Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Big Bang


__ADS_3

Juan Pablo terdiam untuk beberapa saat, sambil menatap nanar tubuh renta tak bernyawa di hadapannya. “Lo siento (maafkan aku), Tio Pedro,” ucap pria tiga puluh lima tahun itu dengan begitu lirih. Dia lalu melepas jaket kulit yang dipakai, dan dirinya gunakan untuk menutupi bagian atas dari jasad pria tua tersebut. Setelah itu, Juan Pablo kemudian meletakkan satu pistol di atas meja setelah membuang semua pelurunya.


Pria itu lalu meraih ransel dan mengeluarkan beberapa butir granat dari dalamnya. Sebelum beranjak dari ruang pertemuan tadi, Juan Pablo segera mengeluarkan kepala Don Vargas dari dalam brankas kaca berisi larutan formalin. Dia melepas t-shirt panjang yang dikenakannya. T-shirt itu Juan Pablo gunakan untuk membawa kepala pria yang dia panggil dengan sebutan paman. Juan Pablo membungkusnya dengan sedemikian rupa, kemudian mengikat kedua lengan baju yang panjang menjadi satu. Tak lupa, dia juga sempat merapikan kembali rambutnya yang sedikit acak-acakan.


Setelah merasa urusanya di ruangan itu telah selesai, Juan Pablo kembali menegakkan tubuh. Kini, dirinya hanya memakai t-shirt hitam lengan pendek. Dia sempat mengedarkan pandangan untuk sejenak. Tatap matanya kembali pada sosok Pedro yang sudah tak bernyawa. Sebisa mungkin pria itu menepis semua perasaan bersalah dalam hatinya. Itulah yang selama ini dia lakukan, yaitu bersembunyi dalam sebuah perasaan tak peduli.


Perhatian Juan Pablo lalu kembali pada granat yang telah dia siapkan. Sang Elang Rimba kini mulai kembali mengepakkan sayapnya yang gagah. Dengan cekatan, dia menarik cincin tuas alat peledak itu dan melemparkannya. Sambil terus membawa kepala Don Vargas yang terbungkus rapi, Juan Pablo segera berlari keluar ruangan. Granat itu pun meledak dan meluluhlantakkan semua yang ada di dalam sana. Sementara dia mencari tempat untuk berlindung demi menghindari serpihan-serpihan dari reruntuhan tempat tersebut. Juan Pablo tak berhenti hingga dirinya dapat menemukan jalur untuk menuju ke bagian lain dari markas bawah tanah tersebut.


Bunyi ledakan yang dihasilkan granat tadi cukup memekakkan telinga. Tinggal satu lagi granat yang masih tersisa. Namun, dia tak ingin meninggalkan satu ruangan pun dari markas para pembunuh bayaran itu dalam keadaan utuh. Juan Pablo kemudian melangkah tenang menuju bagian lain dari gua bawah tanah tersebut, hingga dirinya tiba pada sebuah ruangan luas di mana terdapat layar monitor raksasa. Pria asal Meksiko itu mendekati salah satu meja, lalu meletakkan kepala Don Vargas di sebelah kakinya. Dia lalu mengoperasikan komputer yang masih menyala. Jemarinya lincah menekan keyboard dan berhenti saat dirinya menemukan apa yang dicari. “Ternyata ruang senjata masih belum berubah,” gumam sang Elang Rimba.


Pria dengan tato kalajengking tersebut segera menegakkan badan, meraih kembali bungkusan kepala Don Vargas yang diawetkan. Dengan langkah cukup tergesa-gesa, dirinya lalu menuju ke sisi ruangan. Tangan kekar itu meraba dinding putih, kemudian berhenti ketika menyentuh sebuah tombol kecil. Telunjuknya menekan tombol itu hingga dinding di hadapannya terbuka lebar. Tampaklah sebuah lift untuk menuju ke ruangan yang merupakan tempat penyimpanan berbagai senjata.

__ADS_1


Juan Pablo segera masuk ke sana. Untuk kali ini dia kembali terlihat tenang. Satu tangannya yang menggenggam sebutir granat, menekan tombol menuju lantai dasar. Beberapa saat kemudian, pintu lift pun terbuka ketika sudah tiba di lantai terbawah. Di sana, tampak begitu banyak ruangan bersekat kaca tebal berisi berbagai macam peralatan perang dan senjata-senjata canggih lainnya. Di bagian itu juga terdapat satu ruangan yang paling dekat dengan lift, dan diisi penuh oleh bahan peledak berjenis C4.


Dengan sangat hati-hati, Juan Pablo meletakkan kepala Don Vargas di samping pintu ruangan. Dia lalu memasuki tempat itu, dan menyatukan granat miliknya yang masih tersisa di atas tumpukan bahan peledak yang dilapisi plastik tersebut. Granat itu dia jepitkan di antara plastik pelapis C4.


