
Adriano mengakhiri perbincangannya bersama Bianca dengan begitu saja. Pria bermata biru tersebut tampak salah tingkah. Bibirnya tersenyum, tapi sorot mata terlihat gelisah. Dia dapat menebak bahwa Mia pasti akan kembali dengan rasa cemburunya, seperti yang sudah-sudah. "Mia, sejak kapan kau ...." Adriano menjeda kalimatnya, karena melihat Mia yang memasang wajah dengan teramat dingin.
"Tolong jangan salah paham. Bianca hanya ...." Adriano seperti kehabisan kata-kata untuk memberikan penjelasan kepada Mia. Tak ada ide dalam kepalanya, karena dia sama sekali tidak bisa berpikir dengan tenang saat itu. "Kau cemburu lagi, Sayang?" pada akhirnya Adriano lebih memilih melakukan jalan pintas, yaitu meraih tubuh Mia ke dalam dekapannya. Dia merangkul pinggang ramping sang istri dengan begitu erat, sehingga Mia tak bisa berontak atau melepaskan diri.
"Lepaskan aku, Tuan D'Angelo!" ketus ucapan Mia yang ditujukan untuk Adriano. Sedangkan pria itu malah tertawa pelan atas sikap Mia yang demikian.
"Kau benar-benar pencemburu, Mia. Kenapa harus merasa takut? Kau tahu bahwa aku sudah mencintaimu sejak lama, bahkan semenjak kau masih dimiliki pria lain. Kau pikir aku akan menyia-nyiakanmu setelah kini dirimu menjadi milikku? Adriano tidak akan bertindak bodoh. Cukuplah aku menjadi bodoh karena cintamu saja," tanpa permisi, pria rupawan bermata biru itu melu•mat bibir sang istri dengan begitu mesra untuk beberapa saat. Adriano tahu betul bahwa Mia pasti akan kembali luluh dengan perlakuan mesranya.
Ciuman manis itu terus berlangsung, dan baru berhenti ketika Pierre muncul di sana dengan tiba-tiba. Lagi-lagi, lajang berusia empat puluh tahun tersebut harus kembali memergoki adegan mesra sang majikan dengan istrinya. "Oh, maaf. Aku akan kembali lagi nanti," pria asal Perancis tadi membalikan badan dan bermaksud untuk pergi.
Akan tetapi, dengan segera Mia mencegahnya. "Silakan, Pierre. Aku hanya ingin menyapa suamiku," ujar Mia dengan senyuman lembut. Dia sempat membelai pipi suaminya sebelum berlalu keluar dari ruang bermain. Kepergiannya diiringi dengan tatapan Pierre yang saat ikut tersenyum.
Setelah itu, pria asal Perancis tadi kembali mengalihkan perhatian kepada Adriano yang tengah mengusap pinggiran bibir dengan ujung ibu jari. "Tuan," sapa sang ajudan setia dengan hangat. Beberapa hari tak bertemu dengan Adriano membuatnya merasa rindu dan juga khawatir. Namun, kini dia bisa berbahagia karena pria itu telah kembali dalam kedaan selamat.
Adriano masih tetap pada posisinya, yaitu menyandarkan sebagian tubuh pada pinggiran meja. "Apa kabar, Pierre?" sapanya penuh wibawa.
"Sangat baik dan teramat bahagia, sebab Anda telah kembali," jawab pria bermata hijau itu dengan sumringah. "Selama beberapa hari kemarin, aku tidak bisa tenang karena memikirkan keadaan Anda setelah mendengar laporan dari Jules," ucapnya lagi.
"Ya, itu pengalaman yang sangat luar biasa bagiku. Aku juga sempat berpikir bahwa saat itu adalah akhir dari kehidupan Adriano D'Angelo, tapi ternyata Tuhan masih menyayangi dan membiarkanku hidup hingga saat ini," tutur Adriano penuh rasa syukur dalam nada bicaranya. Satu hal yang selalu ada dan dia simpan di dalam saku celananya, yaitu kalung pemberian Miranda. Benda itu ibarat sebuah jimat sakti bagi pria tersebut. "Kejadian di Inggris membuatku sadar akan sesuatu," gumam Adriano pelan. Dia lalu terdiam sejenak sambil menatap ujung sepatunya.
