Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Heartbreak Olivia


__ADS_3


Guido segera duduk di antara Damiano dan Adriano dengan tenang. “Halo, Tuan ....” Dia tak melanjutkan sapaannya, karena belum pernah bertemu dengan Adriano sebelumnya.


“D'Angelo. Adriano D'Angelo." Adriano menyebutkan namanya seraya menjabat tangan pengacara itu.


“Tuan D'Angelo. Baiklah." Guido mengangguk-angguk sambil mengingat nama itu. “Aku sudah menyiapkan beberapa berkas yang diminta oleh Tuan Marco de Luca.” Pria itu menyerahkan setumpuk map berisi lembaran kertas pada Adriano.


“Aku juga sudah mengirimkan file melalui email padamu,” timpal Marco.


“Akan kupelajari secepatnya,” sahut Adriano tanpa menoleh. Sekilas, dia membaca tumpukan kertas yang baru saja diserahkan oleh pengacara kepadanya.


“Ini memang kasus yang unik, Tuan-tuan,” ucap Guido tiba-tiba. Membuat semua mata memandang ke arahnya.


“Maksud Anda?” tanya Adriano penasaran.


“Peluru yang bersarang di tubuh Tuan Matteo de Luca berjumlah empat butir. Semuanya memiliki jenis yang sama. Hanya saja, arah tembakannya berbeda,” jelas Guido.


“Jadi, benar dugaanku. Ada lebih dari satu penembak jitu yang membidik Matteo,” gumam Adriano seraya mengusap dagu.


“Betul sekali! Penembak jitu berjumlah empat orang di Kota Milan! Bayangkan, Tuan-tuan! Milan!” Nada bicara Guido begitu menggebu. Pasalnya Milan adalah kota paling aman yang ada di Italia, dibandingkan dengan kota-kota lain yang memiliki banyak sejarah kekerasan terkait kegiatan mafia, atau geng-geng kecil lainnya yang selalu meresahkan masyarakat.


“Siapa pun yang menyuruh mereka, jelas bukanlah orang sembarangan. Mereka pasti sudah mengikuti gerak-gerik Matteo sejak lama, sampai-sampai mereka tahu apa yang dia lakukan di hari itu,” terang Adriano dengan mimik serius.


“Iya. Kami juga menduga demikian. Sayangnya, penyelidikan kami terpaksa berhenti di tempat. Tak ada perkembangan hingga detik ini,” keluh Guido.


“Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengungkapnya,” ucap Adriano di hadapan semua orang dengan begitu yakin, tak terkecuali di depan Coco yang saat itu memasang senyum sinis pada Adriano.


“Aku tidak percaya pada orang yang bersikap terlalu baik,” sindir pria berambut ikal tersebut.


Adriano memandang Coco tajam, untuk kemudian tersenyum. “Semua terserah padamu, Tuan Ricci. Aku tidak bisa memaksa setiap orang untuk percaya atau menyukaiku. Aku tidak peduli sama sekali,” tegasnya, “yang menjadi tujuanku hanyalah mengembalikan kebahagiaan Mia dan keadilan untuk Matteo pastinya. Tak dapat dipungkiri, ucapan terakhir Matteo sesaat sebelum aku tertembak di malam itu, benar-benar telah menyentuh nuraniku. Aku sangat berterima kasih padanya,” imbuh Adriano.


Semua yang ada di sana terdiam mendengar ucapan Adriano. Begitu pula Guido yang tampak kebingungan. “Apa aku telah melewatkan sesuatu?” tanyanya.


“Tidak ada,” jawab Marco cepat. “Kau tidak boleh dan tidak perlu tahu lebih dari ini. Ingat itu, Guido!” tegasnya.


Guido langsung mengangguk, walaupun sedikit terkejut. Tentu saja dia akan menuruti apapun yang dikatakan oleh kliennya tersebut. Pria itu tak ingin membuat masalah dengan Keluarga de Luca.


“Baiklah. Aku terpaksa harus mengakhiri pertemuan sampai di sini, karena aku akan segera kembali ke Monaco,” ujar Adriano seraya berdiri sambil terus memegangi berkas-berkas tadi. Dia berpamitan pada semuanya. Adriano berlalu dari ruang kerja.

__ADS_1


Sementara, Damiano hanya mematung. Memperhatikan sosok Adriano hingga tak tampak dari pandangan, dengan mata berkaca-kaca.


Adriano bergegas ke kamar yang dia tempati bersama Mia. Sesuai dengan yang sudah diputuskan, Adriano berencana memboyong Mia dan juga putrinya ke Monaco hari ini. Pria bermata biru itu memasuki kamar, ketika Mia sedang sibuk membereskan beberapa barang berharga miliknya dan juga Miabella.


