Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Something from The Past


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari Adriano, esoknya Coco segera melakukan tugas yang pria itu amanatkan padanya. Penuh semangat, dia berjalan menuju ruang rahasia yang terletak di lorong penghubung antara perkebunan dengan bangunan Casa de Luca. Akan tetapi, langkah pria berambut ikal itu sempat terhenti, ketika Dante dan Serafino memanggil namanya. “Apakah ada masalah Signor Ricci?” tanya Serafino.


“Tidak ada. Aku hanya akan menyelidiki sesuatu. Tolong awasi perkebunan untukku,” pinta Coco sambil tersenyum ramah.


“Ah, apakah aku perlu mengeluarkan anjing-anjingku dari dalam trailer?” sahut Dante.


“Tidak perlu, Dante,” Coco terbahak atas sikap pemuda di hadapannya itu. “Nanti anak-anakmu akan membuat takut para pekerja,” ujarnya sembari menepuk pundak Dante. “Aku tidak akan lama. Jika ada yang tak kalian mengerti, telepon saja ke nomorku,” Coco melambaikan tangan, kemudian berlalu meninggalkan kedua pemuda yang segera membalas lambaian tangannya.


Beberapa menit kemudian, Coco telah memasuki ruangan rahasia yang menjadi pusat segala piranti lunak dan jaringan komputer milik organisasi de Luca. Dia menggeser salah satu kursi dan duduk menghadap pada sebuah laptop. Jemarinya gesit menyalakan lalu mengetik sesuatu di atas keyboard. Saat dirinya sudah terhubung dengan mesin pencari di internet, Coco mulai merogoh ponsel dan membuka aplikasi rekam suara.


“Ciao, Adriano. Sekarang ini aku sedang menjalankan perintahmu, yaitu mencari latar belakang Don Vargas. Pertama-tama, aku akan mencari profil perusahaan dan status kepemilikannya pada beberapa kasino besar di benua Amerika,” tutur Coco seraya mendekatkan mulut pada ponselnya agar rekaman suara itu dapat terdengar dengan jelas.


“Bagus. Profil perusahaannya sudah terbuka. Jewel Steel, Inc. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam produksi berbagai jenis senjata yang dijual secara legal di Amerika. Wah, besar juga penghasilan kotornya. Astaga, Don Vargas ternyata sekaya itu, Amico!” lanjut Coco antusias. Sementara matanya awas pada layar komputer.


Makin dirinya mencari tahu tentang sosok kolega Adriano tersebut, semakin dia merasa penasaran. Terlebih saat Coco berhasil meretas data pribadi sederhana berupa nama dan alamat Don Vargas yang berdomisili di Las Vegas. “Aku akan mencari titik koordinat rumahnya, Amico,” lapor Coco lagi.

__ADS_1


Setelah memasukkan alamat Don Vargas di peta pencarian, Coco menyambungkan laptop yang dia operasikan ke layar monitor besar. Dari monitor besar itulah, Coco dapat melihat dengan jelas peta satelit dari alamat rumah Don Vargas. Dia lalu memperbesar tampilan peta hingga terlihat semakin jelas. Tampaklah halaman depan rumah pria itu. Di sana, Coco melihat sebuah mobil Ferrari dengan warna hitam yang terparkir di halaman. Coco lalu memperbesarnya lagi sehingga terlihat jelas nomor kendaraan itu. Dengan segera, dia mencatatnya dalam sebuah buku kecil.


Setelah itu, Coco menutup mesin pencarian. Dia lalu membuka portal internet rahasia miliknya. Portal itu khusus Coco gunakan untuk meretas data seseorang atau informasi penting lainnya. Pria bermata cokelat tersebut kembali mengetik nomor kendaraan yang tadi dia tuliskan dalam buku sakunya. Tak berapa lama, muncullah segala informasi yang dia butuhkan. Nomor kendaraan itu milik seseorang bernama Matias Vargas de La Cruz.


Coco kembali mendekatkan ponselnya dan mengaktifkan kembali alat perekam. “Amico, sepertinya aku berhasil menemukan nama asli Don Vargas. Jika aku telah menemukan nama aslinya, maka langkah selanjutnya akan lebih mudah,” Coco tersenyum sumringah. Jemarinya terlihat cekatan mengetik nama asli Don Vargas pada portal pribadinya.


Senyuman Coco semakin lebar, ketika dia berhasil membuka semua latar belakang pria itu. “Don Vargas dilahirkan di Guadalajara, Meksiko. Kedua orang tuanya bernama Maria de La Cruz dan Victor Vargas. Mereka menjadi pengungsi melalui jalur legal dan sah menjadi warga negara Amerika pada tahun 1971. Kedua orang tuanya bekerja sebagai buruh pabrik. Mereka susah payah menyekolahkan anaknya, hingga berhasil masuk dan menjalani pendidikan militer sampai menjadi perwira,” tutur Coco melalui perekam suara.