"Persiapan sematang apapun, memang terkadang masih terasa kurang, Tuan. Namun, itu bisa menjadi perhatian penting untuk kita semua," sahut Pierre yang seakan telah memahami arah dari ucapan Adriano. "Oh, iya. Anda memanggil Arsen untuk datang kemari, apakah ada sesuatu yang penting?" tanya Pierre.
"Ya, itu yang ingin kubahas denganmu," jawab Adriano penuh wibawa.
“Bagaimana, Tuan?” Pierre bersedekap dan menatap serius kepada sang majikan.
“Aku akan mengirim Arsen untuk mewakiliku dalam menjalankan proyek,” tutur Adriano. Sorot matanya seakan meminta pendapat dari Pierre.
__ADS_1
“Kurasa itu ide yang bagus, Tuan. Arsen memiliki kemampuan untuk itu. Dia bisa diandalkan. Dia juga orang yang sangat loyal dan supel. Aku bisa menjamin hal itu,” ujar Pierre tanpa ragu sedikitpun.
“Baiklah, aku merasa lega sekarang setelah mendengarkan pendapatmu. Setelah ini, kau bantu carikan hunian untuk Arsen yang akan dia tempati selama berada di Inggris," titah Adriano kemudian. Pierre pun mengangguk setuju. "Kalau begitu, ayo temani aku bermain,” Adriano menyodorkan tongkat billiard pada Pierre dan menantang ajudannya untuk bermain.
Sementara itu, setelah keluar dari ruangan billiard, Mia memilih untuk kembali ke kamar Miabella. Di ujung lorong, dia berpapasan dengan kepala pelayan yang baru saja masuk dari taman belakang. “Hai, Grace,” sapa Mia.
“Nyonya D’Angelo,” kepala pelayan itu menunduk penuh hormat.
“Apakah kau tahu di mana Olivia berada? Aku tak melihatnya sama sekali sejak kembali ke sini,” tanya Mia.
Kepala pelayan bernama Grace itu menegakkan kembali badannya dan memandang keheranan, “Itu juga yang saya pertanyakan pada pelayan lainnya, Nyonya. Saya tak melihat Olivia sama sekali sedari kemarin," terangnya.
“Oh,” hanya itu yang keluar dari bibir indah Mia. Dalam hati, dia cukup mencemaskan keadaan Olivia. Bagaimanapun juga, gadis itu telah berjasa dalam hidup Adriano. Tanpa Olivia, mungkin sekarang Adriano hanyalah tinggal nama, dan Mia pasti masih hidup dalam keterpurukan. “Baiklah, terima kasih,” wanita cantik itu mengangguk pada kepala pelayan tadi, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar sang putri.
Tanpa terasa, jarum jam terus berdetak hingga menunjukkan angka dua belas tengah malam. Kamar Olivia yang tertutup rapat semenjak kemarin, kini terbuka. Terlihat jemari lentik yang memegang ujung daun pintu. Pelan geraknya, menutup kembali pintu tersebut setelah dirinya berada di luar kamar.
Gadis yang tidak lain adalah Olivia, mencengkeram botol kesayangannya. Dia hendak berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Ada yang berbeda dari penampilan gadis cantik itu. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya pun sama sekali jauh dari kata rapi. Langkahnya lunglai, bahkan seperti terseok. Sesekali bahunya bergetar. Jelas sudah bahwa gadis itu tengah terisak.
Gadis itu kemudian mengarahkan botol yang dia pegang, pada moncong dispenser yang mulai mengalirkan air hingga terisi separuh. Sedikit lagi, dan dia akan segera bergegas ke kamarnya. Namun, sebelum itu terjadi, seseorang sudah lebih dulu memegang bahunya lembut.
“Olivia,” sebut seorang pria yang tiada lain adalah Arsen. Seseorang yang paling Olivia takuti dan harus dia hindari.
Olivia membalikkan badan penuh rasa ketakutan. Botol yang telah terisi air, lolos begitu saja dari tangannya lalu tumpah ke lantai. Gadis itu menggeleng kuat-kuat dan bergerak mundur, hingga tubuhnya menabrak tempat dispenser sampai hampir roboh.
