
Seorang pemuda berambut hitam dengan bentuk wajah agak tirus, menghampiri mereka yang tengah asyik berbincang. Dia membetulkan tali ransel yang menggantung di pundak sebelah kanan, sebelum mencium pipi Olivia dengan hangat.
"Apa kau akan pergi sekarang, Sayang?" tanya Olivia lembut.
"Iya, Bu," jawab pemuda tampan itu singkat. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Arsen dan langsung berdiri di sebelahnya. Pemuda tadi memiliki postur tegap. Tingginya bahkan hampir menyamai sang ayah.
"Ini putraku, Achiles. Usianya sekarang tujuh belas tahun. Sama seperti putrimu Adriana," ucap Arsen memperkenalkan putra semata wayangnya.
"Oh, Achiles. Nama yang sangat bagus. Kau akan menjadi pejuang yang tangguh, Nak," ujar Adriano. Dia lalu merengkuh pemuda tampan berhidung mancung dengan dagu yang terbelah, sehingga membuatnya terlihat begitu manis.
"Kau sangat tampan, Achiles," sanjung Mia ketika pemuda yang berusia sama dengan Adriana tersebut mendekat dan menyalaminya. Namun, ternyata Mia lebih memilih mencium kening si pemuda. "Aku jadi ingin memiliki anak laki-laki," ujar Mia seraya menoleh kepada Adriano.
"Apa kau serius, Sayang?" Adriano menaikkan sebelah alisnya.
"Kalian melupakan aku?" protes Adriana yang sejak tadi asyik melihat-lihat seisi cafè milik Arsen. Pandangan gadis itu kini tertuju kepada Achiles yang juga tengah menatapnya. Tiba-tiba, Adriana mengerucutkan bibirnya yang mungil. Tingkah aneh gadis itu seketika membuat Achiles yang sepertinya agak pemalu menjadi terkejut. Namun, tak lama Adriana tersenyum lebar padanya.
Akan tetapi, hal itu tak membuat Achiles jadi mengubah mimik aneh dan terkejut atas sikap konyol Adriana. Terlebih, gadis itu juga tiba-tiba memamerkan mata julingnya yang membuat Achiles lebih memilih untuk mengalihkan perhatian ke hal yang lain.
"Dengan siapa saja kau akan pergi, Sayang?" tanya Olivia kemudian, setelah berbincang ringan bersama Mia.
Achiles yang masih diliputi rasa aneh atas sikap konyol Adriana, kembali terkejut ketika mendengar pertanyaan sang ibu.
"Aku akan pergi dengan teman-temanku. Mereka ada enam orang," jawab pemuda tampan dengan rambut gelap belah tengah tersebut. Sesekali, dia menyugar rambut tebalnya yang kembali ke bentuk semula. Achiles tampak menghindari beradu pandang dengan Adriana, meskipun sesekali iris matanya yang berwarna hitam mengarah pada gadis cantik itu.
"Memangnya kau akan pergi ke mana?" tanya Adriano.
"Aku dan teman-teman akan mengunjungi Acropolis. Menikmati liburan dengan hal yang positif, Paman," sahut Achiles sopan. Sepertinya, pemuda itu mewarisi sikap tenang dan pendiam dari Olivia.
"Acropolis? Wah, aku ingin sekali ke sana!" seru Adriana dengan antusias. Sepasang matanya yang berwarna biru tampak berbinar indah.
"Kenapa kau tidak ikut saja dengan rombongan Achiles dan teman-temannya?" tawar Arsen. "Aku yakin jika putraku bisa menjaga putrimu, Adriano," ucap pria itu lagi.
"Itu ide yang sangat bagus. Selagi mereka pergi, nyonya dan tuan D'Angelo bisa bersantai di sini untuk menikmati berbagai sajian khas cafè kami," timpal Olivia yang tampak sangat setuju dengan usulan dari suaminya.
Mia dan Adriano saling pandang beberapa sesaat. Mereka lalu menoleh kepada Adriana yang terlihat memasang wajah penuh harap. Padahal, Achiles sendiri belumlah menyatakan apakah dirinya setuju untuk mengajak gadis itu atau tidak.
