Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Reputation


__ADS_3

Mia menatap tajam Adriano. Dia meletakkan tas jinjing yang masih dipegang sejak tadi. "Di mana ruang perawatan Ricci?" tanyanya tanpa melepas sorot penuh kemarahan yang tertahan kepada sang suami. Sementara Francesca seperti tak sanggup lagi untuk berdiri. Namun, gadis itu tetap berusaha untuk menegakkan tubuhnya dan segera mengikuti langkah tegap Adriano menuju ke ruang ICU.


Francesca berdiri terpaku dari luar pintu berlapis kaca. Di dalam sana, dia melihat sang kekasih yang terbaring dengan berbagai alat medis di tubuhnya. Air mata pun menetes kian deras, membasahi wajah cantik gadis yang berprofesi sebagai model tersebut.


"Ricci sudah menjalani serangkaian operasi besar. Namun, hingga saat ini dia belum siuman juga, karena itu dia harus mendapatkan perawatan yang intensif," terang Adriano penuh sesal.


"Kenapa dia bisa sampai seperti ini?" Francesca yang sejak tadi hanya menangis, akhirnya bersuara juga. Pertanyaan itu terdengar begitu lirih, meluncur dari bibirnya yang basah oleh air mata.


"Dia mengalami luka tembak yang sangat parah. Maafkan aku ...." Belum sempat Adriano melanjutkan kata-katanya, dengan segera Mia menarik tangan pria itu dan membawa dia menjauh dari Francesca juga Pierre. Mia bahkan terus menuntun Adriano hingga keluar bangunan rumah sakit. Dia baru berhenti di halaman samping bangunan lima lantai tadi yang dikelilingi oleh pohon pinus.


Adriano sudah dapat menebak apa yang akan Mia katakan padanya. Terlebih, dia melihat bahasa tubuh sang istri yang tampak sudah menahan kemarahan sejak tadi. "Mia, Sayang," pria bermata biru itu bermaksud untuk meraih tangan istrinya. Akan tetapi, dengan segera Mia tepiskan. Wanita cantik berambut cokelat tersebut justru melipat kedua tangannya di dada dengan bahasa tubuh yang terlihat makin tak bersahabat. "Tolonglah, Mia," bujuknya.


"Jelaskan padaku apa arti semua ini, Adriano!" nada bicara Mia tak selembut biasanya. "Kau mengatakan jika ini hanya sebuah perjalanan bisnis, lalu kenapa Ricci bisa sampai terluka bahkan dalam keadaan kritis seperti itu?" suara Mia sedikit meninggi karena terlampau marah.


"Aku minta maaf. Kuakui jika memang diriku telah berbohong. Aku hanya tidak ingin membuatmu cemas dan agar kau mengizinkanku pergi," kilah Adriano. Dia mengemukakan alasannya, meskipun dirinya yakin bahwa Mia pasti tak ingin mendengar itu semua.


"Jadi ini memang bukan perjalanan bisnis?" sorot mata Mia terlihat begitu tajam, diiringi nada bicaranya yang semakin ketus.


"Bukan," jawab Adriano dengan lugas.


"Ya Tuhan, Adriano! Apa lagi yang kau inginkan? Harus kukatakan hingga berapa ribu kali bahwa aku sudah merelakan kepergian Matteo, kenapa kau belum juga mengerti!" sergah Mia.

__ADS_1


"Karena aku sudah melangkah terlalu jauh, Mia. Aku tidak bisa berhenti begitu saja. Andai kata aku mundur saat ini, maka mereka tetap tak akan membiarkanku hidup dengan tenang. Jadi, sebelum mereka memburuku, maka aku yang harus terlebih dulu menghabisi semua hingga ke akarnya," jelas Adriano dengan tegas.


"Lihatlah sekarang apa yang terjadi. Kau telah menyeret orang lain dalam kematian!" Mia tetap dengan kemarahannya.


"Aku sudah melarang Ricci untuk ikut, tapi dia tetap memaksa," kilah Adriano lagi. Sebisa mungkin pria itu tetap berusaha untuk menjelaskan dengan tenang dan tak tersulut emosi. "Lagi pula, Ricci sedang kalut. Dia begitu kecewa terhadap adikmu," ujar Adriano lagi.


"Jangan mengalihkan topik pembicaraan!" sergah Mia lagi. "Jika bukan Ricci yang terluka, lalu siapa? Kau?" tatap mata Mia yang tadinya tajam, kini berangsur melunak. "Seandainya kau yang terluka seperti apa yang dialami Ricci saat ini, bisakah kau memikirkan seperti apa perasaanku? Bagaimana sedihnya Miabella karena melihat ayahnya sedang berjuang melawan kematian?"


"Mia ... aku ...."


