Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Lovely Niece


__ADS_3

Suasana hangat begitu terasa di meja makan. Damiano memimpin jalannya doa, sebuah kebiasaan yang kerap dia lakukan sebelum menyantap makanan. Terkadang Coco merasa keberatan dan tak jarang melakukan protes, karena Damiano seringkali berdoa terlalu lama. Tingkah konyol yang menjadi ciri khas semasa muda, ternyata tak juga hilang hingga pria itu beranak tiga. Buktinya adalah saat yang lain memejamkan mata dan khusyuk berdoa, dia justru malah memicingkan mata untuk melihat ke sekeliling.


Ternyata Lilla sang putri bungsu juga tengah melakukan hal yang sama. Coco pun terkejut dan tentu saja tak dapat menahan tawa, sehingga Damiano harus buru-buru mengakhiri doanya. “Ada apa?” tanya Damiano keheranan.


“Ti-tidak ada apa-apa, Damiano. Aku hanya teringat pada sesuatu yang lucu,” jawab Coco yang kemudian melirik ke arah Lilla. “Mari makan,” ajaknya kemudian seraya mengangkat pisau dan garpu. Dia lalu segera memotong daging steak dalam piring di hadapannya.


“Astaga, Paman. Kau memberi contoh yang buruk pada anak-anakmu,” celetuk Miabella dengan berani. Nada bicaranya juga terdengar sangat ketus.


“Hei, Bella. Aku sama sekali tak tahu apa masalahmu denganku. Kau seakan menyimpan dendam pribadi. Sejak kecil hingga saat ini, kau selalu saja bersikap seperti itu terhadapku,” protes Coco, membuat Francesca tergelak saat mendengarnya.


“Terima kasih karena kau sudah mewakili isi hatiku, Sayang,” ucap Francesca pada Miabella sambil terus menahan tawa.


Sedangkan Coco tak ingin menanggapi lagi, terlebih karena Francesca yang berbicara. Dia lebih memilih mengalihkan perhatian kepada Adriano yang sejak tadi terlihat tenang. “Hei, Amico. Mumpung kau ada di sini, aku ingin membicarakan sesuatu,” ujar Coco tanpa melepas garpu dan pisau yang sedang dipegangnya.


“Katakan saja,” sahut Adriano santai sambil asyik mengunyah makanan.


“Berhubung Miabella sudah menyelesaikan studinya, aku harap dia bisa menjadi lebih fokus di rumah dan juga di perkebunan Casa de Luca,” tutur Coco.


“Apa maksudmu?” Adriano menghentikan aktivitas makannya sejenak, untuk fokus pada apa yang disampaikan oleh Coco.


“Seperti yang kau tahu. Rumah dan perkebunan ini adalah milik Miabella, karena dia merupakan keturunan langsung dari Matteo. Semua yang ada di sini telah diwariskan kepadanya. Jadi, kuharap Miabella mau mengurus tempat ini,” terang Coco.


“Aku tidak mau!” potong Miabella. “Anggap saja aku mewakilkan semuanya kepadamu, Paman," ujar gadis itu tanpa berhenti menyantap makanannya.


“Jangan seenaknya, Bella," protes Coco. "Aku juga mempunyai bisnis sendiri yang membutuhkan perhatian khusus. Aku kesulitan jika harus memfokuskan diri pada dua urusan yang berbeda. Lagi pula, saat ini usiaku juga tidak muda lagi, otak ini rasanya begitu lelah jika harus berpikir ke sana-kemari,” jelas Coco.


"Kau banyak alasan, Paman," celetuk Miabella seenaknya, membuat Damiano hampir saja tersedak. Pria tua itu menjadi batuk-batuk. Dengan segera, Miabella beranjak dari tempat duduknya dan membantu Damiano untuk minum.


Setelah Damiano terlihat jauh lebih tenang, barulah Adriano kembali menanggapi ucapan Coco. “Oh, ya. Bagaimana perkembangan penjualan unit mobilmu, Ricci. Kudengar kau juga membuka show room baru di Roma?” tanya Adriano. Dia tampaknya tertarik dengan pekerjaan yang Coco geluti sejak beberapa tahun terakhir.

__ADS_1


“Ya. Karena itulah aku memutuskan untuk pindah ke ibu kota. Akan lebih mudah jika aku memantau bisnisku dari sana. Bisa menghemat waktu, biaya, dan tentu saja tenaga,” terang Coco.


"Meskipun sebenarnya sangat berat bagiku untuk berpisah jarak dari Enzo, tapi aku tetap mendukung semua keputusanmu, Nak,” sahut Damiano yang sedari tadi hanya menyimak obrolan saja.


“Kakek jangan khawatir. Jarak Brescia dan Roma tak terlalu jauh. Kami semua akan sering-sering menjengukmu. Bukankah Casa de Luca juga memiliki helikopter? Aku akan menjengukmu tiap hari kalau perlu,” ucap Enzo berusaha menghibur pria tua yang selalu menghabiskan banyak waktu bersamanya. Enzo memang dikenal sebagai remaja putra yang baik. Karakternya jauh lebih tenang jika dibandingkan dengan sang ayah.


“Apa? Jadi, kalian semua akan pindah sekolah juga?” Miabella terbelalak tak percaya. Sementara Enzo, Neve dan Lilla mengangguk secara bersamaan.


“Bibi Francesca, kau tahu sendiri bahwa aku kuliah di jurusan bisnis dan manajemen. Aku sama sekali tak mengerti dengan masalah perkebunan,” protes Miabella yang tampak gusar.


