Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Closing Kiss


__ADS_3

“Apa-apaan itu, Olivia? Kau tahu bukan jika hal yang seperti kau lakukan ini sangat tidak sopan,” tegur Adriano dengan cukup tegas. Sementara Olivia hanya terdiam. Wajahnya yang tadi ceria ketika menunjukkan deretan foto-foto Adriano saat menikmati liburan selama seminggu yang lalu, kini berubah muram. Gadis itu mengira jika Adriano akan menyukai karena dirinya mempunyai seorang penggemar sejati. Namun, kenyataannya Olivia telah salah sangka.


“Maafkan aku, Tuan. Aku hanya menyukai saat mengambil gambarmu. Anda terlihat sangat tampan dan layak disejajarkan dengan model-model kelas dunia, dan juga ....”


“Segera hapus semua foto tadi!” titah Adriano dengan tegas. Meskipun saat itu dia berkata dengan cukup pelan, tetapi Olivia dapat merasakan penekanan yang sangat dalam pada setiap kata-kata yang dilontarkan pria bermata biru tersebut.


“Anda tidak menyukainya, Tuan?” tanya Olivia polos. Padahal gadis itu sudah berusia dua puluh empat tahun. Akan tetapi, tidak adanya pengalaman dan juga faktor pendidikan yang tidak terlalu tinggi, menjadikan pemikiran Olivia begitu polos dan apa adanya.


“Tentu saja tidak!” jawab Adriano dengan segera. “Dengarkan aku, Olivia! Aku adalah pria yang sudah beristri. Aku sama sekali tidak memahami apa alasanmu dulu sehingga begitu memaksa untuk ikut ke Monaco. Kau telah memanfaatkan kondisiku saat itu yang tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, sehingga aku menyetujuinya dengan begitu saja,” dengus Adriano menahan amarah dalam hatinya. Sikap Olivia selama ini, memang kerap kali membuat dirinya merasa risih.


Mendengar ucapan Adriano yang dirasa cukup keras dan seakan memojokkan dirinya, Olivia pun menunduk dalam-dalam. Tak berselang lama, terdengar sebuah isakan pelan dari bibirnya. Akan tetapi, hal itu tak membuat Adriano merasa iba sedikit pun. Lagi-lagi, Olivia telah salah mengira. Tinggal lama di mansion milik dari sang ketua dari Tigre Nero tersebut, ternyata tidak membuat gadis itu mengenali karakter Adriano yang sesungguhnya. “Kenapa Anda berbicara seperti itu padaku, Tuan? Aku sama sekali tidak memiliki niat jahat,” bantah Olivia tak terima.


“Lalu?” Adriano memicingkan kedua matanya. Sementara Olivia tidak segera menjawab. Gadis itu hanya menunduk. “Kau sudah membuang-buang waktuku,” Adriano bermaksud untuk meninggalkan Olivia yang masih terdiam.


Namun, dengan segera Olivia menahan langkah tegap Adriano. Gadis itu kembali bersuara dan membuat pria yang tengah kesal padanya seketika menoleh. “Tunggu, Tuan!” cegah gadis itu. “Jika Anda memang ingin mengetahui alasanku yang sebenarnya, maka baiklah akan kuceritakan,” Olivia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Dia menatap lekat kepada Adriano dengan sepasang mata yang tampak sayu.


“Sebenarnya, aku bukanlah penduduk asli pulau Corsica. Dulu, aku tidak tinggal di Piana, karena aku ....” Olivia memperhatikan raut wajah Adriano sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Pria itu masih menatapnya tajam.


“Ayahku berasal dari Perancis. Dia merantau ke Italia untuk memperbaiki nasib. Akan tetapi, meskipun pindah ke Italia ternyata ayah tetap saja menjadi pekerja rendahan. Dia mencari nafkah sebagai buruh perkebunan. Di sana, ayah bertemu dengan wanita asli Italia. Mereka saling jatuh cinta dan lahirlah aku,” tutur Olivia. Sesekali dia menundukan wajahnya, kemudian menatap Adriano. Begitu seterusnya.


Dari dalam kamar, Mia mendengarkan percakapan Adriano dan Olivia meski hanya sayup-sayup. Perlahan dan hati-hati, wanita cantik itu menempelkan telinganya pada daun pintu. Tak biasanya Mia bersikap demikianm


“Ibu sedang apa? Aku ikut,” ucap Miabella menarik bagian tengah dress yang Mia kenakan. Mia segera memberi isyarat dengan telunjuk yang ditempelkannya pada permukaan bibir. Itu dimaksudkan agar putrinya tidak berkata nyaring. Akan tetapi, Miabella malah mengikuti tingkah laku ibunya. Gadis kecil itu ikut menempelkan telinga pada pintu.


“Hidup kami sangat pas-pasan kala itu, mungkin bisa juga dikatakan miskin. Hingga aku dewasa, keadaan ekonomi keluarga kami nyatanya tak juga membaik. Sampai suatu hari, tuan tanah pemilik perkebunan mendatangi rumah kami. Dia meminta pada ayah untuk menikahkan dirinya denganku. Bayangkan, Tuan. Pria tua itu seenaknya datang ke rumah dan memaksaku untuk menjadi istrinya,” Olivia melanjutkan ceritanya. Kini, gadis itu sudah terihat cukup nyaman.

