
Pagi-pagi sekali, Miabella sudah menggedor pintu kamar Adriano. Dengan terpaksa, pria itu bangun dan terduduk sebentar sambil mengumpulkan tenaga. Diliriknya Mia yang masih tertidur lelap, dengan posisi membelakangi.
Adriano mengembuskan napas pelan seraya menyibakan selimut. Dia lalu turun dari tempat tidur. Pria itu berjalan menuju pintu, kemudian membukanya.
Tampaklah wajah manis Miabella yang sudah tersenyum lebar. "Selamat pagi, Daddy Zio," sapa gadis kecil berambut cokelat itu. "Semalam, aku bermimpi jika kau sudah pulang. Karena itu aku langsung memeriksanya sekarang," ucap Miabella dengan gaya bicara yang menggemaskan.
Semua rasa kantuk dan lelah Adriano, seketika sirna saat melihat wajah ceria gadis manis bermata abu-abu tersebut. Dia menurunkan tubuhnya, lalu tersenyum. "Jadi, kau percaya pada mimpi, Bella?" tanyanya dengan wajah dan rambut yang masih terlihat lusuh.
Miabella hanya menautkan alisnya, karena tak mengerti dengan yang Adriano tanyakan. Perhatian gadis kecil itu, justru tertuju pada rambut Adriano yang terlihat acak-acakan. "Boleh kurapikan rambutmu, Daddy Zio?" tanyanya polos. Tanpa menunggu jawaban dari ayah sambungnya, Miabella langsung menyisir rambut Adriano menggunakan jemari mungilnya.
Adriano tersenyum lebar atas perlakuan gadis kecil yang sangat menggemaskan itu. Dia diam saja dan membiarkan Miabella merapikan rambut hitamnya. "Apa sudah selesai?" tanya Adriano lagi, saat Miabella menghentikan apa yang dilakukannya tadi.
Gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi susunya yang putih. Dia lalu melongok ke dalam kamar. Miabella, melihat Mia yang masih tertidur lelap. "Ibuku belum bangun? Akan kubangunkan dia." Miabella bermaksud untuk masuk.
Akan tetapi, dengan segera Adriano mencegahnya. Dia memberikan isyarat dengan sebuah gelengan kepala. "Bagaimana jika kita bermain di halaman? Kau temani aku berolahraga," tawar Adriano dengan senyumnya.
"Baiklah! Aku mau!" seru Miabella sambil melonjak kegirangan. Adriano menyampirkan kaos hitamnya di atas pundak. Dia lalu menutup pintu kamar dengan rapat. Adriano menuntun Miabella menuju halaman samping.
Halaman mansion milik Adriano memang tak kalah luas dari bangunannya. Di sana juga dilengkapi dengan beberapa sarana olahraga. Termasuk sebuah besi melintang dengan tinggi sekitar dua meter, yang dilengkapi dua buah besi penyangga pada sisi kiri dan kanannya.
Adriano meletakan kaos hitamnya di atas bangku taman, yang sengaja disediakan tak jauh dari kedua tiang besi tadi.
"Apa yang akan kau lakukan, Daddy Zio?" tanya Miabella seraya memperhatikan Adriano dengan raut penasaran.
"Lihat apa yang akan kulakukan," sahut Adriano masih dengan senyum kalemnya.
Sementara, Miabella duduk di atas bangku sambil memperhatikan apa yang dilakukan ayah sambungnya tersebut.
Setelah melakukan sedikit peregangan, Adriano meraih besi yang melintang di atas. Dia sedikit berjinjit karena tiang itu jauh lebih tinggi darinya. Adriano, kemudian menggenggam besi tadi dengan erat. Perlahan, dia mengangkat tubuhnya, dan bergerak naik turun dengan irama yang beraturan.
Tampaklah, otot-otot lengan yang sangat kuat dan dan terlihat begitu kokoh. Pria itu melakukan gerakan yang sama selama beberapa kali. Setelah itu, dia menaikan kedua kaki lurus ke depan sambil bergerak naik turun. Gerakan itu pun dia lakukan secara berulang dan teratur dalam setiap hitungannya.
Miabella tertawa riang menyaksikan hal itu. Dia bertepuk tangan dan terlihat sangat menyukai apa yang Adriano lakukan. Baginya, itu merupakan sesuatu yang luar biasa.