"Jangan sungkan, Adriano. Putraku fasih berbahasa Inggris. Dia pasti dapat berkomunikasi baik dengan putrimu. Benar begitu, kan?" Arsen menyenggol lengan Achiles yang hendak protes. Namun, pemuda itu tampaknya merupakan tipe anak yang penurut. Achiles mengangguk dengan berat hati. Dia terpaksa menyetujui untuk mengajak serta Adriana.
Putri bungsu Mia tersebut melonjak kegirangan. Adriana mengangkat tangan tinggi-tinggi saking senangnya. Gadis itu terlihat sangat bersemangat, meskipun belum mendapatkan izin dari kedua orang tuanya. Namun, jika sudah melihat antusiasme berlebih dari gadis itu, rasanya tak tega jika Adriano sampai tak memberi izin. Dia pun mengangguk setuju. "Kutitipkan Adriana padamu," pesannya kepada Achiles seraya menepuk lengan pemuda tampan berkulit bersih itu.
__ADS_1
"Baik, Paman," sahut Achiles sopan. Dia pun segera berpamitan, ketika teman-temannya datang menjemput.
"Jangan khawatir," ucap Arsen sesaat setelah kedua remaja tadi menghilang dari pandangan. Sedangkan Adriano hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman simpul.
Enam orang teman Achiles terdiri dari tiga pemuda dan tiga pemudi. Sepertinya mereka merupakan pasangan kekasih, karena posisi berjalan para remaja tadi beriringan dengan saling berpasangan. Achiles yang berada di urutan paling belakang hanya menunduk. Sementara Adriana sibuk mengedarkan pandangan pada sekeliling tempat yang mereka lalui. Gadis itu begitu takjub dan tak henti-henti berdecak kagum.
"Apa dia pacarmu, Achiles? Kenapa kami tidak mengetahuinya?" tanya salah seorang pemuda berambut pirang yang berada di barisan kedua. Dia bertanya dengan menggunakan bahasa Yunani, sehingga Adriana tidak dapat memahaminya.
"Tentu saja bukan," bantah Achiles segera. "Dia putri dari sahabat ayahku," jelas pemuda itu dengan ekor mata yang mengarah sesaat kepada Adriana. Sedangkan gadis cantik di sebelahnya masih sibuk merekam perjalanan mereka menggunakan kamera ponsel. Adriana bahkan sempat mengarahkan alat komunikasi tersebut ke arah Achiles yang tak berniat untuk menoleh.
"Lihat kemari, Achiles," suruh Adriana. Gadis itu memang kebalikan dari Miabella. Dia sangat supel dan senang bergaul dengan siapa saja. "Achiles ...." Adriana kembali menyebut nama pemuda itu, sehingga mau tak mau putra semata wayang Arsen tersebut menoleh dan tersenyum. Lebih tepatnya disebut sebagai senyuman yang dipaksakan. "Aku suka ini," ujar Adriana lagi.
"Apa dia bukan gadis Yunani?" tanya seorang gadis yang berada di barisa ketiga.
"Bukan. Dia dari ...." Achiles terdiam sejenak, kemudian menoleh kepada Adriana. "Dari mana asalmu?" tanyanya. Achiles lalu mengernyitkan kening. Dia merasa bodoh karena bertanya seperti itu.
"Kedua orang tuaku berasal dari Italia. Ibuku dari Venice, sementara ayahku dari Milan. Namun, aku dilahirkan dan tinggal di Monaco," jelas Adriana dengan gaya bicaranya yang selalu tampak ceria.
"Venice?" ulang salah seorang gadis yang lain. Sepertinya, dia mengerti dengan bahasa Inggris. Karena itu gadis tersebut dapat menanggapi ucapan Adriana.
"Kau mengetahuinya? Apa kau pernah ke sana?" tanya Adriana masih tetap terlihat antusias.
"Ya. Aku dan orang tuaku pernah ke sana sekali. Rasanya ingin kembali lagi," sahut gadis tadi.
"Astaga, kau ini ...." Achiles menahan pergelangan Adriana yang hendak berlari dan meninggalkannya. "Paman Adriano menitipkanmu padaku. Jadi, tolong jangan bertingkah macam-macam. Tetap di dekatku," tegur pemuda itu memegangi tangan putri bungsu Adriano tersebut.
