Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
La Regina


__ADS_3

"Temani aku," pinta Carina ketika dirinya bertemu dengan Gianna, di salah satu cafe ternama kota Roma.


"Ke mana?" tanya Gianna setelah meneguk minumannya.


"Monte Carlo, Monaco," jawab Carina dengan senyuman terkembang di wajah cantiknya. Namun, senyuman itu perlahan memudar saat dia melihat raut keheranan dari Gianna. "Kenapa? Aku yakin kau belum pernah ke sana, bukan?"


"Oh, kau tahu sendiri. Kapan aku bisa pergi ke luar negeri?" sahut Gianna seraya memainkan bola matanya. "Keuangan keluargaku makin lama semakin buruk, karena itu aku ...." Gianna tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena ada sebuah pesan masuk. Gadis itu segera memeriksa ponsel yang dia letakkan di atas meja, berada tepat sebelah cangkir kopi miliknya.


Seketika kedua bola mata gadis berambut pirang itu tampak berbinar indah, saat dia membuka pesan yang dikirimkan oleh Juan Pablo. Gianna menjadi salah tingkah karenanya, padahal Juan Pablo hanya mengirimkan sebuah emoji hati berwarna merah. Akan tetapi, itu seakan sudah mewakili segala kata cinta yang ingin dia dengar dari pria asal Meksiko tersebut.


"Pesan dari siapa?" tanya Carina yang merasa heran saat melihat tingkah sahabatnya.


"Ah, tidak. Ini hanya keisengan dari Agustine. Dia biasa mengirimkan pesan-pesan konyol padaku," jawab Gianna berbohong. Hingga detik itu, dia belum berani mengatakan kepada siapa pun tentang kedekatannya dengan Juan Pablo Herrera.


"Baiklah, jadi bagaimana?" tanya Carina lagi memastikan.


"Selama kau bersedia menanggung biaya perjalananku, maka itu tak masalah," jawab gadis bermata biru itu dengan santai. Dia tersenyum sendiri, saat membayangkan si tampan pemilik tato kalajengking. Walaupun pertemuannya dengan Juan Pablo teramat singkat, tapi momen tersebut merupakan sesuatu yang sangat berkesan bagi dirinya. Sulit untuk dapat melupakan semua yang telah dia lakukan bersama pria bermata cokelat madu itu.


"Jangan khawatir, karena aku yang akan menanggung semua biaya perjalanmu hingga kembali lagi ke Italia. Namun, aku ingin agar kau membujuk Adriano supaya mengizinkan kita untuk menginap di mansionnya?" Carina mengerlingkan mata dengan bulunya yang lentik dan tampak indah.


"Oh, tidak!" tolak Gianna dengan tegas, seraya membelalakan mata. "Jangan melibatkanku dalam urusan pribadimu. Adriano sudah bersikap baik padaku, begitu juga dengan Mia. Dia ...."


"Ayolah, Gia," bujuk Carina.


"Tidak!" tolak Gianna lagi dengan tegas. "Aku tidak ingin mengambil risiko dengan membawamu ke hadapan kakak tiriku." Gianna kembali meneguk minumannya. Gadis itu mengempaskan napas dalam-dalam.


"Ayolah, Gia," bujuk Carina lagi. "Dengar. Kau pikir apa yang akan kulakukan di sana? Merayu Adriano? Oh, aku tahu seperti apa karakter kakak tirimu itu, Sayang," bantah Carina yang terus mencoba meyakinkan sahabat dekatnya tersebut.


"Maaf, karena aku sama sekali tidak yakin." Gianna tetap menolak. "Lagi pula, kenapa kau memilih Monaco sebagai destinasi liburanmu?" tanya gadis bermata biru itu heran. "Bagaimana jika kita pergi ke Swiss saja? Jika bukan Swiss, aku rasa Belanda juga indah," cetus gadis itu tampak antusias.


"Hey, siapa yang akan liburan?" sanggah Carina. "Kau tahu bukan betapa padatnya jadwal pekerjaanku. Sangat sulit bagiku untuk mengambil liburan dengan leluasa," jelasnya.


"Lalu, untuk apa kau ke sana? Apa kau ada syuting di Monaco?" tanya Gianna. Dia lalu mengempaskan napas panjang. "Ah, rasanya membosankan jika aku harus menemanimu seharian di lokasi syuting," keluh gadis berambut pirang tadi. Gianna lalu meneguk minumannya lagi.

