samping Miabella, tanpa berganti pakaian ataupun ritual lainnya yang biasa dia lakukan sebelum tidur.
Tak berselang lama, Adriano masuk dan mendapati Mia tertidur dengan begitu saja. Segera dibetulkannya posisi kepala Mia, lalu dia selimuti. Adriano menatap wajah cantik yang kini lebih banyak terlihat murung karena beban perasaan yang belum sepenuhnya terbebaskan. “Akan kulakukan apapun untuk membuatmu kembali tersenyum lepas seperti dulu, Mia,” ucapnya pelan dan dalam. Setelah itu, dia melepas T Shirt hitam polosnya. Adriano mulai merebahkan diri di sebelah Miabella yang berada di antara dirinya dan Mia. Pria itu tersenyum simpul menatap wajah putri kecilnya. Satu lagi janjinya, yaitu menjaga dan mendidik Miabella dengan baik agar kelak menjadi wanita mandiri, cerdas, dan mungkin akan menjadi pewaris dari kerajaan bisnisnya.
......................
Tanpa terasa malam telah berlalu. Pagi datang dengan suara deburan ombak kecil khas pesisir pantai. Cahaya mentari pun menerobos masuk melewati jendela. Sebagian besar dari bagian depan rumah itu memang hanya berupa kaca. Hal tersebut dimaksudkan agar penghuni rumah dapat melihat indahnya panorama pantai dari setiap sudut ruangan.
__ADS_1
Adriano yang saat itu masih cukup mengantuk, harus segera membuka mata ketika ada sentuhan lembut di wajah, kemudian memainkan hidungnya yang mancung. Tak berselang lama, dia merasakan sesuatu yang cukup berat menindih perutnya. Adriano pun meringis pelan dan sedikit tergagap. Dia mendapati gadis kecil kesayangannya yang sudah tersenyum lebar.
Miabella kembali memamerkan lesung pipi beserta deretan gigi susunya yang masih terlihat rapi. “Selamat pagi, Daddy Zio. Aku ingin menagih janjimu. Bukankah hari ini kau akan mengajakku bermain di pantai?” suara khas Miabella yang ceriwis dan cadel, rupanya juga berhasil membuat Mia ikut terjaga dari tidurnya.
Wanita cantik bermata cokelat itu terbangun. Dia seketika terbelalak melihat ulah putri semata wayangnya terhadap Adriano. “Bella, ayo turun. Jangan bersikap seperti itu, Sayang,” tegur Mia dengan agak parau.
“Daddy Zio tidak marah, Ibu,” bantah Miabella seraya kembali mengalihkan pandangannya kepada Adriano yang menanggapi ucapannya dengan sebuah senyuman.
“Apa kau tidak akan membiarkanku ke kamar mandi terlebih dahulu?” wajah Adriano terlihat sangat ceria pagi itu.
“Sekarang kau turun dulu, Sayang. Biarkan Daddy Zio-mu pergi ke kamar mandi,” Mia menarik lembut tangan Miabella. Dengan terpaksa gadis kecil itu turun dari atas perut Adriano dan duduk di dekat Mia. Sementara Adriano segera turun dan berlalu dari sana.
“Bagaimana jika kubuatkan segelas susu untukmu?” tawar Mia. Sudah menjadi kebiasaan Miabella yang selalu minum susu pada pagi dan malam hari menjelang tidur. Gadis kecil itu mengangguk setuju dengan mata bulatnya yang tampak berbinar. Mia pun beranjak dari tempat tidur dan segera keluar kamar setelah mengecup kening gadis kecil itu.
Di dapur, Olivia sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Gadis asal kota Piana itu terlihat murung. Usia muda, membuatnya terkadang berada dalam situasi yang membuat dirinya menjadi labil. Selesai menata meja makan, Mia baru muncul masih dengan pakaiannya yang semalam, karena dia tak sempat berganti pakaian. Melihat kehadiran Mia di sana, Olivia menjadi sedikit kikuk. Teringat olehnya dengan apa yang dia lihat semalam antara wanita itu dengan Adriano.
“Selamat pagi, Nyonya,” balas Olivia terlihat canggung.
“Hari ini kita akan bermain di pantai. Apa kau mau ikut? Miabella pasti senang jika kau bergabung bersama kami,” tawar Mia sambil mengaduk susu yang baru dia buat.
“Oh, iya tentu. Aku sangat menyukai putrimu, Nyonya. Miabella benar-benar lucu dan menggemaskan,” ucap Olivia mencoba menghilangkan rasa canggungnya. “Kalau boleh aku tahu, sejak kapan Anda menjanda?” sebuah pertanyaan yang terkesan biasa, tapi teramat sensitif bagi Mia. Wanita berambut cokelat itu terdiam untuk sejenak. Dia lalu membawa gelas berisi susu untuk Miabella. Mia melangkah menuju rak tempat menyimpan biscuit. Dia mengambil satu bungkus. “Sudah cukup lama,” jawabnya pelan.
