
“Pergi? Ke mana?” tanya Mia. Wanita itu segera berdiri saat mendengar pernyataan dari putri pertamanya. Dia lalu menghampiri Miabella yang masih berdiri di dekat meja. “Jangan begitu, Bella. Ayahmu hanya sekadar mengingatkan, bukan berarti bahwa dia benar-benar marah padamu,” tegur Mia dengan mimik wajah yang teramat serius.
“Ayolah, Ibu. Ada beberapa hal yang perlu kutegaskan di sini," sahut Miabella dengan tenang sambil menatap Mia. "Pertama, aku sudah berusia dua puluh dua tahun. Itu artinya, aku sudah cukup umur dan berhak untuk menentukan jalan hidupku sendiri, ya meskipun selama ini aku masih meminta uang jajan pada kalian. Namun, dalam hati aku sebenarnya ingin sekali bisa mandiri," jelas gadis itu. Ekor matanya melirik kepada Adriano, yang ternyata tengah memperhatikan dia dengan lekat. Segera saja Miabella kembali mengalihkan tatapan sepenuhnya kepada sang ibu.
"Kedua, aku sudah lulus kuliah. Nilai-nilaiku juga terbilang baik. Kau dan daddy zio mengakui hal itu, Ibu. Aku harap kalian berdua tidak lupa dan apa yang kudengar dulu bukan hanya sekadar pujian semata." Miabella menggerakkan bola matanya dengan tidak beraturan. Jelas sudah jika dia tengah memikirkan sesuatu.
"Poin ketiga. Aku sudah bosan menjadi gadis manja menggemaskan kesayangan daddy zio. Lagi pula, sekarang sudah ada Adriana yang akan menggantikanku. Dia jauh lebih lucu dan menggemaskan. Ibu selalu mengatakan bahwa Adriana adalah boneka bernyawa, dan aku juga tak akan membantah hal itu. Kau wanita yang sangat cantik, Bu. Lalu, kau menikah dengan pria tertampan di daratan Eropa, yaitu tuan Adriano D'Angelo. Maka wajar saja jika terlahir boneka hidup seperti Adriana. Bukankah begitu, Dik?” Miabella mengarahkan pandangannya ke balik dinding.
Miabella mengetahui bahwa adiknya tersebut berada di sana sejak tadi. Karena saat masuk ke ruang keluarga, dia sempat melihat gadis berusia lima belas tahun itu menuruni anak tangga. Miabella juga tahu akan kebiasaan unik sang adik yang tak diketahui oleh kedua orang tuanya.
Benar saja, tiba-tiba wajah cantik Adriana muncul dari balik dinding. Rupanya, sejak tadi remaja berusia lima belas tahun tersebut menguping pembicaraan antara sang kakak dengan kedua orang tuanya. Gadis berambut hitam itu tersenyum polos. Sepasang matanya yang berwarna biru tampak bersinar, dan menunjukkan betapa dia merupakan gadis yang masih lugu.
“Hey! Sejak kapan kau belajar menguping, Sayang?” tegur Mia tak percaya. Dia menatap putri bungsunya.
“Dia sudah sering melakukan hal seperti itu, Ibu,” lapor Miabella puas.
“Benarkah itu, Adriana?” tanya Mia yang lagi-lagi memasang raut tak percaya.
“Sebenarnya ... baru lima kali, Ibu,” sahut gadis remaja dengan gaya rambut kuncir kuda tadi. Dia tak berani masuk ke tempat di mana orang tua dan kakaknya berada. Adriana hanya menyembulkan kepala dari balik dinding penyekat antar ruangan.
“Astaga. Apa kau dengar itu, Sayang?” Mia menoleh kepada Adriano yang hanya berdiri sambil berkacak pinggang. “Ada apa dengan kedua putri kita?” gumam wanita cantik itu tak habis pikir.
“Ya ampun, Ibu. Kenapa kau sangat berlebihan?” protes Miabella. “Adikku hanya menguping, bukan membunuh orang,” ujar gadis itu dengan enteng.
“Ah tidak, Sayang. Menguping bukan tindakan yang baik,” bantah Mia dengan segera. “Adriana, ayo kemarilah,” ajak Mia kepada putri bungsunya itu.
__ADS_1
Akan tetapi, gadis remaja tadi segera menggeleng sambil tersenyum manis. “Tidak usah, Ibu. Aku di sini saja,” tolaknya masih dengan nada bicara yang terdengar sangat sopan. Sesuatu yang berlainan dengan Miabella yang telah menunjukkan taringnya.
“Masuklah, Sayang. Kami tak akan melakukan apapun terhadapmu,” timpal Adriano memberi isyarat kepada gadis berambut gelap yang masih berada di balik dinding. Namun, lagi-lagi Adriana hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.
“Tidak usah, Daddy. Lagi pula, aku tak ingin ikut campur dengan urusan orang dewasa,” sahut Adriana polos.
“Astaga. Jika dirimu tahu bahwa ini adalah obrolan orang dewasa, kenapa kau malah menguping? Seharusnya anak kecil sepertimu sudah tidur sejak tadi,” tegur Miabella dengan nada ketus.
