
Sementara itu di Italia suasana hangat kian terasa. Kearaban tiga bersaudara antara Daniella, Mia, dan juga Francesca tampak sangat jelas, ketika mereka sedang berada di sebuah butik khusus gaun pengantin. Mia dan Daniella tengah menemani sang adik bungsu untuk mengepas gaun pengantin yang akan dikenakannya nanti. Francesca sendiri diperbolehkan untuk mencoba sekitar dua gaun. Keduanya terlihat indah saat dia kenakan. Tentu saja, karena Francesca adalah seorang model. Tubuhnya akan cocok dipakaikan dengan gaun jenis apapun.
“Gaunnya indah sekali. Rasanya aku ingin kembali menjadi seorang pengantin,” ujar Daniella saat berdiri di sebelah sang adik tercinta yang terlihat begitu bahagia. Tak henti-henti Francesca memamerkan senyuman manisnya di depan cermin yang menampilkan bayangan dirinya.
“Ow, Dani. Kau ingin menikah lagi?” goda Mia diselingi tawa yang kemudian ditimpali oleh Francesca.
“Astaga. Tiba-tiba aku teringat kepada Marco. Apa menurutmu semalam mereka tidak menonton wanita-wanita dengan stoking jala dan bando kelinci?” pikir Daniella membuat Mia dan Francesca seketika saling pandang.
“Francy?” Kedua bola mata Mia bergerak dengan tak beraturan.
“Aku rasa ... tidak mungkin, Mia,” bantah Francesca yang seakan sudah tahu maksud dari ekspresi sang kakak, “tapi ... astaga, tolong ambilkan ponselku,” pinta gadis itu. Francesca kesulitan bergerak dengan leluasa, karena gaun pengantin yang masih dia kenakan. Sesaat kemudian, gadis itu tampak bermaksud untuk menghubungi seseorang. Setelah menunggu untuk beberapa saat, raut wajah Francesca tampak berubah. Rona cemas mulai terlihat dalam paras cantiknya. Coco tak juga menjawab panggilan itu.
“Coba kau hubungi Adriano,” saran Daniella kepada Mia.
Dengan agak ragu, ibunda Miabella tersebut menuruti apa yang Daniella katakan. Mia mulai melakukan panggilan kepada suaminya. Namun, ternyata panggilannya juga tak dijawab oleh pria bermata biru itu. “Astaga. Apa yang sedang mereka lakukan pada jam seperti ini?” pikir Mia.
“Bagaimana Monaco di siang hari?” tanya Daniella.
“Maksudmu?” Mia balik bertanya.
“Maksudku um ... maksudku ....” Daniella tampak kebingungan dalam memberikan penjelasannya kepada Mia.
Namun, semua pikiran negatif ketiga wanita itu seketika sirna, saat terdengar suara dering ponsel milik Francesca. Nama Coco tertera di layarnya. Dengan segera, gadis itu menjawab panggilan tersebut. “Ricci, ke mana saja kalian?” tanya Francesca kesal. “Aku menghubungimu sejak tadi. Apa kau sungguh bersenang-senang di sana sehingga lupa padaku? Astaga, keterlaluan!” cerocos gadis bermata hazel tersebut.
“Maafkan aku, Sayang. Aku ....” ucapan Coco terjeda. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana, karena yang terdengar adalah suara-suara ribut yang aneh di telinga Francesca. Padahal, saat itu, Coco tengah sibuk melindungi Marco yang diberondong tembakan dari segala arah. Namun pada akhirnya, mereka berhasil keluar dari ruangan kosong dan menaiki tangga melingkar menuju lantai di atasnya.
“Ricci? Apa yang sedang kau lakukan di sana?” tanya adik bungsu Mia tersebut. “Ricci? Hallo ....” Francesca memanggil pria itu berkali-kali. Namun, yang terdengar lagi-lagi suara keributan yang tak jelas.
Coco sudah sampai di lantai dua sambil tetap menempelkan ponsel di telinga. Satu pistolnya dia titipkan pada Marco. Melalui gerakan isyarat, Coco menunjuk ke pintu balkon yang terbuka. Di sana, telah berdiri seseorang yang sedang mengisi senjata laras panjangnya dengan peluru. Marco bergerak cepat sesuai arahan Coco. Dia melemparkan pistol Coco dan tepat mengenai kening pria tersebut. Sengaja Marco tak menembakkan pistolnya agar Francesca tak mendengar.
__ADS_1
“Ohhh ....” Terdengar suara seorang pria meneriakkan kata itu dengan cukup keras.
“Astaga,” gumam Francesca. Pikiran gadis cantik tersebut sudah berkelana ke mana-mana. “Ricci? Apa kau masih di sana?” tanyanya dengan suara bergetar. Namun, belum ada jawaban lagi dari Coco yang dapat membuatnya merasa tenang. “Ricci?” panggil Francesca lagi semakin pelan.
“Ada apa, Francy?” tanya Mia yang kembali terlihat khawatir saat melihat raut wajah dan sikap sang adik.
“Ada apa, Francy?” Daniella pun ikut merasa khawatir karenanya. Namun, Francesca seakan enggan untuk memberikan penjelasan apapun pada kedua kakaknya.
“Ric ....”
“Hai, Francy. Maaf membuatmu menunggu,” ucap Coco yang kembali berada dalam sambungan telepon. Ponselnya tadi hampir saja terjatuh ketika ada seseorang yang berusaha menyergapnya dari belakang. Beruntung dia dapat menghalau gerakan orang tadi dengan menendang pangkal pahanya. Setelah orang itu bertekuk lutut, giliran Marco yang mencekik lehernya hingga tak bernyawa. Semua itu mereka lakukan tanpa menimbulkan suara.