“Apa Anda juga sudah lama mengenal tuan D’Angelo?” tanya Olivia lagi.
__ADS_1
“Ya,” lagi-lagi Mia menjawab dengan suara pelan.
“Dulu, aku menemukannya tanpa sengaja ketika dia terdampar di bibir pantai. Aku pikir pria itu sudah mati. Namun, ketika para petugas medis memeriksanya, ternyata dia masih hidup. Kami langsung membawanya ke Ajaccio dan dia menjalani serangkaian operasi yang cukup berat. Aku memberanikan diri untuk menjadi penanggung jawabnya saat itu, padahal aku tak memegang uang sepeser pun. Aku senang karena semuanya sudah terlewati. Namun, terkadang aku berpikir siapa yang telah membuatnya hingga terluka seperti itu ….” Olivia tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena saat itu Mia menjatuhkan gelas berisi susu yang tengah digenggamnya. “Astaga, Nyonya!” pekik Olivia tertahan. “Anda tidak apa-apa? Biar kubersihkan, sekalian akan kubuatkan yang baru,” lanjutnya.
Mia mengangguk pelan. Dia segera menuju ruang tamu dan duduk di atas sofa. Mia merekatkan kedua telapak tangan dan saling menautkan jemarinya, seperti seseorang yang tengah berdoa. Bayangan saat dirinya menembak Adriano pada malam itu kembali hadir dan menghantui pikiran wanita cantik tersebut.
“Kau baik-baik saja, Mia?” suara berat Adriano terdengar di sana. Pria itu menurunkan Miabella dari gendongannya.
Sebelum Mia sempat menjawab, Olivia terlebih dahulu datang dengan membawa segelas susu. Sementara Adriano duduk di dekat Mia.
“Hai, Nona Kecil. Ini susu untukmu,” Olivia menyodorkan susu buatannya kepada Miabella. “Aku sudah membereskan semuanya, Nyonya,” ujar gadis itu.
“Ada apa ini?” tanya Adriano yang melihat gelagat aneh dari Mia.
“Tadi nyonya menjatuhkan gelas berisi susu, tapi semuanya sudah kubersihkan,” jawab Olivia dengan sorot mata berbinar kepada Adriano.
Entah kenapa, Adriano sepertinya merasakan ada sesuatu yang lain. Namun, pria itu mencoba untuk tak memperpanjang apa yang mengganggu dalam pikirannya. Dia mengalihkan perhatian kepada Miabella yang sudah menghabiskan susunya dengan cepat. “Berhubung kau sudah menghabiskan susumu, maka kita akan segera pergi untuk bermain di pantai,” ucapnya membuat Miabella bersorak. “Gantilah pakaianmu, Mia,” Adriano kembali mengalihkan perhatiannya kepada sang istri yang masih terdiam. Mia menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan. Dia pun beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian.
Suasana pantai sudah cukup ramai. Orang-orang datang untuk berjemur di bawah sinar mentari pagi yang hangat. Begitu juga dengan Adriano. Pria itu melepas kaos polos yang dia kenakan dan hanya mengenakan celana pendek. Dia kembali mengekspos tato gambar macan hitam yang memenuhi punggungnya. Tentu saja hal itu menjadi perhatian Olivia yang tengah asyik menemani Miabella bermain pasir.
Sementara Mia masih berdiri terpaku menatap lautan lepas. Pikirannya melayang dan membayangkan ketika tubuh Adriano terapung dalam gulungan ombak hingga pria itu terdampar. Rasa bersalah yang sempat terlupakan, kembali menyeruak dalam hatinya. “Kau tidak ingin berjemur, Mia?” tanya Adriano yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah wanita berambut cokelat itu.
Seketika Mia tersadar. Dia menoleh dan tersenyum. Dia pun melepas baju tipis yang dikenakannya, dan menyisakan bikini two piece berwarna putih. Sesuatu yang tentu saja membuat Adriano tak mampu memalingkan pandangannya terhadap hal lain, meskipun di pantai itu ada banyak wanita dengan penampilan sama seperti Mia. Didekatinya ibu dari Miabella tersebut.
__ADS_1
Mia menoleh dan kembali menyunggingkan sebuah senyuman kecil.
Akan tetapi, Adriano tak membalasnya dengan hal yang sama. Pria itu memegang dan mengangkat dagu Mia, lalu kembali menyentuh bibirnya dengan mesra. Hal tersebut kembali menjadi perhatian Olivia, dan juga seseorang yang diam-diam mengawasi dari semenjak kedatangan mereka di Florida.