
"Pronto. Come stai, Francy?" sapa Coco sambil terus berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan antara bangunan Casa de Luca dengan perkebunan. Coco berhenti sejenak di sana sambil bersandar pada dinding. Rasa rindunya kepada sang kekasih begitu besar. "Aku sangat merindukanmu," ucapnya kemudian.
"Sungguh? Kalau begitu, katakan di mana dirimu sekarang?" suara lembut nan manja gadis yang berprofesi sebagai model itu, telah berhasil membuat Coco seakan terhipnotis.
"Ayolah, sayang. Jangan menggodaku," protes Coco dengan lesu. Sebuah keluhan panjang meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Siapa yang sedang menggodamu, Ricci? Aku tahu jika Marco dan Dani akan datang dari Palermo. Karena itu, pagi-pagi sekali aku segera datang kemari," jelas gadis bermata hazel tersebut, membuat Coco segera menegakkan tubuhnya. Semangat yang menggebu kembali hadir dan seakan menjadi nyawa baru bagi pria berambut ikal itu. Senyuman lebar pun kian merekah di wajah tampannya. Tanpa menanggapi jawaban dari Francesca, Coco bergegas naik ke bangunan utama Casa de Luca. Setengah berlari, dia menuju ruang tamu di mana telah berdiri seorang gadis cantik pujaan hatinya.
"Francy!" panggil Coco dengan sumringah.
Gadis bertubuh semampai itu menoleh. Senyuman lebar terlukis indah di wajahnya. Dia segera menghambur ke dalam dekapan Coco. Dengan sigap, pria itu menangkap tubuh gadis yang kini melingkarkan kedua kaki di pinggang si pria. Begitu juga dengan tangan berjemari lentik yang menggelayut mesra di leher pria tersebut. Suara tawa lebar keduanya saling berbaur, menghiasi kebahagiaan karena telah terobatinya rindu yang selama ini mengusik nurani.
"Ya, Tuhan. Aku benar-benar merindukanmu," ucap Coco. Untuk beberapa saat, dia melupakan niat awalnya yang hendak melihat keadaan Damiano.
"Aku jauh lebih merindukanmu," balas Francesca seraya mengecup pangkal hidung Coco, membuat pria bermata cokelat itu tak jua melepaskan senyuman dari bibirnya.
"Apa kau sudah berhenti diet, Francy? Tubuhmu terasa semakin berat," ujar Coco menatap gadis cantik bermata hazel itu dengan penuh cinta.
"Kalau begitu, cepat turunkan aku," pinta Francesca dengan sikapnya yang manja.
"Sayangnya aku tidak mau," balas Coco. Masih sambil menggendong tubuh Francesca, dia berjalan ke dekat sofa dan membawa gadis itu duduk. Kebahagiaan yang memang teramat sulit dijelaskan dengan kata-kata bagi keduanya, terutama untuk Coco. Akhirnya, setelah beberapa waktu tak bertemu, kini dia bisa kembali merasakan belaian lembut jemari lentik sang kekasih.
__ADS_1
"Astaga, berapa lama aku tidak melihatmu. Kau tampak semakin tampan saja," goda Francesca, seraya mencium mesra bibir pria yang duduk sambil memangku dirinya. Untuk beberapa saat, mereka terhanyut dan menikmati adegan tersebut. Sepasang insan yang sedang dilanda rindu membara itu, bahkan tak peduli meskipun ada beberapa pelayan yang melintas dan melihat apa yang dilakukan keduanya. Adegan mesra pengobat rindu antara Coco dan Francesca, baru berhenti ketika ada suara anak-anak yang berlarian ke dalam rumah. Tak lama, suara Daniella juga terdengar di sana.
"Hey, Francy. Kapan kau tiba di sini?" sapa Daniella segera menyambut sang adik yang langsung turun dari atas pangkuan Coco. Kedua saudari itu saling berpelukan dengan hangat.
"Aku baru tiba, Dani," jawab Francesca seraya mengurai pelukannya. "Oh, andai Mia juga ada di sini," ucap gadis itu kemudian dengan penuh sesal.
"Tak apa. Aku yakin tidak lama lagi kita bisa berkumpul bersama," balas Daniella dengan tenang. Sesekali ekor matanya memperhatikan tingkah polah Romeo dan Tobia yang super aktif. "Astaga, Francy. Aku bahkan tidak sempat menyisir rambut dengan benar setiap harinya," keluh Daniella seraya memberi isyarat pada kedua buah hatinya agar menjaga sikap mereka. Namun, isyarat sekeras apapun nyatanya tak digubris sama sekali. Romeo dan Tobia justru terlihat semakin sengaja dengan segala kenakalan mereka.
