
Selama berada dalam perjalanan udara, Mia lagi-lagi tak banyak bicara. Dia hanya memandang ke luar jendela helikopter. Memperhatikan bangunan-bangunan yang terlihat begitu kecil di bawah sana, lalu tergantikan oleh pemandangan Laut Aegea.
Tanpa sadar, Mia membayangkan malam di saat Matteo dan yang lainnya membuang tubuh Adriano begitu saja ke tengah samudera. “Apakah ini karma atas apa yang sudah kami lakukan padamu?” gumam Mia lirih, dengan tatapan yang masih tertuju ke luar jendela.
“Aku tidak tahu. Akan tetapi, selalu ada alasan atas segala sesuatu yang terjadi di dunia ini,” sahut Adriano tanpa memandang ke arah Mia. Dia terlalu sibuk menetralkan debaran jantungnya yang menggila.
“Aku rindu Miabella,” ucap Mia tiba-tiba.
“Tenang saja. Aku akan mengantarmu pulang ke Casa de Luca setelah acara peresmian resort selesai,” sahut Adriano lagi. Kali ini dia memberanikan diri menatap wajah cantik Mia.
“Jangan pernah lari, Mia. Makin kau menghindarinya, maka masalahmu akan semakin bertumpuk. Itu akan membuat beban yang kau pikul kian bertambah berat dan tak terselesaikan,” saran Adriano. Kalimat yang dia ucapkan terdengar lembut dan menusuk sanubari terdalam Mia, membuat janda cantik itu merasa harus mempertimbangkannya.
“Aku tidak tahu apakah aku sanggup. Melihat Miabella membuatku teringat pada ....” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Dia memilih menunduk dan memilin-milin gaunnya.
“Itulah kenapa Tuhan memilih wanita sebagai seorang ibu, yang menjadi pintu lahirnya generasi penerus manusia. Alasannya sudah jelas, karena wanita adalah makhluk terkuat. Di saat fisik maupun batinnya terluka, dia harus tetap tegak berdiri demi anak-anaknya. Ikatan dengan pasangan bisa terputus, tapi tidak dengan seorang anak, Mia,” tutur Adriano.
“Seandainya kau tahu. Aku hanya bisa merasakan kasih sayang tulus seorang ibu hingga saat usiaku empat tahun. Setelah itu, hanya neraka yang kuhadapi hari demi hari,” sambungnya.
Adriano terdiam sejenak. Dia menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. “Matteo sudah tenang di surga. Apalagi, berdasarkan ceritamu bahwa dia telah berubah menjadi seorang yang teramat religius. Aku yakin jika jiwa-jiwa mulia yang diambil terlebih dulu, adalah mereka yang disayangi Tuhan. Mungkin itulah alasan kenapa aku tidak mati waktu kau menembak dan membuangku. Tuhan belum ingin melihat wajahku di akhirat." Adriano tertawa pelan, lalu terdiam.
“Jiwa-jiwa yang mati, sudah tenang di alam sana. Akan tetapi, yang masih hidup harus terus berjuang setiap hari. Kau, aku, kita semua berjuang menjalani kehidupan. Terutama Miabella. Anak sekecil itu masih sangat membutuhkan ibunya. Apalagi, setelah dia kehilangan sosok seorang ayah.” Adriano menggeleng pelan, tak percaya atas apa yang terjadi pada Matteo.
“Hadapi semuanya, Mia. Kau jauh lebih kuat dari yang dirimu bayangkan. Jangan pernah lari dari kenyataan,” tutup Adriano. Dia berhenti berbicara, ketika helikopter yang mereka tumpangi, sudah mendarat di atap landasan resort yang akan segera diresmikan beberapa saat lagi.
Adriano turun terlebih dulu, lalu berputar menuju pintu penumpang di sisi Mia dan membukanya. Dia mengulurkan tangan, bermaksud membantu Mia untuk turun.