“Karier militer Don Vargas sangatlah cemerlang. Dia pernah dikirim ke Iraq dan Afghanistan sebagai pasukan khusus angkatan darat Amerika. Dia menjadi sniper di sana, mendampingi seorang penembak jitu terbaik di kalangan militer Amerika. Dia .…” Seketika Coco menghentikan kalimatnya, ketika dirinya membaca sesuatu yang benar-benar membuat dia tercengang.


“Amico,” ucap Coco dengan nada suara bergetar. “Don Vargas berteman dekat dengan rekan penembak jitunya. Mereka bahkan sangat akrab layaknya saudara. Sayang, temannya itu harus mati terbunuh dalam medan perang pada tahun 1995. Rekan Don Vargas yang mati tadi bernama Sebastian Naldo Quinteiro dan memiliki julukan di kalangan prajurit sebagai ... sebagai ‘Elang Rimba’,” lanjutnya. Coco terdiam untuk sejenak. Dia mencoba untuk kembali fokus.


“Apakah Elang Rimba yang dulu pernah dimaksud oleh Marcus Bolt adalah ….” Coco menjeda kata-katanya sejenak, kemudian bergegas mengetikkan sesuatu. Kembali dia meraih ponselnya dan merekam suara lagi.


“Amico! Elang Rimba sahabat Don Vargas tidak pernah berkecimpung di dunia kejahatan. Catatannya bersih. Dia wafat dengan gelar pahlawan dan meninggalkan seorang istri bernama Mattea Juanita Herrera, tapi aku tak bisa menemukan catatan sama sekali tentang anak. Sepertinya Sebastian Naldo alias Elang Rimba tidak memiliki anak. Entah kenapa aksesnya dibatasi menggunakan sistem keamanan berlapis,” paparnya. “Apakah hal itu karena dia adalah seorang pahlawan?” Coco seolah-olah bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Untuk sejenak, pria berambut ikal itu termenung seraya memainkan ponsel. Tak lama kemudian, Coco segera mengirimkan semua pesan suaranya kepada Adriano. Gugup, dia menunggu Adriano membuka pesan yang telah dirinya kirimkan. Akan tetapi, hingga beberapa menit berlalu nyatanya tak ada tanda-tanda Adriano membaca semua pesan tersebut.


Karena merasa tak sabar, Coco berusaha menghubungi sang ketua Tigre Nero. Namun, sebelum niatnya itu sempat terlaksana, sebuah panggilan yang berasal dari Francesca lebih dulu masuk dan berhasil mengejutkannya. “Pronto, Sayangku. Ada apa? Bisakah aku meneleponmu kembali nanti?” pintanya.


“Kau menolakku, Ricci? Tidak biasanya. Apakah kau mulai bosan padaku karena aku menolak lamaranmu lagi kemarin? Apa kau masih marah?” cecar Francesca tanpa henti.


“Jangan konyol, Francy. Aku tak pernah bisa marah padamu dan aku tidak akan mungkin merasa bosan. Sekarang tutup dulu teleponnya. Nanti aku akan meneleponmu lagi,” bujuk Coco dengan intonasi yang teramat lembut.


“Jika aku menolak memangnya kau mau apa?” gadis itu tetap bersikukuh dan seakan menantang Coco untuk bermain-main.


“Kenapa kau begitu egois, Sayang? Aku selalu menuruti semua yang kau inginkan. Apapun yang kau mau selalu berusaha kukabulkan, bahkan ketika kau tak ingin menjalin ikatan pernikahan denganku. Giovanni Francesco Ricci tak pernah memaksamu. Namun, lihatlah diriku sekarang. Aku masih tetap berdiri di sini, Francy. Entah sampai kapan,” keluh Coco.


“Aku bisa menangkap nada keberatan dari kalimatmu, Ricci. Aku bisa merasakan itu,” balas Francesca.


“Lantas kenapa kalau aku memang keberatan? Apakah salah jika aku ingin segera menikahimu, Francy?” sahut Coco dengan intonasi yang terdengar sedikit tegas.

__ADS_1


Pada awalnya, Francesca tak menjawab. Dia hanya mengela napas panjang. “Sudah seringkali kita membahas hal ini, Ricci. Masihkah kau belum mengerti juga?" ucap gadis bermata hazel itu manja.


Mendengar nada bicara yang manja dari sang kekasih, Coco hanya dapat mengempaskan napas pelan. “Selama ini, aku selalu berusaha mengerti dirimu, Sayang. Namun, kau yang tak pernah berusaha mengerti aku,” tanpa menunggu jawaban dari kekasihnya, Coco mengakhiri percakapan mereka begitu saja. Dia menutup telepon dari Francesca, kemudian mencoba menghubungi Adriano lagi. Coco tak tahu bahwa Adriano sedang berada di pesta.


__ADS_2