Francesca pun meringis ngeri saat menyaksikannya. "Baiklah, aku ingin menikmati masa lajangku lebih lama lagi," ujar Francesca membuat raut bahagia di wajah Coco seketika memudar. Namun, Coco segera dapat menguasai dirinya, setelah melihat kehadiran Marco bersama Detektif Ranieri di sana. Sang ketua Klan de Luca itu mengisyaratkan agar Coco mengikutinya ke ruang kerja. Setelah melirik Francesca untuk sejenak, pria bermata cokelat itu segera beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah sang detektif.
Setibanya di ruang kerja, Marco langsung saja mengutarakan maksud dari pertemuan tersebut. Namun, sebelumnya dia juga telah menghubungi Adriano melalui sambungan video call. "Apa kabar, Adriano? Aku senang karena melihatmu dalam keadaan yang ... kau masih terlihat tampan," Marco mengakhiri sapaannya dengan sebuah tawa.
"Aku harap kau tidak sedang sibuk, karena ada hal teramat penting yang akan kita bahas bersama."
"Itulah mengapa para pria akan memiliki tubuh yang jauh lebih gemuk setelah mereka menikah," balas Marco.
"Kau sendiri masih terlihat sama saja," sela Coco dengan entengnya terhadap Marco.
"Dani tidak suka memasak," Marco melirik serta menanggapi celetukan Coco.
"Kasihan sekali," ledek Coco sambil tertawa puas.
__ADS_1
"Apanya yang kasihan. Dia memuaskanku dalam hal yang lain," protes Marco tak terima dengan ledekan Coco.
"Sudahlah, Tuan de Luca. Anda tidak perlu tersinggung karena mendapat ejekan dari pria yang belum beristri," Detektif Ranieri ikut menimpali, membuat Marco dan Adriano serentak tertawa lepas mendengarnya.
"Hey, Detektif!" protes Coco. Namun, pada akhirnya dia mengurungkan untuk menanggapi ucapan detektif muda itu. Coco hanya dapat mendengus kesal. Rasa marahnya tertahan, terlebih saat dia teringat kembali dengan ucapan Francesca yang tadi mengatakan bahwa dirinya ingin melajang lebih lama lagi.
"Baiklah. Jadi, berita sepenting apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Adriano kembali pada topik utama.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Marco menoleh kepada Detektif Ranieri. "Begini, Adriano. Kebetulan di sini ada Detektif Ignazio Ranieri. Dia membawa berita yang sangat penting dari hasil penyelidikannya di Inggris. Untuk lebih detail, dirinyalah yang akan menjelaskan padamu," terang Marco. Pria itu lalu mempersilakan sang detektif agar memulai penjelasannya kepada Adriano.
"Apa kabar, Tuan D'Angelo? Bagaimana kondisi luka anda sekarang?" sapa detektif muda itu berbasa-basi terlebih dahulu.
"Sudah semakin membaik," jawab Adriano. "Kapan Anda kembali dari Inggris?" tanyanya.
"Aku memajukan jadwal jadwal kepulangan satu hari, dan menghubungi tuan de Luca secara mendadak untuk pertemuan ini. Aku sudah tidak sabar untuk memberitahukan hasil yang kami temukan," terang pria itu.
"Lalu, hal menarik apa yang harus kuketahui?" tanya Adriano lagi.
"Aku dan rekan-rekan dari kepolisian setempat, sudah melakukan penyelidikan lewat Mark Bolton. Kami memeriksa semua barang pribadinya, termasuk ponsel pria itu. Satu hal yang sangat menarik adalah, dia berkomunikasi secara intens dengan seorang pria asal Rusia. Mereka membahas masalah tentang situs gelap perdagangan senjata. Di sana juga ada beberapa pesan yang membahas tentang Tangan Setan. Pihak IT dari kepolisian setempat, saat ini sedang melakukan penggalian lagi karena diduga ada banyak sekali pesan lain yang memang sengaja dihapus oleh Mark Bolton," terang Detektif Ranieri membuat Adriano semakin tertarik.
"Mereka membahas perdagangan senjata di situs gelap?" ulang Adriano. Pria bermata biru itu terdiam sejenak. "Aku harap dugaanku salah. Siapa nama pria Rusia itu?" tanyanya
__ADS_1
"Sergei Redomir," jawab sang detektif.