Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Dissapointment


__ADS_3

Lucas masih belum mengenakan pakaiannya. Tanpa rasa malu, dia berdiri di hadapan Adriano dan juga Mia yang terlihat tak nyaman. “Putri Anda semakin dewasa dalam usia. Akan tetapi, pikiran serta sikapnya sama seperti anak berusia tiga belas tahun,” ucap Lucas yang seakan hendak menantang Adriano.


Mia yang merasa terganggu, segera memberi isyarat kepada sang suami. Dia mencengkeram erat lengan Adriano sebagai pertanda agar pria itu tak menanggapi ucapan sinis barusan.


“Carlo, seret dia keluar!” titah Miabella dengan tegas.


Tanpa banyak bicara, Carlo hendak melakukan perintah dari Miabella. Namun, Adriano segera menahannya dengan mengangkat tangan. Carlo pun tertegun dan menurut kepada sang tuan besar. Dia kembali mundur beberapa langkah di belakang Miabella.


“Katakan apa masalahmu, Anak muda? Kenapa kau hampir telanjang di pesta putriku?” tanya Adriano penuh selidik.


“Putrimu telah mempermainkanku, Tuan! Dia yang mengundangku kemari. Dia pula yang mempermalukanku di sini,” jawab Lucas dengan nada tinggi. Sedangkan Adriano hanya menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan Lucas. Ekor mata sang ketua Tigre Nero pun kemudian tertuju pada Miabella yang bersikap tak peduli.


“Dia memaksaku beradu panco dengan pengawalnya yang tak tahu diri itu,” lanjut Lucas lagi. Ucapan pria itu membuat wajah Miabella yang tadi masih terlihat tenang menjadi merah padam. Dia tak pernah suka jika ada orang yang merendahkan Carlo.


Bagi Miabella, Carlo bagaikan malaikat pelindung.


Miabella teringat ketika awal-awal dirinya bersekolah dan tak memiliki teman, Carlo lah yang menjadi sahabat sekaligus penghibur baginya yang sendirian. Miabella yang selalu kesulitan dan membutuhkan waktu lama untuk berteman, akan selalu merasa nyaman jika Carlo di sampingnya. Sehingga dia tak terlalu peduli dengan segala rasa kesepian, meskipun dirinya tak memiliki banyak kenalan.


Akan tetapi, kini mantan kekasihnya malah menghina Carlo. Miabella sungguh tak tahan untuk tak menghajarnya. Padahal dia tak semarah itu ketika Lucas ketahuan selingkuh.


“Aku memang sengaja mengundangmu kemari, untuk menikmati pesta ulang tahunku. Walaupun kita sudah memutuskan untuk tidak berpacaran lagi, tapi tak ada salahnya bukan jika kita tetap berteman,” kilah Miabella yang mencoba untuk meredam emosi.


“Ya. Kau mengundangku hanya untuk menelanjangi dan menceburkanku ke dalam kolam renang,” balas Lucas dengan sinis.


“Benarkah itu, Bella?” sorot mata Adriano benar-benar mengarah pada putri sambung kesayangannya.


“Dia sendiri yang mengatakan bahwa dirinya bersedia melakukan apapun yang kumau jika kalah adu panco dengan Carlo. Kenapa sekarang malah keberatan?” sanggah Miabella.

__ADS_1


“Ya ampun.” Mia menggeleng pelan sambil memijit pelipisnya. “Jadi, kau memintanya untuk ....” Ibunda Miabella itu tak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya mengarahkan telunjuknya pada Lucas dan menggerakkan jemari lentiknya dari atas kepala hingga kaki mantan kekasih Miabella tadi.


“Seharusnya aku menyuruh Lucas untuk berbuat lebih dari itu,” ledek Miabella dengan ekspresi wajahnya yang tampak mencibir.


“Ya, kau boleh menyuruhku untuk melakukan apapun. Asal jangan lewat pengawalmu.” Sorot tajam Lucas dia arahkan pada Miabella. Pria muda itu lalu mengalihkan pandangan pada Adriano yang masih tetap terlihat tenang. Ayah dua anak tersebut malah memamerkan senyuman menawan pada pemuda di hadapannya itu.


“Aku menuntut putri Anda atas perbuatan tidak menyenangkan ini, Tuan. Dia bertindak semakin liar. Aku yakin semua ini akibat pengaruh dari Carlo,” ujar Lucas berapi-api.


“Tutup mulutmu! Jangan libatkan Carlo dalam permasalahan ini!” Miabella sudah tak dapat membendung amarahnya. Tangan yang sejak tadi terkepal, kini melayang dan mendarat tepat di hidung Lucas.


Pria itu terhuyung sambil memekik kesakitan, ketika dia menyadari bahwa darah segar sudah menetes dari hidungnya yang patah. Akan tetapi, Miabella tak berhenti sampai di situ. Dia menerjang Lucas hingga jatuh telentang. Gadis itu pun duduk di atas perutnya, lalu memukuli wajah pria malang tadi berkali-kali. Miabella bersikap sangat brutal malam itu. Dia seakan ingin melampiaskan segala amarah yang tersimpan setelah sekian lama, terhadap sang mantan kekasih.