“Tadinya aku hendak tidur, tapi saat melihat kau berkelahi dengan pria telanjang itu ... aku jadi ....” Adriana tak melanjutkan kata-katanya.
“Apa?” seru ketiga orang di sana secara bersamaan.
“Kau melihatnya telanjang?” Miabella terbelalak.
“Kenapa kau lakukan itu, Nak? Segera lupakan adegan tadi dari ingatanmu, Adriana! Usiamu masih lima belas tahun!” tegur Adriano tegas.
“Astaga.” Miabella mengempaskan napas pelan. “Andai kutahu bahwa akhirnya akan begini, aku tidak akan kembali dan memilih menetap saja di Inggris. Aku akan mencari pekerjaan di sana sesaat setelah lulus kuliah,” dengusnya kesal, lalu membalikkan badan dan meninggalkan kedua orang tuanya.
“Bella! Kita belum selesai bicara!” cegah Adriano. Akan tetapi, Miabella tak peduli. Dia terus saja berjalan ke arah kamarnya dengan diikuti oleh Adriana.
“Kak, jangan dengarkan apa kata orang tua kita. Kau tadi sangat keren. Gayamu mengingatkanku pada daddy,” cerocos Adriana antusias. Dia terus saja mencoba menyejajari langkah cepat Miabella hingga tiba di depan kamar gadis itu.
“Memangnya daddy pernah menghajar siapa?” Miabella segera menghentikan gerak tangannya yang hendak membuka pintu.
“Entahlah. Sepertinya seorang pengkhianat. Aku mengikuti daddy tanpa sepengetahuannya ke lantai bawah tanah. Di sana, beberapa anak buah daddy yang semuanya berwajah sangar telah menunggu. Lalu, anak buah itu menyeret seseorang dan menjatuhkannya di dekat kaki daddy. Dia melakukan sama persis seperti saat kau menghajar pria setengah telanjang itu,” beber Adriana panjang lebar dengan mata birunya yang berkilat karena terlalu bersemangat.
__ADS_1
“Kau memang ahlinya menguntit! Dirimu sangat berbakat menjadi mata-mata.” Miabella mencolek pangkal hidung mancung Adriana dengan ujung jari telunjuknya. “Sekarang pergilah ke kamarmu! Aku mau tidur,” usir gadis cantik itu dengan seenaknya.
"Tunggu-tunggu!" cegah Adriana seraya menahan gerakan Miabella yang hendak masuk ke kamar.
"Apa lagi?" tanya Miabella jengkel. Dia memasang raut tak suka terhadap sang adik.
"Kau pasti tidak tahu bahwa daddy juga ternyata menyimpan sesuatu yang luar biasa di ruang bawah tanahnya," ujar Adriana lagi yang berhasil membuat Miabella tampak tertarik. Dia membalikkan tubuh kepada sang adik.
"Oh ya? Apa itu?" tanya Miabella.
Adriana melihat ke sekeliling, sebelum menjawab pertanyaan sang kakak. Dia lalu semakin mendekat. Posturnya yang hanya sebatas telinga Miabella, setengah berjinjit untuk membisikkan sesuatu kepadanya.
Sementara Miabella mendengarkan dengan ekspresi tak percaya. "Sungguh? Apa kau melihatnya sendiri?" tanya gadis itu memastikan.
"Aku rasa Carlo pun pasti mengetahui hal itu. Selama ini dia sering mengikuti daddy ke sana," sahut Adriana dengan yakin.
"Ini sangat menarik," ujar Miabella dengan senyuman yang terkembang di wajahnya.
"Tentu saja. Satu informasi untuk sebuah Turkish Delight rasa kacang pistachio," ujar Adriana melakukan penawaran.
"Hey, apa-apaan kau ini! Terakhir kau makan itu alergimu kambuh, sehingga ibu menegurku. Anak Mama!" tolak Miabella dengan segera. Tanpa menunggu jawaban dari Adriana, gadis itu segera masuk ke kamar dan menutup pintunya begitu saja, meninggalkan Adriana yang merengut karena kecewa.
Miabella kemudian merebahkan tubuh rampingnya di atas ranjang dengan posisi telentang. Mata abu-abu yang indah itu menerawang ke langit-langit, sampai terdengar ketukan pelan di pintu.
“Apa kau tidak mendengar yang kukatakan tadi, Adriana! Pergilah ke kamarmu!” seru Miabella nyaring. Akan tetapi, hal itu tak membuat ketukan di pintu menjadi berhenti.
__ADS_1
Akhirnya, Miabella memutuskan untuk turun dari ranjang mewahnya. Dia lalu menuju ke arah pintu. Gadis itu sudah membuka mulut lebar-lebar dan berniat untuk memarahi adiknya. Namun, seketika Miabella mengurungkan niat dan berpura-pura menguap, karena ternyata yang datang ke sana saat itu adalah sosok sang ayah, Adriano. “Daddy Zio.” Miabella tertegun sejenak kala mata biru Adriano menatap lembut ke arahnya.