
Sementara itu, mereka yang berada di meja makan sudah tak sabar menunggu untuk segera memulai makan malam. Akan tetapi, Miabella serta Damiano tak muncul juga di sana. Merasa penasaran, Coco memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya. "Aku akan memeriksa dulu," ucap pria itu seraya berlalu dari ruang makan.
Coco berjalan dengan gagah menyusuri koridor yang menuju kamar Damiano. Dari jarak beberapa meter, sayup-sayup dia mendengar tangisan Miabella. Coco pun mempercepat langkahnya, hingga tiba di depan kamar dari pria yang telah dia anggap sebagai ayah kandung. Begitu pintu dibuka, tampaklah Miabella yang tengah menangis sambil memeluk tubuh Damiano. Sedangkan pria tua itu tak merespon sama sekali. Dia tetap terbaring dengan kedua mata yang terpejam.
Melihat hal itu, Coco bergegas ke arah ranjang. "Damiano ...." ucapnya tertahan. Coco tak tahu harus berkata apa. Mata pria itu terbelalak dengan tatapan kosong. Tubuh tegapnya pun ambruk ke atas lantai berlapis karpet permadani. "Damiano, kau ...." Coco menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pun tak dapat dia tahan ataupun disembunyikan lagi, demi sebuah gengsi karena dirinya seorang laki-laki.
Terulang kembali dalam hidup pria tampan berambut ikal itu, ketika harus meratapi orang terkasih baginya. Setelah kepergian Matteo yang meninggalkan luka begitu besar dan sulit untuk diobati, kini dia harus kehilangan seorang sesepuh yang menjadi figur ayah terbaik. Damiano, adalah pria yang selalu hidup dengan segala sikap bijak dan layak menjadi panutan bagi siapa pun.
"Damiano!" pekik Coco meneriakkan nama pria yang tak mungkin lagi memberikan sahutannya, meskipun dia panggil dengan sekeras mungkin. Sementara Miabella tak peduli dengan apapun. Dia terus mendekap tubuh renta yang sudah terbujur kaku. Gadis itu juga menangis terisak. Dia tak menghiraukan ketika Francesca datang bersama yang lainnya. Mereka pun sama terkejut. Tak ada yang menyangka sama sekali, bahwa Damiano akan pergi secepat itu.
......................
Suasana muram kembali menghiasi setiap sudut Casa de Luca. Bangunan megah itu lagi-lagi harus menahan kepedihan, atas kepergian seorang penghuni yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya di sana. Damiano kini telah pergi. Pria yang menjadi ayah bagi mereka, kini telah benar-benar beristirahat seperti yang dirinya inginkan.
"Kakek meninggal dengan sangat tenang, Bu," isak Miabella sambil menyandarkan kepalanya di atas pundak Mia. Sesekali, dia mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi mulusnya.
Beberapa saat setelah dokter keluarga menyatakan kematian Damiano dengan pasti, Francesca segera menghubungi Mia. Sementara Romeo menghubungi sang ayah yang berada di Palermo.
"Damiano pernah mengatakan padaku bahwa dia ingin agar jenazahnya dikremasi saat meninggal nanti," ucap Coco dengan tatapan menerawang pada peti mati berisi jasad Damiano.
Rasa sesal yang teramat besar pun tampak jelas dari sorot mata Adriano. Untunglah karena dirinya sempat bertemu terlebih dulu dengan pria kharismatik tersebut. "Apa kau sudah mengurus semuanya?" tanya Adriano kepada suami Francesca itu.
Coco segera mengangguk tanpa memberikan sebuah jawaban. Pria itu terlalu shock atas kepergian Damiano yang sangat tiba-tiba. "Dia sehat, Amico. Damiano tak mengeluhkan apapun padaku," ujarnya kembali menitikkan air mata.
__ADS_1
"Itulah kematian, Ricci. Ia terus mengintai seperti seperti seekor singa yang kelaparan. Kebanyakan dari kita diterkam dalam keadaan yang sedang lengah dan tak merasa siap sama sekali." Adriano tersenyum getir. "Ya, tak banyak orang yang merasa siap dalam menghadapi kematiannya sendiri," lanjut pria itu lagi.
"Ya, kau benar sekali," sahut Marco menanggapi. Sang ketua Klan de Luca tersebut baru saja akan melanjutkan kata-katanya, tapi segera dia urungkan saat melihat kedatangan seseorang yang teramat mengejutkan mereka semua.
Sosok tegap Juan Pablo melangkah gagah memasuki ruangan. Dia tak menghiraukan semuanya, karena perhatian pria asal Meksiko tersebut langsung tertuju pada peti mati berisi jasad Damiano. Juan Pablo berdiri di dekatnya dengan tatapan nanar.
