
Tak seperti hari biasanya, pagi itu Mia terbangun lebih dulu dari Adriano. Dilihatnya sang suami yang masih tertidur pulas dengan posisi tertelungkup. Tubuh atletisnya hanya ditutupi oleh selimut putih tipis. Mia menaikkan selimut yang awalnya hanya sebatas pinggang, hingga menutupi hingga punggung berhiaskan tato.
Perlahan ibunda dari Miabella itu beranjak turun dari ranjang. Dilihatnya jam digital masih menunjukkan pukul empat pagi. Mia bergegas membersihkan diri di kamar mandi, lalu berganti pakaian. Dia lalu membuka pintu perlahan dan berjalan menuju dapur. Di sana, beberapa pelayan ternyata sudah siap dengan tugas masing-masing. Ada yang menyiapkan menu untuk sarapan, ada juga yang tengah sibuk membersihkan dapur. “Selamat pagi, Nyonya,” sapa salah seorang dari mereka.
“Selamat pagi,” balas Mia ramah seraya tersenyum. “Bisakah kalian membantuku menyiapkan sarapan untuk suamiku? Hari ini dia aka berangkat ke Serbia?” pintanya.
“Tentu saja, Nyonya,” mereka yang bertugas sebagai koki, segera menjawab dengan bersamaan sambil mengangguk sopan. Mereka menuruti perintah Mia untuk menyiapkan dan meracik bumbu. Sementara Mia juga menyiapkan menu untuk Miabella.
Satu jam kemudian, semua masakan telah siap dan matang. Seorang pelayan meletakkan nampan di atas meja dapur, lalu menaruh sepiring daging panggang dan sup krim panas serta segelas air di atasnya. "Mari kubantu untuk membawakan ini, Nyonya,” ucapnya sopan. Dia bermaksud menawarkan jasa.
“Tidak usah, aku bisa sendiri,” tolak Mia halus. “Simpan saja masakan untuk Miabella, biar kuhangatkan nanti," titahnya kemudian.
“Baiklah, Nyonya,” para pelayan itu kembali mengangguk. Dengan sangat hati-hati, Mia membawa nampan itu ke dalam kamar Adriano yang letaknya cukup jauh dari dapur. Susah payah dia berusaha untuk membuka pintu. Namun, bersamaan dengan itu, tiba-tiba pintu kamar pun terbuka. Tampaklah Adriano dengan muka bantalnya. Dia merapikan rambut yang sedikit acak-acakan sambil memicingkan mata.
“Astaga, ke mana saja kau sepagi ini, Mia?” Adriano menggelengkan kepala seraya berdecak keheranan.
“Aku bangun lebih awal untuk membuatkanmu ini,” Mia mengangkat nampannya sedikit lebih tinggi sambil tersenyum lebar. “Jangan menghalangi jalan, Adriano. Aku mau masuk,” ujarnya kemudian.
Adriano tertawa, lalu menggeser posisinya. Dia juga membantu Mia membawakan nampan berisi makanan yang masih panas tersebut. Adriano meletakkan nampan tadi pada satu meja yang terletak berdekatan dengan jendela kamar. “Terima kasih, Sayang,” ucapnya sembari mengecup lembut bibir istrinya.
“Makanlah. Bukankah kau mengatakn bahwa kau hendak berangkat pagi?” Mia duduk di samping Adriano sambil bersedekap. Senyum indahnya tak jua hilang dari wajah cantik itu.
“Ya, tapi .…” Adriano menjeda kata-katanya sejenak, kemudian melirik ke arah Mia dan tersenyum simpul. “Aku tak biasa sarapan sepagi ini. Sekarang masih pukul lima, Sayangku,” pria bermata biru itu terkekeh geli.
“Kau tidak menghargai usahaku, Adriano,” Mia mengempaskan punggungnya di sandaran kursi dengan mimik cemberut.
“Bene, bene, Mia!” gemas, Adriano mencium pipi istrinya. Dia lalu memilih untuk meminum segelas air dulu sebelum sarapan. Setelah tersisa separuh air dalam gelas, barulah dia menyantap masakan Mia hingga habis hanya dalam waktu beberapa menit saja. “Masakanmu enak sekali, Sayang. Aku suka,” pujinya dengan senyuman lebar.
__ADS_1
“Terima kasih atas sanjungannya. Sekarang mandilah,” sedikit memaksa, Mia menarik pergelangan tangan Adriano agar berdiri dan beranjak ke kamar mandi.
“Mia, tunggulah dulu sebentar. Aku baru saja selesai makan,” Adriano menampakkan ekspresi wajah yang lucu, membuat Mia terpingkal. Beberapa saat lamanya mereka bercanda dan bermesraan, sampai Adriano mengakhirinya dengan membopong Mia dan membawa wanita itu ke kamar mandi.
“Adriano, jangan! Aku baru saja selesai mandi!” Mia memberontak sekuat tenaga, tapi apa daya, tenaga ketua klan Tigre Nero itu jauh lebih besar darinya. Pada akhirnya, Mia hanya pasrah dan mengikuti kehendak sang suami.
Tak berselang lama, sepasang suami istri itu keluar dari kamar mandi. Mereka berdua menuju lemari dan saling memilihkan pakaian yang akan dikenakan. Adriano mengambil satu dress berwarna cerah untuk Mia, sedangkan Mia memilihkan sebuah kaos putih tanpa lengan yang dipadu dengan jaket Aviator berbahan kulit di bagian luar dan dilapisi wool di bagian dalamnya. Celana jeans berwarna terang pun melengkapi penampilan Adriano hari itu.