Mia tidak membawa banyak pakaian, karena Adriano melarang. Jadi, dia hanya membawa barang-barang yang dianggap sangat penting dan tak mungkin dirinya tinggalkan di Casa de Luca. Salah satunya adalah bros mawar pemberian dari Matteo. Bros itu tersimpan dengan baik dalam kotak perhiasan Mia.


Sungguh disayangkan, karena semenjak Matteo memberikan bros itu kepadanya, Mia belum sempat memakai aksesories tersebut. Ada saja hal yang membuatnya lupa untuk menyematkan benda kecil itu. Alasan utama adalah karena Mia memang tak terbiasa mengenakan aksesories.


Mia memasukkan kotak perhiasannya ke dalam koper bersama barang-barang penting yang lain, tak terkecuali sebuah foto berukuran 4R. Foto yang menjadi kenangan sewaktu dirinya pergi ke Venice bersama Matteo. Dia menyimpan foto itu baik-baik, agar Adriano tak menemukannya. “Jam berapa kita akan berangkat?” tanya Mia kepada Adriano. Pria itu kembali membuka beberapa lembar file, yang tadi diberikan oleh pengacara Guido Aquillani.


“Jangan terlalu siang,” jawab Adriano menoleh sesaat kepada Mia, sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada kertas-kertas tadi.


“Aku akan ke kamar Miabella dulu,” ucap Mia lagi seraya beranjak menuju pintu.


Sesampainya di depan kamar Miabella, Mia mendengar putrinya sedang tertawa bersama seseorang. Perlahan, Mia membuka pintu dan melihat Francesca tengah bercengkerama bersama Miabella. “Asyik sekali. Kalian sedang membicarakan apa?” Mia mendekati mereka berdua, lalu duduk bersimpuh.


“Aku bercerita tentang Daddy Zio, Bu,” jawab Miabella.


“Oh, ya? Cerita tentang apa?” tanya Mia.


“Dia mengatakan bahwa Daddy Zio-nya tampan seperti pangeran,” sahut Francesca seraya terkikik geli.


“Mia ....” Francesca memandang dengan sorot iba, lalu memeluk kakak tirinya dengan erat.


“Aku rasa, tidak seperti itu, Principessa.” Tiba-tiba, suara bariton Adriano tersengar di kamar Miabella.


Francesca dan Mia serempak menoleh ke arah sumber suara.


Adriano ternyata sudah berdiri di sana. Dia menyandarkan bahu di ambang pintu sembari bersedekap. “Kau tahu, Sayang? Ayahmu tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Tidak juga olehku. Ayahmu hanya memerintahkanku untuk mewakilinya,” ucap Adriano diiringi senyuman hangat pada Miabella.


Adriano berjalan mendekat kepada gadis kecil itu. Dia menurunkan tubuh di depannya. “Ayahmu. Tuan Matteo de Luca. Dia telah memerintahkanku untuk menjaga dan merawatmu sampai waktunya tiba,” lanjut Adriano.


“Waktu apa, Daddy Zio?” Miabella memiringkan kepalanya lucu.


“Waktu tiba adalah saat di mana ketika Tuhan memanggilku untuk menemani ayahmu di surga. Itu artinya, aku akan menjagamu sampai napasku habis, Miabella. Itu janjiku.” Adriano menatap lekat mata abu-abu gadis kecil itu, lalu mengusap lembut pipi tembemnya.


“Kau ... kau tidak perlu berbuat sampai sejauh ini.” Mia tergagap lalu membuang muka. Dia tak ingin Adriano melihat wajahnya yang basah oleh air mata.


“Ya. Aku juga heran. Kenapa kau melakukan semua ini, Tuan D’Angelo? Bolehkah aku curiga?” tanya Francesca yang sedari tadi hanya diam menyimak.

__ADS_1


“Ada alasan yang tidak bisa kuungkapkan saat ini, Nona Ranallo. Yakinlah, aku tidak memiliki niat buruk sama sekali,” jawab Adriano tersenyum samar, lalu melirik ke arah Mia.


Suasana sempat hening untuk beberapa saat, hingga Adriano menepuk kedua tangannya. “Baiklah. Sudah saatnya kita berangkat. Helikopter jemputanku sudah datang. Berpamitanlah pada Bibi Francesca,” suruh Adriano lembut.