__ADS_1


"Tidak. Aku ke sana untuk memenuhi undangan Juan Pablo. Dia ingin agar aku bernyanyi di acara yang akan diselenggarakannya," jelas Carina yang membuat Gianna seketika tersedak minumannya sendiri. Gadis bermata biru itu menatap sang artis cantik dengan sorot mata yang tampak aneh, ketika dia mendengar nama Juan Pablo.


"Juan Pablo?" ulang Gianna meyakinkan dirinya, bahwa yang dimaksud Carina adalah pria tampan dalam benaknya selama ini.


"Ya. Juan Pablo Herrera," tegas Carina meyakinkan adik tiri Adriano tersebut. "Kau masih ingat? Kalian pernah bertemu dulu." Dia kembali mengingatkan.


Sejenak, Gianna terdiam. Gadis itu tampak berpikir dan seakan menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya. "Ya, aku masih ingat, tapi sayangnya diriku tidak mendapatkan undangan, jadi ...." Gianna terdengar ragu.


"Tak masalah. Aku bisa mengatakan bahwa kau akan menjadi backing vocalku. Mudah, bukan?" ujar Carina dengan enteng. Dia berani mengatakan hal seperti itu, karena Gianna memang memiliki suara yang merdu selain berbakat dalam hal menari.


Gianna kembali terdiam. Tentu saja itu merupakan sebuah tawaran yang luar biasa bagi dirinya. Secara tidak langsung, dia akan dapat bertemu kembali dengan Juan Pablo. "Baiklah," putus gadis itu setuju.


"Baiklah," Carina mengangkat sendok kecil yang dia gunakan untuk mengaduk kopinya. "Kau juga tak perlu memikirkan masalah gaun, karena aku sudah mengurus semuanya," ucap Carina lagi tersenyum puas.


"Ow, baiklah. Aku akan bicara dengan Adriano. Semoga saja dia setuju. Namun, kutekankan satu hal. Aku tak ingin ada masalah apapun dengan Mia," tegas Gianna kembali mengingatkan sahabatnya.


"Jangan khawatir, Gia. Aku tidak akan berbuat macam-macam," sahut Carina kembali meyakinkan gadis berambut pirang itu, agar tidak berpikir buruk tentang dirinya.


Menjelang petang, Carina pun mengantarkan adik tiri Adriano tersebut pulang ke apartemennya. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Gianna segera menghubungi Adriano. Tak perlu menunggu terlalu lama, hingga sang ketua Tigre Nero tersebut menjawab panggilannya.


"Ada apa, Gia? Apa ada masalah dengan club?" tanya Adriano. Tak biasanya sang adik menghubungi dia.


"Tidak juga," sahut Gianna seraya naik ke tempat tidur. "Rencananya besok aku dan Carina akan ke Monaco. Dia memintaku untuk menemani dirinya ke acara yang diadakan oleh tuan Herrera. Aku pikir daripada kami menginap di hotel ... um ... jika kau izinkan ... kami ingin menginap di tempatmu. Namun, itu juga jika kau dan Mia tak ada masalah."


Adriano yang saat itu kebetulan sedang duduk berdua dengan Mia, segera saja melirik sang istri. "Baiklah, Gia. Nanti kuhubungi lagi," tutupnya. Adriano memutuskan sementara sambungan telepon bersama Gianna. Perhatiannya dia tujukan kepada sang istri yang tengah asyik berbalas pesan dengan Daniella.


"Bagaimana, Sayang?" tanya pria bermata biru itu.


"Apanya?" Mia balik bertanya. Dia menoleh sejenak kepada sang suami, kemudian kembali fokus pada ponselnya.


"Gianna hendak ke Monaco. Dia akan ikut menginap di sini. Itu juga jika kau setuju," jelas Adriano.


"Kenapa aku harus tidak setuju? Tentu saja boleh. Dia adikmu, adikku juga tentunya," jawab Mia lembut dan sangat tenang.

__ADS_1


"Begitu, ya? Dia akan ke Monaco bersama Carina," ucap Adriano lagi menanggapi persetujuan Mia tadi.