"Setelah sekian lama aku baru bisa menata kembali hidupku yang hancur, Adriano. Kau tahu seberapa kacaunya diriku karena kehilangan Matteo. Lalu kau datang dan menjadi obat. Bisakah kau bayangkan apa yang akan terjadi jika aku harus kehilangan lagi?"


Adriano terdiam dengan tatapan yang terus tertuju kepada Mia. Dia tahu bahwa wanita itu kini teramat mencemaskannya. Semua kemarahan Mia bukan tanpa alasan yang tidak jelas. Namun, tekadnya sudah bulat untuk menyelesaikan apa yang telah dia mulai. Adriano harus kembali memutar otak, memikirkan cara agar semuanya bisa terselesaikan tanpa harus mempertaruhkan nyawa.


"Apa yang harus kukatakan padamu, karena kau tak akan memahaminya. Ini bukan hanya tentang pembalasan dendam atas kematian Matteo, tapi juga berkaitan dengan reputasi dan sebuah kekuasaan," ujar Adriano mencoba membuat Mia agar dapat mengerti.


"Reputasi? Kekuasaan? Apa lagi yang kau butuhkan, Adriano? Kau sudah memiliki segalanya!" bantah Mia dengan tegas.


"Sudah kukatakan bahwa kau tak akan memahaminya, Mia," ujar Adriano lagi.


"Ya, pemahamanku memang terlalu dangkal sehingga aku tidak bisa mengerti akan jalan pikiranmu!" Mia mendorong tubuh Adriano yang berdiri di hadapannya, sehingga pria itu bergerak mundur dan sedikit menjauh. Dengan segera, ibu satu anak tersebut melangkah pergi meninggalkan sang suami yang hanya dapat mengempaskan napas panjang atas sikap istrinya.

__ADS_1


Adriano kemudian berdiri sambil bersandar pada sebatang pohon. Tatapannya menerawang, menatap hamparan pemandangan indah sebagian kota Zlatibor. Dalam kekalutan pikiran yang tengah dia rasakan, ingatannya tiba-tiba tertuju pada detektif Ignazio Ranieri. Dengan segera, pria bermata biru itu merogoh ponsel dari dalam saku celananya.


Tak membutuhkan waktu yang lama, hingga panggilan itu dapat tersambung. "Pronto," terdengar jawaban dari seberang sana.


"Detektif, apa kabar? Ini aku Adriano D'Angelo," sapa Adriano pelan. Dia berbasa-basi terlebih dulu kepada pria yang telah bekerja sama dengannya selama beberapa waktu terakhir.


"Kabarku sangat baik, tuan D'Angelo. Bagaimana? Apakah ada perkembangan?" tanya detektif Ignazio.


"Apa anda mempunyai kenalan yang bekerja di kepolisian Serbia?" tanya Adriano lagi.


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Saat ini aku sedang berada di Serbia, tepatnya di kota Zlatibor. Aku dan Ricci menemukan sesuatu yang pasti akan membuatmu sangat tertarik," tutur Adriano dengan tatapan yang masih menerawang.


"Apa itu?" tanya detektif Ignazio lagi.


"Datanglah kemari dan lihat sendiri. Selain itu, aku juga mencurigai satu hal," Adriano terdiam sejenak seraya mengela napas dalam-dalam. "Apa anda masih ingat dengan Lionel, pria yang dulu menembak mati Marcus Bolt?"


"Oh, yang berhasil melarikan diri saat ada penggerebekan ketika di Inggris. Ada apa dengan pria itu?" tanya detektif Ignazio lagi


"Ya, anda benar. Lionel ternyata bekerja untuk Nenad Ljudevit. Nenad merupakan seorang bandar senjata yang sangat berpengaruh di wilayah Amerika. Aku yakin jika dia pasti tahu banyak tentang kalangan dan kelompok mana saja yang berkecimpung dalam hal yang sama dengannya. Jika anda bersedia untuk menyelidiki hal ini, mungkin saja salah satu dari mereka adalah pihak yang bertanggung jawab atas kematian detektif Ranieri, ayah anda," tutur Adriano lagi dengan raut wajah yang seketika berubah. "Datanglah ke wilayah Zlatibor. Setelah itu lanjutkan perjalanan menuju ke Menara Hitam yang berada di kota mati," jelasnya.

__ADS_1


"Nenad Ljudevit? Baiklah. Aku akan segera ke sana. Terima kasih atas informasinya, tuan D'Angelo," sahut detektif Ignazio sebelum mengakhiri perbincangannya dengan Adriano.


Setelah menghubungi detektif Ignazio Ranieri, Adriano kemudian melanjutkan panggilannya kepada yang lain, yaitu Don Vargas.


__ADS_2