“Kau sedang apa di sana?” tanya Francesca lagi dengan perasaan tak karuan. Dia lalu menyentuh tombol loudspeaker, sehingga Mia dan Daniella dapat mendengar percakapannya dengan Coco.
“Kami sedang berpesta di kolam renang. Di sini cukup ramai. Adriano mengundang rekan-rekannya. Kami bersenang-senang,” terang pria berambut ikal itu.
“Seru sekali, Sayang,” jawab Coco dengan segera. “Tahan, Marco! Jangan dikeluarkan semua!” seru Coco dengan cukup nyaring. Saat itu Marco hampir saja melesatkan pelurunya pada seseorang yang bersembunyi di salah satu kamar di lantai atas.
“Astaga!” Daniella segera memegangi dada. Wajah cantiknya yang biasa terlihat judes, seketika berubah pucat. Terbayang hal yang tidak-tidak dalam benak wanita itu, yang melibatkan sang suami dengan beberapa wanita seksi di tepian kolam renang. “Astaga! Romeo, Tobia, ayah kalian ....” wanita bertubuh sintal itu tak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Tuhanku, apa yang sedang mereka lakukan di sana?” gumam Mia. Dengan gusar, dia kembali mencoba menelepon Adriano. Tekadnya kini sangat kuat. Dia tidak akan menghentikan panggilan sampai terhubung dengan sang suami.
Di tempatnya berada, Adriano tengah waspada terhadap sekecil apapun gerakan Jacob yang masih mengacungkan senjata padanya. “Apa maumu?” tanyanya.
“Sudah kukatakan, aku hanya ingin berbicara denganmu,” jawab Jacob datar.
“Kalau begitu, bicaralah,” suruh Adriano dengan nada yang terkesan dingin.
“Aku mndengar namamu disebut-sebut oleh Lionel sebelum dia ditemukan mati,” ucap Jacob.
__ADS_1
“Ya, biar kutebak. Pasti dia menyuruhmu untuk membunuhku,” sahut Adriano.
“Anda salah. Dia selalu mengatakan padaku untuk merekrutmu. Dia mengatakan bahwa kau adalah kekuatan luar biasa untuk menghancurkan Elang Rimba,” jelas Jacob.
“Apa kau juga memiliki dendam terhadap Elang Rimba?” Adriano mulai berani untuk menurunkan senjatanya.
“Oh, tidak. Aku tidak pernah menaruh dendam pada siapa pun. Aku hanya fokus pada markas rahasia Killer X yang hancur lebur oleh ulah Elang Rimba,” jawab Jacob seraya tersenyum.
“Lalu, apa hubungannya denganku?” Adriano mengernyitkan kening.
“Seperti yang kukatakan tadi. Lionel sering memuji-muji dirimu. Aku hanya ingin tahu, apakah Lionel pernah memberimu sesuatu? Seperti flashdisk misalnya?” tanya Jacob ragu.
“Untuk apa Lionel memberiku flashdisk?” Adriano menggeleng tak mengerti.
“Mungkin saja. Aku hanya sekadar mengira-ngira. Lionel adalah pendiri Killer X. Flashdisk yang kumaksud tadi berisi tentang cetak biru markas kami yang telah hancur. Selain itu, flashdisk itu juga berisikan tentang seluruh data rahasia organisasi beserta semua daftar klien yang pernah menyewa jasa kami. Intinya, untuk membangun kembali organisasi dan markas, aku sangat membutuhkan benda kecil itu,” papar Jacob.
“Sayangnya, flashdisk itu tak ada padaku. Aku tak pernah melihat seperti apa wujudnya,” tegas Adriano. Konsentrasinya mulai terpecah pada ponsel yang berdering puluhan kali sejak tadi. Adriano seakan dapat menebak bahwa si penelepon adalah Mia.
“Sepertinya kau bicara jujur,” ujar Jacob sembari menurunkan senjatanya.
“Tentu saja aku bicara jujur! A ….” Adriano menghentikan kalimatnya ketika melihat seseorang terhempas dan menabrak jendela kaca di loteng rumah. Setelah itu terlihat darah segar menciprat dari punggung pria itu dan mengotori kaca. “Apa kau tidak ingin membantunya? Bukankah kau bekerja untuk pemilik rumah ini?” tunjuk Adriano.
Jacob segera menoleh dan membalikkan badan. Dia menatap ke arah jendela loteng untuk sesaat, kemudian kembali berbalik pada Adriano. “Sebenarnya Nenad memang membayarku untuk menjaganya, tapi aku mulai bosan pada pria menyebalkan itu. Jadi … nanti saja kukembalikan uang bayaran darinya,” balas Jacob enteng.
“Kurasa kau harus bergerak sekarang atau nanti dia akan mati,” Adriano kembali mengarahkan jari telunjuknya ke jendela di lantai paling atas tersebut. Dia sudah menebak jika Coco dan Marco sudah berhasil bergerak ke lantai dua.
“Biar sajalah.” Jacob mengangkat bahunya tak peduli. “Lagi pula, aku hanya fokus mencari flashdisk itu.”
“Hm,” Adriano menunduk. Mata birunya menatap pada saku celana tempat dia menaruh ponsel. Saat itu, perhatian Adriano tercurah pada deringnya yang tak berhenti dari tadi. Adriano kembali mendongak dan menatap iba pada Jacob. “Bisakah kau membantuku?” tanyanya.
__ADS_1