Sementara, Mia masih terdiam dan mencoba mencerna kata demi kata yang telah Adriano lontarkan tadi. “Ayo,” ajak Adriano yang masih mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Mia tersadar dan mengangguk. Dia menerima uluran tangan Adriano, lalu turun dengan anggun. Mereka melangkah bersama ke arah beberapa orang yang berbaris rapi menyambut keduanya. “Selamat datang, Tuan. Sebagian besar tamu sudah hadir. Mereka menunggu kehadiran Anda,” lapor seorang pria bersetelan hitam, dengan sopan. Dia membungkuk memberi hormat kepada Adriano dan Mia.
“Baiklah. Tunggu apa lagi? Kita sambut mereka,” balas Adriano dengan senyumannya yang teramat menawan.
Rombongan itu memasuki lift yang tersedia di ujung landasan, kemudian bergerak turun hingga lantai dasar tempat lobby berada. Di sana, sudah banyak orang yang menanti kehadiran sang pemilik dari tempat liburan mewah tersebut. Salah satu dari orang-orang itu adalah Bianca Alegra.
“Astaga, tak biasanya Adriano D’Angelo datang terlambat,” ujar wanita cantik itu seraya merentangkan tangan. Dia hendak memeluk Adriano. Akan tetapi, Bianca segera mengurungkan niatnya, setelah menyadari bahwa pria tampan itu datang bersama wanita lain yang tak pernah dirinya kenal.
“Siapa dia, Adriano?” tanya Bianca sembari melipat kedua tangan di dada. Raut wajahnya terlihat tak bersahabat sama sekali.
“Mia,” jawab Adriano singkat dengan nada yang begitu dalam dan penuh arti. Dia juga menggenggam erat jemari lentik Mia. Membuat wanita berbaju putih itu sempat melayangkan protes melalui tatapan matanya. Namun, Adriano malah semakin mengeratkan genggaman tangan sambil menyeringai puas. Dia yakin Mia tak akan berani menolak, apalagi setelah mendapat ancaman yang cukup serius dari dirinya.
“Mia? Aku tidak pernah mendengar nama itu,” ucap Bianca sinis.
“Sekarang kau sudah mendengarnya, Bianca?” Adriano mengembangkan senyumannya, kemudian berjalan begitu saja melewati Bianca sambil tetap menggenggam tangan Mia.
“Aku tidak pernah memiliki kekasih,” balas Adriano datar. Saat itu, dia terpaksa melepaskan genggaman tangannya dari Mia, karena harus menyalami para tamu dan menyambut mereka seramah dan sehangat mungkin. Setelah itu, dilanjutkan dengan acara menggunting pita di depan area permainan yang berada tepat di bibir pantai.
Seorang pegawai Adriano memberikan sebuah gunting padanya. Adriano menerima gunting itu, kemudian meraih tangan Mia. “Kita lakukan ini bersama-sama,” ajaknya tenang.
Mia sudah hendak menolak dan mungkin akan memaki Adriano. Akan tetapi, niat bodoh tersebut dia urungkan, ketika dirinya kembali teringat pada ancaman pria itu. Lagi-lagi, Mia memilih diam dan melakukan apapun yang Adriano inginkan. Mereka memegang gunting yang sama, lalu memotong pita.
Gegap-gempita suara musik dan tepuk tangan meriah, mengiringi berakhirnya sesi formal tersebut. Bianca melihat adegan itu tanpa berkedip. Ini bukan hal baik baginya.
Acara siang itu tak berhenti sampai pada sesi gunting pita saja. Dari arah depan, terlihat tiga orang wanita berpakaian seksi mulai menari sensual. Mereka adalah para penari perut.
“Silakan, Tuan." Seorang pegawai mengarahkan Adriano ke deretan tempat duduk yang sudah disiapkan di tepi pantai. Meja-meja ditata seindah dan serapi mungkin untuk Adriano dan para tamu yang lain.
__ADS_1
Adriano duduk dengan penuh wibawa. Sedangkan, Mia duduk di kursi yang berada tepat di sebelah Adriano berada. Wanita itu tak dapat mengedipkan matanya, ketika melihat ketiga wanita tadi meliuk-liukan tubuh mereka yang sebagian besar terekspos.
