Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Schiena Liscia


__ADS_3

"Aku merindukan bibi berambut hitam, Bu," rengek Miabella ketika Mia menemaninya untuk tidur. "Kapan dia akan pulang dari Inggris? Waktu kemarin tadi, Daddy Zio mengatakan akan mengajakku ke sana," Miabella kemudian bersembunyi di balik selimutnya.


"Kemarin atau tadi, Sayang?" tanya Mia sambil menahan tawa atas ucapan lucu putrinya.


"Kemarin, Ibu. Tadi Daddy Zio yang mengatakan begitu padaku," ujar Miabella lagi dengan gaya bicaranya yang cadel.


"Oh, baiklah. Berhubung sekarang sudah malam, jadi sebaiknya kau tidur dulu. Besok kita akan menghubungi bibi berambut hitam dan kau bisa bicara dengannya sepuasmu," ucap Mia lembut, membuat Miabella segera menyibakkan selimut yang menutupi wajahnya. Gadis kecil itu terlihat sangat senang dan juga antusias setelah mendengar ucapan Mia. Sesaat kemudian, Miabella mengangguk. "Ayo, pejamkan matamu dan berdoa. Semoga malam ini kau tidur nyenyak serta bermimpi indah," Mia mengecup lembut kening putrinya seraya mengusap-usap rambut panjang Miabella, hingga gadis kecil itu memejamkan mata dan terlelap.


Setelah merasa yakin bahwa Miabella benar-benar tertidur, Mia pun turun dari ranjang. Sebelum keluar dari sana, dia memastikan semua peralatan yang terpasang di kamar putrinya masih beroperasi dengan baik, barulah dirinya meninggalkan ruangan tersebut.


Dengan langkah tenang dan juga terlihat sangat anggun, Mia berjalan menuju kamarnya. Setelah tiba di sana, wanita cantik bermata cokelat itu mendapati sang suami yang tengah mengamati dirinya lewat pantulan cermin rias.


Adriano tampak mengusap tubuh yang kemarin-kemarin masih dibebat perban. Kali ini, perban itu telah dilepas. Luka yang sempat dideritanya telah pulih dan benar-benar kering. Akan tetapi, semua itu meninggalkan bekas di beberapa bagian.

__ADS_1


Mia tersenyum lembut. Dia lalu menghampiri sang suami yang sempat melirik sesaat ke arahnya. Mia kemudian berdiri di belakang tubuh tegap Adriano. Sambil berjinjit, dia mengecup pundak pria tersebut. "Apa kau baik-baik saja, Sayang?" tanyanya pelan.


"Ya. Aku tidak apa-apa," jawab Adriano menatap bayangan mereka berdua dari pantulan cermin.


Mia kembali tersenyum. Dengan ujung telunjuknya, dia menelusuri belakang leher sang suami dan bergerak hingga ke bawah. Gerakan lembut ujung jemari itu berakhir di pinggang. "Tak apa-apa, semua orang memiliki bekas luka sendiri-sendiri. Bedanya, ada yang terlihat dan ada juga yang tidak," ucap Mia lagi dengan pelan. Kedua telapak tangannya kemudian bergerak perlahan, menyapu dengan begitu lembut permukaan punggung yang dipenuhi oleh tato bergambar kepala seekor black panther.


Sapuan halus telapak tangan Mia terus bergerak ke atas menuju pundak, kemudian terpecah di sana. Kedua telapak tangan itu saling menjauh dan kini berpindah pada lengan kekar Adriano. Mia menggerakkan kedua tangannya, menelusuri lekukan dari lengan tersebut dengan lembut hingga ke siku, setelah itu kembali ke atas menuju pundak.


Sepasang tangan berjemari lentik tadi, tak juga berhenti memberikan sapuan lembutnya pada punggung Adriano yang hanya terpaku. Dia tampak menikmati perlakuan sang istri yang terasa begitu memanjakannya, termasuk ketika tangan Mia mulai berpindah dari pinggang bergerak ke depan. Dirabanya dengan penuh perasaan perut rata dan keras milik Adriano. Setiap pahatan di sana terasa begitu kokoh, seperti sebuah relief yang terukir pada dinding gua berbatu. Sangat kuat dan mengagumkan.


Mia tertawa pelan. Suara tawa yang terdengar sangat manja. Namun, Adriano tak ingin berbuat apa-apa dan seolah membiarkan semua godaan Mia terhadapnya. Dia hanya menikmati, terlebih ketika wanita itu mulai menjalarkan ciuman mesra dari leher hingga ke belakang telinga. "Oh ... Mia ...." Adriano tak dapat berkata-kata. Hasrat dalam dirinya kian menggebu. Sekuat apapun pria itu menahan diri dari rayuan mesra sang istri, nyatanya dia tak kuasa.