“Aku pergi dulu, Bibi Francy. Jaga kamarku baik-baik, ya. Jangan sampai ada laba-laba masuk,” celoteh Miabella lucu. Postur mungilnya memeluk tubuh ramping Francesca. Sesuatu yang sangat luar biasa, karena Miabella jarang sekali mengakrabkan diri pada dirinya. Gadis kecil itu bahkan cenderung menjauh jika didekati.


Setelah berpamitan dengan Francesca, Mia mengajak putrinya berkeliling rumah. Mereka berpamitan pada setiap orang yang ada di sana, termasuk Damiano. Pria paruh baya itu tak kuasa menahan tangis, saat akan melepaskan keberangkatan Miabella di landasan helikopter yang terletak di atap bangunan Casa de Luca.


“Aku ingin mengajak Kakek Damiano, Daddy Zio,” pinta Miabella dengan wajah memelas.


“Tentu saja boleh. Asalkan Kakek Damiano bersedia,” sahut Adriano lembut.


Namun, Damiano malah menggeleng lemah, lalu memeluk cucunya dengan erat. “Aku tidak bisa pergi sekarang. Aku harus menjaga rumah ayahmu, Nak. Jika ada waktu senggang, Kakekmu ini akan datang berkunjung,” ucapnya lirih.


Miabella mengangguk pelan sambil sesekali melirik pada Adriano. Seakan paham akan apa yang diinginkan oleh putri sambungnya, dia segera meraih tubuh mungil Miabella dan merengkuhnya dalam gendongan.


“Kami pergi dulu, Paman,” pamit Mia seraya menangis sesenggukan.


“Miabella! Badare (hati-hati)!” seru Romeo dengan cara bicara yang cadel, karena dia masih berusia dua tahun. Melihat kakaknya melambaikan tangan penuh semangat, Tobia pun mengikutinya.


Sesekali Daniella yang menggendong Tobia, mengusap air mata. Marco berusaha menguatkan istrinya dengan membelai lembut punggung wanita itu.


“Aku akan sering-sering mengajak teman-teman modelku ke Monaco, Mia.” Giliran Francesca yang berseru riang. Akan tetapi, sepertinya Coco tak menyukai hal itu. Dia menoleh pada tunangannya tadi sambil memasang wajah masam.


Mia memperhatikan semua dengan penuh keharuan, sebelum memasuki helikopter. Adriano sigap membantu mendudukkan Miabella di kursi khusus. Dia memasang sabuk pengaman dengan benar. Setelah itu, Adriano beralih pada Mia dan memasangkan headset di kepala wanita tersebut.


Adriano memberi tanda pada pilot helikopter, bahwa semua sudah siap. Pilot itu pun menarik tuas kemudi, lalu membawa mereka terbang meninggalkan Casa de Luca.


Tak sampai satu jam waktu yang dibutuhkan hingga mereka tiba di mansion Adriano, yang terletak di jantung Kota Monte Carlo. Helikopter itu mendarat mulus di landasan. Adriano menunggu sampai baling-baling berhenti berputar, lalu bergegas menurunkan Mia dan Miabella. Di ujung landasan, ajudan setianya sudah berdiri gagah menyambut kedatangan Adriano.


Begitu pula Olivia yang berdiri tak jauh dari Pierre. Selain terlihat bahagia dan bersemangat, wajah mereka juga tampak bertanya-tanya, saat Adriano berjalan mendekat sambil menggendong balita dan menggandeng seorang wanita yang tampak begitu cantik di mata Olivia.


“Maaf jika kurang sopan. Namun, bolehkah aku bertanya sesuatu, Tuan?” Ragu Olivia membuka suara.


“Astaga. Setiap hari dalam tiga tahun ini, dia selalu menanyakan keberadaan Anda, Tuan. Pertanyaan yang sama setiap harinya,” keluh Pierre.


Wajah Olivia merona. Akan tetapi, hal itu tak menyurutkan keinginannya untuk bertanya, “Maaf, Tuan, tapi siapakah nyonya dan anak kecil ini?”


“Ah, maafkan aku yang selama beberapa minggu terakhir ini jarang memberi kabar pada kalian. Pierre, Olivia, perkenalkan. Dia Mia dan Miabella. Mulai saat ini, Mia akan menjadi nyonya besar di sini, karena kami telah menikah. Ini adalah putriku,” jelas Adriano. Dia lalu mengangkat Miabella lebih tinggi di gendongannya, lalu mencium pipi gembul itu.

__ADS_1


Tak terkira betapa terkejutnya Pierre dan Olivia mendengar jawaban Adriano. Terlebih, bagi Olivia. Dia seperti terkena sambaran petir, yang telah berhasil menyedot energinya hingga tak tersisa.


__ADS_2