“Di sini tak hanya mengurus masalah perkebunan, Sayang. Ada proses produksi, pengemasan, dan juga pendistribusian ke berbagai tempat. Salah satunya adalah ke klub malam milik Adriano. Bukankah itu semua masuk ke dalam subyek mata kuliahmu?” tutur Francesca lemah lembut.


“I-iya, tapi … tapi aku masih ingin tinggal di mansion lebih lama,” protes Miabella lagi ragu-ragu.


“Bukannya beberapa jam yang lalu kau mengatakan bahwa dirimu sudah tak sabar untuk meninggalkan mansion, Principessa?” Adriano mengangkat sebelah alisnya.


“Itu tadi sebelum hati dan pikiranku terbuka, Daddy Zio. Sekarang aku sepenuhnya sadar bahwa diriku sangat menyayangimu." Miabella meletakkan peralatan makannya begitu saja, lalu memeluk Adriano begitu erat.


“Kasihan kakek Damiano jika harus sendirian di tempat sebesar ini, Bella,” timpal Enzo.


“Aku juga tidak mungkin meninggalkan tempat ini. Matteo sudah mempercayakan semuanya kepadaku,” ucap Damiano dengan wajah yang tiba-tiba murung.


Mendengar hal itu, Miabella langsung saja menegakkan tubuh. “Kakek,” gumamnya lirih. Diperhatikannya wajah tua yang terlihat lemah dan penuh dengan keriput itu. Kasih sayang Damiano yang begitu besar terhadap Matteo de Luca, membuatnya begitu setia menjaga dan merawat tempat itu. Damiano tetap mengemban amanat yang diberikan kepadanya, bahkan hingga dia berusia renta seperti saat ini.


Tak terasa, gadis cantik itu menitikkan air mata. Seharusnya dialah yang melakukan tugas itu, bukannya Damiano. Miabella memang tak memiliki banyak kenangan terhadap sang ayah kandung. Selama ini, dia mengenal sosok Matteo hanya melalui foto-foto peninggalan yang tertempel di setiap sudut dinding Casa de Luca. Akan tetapi, tanggung jawabnya sebagai pewaris nama besar dan perkebunan, tak bisa dia hilangkan begitu saja.


“Baiklah,” ujar Miabella beberapa saat kemudian. “Aku sangat menyayangimu, Kakek. Jelas tidak mungkin bagiku jika harus meninggalkanmu sendirian di sini. Kau juga tak mungkin mau pergi dari Casa de Luca. Satu-satunya jalan adalah aku yang akan menemanimu ….”


“Beserta mengambil alih perkebunan,” sambung Coco.

__ADS_1


“Ya, itu juga,” ujar Miabella dengan kepala terkulai lemah. Dia tak memiliki pilihan yang lain.


“Jangan khawatir, Sayang. Kami akan terus membantu dan mendukungmu dari jauh,” lanjut Francesca.


“Kau juga bisa memulai petualanganmu. Semuanya bisa berawal dari perkebunan,” celetuk Adriano sambi tersenyum geli.


“Ya, ya, ya. Lalu, kapan kalian akan mulai pindah?” tanya Miabella.


“Paling cepat minggu depan,” jawab Coco yang sudah menyelesaikan makan malamnya lebih dulu.


“Berarti masih ada waktu seminggu untuk menjelajah hutan.” Mata abu-abu Miabella berkilat penuh semangat.


“Ah tidak lagi, Bella!” tolak Coco tegas. “Adriano, katakan pada anakmu ini agar tidak membahayakan anak-anakku," dengusnya. "Lagi pula, apa kau tidak malu? Usiamu sudah dua puluh dua tahun, tapi masih bermain dengan anak-anak."


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengajak bibi Francy saja," celetuk Miabella dengan enteng.


"Astaga, Bella. Kau benar- benar ingin mengajakku berkelahi?" Coco terlihat begitu gemas. Dia sudah hendak bicara lagi. Namun, segera diurungkannya karena kehadiran seorang pelayan yang berjalan menghampirinya. Pelayan tadi menyodorkan telepon.


"Tuan, ada telepon dari tuan Marco," lapor wanita paruh baya tadi.


Coco menerimanya sambil mengangguk. "Terima kasih. Kau boleh kembali." Dia pun mendekatkan gagang telepon tadi ke telinga. "Pronto," sapanya. "Ada apa kau menelepon kemari malam-malam? Formal sekali. Apa ada sesuatu yang serius?" tanya pria itu.


"Ah tidak juga. Aku tadi menghubungi ponselmu, tapi tidak ada jawaban," jawab Marco dari seberang sana.


"Ponselku ada di kamar. Kami baru selesai makan malam. Adriano juga ada di sini. Dia baru tiba beberapa saat yang lalu," sahut Coco.


"Ada apa dia ke Casa de Luca?" tanya Marco lagi.


"Tidak ada yang penting. Dia kemari hanya untuk mengantarkan Miabella. Keponakanku yang cantik akan tinggal untuk beberapa waktu di sini," jelas Coco. Dia menoleh kepada Adriano, kemudian beralih ke Miabella yang tampak sibuk memainkan ponsel. Gadis itu tengah asyik berbalas pesan dengan seseorang.

__ADS_1


"Oh, itu kabar bagus. Sekarang sudah memasuki musim liburan. Sekadar info, Romeo dan Tobia juga rencananya akan menghabiskan masa liburan mereka di Casa de Luca," ujar Marco membuat Coco seketika terdiam.


__ADS_2