
“Apa maksudnya hilang?” Adriano berdiri dan menatap tajam kepada Pierre.
“Petugas pengawas tidak menemukan memori yang meniympan detik-detik Anda memasuki kamar 2205 dan keluar dari sana satu jam kemudian,” tutur Pierre pelan.
“Bagaimana bisa? Ini sungguh tidak masuk akal!” geram Adriano yang kembali mengepalkan tangannya. Dia sudah bisa menebak adanya sabotase yang dilakukan oleh Jacob.
“Aku sudah mendesak mereka untuk mengatakan yang sebenarnya, Tuan. Akan tetapi, mereka mengancam akan melaporkanku pada pihak yang berwajib, karena dianggap mengganggu keamanan dan telah kekerasan terhadap pihak hotel,” terang Pierre lagi.
“Bawa aku pada mereka!” pinta Adriano. Dengan segera dia berdiri dan melangkah ke luar kamar, sehingga mau tak mau Pierre harus mengikuti keinginannya. Pria asal Perancis itu mengarahkan Adriano untuk memasuki lift dan bergerak ke lantai paling atas, di mana pusat keamanan hotel berada. Pierre kemudian mengetuk pintu pertama yang terletak paling dekat dengan lift.
Tampak seorang pria berseragam petugas keamanan hotel membuka pintu tadi. “Sudah kukatakan bahwa kami tak bisa membantu Anda, Tuan!” tegas pria tersebut dengan segera saat melihat wajah Pierre, padahal pria berambut pirang itu belum sempat mengatakan apapun.
“Aku membawa majikanku kemari. Dia ingin bertemu dengan kalian,” sahut Pierre sambil menunjuk pada Adriano yang berdiri dengan gagah di sampingnya.
Pria berseragam itu mengembuskan napas panjang sebelum mempersilakan Pierre dan Adriano umtuk memasuki ruangan. “Kebetulan ada manager kami di sini. Anda bisa langsung berbicara dengannya,” ujar petugas tadi dengan malas.
Pria yang ditunjuk oleh petugas keamanan tadi segera berdiri dan menyambut Adriano. “Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan. Akan tetapi, ini semua adalah perintah dari atasan," kilahnya tanpa menunggu Adriano berbicara.
"Di mana Tuan La Roe? Dulu dia pemilik hotel ini,” tanya Adriano.
“Hotel ini sudah bukan milik Tuan La Roe lagi. Beliau menjualnya setahun yang lalu,” jawab manager itu.
“Lalu, siapa pemiliknya sekarang?” cecar Adriano.
“Aku meminta maaf, karena tidak bisa mengatakan hal ini kepada Anda. Pemilik baru sudah menekankan pada kami untuk tidak membuka identitasnya pada siapa pun,” tegas manager hotel tersebut.
“Ini sungguh tidak masuk akal! Untuk apa pemilik tempat ini menyembunyikan identitas dirinya? Apakah dia takut jika hotel miliknya akan kutuntut, mengingat padamnya listrik di tempat seperti ini adalah hal yang sangat memalukan sekaligus merugikan konsumen. Ini juga menunjukkan betapa tidak profesionalnya sistem pengelolaan hotel,” protes Adriano.
“Sekali lagi kami sangat meminta maaf, Tuan. Akan tetapi, tidak ada yang bisa kami lakukan saat ini,” ucap manager itu lagi sambil menangkupkan kedua tangannya di dekat dada.
__ADS_1
Adriano tak menanggapi permintaan maaf itu. Dia malah menatap tajam pada sang manager yang sepertinya berusia tak jauh berbeda darinya. “Baiklah, akan kucari jalan lain untuk menemukan rekaman itu,” ujarnya kemudian sebelum pergi meninggalkan ruang keamanan hotel dan kembali ke kamarnya.
“Apa yang akan kita lakukan setelah ini, Tuan?” tanya Pierre sambil membukakan pintu untuk Adriano.
“Tolong buka dan identifikasikan alat penyadap serta kamera mini yang terpasang di saputangan dan cincinku ini,” titah pria rupawan itu seraya melepas sapu tangan dan cincin safir biru yang dikenakannya. Dia lalu meletakkan kedua benda tadi di atas meja yang penuh dengan peralatan elektronik.
Seorang anak buahnya menerima benda itu dan mencoba menyambungkan dengan monitor. Cukup lama dia mengotak-atik alat penyadap dan perekam tersebut, hingga pada akhirnya dia menggelengkan kepala. “Tidak ada apapun di sini, Tuan,” ucap kalut.
“Apa maksudmu tidak ada apa-apa? Sudah jelas-jelas aku menyalakan kedua alat itu sejak tadi!” Nada bicara Adriano mulai meninggi.
“Sepertinya alat ini telah rusak,Tuan,” jawab anak buahnya dengan sedikit ketakutan.
“Apa maksudnya rusak? Bukankah kalian yang mengetes alat itu dan memberikannya kepadaku?” Adriano semakin gusar.
Di saat itulah, ponselnya berdering nyaring. Kembali nomor tak dikenal menghubunginya lagi. Adriano sudah dapat mengira bahwa itu pasti tiada lain adalah Jacob. Dengan segera, dia menjawab panggilan tersebut. Tak ada lagi raut tenang di wajah pria tampan tersebut. “Apa maumu, Jacob!” sentaknya tanpa basa-basi.