Melihat kehadiran pria berambut gelap tadi di sana, Miabella yang tengah berada di dekat Mia segera menghampirinya. "Paman," sapa gadis itu sambil berurai air mata.
Ketika Juan Pablo menoleh, tiba-tiba gadis itu memeluk dirinya. Juan Pablo dan semua yang melihat adegan itu pun sama terkejut. Namun, suami dari Gianna tersebut tak menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Ini adalah pertama kali bagi pria itu untuk dapat memeluk keponakannya sendiri setelah bertahun-tahun berlalu.
"Bella." Adriano menghampiri serta menyentuh pundak anak gadisnya. Miabella pun melepaskan pelukan dari Juan Pablo yang kemudian saling pandang dengan sang ketua Tigre Nero tersebut. "Juan, kau di Italia?" Adriano menunjukkan raut tak percaya.
"Aku hanya kebetulan mampir," jawab Juan Pablo. Pria yang merupakan adik ipar Adriano tersebut segera mengulurkan tangan, mengajak untuk bersalaman. "Apa kabar?" sapanya.
"Aku yang menghubungi dan memintanya untuk datang kemari, Paman," sahut Miabella mewakili Juan Pablo.
"Apa?" Adriano tampak sangat terkejut atas jawaban Miabella. Begitu juga dengan kedua pria lainnya yang seketika menoleh ke arah Miabella.
"Ya. Kenapa kalian sangat terkejut? Kakek mengatakan jika dia ingin bertemu langsung dengan paman Juan. Setidaknya itu yang kakek ucapkan saat mereka berbicara di telepon. Bukan begitu, Paman?" Miabella menoleh kepada Juan Pablo yang hanya mengangguk pelan.
"Tidak bisa dipercaya," gumam Coco yang menunjukkan raut tak suka. Namun, dengan segera Marco menepuk punggungnya, sebagai isyarat agar ayah tiga anak itu tak terbawa emosi.
"Selamat datang, Juan. Terima kasih karena telah meluangkan waktumu untuk hadir di sini," ucap Marco yang berusaha bersikap netral. Karakter putra dari Antonio tersebut terus terasah, semenjak dirinya menduduki jabatan sebagai seorang ketua klan.
__ADS_1
"Terima kasih, Marco," balas Juan Pablo membalas jabat tangan ayah dari Romeo dan Tobia dengan tulus.
Sesaat kemudian, giliran Mia yang datang menghampiri para pria. Dia juga sama terkejutnya atas kehadiran Juan Pablo di sana. "Juan? Kau di sini?" tanyanya tak percaya. "Di mana Gianna?" Mia mengedarkan pandangan pada setiap sudut ruangan. Namun, dia tak melihat sosok yang dicarinya.
"Istriku ada di Amerika," sahut Juan Pablo. "Apa kabarmu, Mia?" sapanya kepada wanita yang masih terlihat cantik serta awet muda, meskipun sudah berusia hampir setengah abad.
"Baik," jawab Mia. "Jadi, kau sudah bertemu dengan Miabella?" Mia menoleh kepada putri sulungnya.
"Ya," sahut Juan Pablo singkat. "Mana anak keduamu, Mia?" tanya pria itu lagi berbasa-basi.
Mia menoleh ke tempat di mana tadi dirinya berada. Wanita cantik itu menunjuk seorang gadis belia berambut hitam yang tengah duduk manis di sebelah Daniella. "Namanya Adriana. Dia sudah berusia lima belas tahun saat ini," ucap Mia.
"Sama seperti putriku," ucap Juan Pablo menanggapi.
"Oh ya? Jadi, Gianna melahirkan anak perempuan juga?" Mia memaksakan diri untuk tersenyum lembut. "Kapan-kapan, kenalkanlah dia kepada kami," pintanya.
"Kapan-kapan," balas Juan Pablo singkat.
"Sayang, bisakah kau ajak Miabella untuk kembali ke tempatnya?" sela Adriano yang tak nyaman menyaksikan percakapan akrab antara Mia dengan Juan Pablo. Sementara Mia pun mengangguk tanpa banyak membantah. Dia menuntun putri sulungnya untuk kembali ke belakang, pada tempat duduk mereka tadi.
Rasa canggung mulai hadir dan menggelayuti keempat pria yang berdiri di dekat peti mati Damiano. Masing-masing dari mereka saling larut dalam pikirannya sendiri. Tak ada percakapan atau sekadar basa-basi.
Namun, ternyata Coco sesekali melirik ke arah Juan Pablo yang tengah memandangi Damiano di dalam peti mati. Lama-kelamaan, Coco pun jadi memperhatikan pria asal Meksiko tersebut dengan lekat. Sepintas, dia melihat sosok Matteo dalam diri adik ipar Adriano itu. Kebencian yang tersimpan selama bertahun-tahun padanya, memang masih ada dan dirasakan jelas oleh ayah tiga anak tersebut.
__ADS_1