Juan Pablo kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas ransel yang tak pernah tertinggal dari punggungnya. Adalah sebuah senar tipis dan panjang yang salah satu ujungnya dia lilitkan pada tuas granat, sedangkan sisa senar lainnya dia ulurkan hingga ke bagian atas sebuah robot berbentuk papan hidrolik. Dia mengikat ujung senarnya di sana. Robot itu dapat dikendalikan menggunakan sebuah remote jarak jauh, dan biasanya digunakan untuk mengangkut bahan peledak dari satu ruangan, menuju ke ruangan yang lain.


Pria dengan tatapan dingin tersebut lalu mengambil remote robot tadi. Dia bergegas keluar dan menuju ke arah lift sambil menjinjing bungkusan berisi kepala Don Vargas. Sesampainya di lantai teratas, lift langsung terbuka. Juan Pablo segera keluar dari sana. Dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali, dia berjalan menuju terowongan tempat pertama kali dirinya masuk tadi.


Hal demikian dapat memicu reaksi pada C4 yang sangat sensitif terhadap panas tinggi dan juga getaran kuat. Lalu, yang terjadi selanjutnya adalah ledakan dengan kekuatan jauh lebih dahsyat, jika dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh sebuah granat saja. Daya ledaknya mampu menghancurkan dinding-dinding beton berlapis titanium dan kevlar sekalipun. Tak hanya itu, terowongan yang Juan Pablo pijak pun ikut bergetar. Bebatuan di atas kepalanya juga mulai runtuh. Dia bergegas melarikan diri, saat terdengar gemuruh di belakangnya.


Juan Pablo terengah-engah. Dirinya sudah berada di mulut terowongan. Batu besar yang tadi terbuka, kini kembali bergeser pelan dan menutup mulut pintu masuk itu. Tak berselang lama, sebuah gelombang kejut yang teramat kuat sebagai efek dari ledakan yang dihasilkan, merambat dan menghentak sedemikian dahsyat.

__ADS_1


Pria berparas rupawan tersebut lalu berguling ke arah samping, ketika batu tadi hancur berkeping-keping. Pecahannya bahkan terlempar hingga ke segala arah. Juan Pablo kemudian berlindung di balik ceruk lembah yang menjorok sedikit ke dalam sambil memeluk bungkusannya. Akan tetapi, ceruk dan dinding lembah tempatnya berlindung pun ikut bergemuruh. Dengan gerak cepat, pria itu berlari menjauh dari sana dan menuju ke seberang.


Gerakan sang Elang Rimba begitu tangkas. Dia mengikatkan lengan baju panjang yang digunakan untuk membungkus kepala Don Vargas, pada tali ransel yang masih berada di punggungnya. Tak peduli dengan beban yang dibawa saat itu, Juan Pablo lalu memanjat tebing dengan begitu lincah hingga dirinya tiba di puncak ngarai.


Dari tempatnya berdiri, dia dapat melihat dengan jelas markas bawah tanah yang kini telah hancur. Tak hanya itu, dinding-dinding tebing pada lembah juga ikut longsor. Juan Pablo tersenyum samar. Tampak jelas rona penuh kepuasan dalam tatap mata dan ekspresi wajahnya yang dingin. Dia lalu berbalik dan berjalan menuruni puncak ngarai.


Cukup lama Juan Pablo menyusuri lembah tandus tersebut. Untunglah karena saat itu petang mulai menjelang, sehingga panas matahari tak terlalu menyengat dan menyiksa dirinya. Juan Pablo baru berhenti ketika dia sudah berada di padang luas berdebu. Beberapa jenis tumbuhan kaktus ikut menghiasi padang tandus itu. Dia sempat menyapu pandangannya, sebelum kembali berjalan ke arah semak-semak kering yang tumbuh bergerombol agak jauh dari tanaman kaktus tadi. Sementara langit jingga mulai menyelimuti tempat tersebut.


Di balik semak-semak itu, tersembunyi sebuah mobil mustang klasik berwarna hitam miiknya. Kendaraan yang telah diselimuti oleh debu padang tandus. Debu itu sudah mengotori mobil kesayangan yang merupakan peninggalan mendiang ayah Juan Pablo. Dengan telaten, dia membersihkan kaca depan mobil menggunakan telapak tangan, lalu masuk ke dalam kendaraan. Dia melepaskan ransel yang sedari tadi dibawanya. Juan Pablo juga meletakkan bungkusan berisi kepala Don Vargas dengan hati-hati pada kursi penumpang.


Pria itu meraih kunci mobil dari dalam tas ransel, kemudian menyalakan mesin kendaraannya. Agak lama dia bermain-main dengan pedal gas, sebelum Juan Pablo melajukan kendaraan ke arah jalan raya antar kota dengan kecepatan tinggi. Tujuan pria itu adalah tempat tinggal pribadinya yang diatasnamakan Don Vargas di kota Las vegas.

__ADS_1


Sekitar tujuh jam perjalanan adalah waktu yang harus dia tempuh. Tak terlihat raut lelah sama sekali pada wajah tampannya. Selama hal itu berlangsung, angan Juan Pablo melayang dan membayangkan wajah cantik Gianna. Dia juga akan menyusun rencana untuk segera menghabisi Lionel.


__ADS_2