“Ah, sahabatku. Apa kau tengah membuka rekaman alat penyadapmu? Sayang sekali,” terdengar tawa pelan Jacob dari seberang sana. “Menyerahlah, Adriano. Sebaiknya kau mengaku kalah. Kelemahanmu sudah berada di dalam genggamanku,” sambungnya dengan nada puas
“Adriano D’Angelo, sang macan hitam yang paling berkuasa. Biar kuingatkam sesuatu padamu, sahabatku,” ucap Jacob lagi. “Bagi orang-orang seperti kita, cinta itu menyusahkan sekaligus bisa menjadi kelemahan. Seandainya kau hidup sendiri tanpa keluarga, sudah barang tentu aku kesusahan untuk mengancammu seperti ini."
"Cukup basa-basinya, bajingan! Katakan apa maumu!" geram Adriano lagi.
“Kau tak akan menemukan apapun pada alat perekam dan penyadapmu, Adriano. Karena ketika kau memasuki kamar 2205, semua perangkat elektronik termasuk ponselmu menjadi tidak berfungsi. Aku sudah mengacak gelombang elektromagnetik di ruangan itu. Kau tidak akan punya bukti bahwa kau tidak melakukan apapun dengan nona Cantona yang cantik. Namun, aku memiliki bukti kalian masuk ke kamar itu berdua saja, lalu keluar satu jam kemudian. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan Florecita Mia katakan, seandainya dia menerima rekaman itu.” Jacob mengakhiri kalimatnya dengan tertawa lebar.
“Kau ....” Dada Adriano bergemuruh. Rasa dia ingin menerkam Jacob saat itu juga dan mencabik-cabiknya dengan tangan kosong.
“Dari segi kekuatan dan kekuasaan, mungkin aku kalah darimu, Adriano. Namun, untuk kecerdikan ... aku berada selangkah di depan."
“Apakah kau yang mengunci pintu kamar 2205?” tanya Adriano dingin.
__ADS_1
“Tidak hanya kamar 2205, tapi kamar di seluruh lantai ini telah kukunci. Semua itu kulakukan agar ajudanmu tidak dapat membantu. Namun, ternyata tuan Corbyn ini nekat juga. Dia menembak daun pintu kamar yang kau sewa menggunakan pistol berperedam. Itulah kenapa dia bisa keluar dari sana dan menghampiri kamar 2205,” jelas Jacob panjang lebar.
“Walaupun sayangnya apa yang dia lakukan itu tak banyak membantu, masih tetap aku yang memegang kendali," ujar Jacob bangga.
“Jadi, kau yang menghilangkan memori kamera CCTV hotel, Jacob?” terka Adriano.
“Tentu saja. Aku bisa melakukan apapun di hotel ini. Pegawai-pegawai rendahan itu tak akan bisa mencegahku,” ujar Jacob jumawa.
“Jangankan pegawai rendahan, pemilik hotel ini pun berada dalam genggamanku. Dia bersedia melakukan apa saja yang kuinginkan,” imbuhnya.
“Untuk apa kau melakukan ini? Untuk apa kau menargetkanku!” tanya Adriano dengan nadanya yang berangsur tenang.
“Sudah kukatakan padamu berkali-kali, Adriano. Aku hanya ingin bekerja sama denganmu, sahabatku. Aku sangat membutuhkan bantuanmu untuk mendapatkan flashdisk itu. Semua akan menjadi lebih mudah jika kau mendukungku,” jawab Jacob dengan santainya.
“Lalu, apa yang kau lakukan jika sudah mendapatkan flashdisk itu?” tanya Adriano lagi.
“Kita akan membangun ulang organisasi Killer X ini bersama-sama. Kau dan aku, kita akan menjadi kekuatan besar yang tak terkalahkan,” tutur Jacob dengan yakin.
“Jika aku menolak?” Adriano mengangkat satu alisnya.
“Aku yakin kau tak akan bisa menolaknya, karena dirimu tidak akan sanggup kehilangan Mia,” tegas Jacob.
Adriano sudah hendak membalas kalimat Jacob. Akan tetapi pria itu telah lebih dulu berkata, ”Tidak. Aku tidak berniat membunuhnya. Selain tidak bisa, aku juga tidak berani. Tidak ada yang bisa kujadikan alat untuk mengancam jika istrimu yang cantik jelita itu mati.”
Adriano memejamkan matanya untuk beberapa saat, demi menahan amarah yang sebentar lagi menerjang keluar bagaikan air bah.
"Aku rasa, akan jauh lebih menyakitkan ketika Mia meninggalkanmu dengan membawa pikiran buruk, dibanding sebuah kematian mengerikan bagi wanita itu.
Aku bisa memberikan rekaman CCTV dan kata-kata yang meyakinkan agar dia pergi membawa putri kecil kesayanganmu bersamanya, maka itu sudah jauh lebih dari cukup. Kau tidak bisa hidup tanpa mereka, Adriano.” Suara Jacob terdengar tenang dan datar. Dia sudah merasa berada di atas angin.
__ADS_1
“Katakan apa maumu,” sahut Adriano dingin. Untuk sementara, dirinya tidak akan melawan Jacob. Dia akan mengikuti apapun yang pria itu inginkan. Adriano memutuskan untuk mengikuti permainan yang Jacob lakukan, hingga nanti ketika dia memiliki celah untuk menyerang dan menghancurkan pria misterius itu.
“Seperti yang sudah kujelaskan tadi, sahabatku. Bantu aku menemukan flashdisknya dan kita akan bisa menguasai dunia bersama-sama. Oh, ya hampir lupa. Ada satu lagi bonusnya. Jika rencanaku berhasil, aku akan memberitahukan kepadamu di mana Elang Rimba berada,” papar Jacob.