Seketika Mia kembali menoleh kepada sang suami setelah mendengar nama Carina. Dia menatap tajam Adriano dengan raut wajah yang terlihat tidak suka. Namun, tak lama paras cantik itu kembali berangsur normal. "Kau tidak ada masalah jika Carina menginap di sini?" tanya Mia yang seakan memancing reaksi suaminya.


"Semua keputusan ada padamu, karena aku tak ingin bermasalah dengan yang mulia ratu," ujar Adriano santai.


Mendengar ucapan pria bermata biru itu, Mia segera meletakkan ponselnya begitu saja di atas kasur. Dia semakin mendekatkan diri kepada sang ketua Tigre Nero tersebut, membuatnya tersenyum nakal. "Aku harap, Carina bukan salah satu wanita pemuasmu di zaman dulu," ujar Mia yang membuat Adriano seketika mengernyitkan keningnya. "Katakan," pinta ibu satu anak itu.


"Tentu saja bukan. Aku sudah menceritakan siapa dia. Kami tidak pernah terlibat dalam hal lain, selain ikatan persahabatan," jelas Adriano meyakinkan sang istri.


"Apa kau yakin, Sayang?" pancing Mia lagi setengah mendesak.


"Lama-lama kau akan mengalahkan pamorku, Sayang," ucap Adriano.


"Maksudmu?" tanya Mia tak mengerti.


"Kau jauh lebih menakutkan dari seorang ketua mafia," celetuk pria bermata biru itu seraya meringis kecil, terlebih ketika Mia membalas celetukannya dengan sebuah cubitan. Namun, lama-kelamaan, Adriano tertawa geli. Dia segera merangkul sang istri, kemudian merebahkan tubuh rampingnya di atas tempat tidur. "Apa kau selalu bersikap cemburu sejak dulu, Sayangku?" tanya pria yang kini berada di atas badan Mia. Lembut, tangan Adriano membelai pucuk kepala wanita cantik itu, kemudian mengecup keningnya. Sementara Mia hanya tersenyum menanggapi perlakuan manis tersebut.


"Jadi, bagaimana? Gianna pasti sedang menunggu jawaban dariku," tanya Adriano lagi memastikan.


"Aku bisa mengatasi nona Christiabel Cantona. Sepertinya, Carina juga bisa kuhadapi dengan mudah andai dia bersikap macam-macam terhadapmu," ujar Mia dengan enteng.


Seketika, Adriano terkekeh saat mendengar jawaban dari sang istri yang terdengar menggelikan. "Baiklah. Mulai saat ini kau yang akan menjadi ketua Tigre Nero," celotehnya.


"Kenapa begitu?" tanya Mia lagi seraya mengernyitkan kening.


"Karena kau adalah satu-satunya orang yang tak berani untuk kulawan," jawab Adriano kembali terkekeh geli. Sementara Mia membalasnya dengan sebuah pukulan di lengan pria itu. Namun, pukulan sekeras apapun dari seorang Mia terhadap Adriano, tak akan dia rasakan apalagi sampai menyakiti, jika dibandingkan dengan deraian air mata yang diteteskan wanita itu karena merasa tak nyaman oleh dirinya.


Adriano mengakhiri perbincangan tadi dengan sebuah ciuman mesra. Dia kembali menghubungi Gianna. Pria itu setuju untuk memberikan salah satu kamar di mansionnya, bagi sang adik dan sahabatnya.


Setelah mendapatkan keputusan dari Adriano, Gianna pun segera menghubungi Carina.


Keesokan harinya, Gianna dan Carina berangkat dari Italia menuju ke Nice, Perancis. Dari bandara yang terletak di kota itu, keduanya langsung dijemput oleh Pierre yang akan langsung membawa mereka ke mansion milik Adriano. Selama kurang lebih satu jam di perjalanan, akhirnya kedua gadis berbeda usia tadi tiba di kota Monte Carlo.

__ADS_1


Mobil sedan hitam yang dikendarai oleh Pierre pun telah memasuki halaman mansion. Gianna keluar terlebih dahulu, barulah Carina mengikuti. Sementara di taras, Mia telah berdiri dengan penampilannya yang sangat cantik dan berkelas. Tatapan ibu satu anak itu tajam dia layangkan, kepada Carina yang berjalan dengan gemulai menuju ke arahnya.


__ADS_2