
Setelah perundingan alot antara ketiga pria beberapa jam sebelumnya, akhirnya Adriano memutuskan untuk berangkat ke Kroasia malam itu juga. “Anda harus siap dengan segala risikonya, Tuan,” ujar Pierre dengan kalemnya. Dia terus mengingatkan majikannya tersebut.
“Tenang saja, Pierre. Aku sudah mempersiapkan skenario yang terbaik,” balas Adriano seraya menepuk pundak ajudan setianya. Adriano kemudian berjalan meninggalkan ruang kerja bersama Coco dan juga Marco. Tangan kanannya menyelipkan satu pistol yang dia pilih ke balik kemeja, sedangkan tangan kirinya membawa koper berisi perlengkapan tambahan seperti rompi anti peluru, sabuk, pistol dan cadangan peluru.
Sedangkan Marco sendiri lebih memilih untuk memakai senjata pribadinya, sebuah pistol revolver bermodel kuno peninggalan sang ayah, Antonio.
“Kutitipkan mansion ini padamu, Pierre,” ucap Adriano sebelum dirinya memasuki kendaraan yang akan membawa dia dan kedua rekannya ke bandara Nice di Perancis. Hampir setengah jam perjalanan mereka lalui dengan aman, sampai mobil mewah Adriano berhenti di depan hanggar yang dia sewa.
Beberapa kru pesawat pribadinya telah berdiri menyambut, ketika sopir pribadi Adriano membukakan pintu untuknya juga Marco serta Coco. “Selamat datang, Tuan D’Angelo. Segala persiapan dan permintaan Anda tadi telah kami penuhi seluruhnya,” lapor salah satu kru.
“Kerja bagus. Terima kasih,” ucap Adriano seraya menaiki tangga pesawat.
“Sekarang sudah hampir pukul sebelas, Amico. Sebentar lagi Mia akan menelepon,” bisik Coco yang berada di belakang Adriano.
“Ya, aku tahu itu,” jawab Adriano santai. Padahal dalam hatinya sudah tak menentu. Bagi pria rupawan itu, menghadapi amarah Mia ternyata jauh lebih menegangkan daripada menghadapi puluhan moncong senjata.
Sesuai perkiraan, waktu di jam tangan mahal Adriano menunjukkan pukul sebelas kurang satu menit ketika Mia menghubunginya. Wanita cantik itu memilih untuk melakukan panggilan video. Beruntung saat itu Adriano sudah bersiap di atas tempat tidur di dalam kabin pesawat, setelah sebelumnya memerintahkan pilot agar tidak lepas landas sampai Mia selesai menghubunginya.
“Kenapa lama sekali, Adriano? Apa kau menyembunyikan sesuatu?” selidik Mia. Wajah cemberutnya terlihat begitu menggemaskan di mata Adriano.
“Kau lihat sendiri, aku tengah bersantai di kamar hotel, Mia,” jawab Adriano meringis kecil, menampakkan sikap tenangnya agar sang istri tak curiga.
“Apakah itu Ricci dan Marco? Kenapa kalian berada dalam satu kamar?” selidik Mia ketika dirinya melihat Coco dan Marco berada di dekat suaminya. Dua pria itu juga terlihat sibuk menghubungi pasangan masing-masing menggunakan ponselnya.
“Kami hanya sedang membicarakan sesuatu, Sayang. Kenapa kau belum tidur? Tidurlah, karena besok adalah hari yang sangat sibuk bagi kalian,” bujuk Adriano.
“Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tak berbuat macam-macam,” tegas Mia penuh penekanan.
“Mana berani aku macam-macam denganmu, Sayang?” balas Adriano terbahak sampai terlihat lesung pipi yang membuatnya semakin menawan. “Apa Bella sudah tidur?” tanyanya kemudian.
__ADS_1
“Ya, dia tertidur di kamar paman Damiano. Baru beberapa jam kau tinggal, dia sudah merengek ingin menjemputmu,” keluh Mia.
Lagi-lagi, Adriano tertawa. “Suruh Bella bersabar, Sayang. Aku akan pulang secepatnya,” tutur pria bermata biru itu pelan.
“Baiklah kalau begitu. Kau tidurlah, Sayang. Akan kutelepon kembali besok pagi,” pungkas Mia sebelum mengakhiri panggilan videonya.
“Gawat, apa dia mengatakan akan menelepon lagi besok pagi?” sahut Marco setelah menutup percakapannya dengan Daniella di telepon.
“È'facile (gampang),” jawab Adriano seraya bangkit dan keluar dari ruang tidur. “Kita pikirkan semuanya nanti. Yang jelas, kita harus cukup beristirahat, agar stamina tetap prima. Lima jam dari sekarang kita akan tiba di Vukovar.” Adriano melirik pada Coco yang tengah serius membahas sesuatu bersama seorang wanita. Namun, pada kenyataannya, Coco tak sedang bertelepon dengan calon istrinya.
Adalah Monique yang menghubungi Coco secara tiba-tiba. Wanita itu melarang pria berambut ikal tersebut untuk berbicara sepatah kata pun. “Berdehemlah sekali jika kau hendak menjawab ‘iya', dan dua kali untuk kata ‘tidak’. Tunggulah di sebuah restoran dua puluh empat jam, yang terletak kira-kira dua kilometer sebelah utara dari pintu masuk bandara,” ujarnya memberikan aba-aba kepada Coco.