Perlahan Adriano berbalik. Segera disambutnya bibir manis yang tampak begitu ranum dengan warna red cherry. Lumat•an demi lumat•an terus dia berikan. "Apa kau merindukanku, Mia?" bisiknya menghangat di telinga Mia.

__ADS_1


"Sangat. Aku sungguh merindukanmu, Adriano," desah pelan Mia mengiringi gerak tangan Adriano yang tengah menurunkan resleting dress di bagian punggung. Dengan cekatan, pria itu melepas pakaian yang membalut tubuh Mia ke bagian depan, lalu menurunkannya hingga terlepas dan jatuh ke lantai. Adriano kemudian membalikkan tubuh Mia sehingga membelakangi dirinya. Dia melepas pengait bra yang Mia kenakan satu per satu, sambil menghujani pundak dan punggung mulus wanita itu dengan ciuman mesra. "Jangan macam-macam denganku, Mia," ucap Adriano pelan sambil menyandarkan tubuh sang istri padanya. Sementara kedua tangan pria tersebut mulai bergerak nakal di dada wanita itu.


Lenguhan pelan nan manja meluncur dari bibir Mia. Perasaan yang luar biasa kembali hadir, setelah beberapa hari kemarin Adriano sempat menjaga jarak dengannya. Kini, dia ingin melepaskan semua kerinduan yang sudah menggunung dan meruntuhkan segala akal sehat. Bagaimanapun juga, aktivitas panas di atas ranjang bersama Adriano, telah menjadi suatu kebutuhan dan juga candu yang mematikan bagi dirinya. Harus Mia akui bahwa perlakuan mesra dan hangat dari pria tiga puluh dua tahun tersebut, ibarat sebuah penambah energi bagi kehidupannya setelah mengalami masa-masa keterpurukan yang mengerikan.


"Mintalah padaku, Mia," bisik Adriano semakin membuat perasaan dalam diri Mia kian bergejolak. "Memintalah, maka akan kupenuhi semua keinginanmu malam ini," bisik pria itu lagi semakin menggoda.


Mia yang saat itu masih bersandar di dada Adriano, kemudian sedikit mendongak. Dilingkarkannya tangan kanan pada belakang leher sang suami. "Lakukan apapun yang kau inginkan atas diriku, Adriano," ucapnya parau dan segera bersambut sebuah ciuman mesra.


"Inilah yang membuatku tak bisa menjauh darimu," balas Adriano sambil membalikkan tubuh Mia yang sudah hampir polos. Dia mendekap erat pinggang wanita itu sambil menatapnya dengan penuh kelembutan. Sementara Mia membalasnya dengan sebuah senyuman. Tak pernah terbayangkan jika dia akan merasa begitu tergantung, kepada pria yang selalu dihindarinya dulu. Namun, kini semuanya terasa begitu berbeda. Sisi lain Adriano telah dia ketahui dengan baik. Siapa sangka jika hal itulah yang membuatnya menjadi semakin terpesona dan dengan mudah masuk ke dalam jeratan asmara sang ketua mafia Tigre Nero.


Helaan napas berat berbaur dengan lenguhan manja di dalam kamar berukuran luas itu. Sepasang mata biru Adriano menatap sayu kepada Mia yang tengah berkuasa di atas tubuhnya. Wanita itu bergerak dengan penuh irama, membuat Adriano sesekali menyeringai kecil demi menahan perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Mia terasa begitu hangat dan luar biasa. Makin hari, dirinya semakin dapat mengimbangi seorang Adriano.


Butiran keringat mulai membasahi tubuh indah Mia. Rasa lelah tak dia hiraukan, terlebih ketika dilihatnya Adriano yang begitu menikmati pelayanannya. Mia justru bahagia, karena setidaknya hanya sebuah kehangatan dan cintalah yang dapat dia berikan, untuk pria yang selama ini telah banyak berkorban demi mengungkap kasus kematian ayah dari Miabella. "Kau yang paling luar biasa, Mia," sanjung Adriano ketika wanita itu terengah di atas tubuhnya. Mia sudah kelelahan.

__ADS_1


Untuk sejenak, Adriano mendekap erat tubuh polos sang istri. Namun, tak lama kemudian dia segera merebahakan Mia di atas kasur. Kini, gilirannya yang berkuasa. Kembali dihadirkan gairah dalam diri Mia yang telah menurun karena kelelahan, sehingga permainan dapat kembali berjalan dengan seimbang. Adriano lagi-lagi menunjukan siapa dirinya. Pria itu memang seorang penguasa dalam segala hal, termasuk di atas tempat tidur. Dia telah membuat Mia tak berkutik dan seolah ingin memohon ampun kepadanya.


__ADS_2