__ADS_1


“Tuan tanah itu sangat berkuasa. Banyak yang mengatakan jika dirinya memiliki hubungan dengan beberapa organisasi mafia. Hal tersebut membuat ayahku tak memiliki pilihan lain, selain mengizinkan pria tua itu membawaku. Padahal saat itu usiaku belum genap dua puluh empat tahun. Aku juga belum ingin menikah, terlebih lagi dinikahi oleh pria hidung belang sepertinya," Olivia tampak bergidik saat membayangkan apa yang dirinya ceritakan kepada Adriano, yang kini terdiam mendengarkannya.


"Saat itu jujur saja jika aku sangat panik. Aku terus mencari cara untuk melarikan diri. Ketika di dalam mobil, aku meronta dan berhasil melukai pipi dari pria itu menggunakan kaki. Setelah itu, aku mendobrak pintu mobil yang tengah berjalan dan melompat ke luar. Aku terus berlari ke semak-semak di sisi jalan, lalu bersembunyi di sana semalaman,” Olivia mengambil napas sejenak, sebelum kembali bercerita.


“Besok paginya, dengan bantuan beberapa teman. Aku berhasil keluar dari kota kecil tempat kelahiranku, lalu menumpang kendaraan. Aku berpindah dari satu mobil ke mobil lain. Terakhir, aku menumpang kendaraan seseorang yang pergi ke Corsica. Aku terus mengikutinya hingga tibalah di kota Piana.”


“Namun, di Piana aku tak mengenal siapa pun. Tak ada teman apalagi sanak saudara. Akhirnya, orang yang telah begitu baik memberiku tumpangan tadi, dia memperkenalkanku pada paman Cristobal yang baik hati. Paman Cristobal bersedia memberikan tempat tinggal dan makanan. Sebagai balas budi, aku membantu beliau berjualan di toko ikan miliknya. Selain itu, aku juga bekerja paruh waktu di kedai milik kenalan paman Cristobal,” lanjut Olivia lagi.


“Pada akhirnya, siang itu ... aku menemukanmu. Aku ikut mengantarkan ke rumah sakit di Ajaccio. Alasanku memaksa ikut denganmu ke Monaco, karena sebelumnya aku melihat anak-anak buah tuan tanah melintasi alun-alun kota. Aku yakin mereka sedang mencariku, karena tak terima jika aku telah menyakiti majikannya.


Aku hanya mencoba untuk bersembunyi dari kejaran mereka. Itulah kenapa, aku tidak berani pulang ke rumah paman dan memaksa ikut denganmu, Tuan. Maafkan aku,” Olivia menundukkan wajahnya. Tak berani membalas tatapan tajam Adriano.


“Lalu, bagaimana dengan pamanmu?” akhirnya Adriano menanggapi cerita Olivia.


“Sudah dua tahun ini aku tidak berani menghubunginya. Kuharap dia selalu tidak apa-apa. Dia begitu baik padaku,” sesal gadis itu sembari mengusap air mata.


“Aku sangat senang Anda menerimaku di mansion, Tuan. Aku merasa memiliki harapan baru di sana,” Olivia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan memandang Adriano dengan penuh harap.


“Tuan, a-aku ....” Olivia bergerak mendekat ke arah Adriano.


Namun, tanpa diduga Mia membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan memanggil pria rupawan itu. Miabella pun berdiri di samping Mia sambil tersenyum lebar.


“A-aku membutuhkan bantuanmu, Adriano. Aku tidak bisa menata baju-bajumu dengan rapi,” dalih Mia, sedikit terbata.


Adriano menoleh kepada Mia dengan penuh tanda tanya. Beberapa menit yang lalu, wanita itu menyuruh dirinya untuk menjauh.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Nanti akan kuatur sendiri koperku,” sahut Adriano datar.


“Aku membutuhkanmu sekarang!” paksa Mia. Dia menghampiri tubuh tegap Adriano dan menarik lengannya begitu saja.


“Baiklah, Mia,” pria itu memilih untuk menuruti Mia, dan mengikuti sang istri masuk ke kamar. “Kita lanjutkan nanti,” ujar Adriano seraya menoleh kepada Olivia yang berdiri terpaku. Mata indah gadis itu terus menatap sosok Adriano hingga menghilang di balik pintu kamar.


Di dalam kamar, Adriano semakin merasa kebingungan ketika melihat koper-koper sudah tertata rapi. “Apa yang harus kubantu, Mia? Sepertinya semuanya sudah beres,” tanyanya heran.


“Ah, iya, i-itu ... itu aku ....” Mia terbata.


“Ibu menguping Daddy Zio. Ibu mendengarkanmu dari balik pintu,” seru Miabella diselingi tawa renyah khas bocah mungil itu.


“Benarkah itu, Mia? Kenapa kau lakukan itu?” pancing Adriano seraya mengangkat satu alisnya.


“A-aku hanya,” Mia terlihat sangat gugup. Apalagi ketika Adriano mengunci pandangannya pada wajah cantik itu.


“Bolehkah aku berharap? Bolehkah aku tidak hanya sekadar berkhayal dan menganggap bahwa kau sedang cemburu padaku?” napas Adriano berembus di wajah Mia. Jarak mereka kini hanya beberapa senti saja.


Disentuhnya pipi halus Mia. Jemari Adriano terus menjalar dan berhenti di bibir indah kemerahan itu. “Aku tak akan pernah menyerah. Aku akan memiliki tubuh dan juga hatimu seutuhnya, Mia. Seluruhnya hingga kau benar-benar menjadi milikku,” Adriano mengakhiri perkataannya sambil mengecup lembut bibir ranum istrinya, diiringi oleh tepuk tangan Miabella.


🍒


🍒


🍒

__ADS_1


Hai, semua. Ini ceuceu bawakan rekomendasi novel yang bagus untuk diikuti. jamgan lupa tengok, ya.



__ADS_2