Coco berdehem sekali sebagai tanda mengerti. “Baiklah, aku mendengarnya,” ucap Monique lagi. “Terima kasih sudah menerima ajakanku untuk menghabisi Nenad, Ricci. Aku betul-betul bersyukur telah dipertemukan denganmu. Aku sudah tak tahan berada di dekat pria brengsek itu,” keluhnya.
Coco berdehem kembali, lalu mengakhiri telepon ketika Adriano berjalan melewati dirinya.
Pria bermata biru itu melangkah menuju cockpit dan memerintahkan pilot untuk lepas landas. Dia lalu memilih untuk duduk di kursi empuk dekat jendela, lalu meluruskan kursi itu sehingga dapat dia jadikan ranjang. Adriano berusaha memejamkan mata di sana.
Adriano mengangguk, lalu mengembalikan posisi kursinya seperti semula serta memasang sabuk pengaman dan mengencangkannya. Tak berapa lama, Coco dan Marco keluar dari ruangan tidur dan duduk berhadapan dengannya.
“Sekarang masih pukul empat pagi. Kita akan menunggu telepon Mia di mana?” tanya Marco seraya mengencangkan sabuk pengamannya.
“Aku belum pernah ke Vukovar,” celetuk Coco, “tapi, kalian jangan khawatir. Setelah pesawat mendarat, aku akan menyalakan ponselku dan menunggu kabar dari Monique.”
“Kau bertukar nomor dengannya?” tanya Adriano seraya mengernyitkan kening.
“Tidak, dia yang menyimpan nomor ponselku,” jawab Coco singkat, lalu memalingkan muka.
“Dari mana dia tahu nomormu?” cecar Adriano yang mulai curiga akan sesuatu.
__ADS_1
“Entahlah, Adriano. Aku sendiri juga tak tahu,” jawab Coco tanpa memandang ke arah suami Mia tersebut.
“Apa aku melewatkan sesuatu?” Marco kebingungan sambil menatap kepada Coco dan Adriano secara bergantian.
“Jangan katakan jika kau mengajakku ke dalam misi ini hanya sekadar untuk menyelamatkan Monique,” desis Adriano tanpa memedulikan pertanyaan Marco. Mata birunya menyorot tajam, seakan hendak menguliti Coco.
“Tentu saja tidak, Amico! Tujuan utamaku adalah menghabisi Nenad. Dialah penyebab awal kematian Matteo!” elak Coco dengan nada tinggi. “Tentang Monique, itu hanya sampingan saja. Jika aku menghabisi Nenad, secara otomatis, Monique akan bebas dengan sendirinya."
“Apa kau berniat main gila dengan perempuan lain untuk terakhir kalinya, sebelum kau mengikat janji suci sehidup semati, Coco?” canda Marco .
“Apa kau gila! Aku tidak mungkin mengkhianati Francy! Dari awal aku sudah berniat untuk memburu Nenad. Akan tetapi, Monique juga meminta tolong padaku untuk membebaskan dirinya dari cengkeraman pria itu!” sahut Coco kesal.
“Padahal aku bercanda, tapi kau menanggapinya dengan serius. Hm, aku makin curiga,” celetuk Marco. Niatnya untuk menggoda calon adik iparnya terpaksa dia hentikan tatkala roda pesawat sudah menyentuh landasan bandara Zagreb.
“Ayo,” ajak Adriano beberapa saat kemudian setelah pesawat berhenti sempurna di lokasi pendaratan yang dikhususkan untuk pesawat pribadi, maupun pesawat lain yang berukuran lebih kecil. Pesawat pribadi itu juga telah memasuki hanggar khusus yang sebelumnya sudah disewa oleh Adriano sesaat setelah memutuskan untuk berangkat ke Kroasia.
Beberapa orang kru membantu membawakan koper Adriano yang berisi peralatan perang. Mereka berhenti pada anak tangga terakhir di luar pesawat. Di dalam hanggar, telah menunggu seorang wanita dengan badan penuh tato yang tak lain adalah Valerie.
“Lama tak bertemu denganmu, Moy brat,” gadis berkepang itu merentangkan tangan dan bersiap memeluk Adriano.
“Kau yang ke mana saja? Sudah berminggu-minggu kau tak pulang ke mansion.” Adriano membalas pelukan Valerie sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan. Tak dapat dipungkiri jika dia merindukan adik angkat yang tak pernah menetap di satu tempat dalam waktu lama itu.
“Apa saja yang kau bawa? Berikan semuanya padaku, atau kalian tak akan bisa melewati pos pendeteksi logam di bandara,” jelas Valerie.
“Hanya sedikit.” Adriano meraih koper yang dibawakan oleh kru pesawat, lalu menarik pistolnya dari balik pinggang. Dia memberikan semua benda itu kepada Valerie.
“Aku juga,” Coco menyerahkan dua pistol pilihannya ke tangan Valerie. Demikian pula dengan Marco.
“Lalu, bagaimana caramu keluar dari bandara dengan senjata sebanyak itu di tanganmu?” tanya Marco pada Valerie.
__ADS_1
“Kroasia seperti rumah kedua bagiku. Jangan khawatir. Aku sangat hafal jalan tikus maupun jalur bawah tanah untuk keluar dari bandara ini,” jawab Valerie dengan entengnya. Gadis bertato itu kemudian menurunkan ransel besar yang sedari tadi menempel di punggung. Dimasukkannya beberapa pistol milik Adriano, Coco dan Marco ke dalam sana. Dia lalu menutup rapat ransel itu dan meletakkannya kembali di punggung. Valerie menenteng koper, kemudian melambaikan tangan pada semua orang. “Hubungi aku jika kalian sudah berada di luar area bandara!” serunya.