__ADS_1
"Kau ingin mencobanya, Bella?" tawar Adriano yang sudah mengakhiri kegiatan olah tubuh.
"Mau!" jawab Miabella antusias. Dengan segera dia turun dari bangku dan berlari menuju Adriano. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Miabella hingga dia dapat meraih pegangan besi tadi. "Tinggi sekali, Daddy Zio," seru Miabella antara takut dan senang.
"Kelak kau akan melompat jauh lebih tinggi dari ini, Sayang," balas Adriano yang kemudian menurunkan tubuh mungil itu. Dia mengajak Miabella untuk duduk. Posisinya saat itu menghadap kepada putri kecil yang kini telah menghiasi hari-harinya yang sepi.
"Katakan, siapa yang mengikat rambutmu?" tanya Adriano sambil memperhatikan wajah manis Miabella yang memamerkan lesung pipinya.
"Bibi berambut hitam yang mengikat rambutku. Pagi-pagi, dia masuk ke kamar dan membawakan aku susu," jawab Miabella tanpa melepas senyumannya.
"Oh, bibi itu bernama Olivia. Apa dia bersikap baik padamu?" tanya Adriano lagi. Miabella menanggapinya dengan sebuah anggukan cepat. "Baguslah. Kau bisa berteman dengannya," lanjut pria bermata biru itu. Namun, untuk sejenak Adriano terdiam dan menautkan alis, ketika melihat Miabella yang menatapnya dengan sorot aneh. "Ada apa?" tanya Adriano dengan heran.
"Apa kau tidak merasa malu karena tak memakai baju di depan wanita, Daddy Zio?" celetuk Miabella yang seketika membuat Adriano menahan tawa. Tanpa banyak protes, dia meraih kaos hitam yang dia letakan begitu saja di sebelah Miabella. Adriano pun segera memakainya.
"Begini, Sayang?" tanya Adriano dengan senyum lebarnya.
"Iya, Daddy Zio. Kau terlihat sangat tampan meskipun rambutmu acak-acakan," celoteh Miabella yang lagi-lagi membuat Adriano tersenyum lebar.
"Bagaimana kau bisa membedakan pria yang tampan dan tidak?" tanya Adriano dengan setengah menggumam.
"Aku melihatnya di televisi," sahut Miabella dengan ekspresi lucu.
Sementara Mia sibuk membersihkan tubuh, seorang pria menghampiri Adriano yang tengah asyik bercengkerama dengan Miabella. Pria yang tiada lain adalah Sergei Redomir, datang dengan tampilan yang terlihat tak seformal biasanya. "Selamat pagi. Maaf mengganggu kebahagiaan kalian pagi ini," sapanya.
Seperti biasa, pria asal Rusia itu selalu bersikap sok akrab. Namun, kali ini perhatiannya langsung teralihkan pada sosok gadis kecil cantik yang tengah bersama Adriano. "Hey, siapa gadis cantik ini?" tanyanya seraya mencondongkan tubuh ke depan, tepat ke hadapan Miabella.
Bukannya menjawab, Miabella justru beringsut semakin merapatkan diri pada Adriano. Gadis kecil itu terlihat ketakutan.
Adriano segera meraih tubuh mungil Miabella. Dia memindahkannya ke atas pangkuan. "Ini putriku. Miabella Conchetta," jawab Adriano bangga seraya mengecup pucuk kepala anak itu.
"Putrimu? Hmm ... jangan katakan jika diam-diam kau memiliki istri dan anak rahasia," celetuk Sergei seraya mengernyitkan kening.
Sedangkan, Adriano hanya tertawa pelan. Dia tak menanggapi ucapan dari koleganya tersebut.
"Ah, ya. Sudahlah. Aku senang jika ternyata kau sudah memiliki anak, meskipun aku tidak tahu siapa ibu dari anak itu," ucapnya kemudian, seraya duduk di sebelah Adriano dengan tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Untuk apa kau datang kemari pagi-pagi begini?" tanya Adriano dengan sikap yang tak acuh.
__ADS_1
"Aku tak akan datang sepagi ini, jika bukan karena ada sesuatu yang penting," jawabnya. "Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang," lanjut pria berambut pirang itu.