“Olivia, dengarkan dulu. Ma’afkan aku,” kedua tangan Arsen terulur dan memegang bahu gadis itu, menjaganya agar tak terjatuh.
“Lepaskan!” tolak Olivia. Suaranya bergetar menahan tangis. Takut, marah dan benci, bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
__ADS_1
“Aku benar-benar hilang akal saat itu, Olivia. A-aku mabuk. Tolong jangan katakan bahwa aku telah menganiaya dirimu,” sorot mata beriris gelap milik Arsen tampak mengiba, membuat Olivia semakin gemetar. Air matanya tumpak semakin deras membasahi pipi yang kini tampak kemerahan itu.
“Aku minta ma’af, Olivia. Aku memang brengsek. Aku mabuk berat dan yang kuingat saat itu hanyalah wajah cantik dan wangi tubuhmu saja. Setelah itu, paginya ... aku ....” tenggorokan Arsen tercekat. Matanya terbelalak seolah menyadari sesuatu yang teramat fatal.
Tanpa sadar, tubuh Arsen merosot. Dia duduk bersimpuh di depan Olivia yang terpaku.
“Aku memang suka bermain-main dengan wanita, tapi aku bukan pemerkosa. Aku sama sekali tidak berniat melakukannya. Aku ... kau ... membuatku hilang kendali. Aku benar-benar mabuk,” kalimat Arsen terbata. Dia sudah hendak melanjutkan penuturannya sampai terdengar suara menggelegar yang berasal dari belakangnya.
“Berani-beraninya kau, Arsen Moras!” Mia berdiri di sana dengan napas memburu. Telunjuknya mengarah pada pria asal Yunani yang tampak begitu terkejut.
“Mia, tolonglah. Aku bisa menjelaskannya,” Arsen buru-buru berdiri dan mendekati Mia.
“Diam di tempatmu, laki-laki brengsek!” wajah cantik Ma memerah karena amarah. Tak kuasa menahan emosi, dia melayangkan tangan dan menampar Arsen sekuat tenaga.
“Aku mabuk waktu itu. Aku sama sekali tidak sadar,” Arsen mengusap pipinya dan mengucapkan kalimat pembelaan.
“Kau tidak pantas berkata apapun!” Mia melewati tubuh tinggi Arsen begitu saja dan menghampiri Olivia. Sebagai sesama wanita, Mia dapat memahami dengan baik, betapa hancurnya diri Olivia saat itu.
Mia pun memeluk tubuh gadis malang tersebut erat-erat, berusaha memberinya kekuatan. “Jangan khawatir, Olivia. Kita akan membalas pria kurang ajar itu,” bisiknya.
Sedangkan Olivia tak mampu menjawab. Dia hanya menangis sesenggukan.
“Kita lihat, apa yang akan dilakukan oleh Adriano ketika dia mengetahui hal ini,” Mia sengaja berkata sedemikian keras hingga mampu terdengar oleh Arsen.
“Tidak, jangan, Mia! Kumohon! Adriano tak perlu mengetahui hal ini. Aku yang salah. Aku akan bertanggung jawab! Apapun akan kulakukan untuk membuktikan bahwa aku bukan pria pengecut! Aku akan membayar semua yang telah kulakukan pada Olivia,” cegah Arsen dengan nada panik.
“Oh, ya? Bagaimana caramu bertanggung jawab?” tanya Mia sinis. Kedua tangannya tak lepas dari memeluk tubuh rapuh Olivia.
__ADS_1
“Dengar, aku memang penggoda wanita, tapi aku tak pernah melukai mereka. Aku selalu melakukan semuanya atas dasar suka sama suka. Ini ... ini sungguh di luar kuasaku. Aku benar-benar mabuk,” elak Arsen. Dia mengatur napasnya sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya kembali.
“Seperti yang kukatakan. Aku ... aku akan bertanggung jawab. Akan kubuktikan bahwa aku bukan pria pengecut. Oleh karena itu, izinkan ... izinkan aku ... menikahi Olivia,” lantang suara Arsen, bagaikan petir yang menyambar tubuh ringkih gadis lugu itu.