“Nona, hentikan!” Susah payah Carlo menarik paksa Miabella dari atas tubuh Lucas, lalu menyeretnya menjauh. Namun, gadis itu telah kesetanan. Dia semakin memberontak. Kakinya bergerak menerjang apapun hingga menendang kursi dan meja hingga terbalik.


Adriano tampak terkejut melihat sikap Miabella yang tak terkendali. Dia yang tak pernah sekalipun membentak anak gadis kesayangannya itu, akhirnya tak kuasa untuk tidak menegurnya dengan keras. “Bella, hentikan! Aku sungguh kecewa padamu!” Teriakan Adriano memang sedikit tertahan, tapi suaranya terdengar cukup mengerikan.


“Ka-kau membentakku, Daddy Zio?” Miabella terbelalak tak percaya.


“Aku harus mengingatkanmu atas sikap yang memalukan ini!” tegas Adriano sambil berkacak pinggang. "Masuk!" Adriano mengarahkan tangannya lurus ke dalam bangunan mansion. "Carlo, amankan dia," titah Adriano kemudian dengan nada bicaranya yang tak setegas tadi.


Mata indah berwarna abu-abu Miabella mulai berkaca-kaca. “Oh, jadi begitu. Aku memalukan bagimu,” gumam Miabella dengan raut kecewa.


“Bukan itu maksud ayahmu, Sayang. Kau pasti bisa memahami apa yang Adriano katakan,” sanggah Mia berusaha menengahi.


“Sudahlah. Aku tak ingin bicara lagi. Kalian semua, pulanglah! Kukatakan sekali lagi bahwa pestanya sudah selsai!” Setelah berkata demikian, Miabella menepiskan tangan Carlo dari lengannya. Dia lalu membalikkan badan begitu saja dan meninggalkan semua orang yang masih diam terpaku di sisi kolam renang. Miabella merasa kecewa. Ini adalah kali pertama Adriano bersikap keras terhadap dirinya.


Gadis itu melangkah cepat melewati jalan setapak yang menuju ke dalam mansion. Kali ini, bukan hanya rasa kesal terhadap Lucas yang ada dalam hatinya.

__ADS_1


"Nona, tunggu!" seru Carlo yang terus mencoba menyusul Miabella.


"Jangan mengikutiku!" Miabella menoleh sejenak, kemudian kembali berbalik ke depan.


"Nona!" panggil Carlo lagi. Dia tak putus asa mengejar gadis muda tadi. "Kau tidak seharusnya hilang kontrol seperti tadi," tegur Carlo, membuat Miabella kembali tertegun dan menoleh.


"Apa kau juga akan bersikap seperti tuan Adriano D'Angelo?" protes gadis bermata abu-abu itu tegas.


"Tentu saja tidak, karena aku bukan ayahmu. Namun, jika aku menjadi tuan D'Angelo, maka aku juga pasti akan melakukan hal yang sama," ujar Carlo tenang. Penampilan yang tampak sangar, berbanding terbalik dengan pembawaan serta karakter pria itu yang sebenarnya sangat dewasa dan juga tenang. Hanya saja, loyalitas yang tinggi terhadap Miabella membuat Carlo kerap melakukan hal-hal konyol seperti tadi.


"Aku akan melakukan apapun untuk senantiasa membuatmu senang dan merasa terlindungi. Namun, tentu saja aku tak akan tinggal diam dan selalu mengikuti yang diperintahkan, andai apa yang kau lakukan itu bisa menjatuhkan harga dirimu sendiri di hadapan orang banyak," jelas Carlo. Pria itu tahu bahwa Miabella kecewa padanya, karena tak membiarkan dia 'menghabisi' Lucas tadi.


"Kau tahu jika Lucas sangat menyebalkan!" gerutu Miabella.


"Ya, aku tahu itu. Namun, tuan dan nyonya D'Angelo tak mengetahuinya dengan jelas. Jadi, jika kau ingin membalas kelakuan kurang ajar Lucas, maka sebaiknya lakukan dengan halus. Dengan begitu, nama baikmu pun akan selalu terjaga," saran Carlo yang membuat Miabella terdiam. Gadis itu kemudian mendengus pelan.


"Sudahlah. Aku rasa sebaiknya setelah ini kau minta maaf pada tuan dan nyonya D'Angelo. Bicara baik-baik dan tunjukkan bahwa Nona Miabella masih menjadi gadis manis yang mengemaskan." Carlo tertawa renyah atas ucapannya sendiri.


"Aku bosan. Rasanya aku ingin sesuatu yang baru. Kau tahu jika menjadi gadis yang menggemaskan di hadapan kedua orang tuaku, seringkali membuat diriku mengantuk," keluh Miabella kesal. Namun, ucapan gadis itu lagi-lagi hanya berbalas sebuah tawa dari Carlo. "Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?" protes Miabella kesal.


"Tentu saja kau yang lucu, Nona," sahut Carlo enteng. Namun, dia tak melanjutkan perbincangan itu, ketika terdengar ponselnya berdering.




__ADS_1


__ADS_2