Para penari itu terlihat begitu mahir dan seketika menghipnotis para tamu, terutama kaum pria. Mereka begitu asyik menonton pertunjukan tersebut, tak terkecuali Adriano. Wajah tampan pria itu tampak berseri, ketika salah seorang dari penari itu menghampiri dan bergoyang tepat di dekatnya.
Adriano tersenyum kalem seraya terus memperhatikan wanita cantik bertubuh seksi tadi dengan tatapan nakal. Mia yang melihat hal tersebut, tanpa sadar menunduk dan melihat tubuhnya sendiri yang memang terlihat jauh lebih kurus, dan sangat berbeda dengan bentuk tubuh para penari tadi. Wanita itu pun menggeleng pelan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan hiburan lainnya, dan berakhir pada jamuan makan. Aneka menu khas Yunani dan beberapa menu terkenal dari belahan negara Eropa, sudah terhidang di atas meja panjang berlapis kain putih. Tak lupa, Adriano pun membawakan Mia makanan. Sejak tadi, wanita itu hanya diam dan menikmati pemandangan indah serta mengagumi kemewahan resort tersebut.
“Makanlah, Mia." Adriano membawakan salah satu dari menu makanan yang tersaji.
“Kenapa kau terus menyuruhku makan? Apa karena aku terlihat kurus dan tidak seseksi para penari tadi? Oh, astaga! Matamu sama sekali tak berkedip saat melihat mereka. Apa kau sengaja mengundang para penari perut dalam acara ini?” Mia memalingkan wajahnya dari Adrianio.
Sementara, pria itu hanya tertawa pelan menanggapi ucapan Mia. Dia baru saja akan mengatakan sesuatu, ketika beberapa tamu menghampiri dan menyalaminya. Mereka kemudian berbincang-bincang. Adriano pun asyik dengan para tamu tersebut dan membiarkan Mia sendirian.
Angin tepi laut berembus cukup kencang. Ia membuat bagian bawah dress yang Mia kenakan terus berayun. Sesekali, wanita itu menyibakan anak rambut yang jatuh menutupi kening. Mia begitu asyik menatap hamparan laut biru yang indah, dan seakan tak berujung. Lamunannya pun melayang entah ke mana.
Seberkas bayangan Matteo, berganti dengan wajah Miabella yang telah beberapa lama dia tinggalkan. Adriano memang benar. Mia harus menghadapi rasa takutnya dan mungkin melawan hal itu agar dia bisa terbebas dan berhenti untuk sembunyi. Bagaimanapun juga, rasa rindunya terhadap Miabella begitu besar. Dia sudah bertekad untuk tak lagi menyia-nyiakan waktu yang masih dimilikinya.
“Giatí móni, despoinís? (Kenapa sendirian saja, Nona?)” Terdengar sapaan seorang pria yang tiba-tiba berdiri di samping Mia. Pria berwajah tampan dengan kulit bersih dan terlihat ramah. Dia mengenakan setelan jas berwarna hitam. Pria itu menatap Mia dengan sebuah senyuman.
Mia menoleh. Akan tetapi, dia tak mengerti dengan apa yang pria itu ucapkan padanya. Mia hanya tersenyum kecil, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada hamparan laut lepas.
Pria itu berdiri gagah dengan dua tangan di dalam saku celana. “Bukankah itu sangat indah?” ucap pria itu lagi mengikuti arah tatapan Mia. Namun, lagi-lagi Mia tidak menjawab, karena dirinya memang tak mengerti apa yang pria itu katakan.
Sementara, Adriano yang tengah berbincang dengan para tamu, sesekali mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut. Dia mencari keberadaan Mia, hingga tatapannya terkunci pada wanita berbaju putih itu. Namun, Adriano harus mengernyitkan kening, ketika melihat sosok pria yang berdiri di sebelah Mia.
Dengan terpaksa, Adriano harus mengakhiri perbincangan dengan para tamu. Dia segera menghampiri wanita itu. “Aku mencarimu,” ucapnya sambil memegangi lengan kanan Mia, sehingga wanita itu menoleh. Tak berbeda dengan si pria yang juga melakukan hal sama. Sedangkan, Adriano masih terlihat sangat tenang.
__ADS_1