“Sempurna,” ucap keduanya secara bersamaan, lalu tertawa secara bersamaan pula. Akan tetapi, keceriaan mereka berdua harus berhenti tatkala terdengar ketukan cukup keras dari pintu kamar.
“Apakah itu Miabella?” tanya Adriano lirih.
“Sepertinya bukan. Bella tidak pernah mengetuk sekencang itu,” jawab Mia sembari berjalan ke arah pintu dan membukanya. Adalah Coco yang tampak acak-acakan, menumpukan lengannya di ambang pintu dengan kepala setengah menunduk.
“Ada apa, Ricci? Kau tampak kacau,” ujar Mia dengan sorot heran. “Apa kau mabuk?” jemari lentiknya menyentuh pipi Coco. Mia memegangnya, lalu menggerakkan kepala Coco ke samping kanan dan kiri. “Astaga, kau mabuk!” suara Mia terdengar meninggi.
“Ricci, apa kau lupa jika kita akan berangkat sekarang? Kenapa kau malah semakin kacau begini?” tegur Adriano sedikit keras.
“Teori dari mana itu, Ricci,” tegur Mia dengan perasaan gemas terhadap calon adik iparnya tersebut. Kesal, dia pun memilih untuk meninggalkan Coco begitu saja dan mengambil tas ransel milik Adriano. Mia lalu memberikannya kepada sang suami.
“Apakah Miabella masih tidur? Aku ingin berpamitan padanya,” tanya Adriano mengalihkan perhatian Mia dari rasa kesalnya terhadap Coco.
“Aku akan menunggumu di garasi. Barang-barangku sudah kusiapkan semua di sana,” tutur Coco seraya melambaikan tangan. Dia berlalu dengan langkah yang sedikit limbung.
“Ck,” Adriano berdecak sambil menggelengkan kepala. “Aku sudah menyarankannya agar tetap tinggal, tapi dia terus memaksa untuk ikut,” jelasnya dengan tatapan yang tak juga lepas dari Coco, hingga pria berambut ikal itu menghilang dari pandangannya.
“Sepertinya dia bertengkar dengan Francy. Tadi malam, adikku menceritakan semuanya,” sahut Mia dengan raut penuh sesal.
__ADS_1
“Ya, sudah. Semoga mereka menemukan jalan keluar yang terbaik,” Adriano merengkuh pundak Mia dan menciumnya hangat, sebelum mereka beranjak menuju kamar Miabella.
Hampir setengah jam Adriano habiskan untuk berpamitan pada putri sambungnya. Seperti yang dia duga, gadis kecil itu merajuk dan memaksa untuk ikut ke Serbia. Beruntungnya, karena panggilan masuk dari Coco menyelamatkan Adriano dari situasi tersebut. Setelah mencium kening dan pipi gembul Miabella berkali-kali, Adriano bergegas ke garasi dengan diiringi oleh tatapan sendu sang istri.
“Mana kuncinya? Biar aku yang menyetir,” tegas Adriano ketika dirinya sudah sampai di garasi dan berdiri di samping jeep peninggalan Matteo. Tanpa banyak bicara, Coco memberikan kunci mobil kepada Adriano. Dia membiarkan pria itu yang mengemudikan kendaraan, hingga mereka tiba di bandara Malpensa yang berada di kota Milan. Di sana, pesawat pribadi Adriano sudah siap mengantarkan dua pria rupawan tersebut menuju Serbia.
Satu jam kemudian, pesawat Adriano tiba di Bandara Nikola Tesla, Beograd. Itu merupakan bandara yang terletak di ibukota Serbia. Beberapa hari yang lalu, Adriano sudah menyewa hanggar untuk menyimpan jet pribadinya, selama dia berada di Serbia. Adriano juga telah menyewa seorang pemandu lokal yang telah siap menunggu semenjak dia turun dari tangga pesawat.
“Dobrodošli, Gospodin D’Angelo (Selamat datang, Tuan D’Angelo),” sambut pria muda, tapi rambutnya telah memutih seluruhnya,
“dan Anda, Tuan .…” dia mengarahkan tangannya kepada Coco.
“Francesco,” Coco membalas jabat tangan pria asing itu.
“Selamat datang di Serbia, Tuan Francesco. Perkenalkan, namaku Ertan Branislav,” ucapnya ramah.
“Baiklah, Ertan. Aku tidak ingin membuang waktu. Antarkan aku ke tempat seperti yang telah kujelaskan padamu dua hari yang lalu melalui sambungan telepon,” pinta Adriano dengan nada tegas.
“Ah ya, tentang itu, Gospodin ….” Ertan tampak ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.
“Kenapa? Apakah ada masalah?” Adriano mengernyitkan keningnya.
“Jadi begini. Anda bisa memotong upahku, karena aku hanya bisa mengantarkan Anda dari Zlatibor hingga ke perbatasan Menara Hitam. Aku sungguh-sungguh minta maaf, karena aku tidak bisa memasuki wilayah itu,” jawab Ertan.
“Kenapa tidak bisa?” Coco yang mulai dapat menguasai dirinya, ikut bertanya.
“Menara Hitam adalah kota mati, Gospodin. Di sana adalah lokasi kota hantu. Dengar, aku tidak tahu apa tujuan kalian ke sana. Tanpa bermaksud untuk ikut campur, tapi aku harus memperingatkan kalian berdua. Berhati-hati dan ketahuilah risikonya,” terang Ertan.
__ADS_1
“Apa?” tanya Adriano dan Coco secara bersamaan.
“Dengan Anda memasuki Menara Hitam. Itu artinya Anda telah siap menyerahkan nyawa,” jawab Ertan pelan.