"Siapa?" tanya Adriano.
"Kau akan terkesan jika kuberitahukan siapa dia. Pria itu merupakan pemilik beberapa kasino mewah di Macau juga Singapura. Dua negara yang sangat terkenal dengan tingkat perjudiannya. Itu belum termasuk dengan kasino miliknya yang berada di Amerika. Bukankah kau ingin mengembangkan bisnismu hingga ke sana?" Sergei melirik Adriano dengan tatapannya yang lurus tertuju ke depan.
"Ya. Aku sudah memikirkan hal itu. Akan tetapi, untuk saat ini aku masih punya urusan lain yang jauh lebih penting," jawab Adriano datar.
"Hal apa yang jauh lebih penting bagi seorang Adriano D'Angelo selain bisnis? Jangan katakan jika kau hanya ingin fokus menjadi seorang ayah," celoteh Sergei dengan diiringi tawa. "Menurutku, ini kesempatan yang sangat bagus untukmu. Kau bisa menjalin kerja sama dengannya, dan itu pasti akan mempermudah jalanmu. Kau tahu bukan? Tidak mudah untuk membuka sebuah kasino," bujuk Sergei lagi.
"Apa kau lupa berapa banyak kasino milikku? Kau tak perlu mengingatkan hal itu," sahut Adriano masih dengan nada bicara tak acuh.
Sergei tertawa cukup nyaring, membuat Miabella semakin mempererat dekapannya kepada Adriano. "Ya, tentu saja. Kau adalah rajanya di daratan Eropa. Namun, pasti akan berbeda untuk Amerika, Asia, atau bahkan Afrika. Apa kau tidak tertarik?" bujuknya lagi.
Adriano tak segera menjawab. Sesaat kemudian, dia mengalihkan tatapannya pada pria berambut cepak asal Rusia itu. "Memangnya, siapa yang kau maksud? Seberapa berkuasa dia sehingga aku harus mengenalnya?"
Sergei tampak menyeringai kecil kepada Adriano. "Aku tidak tahu apakah kau pernah mendengar namanya atau tidak. Namun, jika kau mau, kita bisa bertemu dengannya besok malam. Dia mengadakan jamuan dan kebetulan aku diundang. Aku akan memperkenalkanmu padanya sebagai sahabat dekatku. Dia adalah pria yang sangat luar biasa. Orang-orang memanggilnya dengan nama Don Vargas," jelas Sergei, kembali memperlihatkan seringai jahatnya kepada Adriano.
Untuk sesaat, pria tampan bermata biru itu terdiam dan berpikir. Terdengar helaan napas pelan yang meluncur dari bibirnya. Sementara, tangan yang dipenuhi bulu-bulu halus itu, sesekali mengelus lembut rambut cokelat Miabella. "Aku tidak akan bergabung jika tak ada undangan khusus untukku," tolak Adriano dengan yakin.
"Kau sangat keras kepala," dengkus Sergei.
"Aku sama sekali tak mengenal pria itu. Untuk apa harus mengakrabkan diri dengannya? Itu bukanlah ciri khas Adriano D'Angelo," ujar Adriano pongah.
"Oh, ya? Lalu, bagaimana dengan Matteo de Luca saat dulu kau membujuknya agar mau bekerja sama denganku? Omong-omong, setelah dia berhenti dari dunia hitam, aku tak pernah lagi mendengar kabar tentangnya. Dia seakan hilang ditelan bumi." Sergei menatap Adriano yang justru tengah mengarahkan tatapan lurus ke depan, pada sesosok wanita cantik dengan tubuh semampai. Wanita yang tengah berjalan dengan anggun ke arahnya.
"Bumi memang telah menelannya," jawab Adriano dengan setengah bergumam, seakan pada dirinya. Seulas senyuman muncul di wajah rupawannya, ketika wanita yang tak lain adalah Mia sudah berdiri di hadapan mereka berdua.
Tentu saja, hal itu membuat Sergei begitu terkejut. "Nyonya de Luca?" sapanya dengan keheranan.
🍒
🍒
🍒
Hi, reader. Ini ceuceu bawain rekomendasi novel keren karya teman deket ceuceu sendiri. Intip ya
__ADS_1