Mau tak mau, Adriana menurut saja. Dia mengikuti ke manapun Achiles dan teman-temannya. Padahal, kaki Adriana sudah gatal ingin berlari ke sana-sini. "Apa kau tidak merasa bosan?" bisiknya pada pemuda tampan berambut hitam tadi. Gadis itu tak tahu harus berbuat apa, karena sejak beberapa saat yang lalu Achiles sibuk dengan catatan-catatan kecilnya. Entah apa yang dia tulis di sana, karena Adriana tak bisa mengejanya, meskipun tulisan tangan Achiles terlihat begitu rapi.
Achiles tak menanggapi pertanyaan Adriana. Dia terus saja menulis. Achiles bahkan tak peduli ketika teman-temannya yang berpasangan itu mulai menyebar. Dia masih asyik sendiri.
"Hey, kau tadi mengatakan pada ayahku bahwa kalian menikmati liburan dengan hal positif. Apakah seperti itu contohnya?" tunjuk Adriana pada salah satu teman Achiles yang tampak tengah mencium gadisnya.
"Jangan dilihat. Pura-pura tak tahu saja," cegah Achiles menegur Adriana yang justru mengabadikan adegan tadi dengan ponselnya. "Astaga, kau ...." Achiles tak bisa berkata-kata melihat tingkah Adriana yang sangat meresahkan. "Apa kau selalu mengganggu orang lain?" tanyanya dengan raut tak mengerti.
"Tidak semua orang, hanya kakak perempuanku saja," sahut Adriana tak acuh. "Kenapa? Kau merasa terganggu olehku? Harusnya kau berterima kasih. Jika aku tak ikut, maka kau akan sendirian dan merasa sedih. Lihatlah, ketiga temanmu membawa gadis mereka masing-masing," celoteh Adriana. Dia lalu mengeluarkan dua buah lolipop dari dalam sling bagnya. Adriana menyodorkan satu kepada Achiles.
Awalnya, Achiles hanya menoleh tanpa menerima lolipop tadi. Namun, tak lama kemudian pemuda itu pun mengambilnya.
"Apa perlu kulepaskan bungkusnya untukmu?" tanya Adriana sambil tersenyum menggemaskan.
__ADS_1
"Tidak usah. Aku bisa membukanya sendiri," tolak Achiles. Dia mengeluarkan lolipop tadi dari pembungkusnya, kemudian mulai memasukkan ke dalam mulut.
"Apa kau pernah pergi ke luar negeri, Achiles?" tanya Adriana.
"Pernah," jawab pemuda itu singkat.
"Ke mana?" tanya Adriana, sambil sesekali memainkan bulatan kecil bergagang putih di dalam mulutnya.
"Aku pernah ke Italia. Ibuku berasal dari sana," terang Achiles.
"Apa itu artinya kau bisa berbicara bahasa Italia?" Adriana tampak sangat bersemangat. "Aku belajar beberapa bahasa. Rasanya kepalaku mau pecah ketika menghadapi jadwal les," tutur gadis cantik bermata biru tersebut.
"Oh," sahut Achiles menanggpi.
"Apa itu 'oh'? Aku bicara padamu dan kau hanya menjawab dengan kata 'oh'. Tidak bisa dipercaya." Adriana terlihat kesal. Namun, dia tetap menikmati lolipopnya.
"Les apa yang kau ikuti?" tanya Achiles kemudian.
"Banyak. Aku mengikuti les bahasa, balet, piano, ...." Adriana terdiam sejenak. Dia lalu menoleh kepada pemuda tampan di sebelahnya. "Bukankah usia kita sama?" tanyanya sambil menatap lekat wajah Achiles bahkan dari jarak yang cukup dekat.
"Entahlah. Aku tidak tahu kapan kau dilahirkan," sahut Achiles. Pemuda itu tidak terlalu banyak bicara. Sepertinya dia merasa risih dan kurang begitu nyaman dengan sikap nakal Adriana.
"Aku mendengar ayahmu mengatakannya tadi bahwa usiamu sekarang tujuh belas tahun. Itu berarti umur kita memang sama," tutur Adriana.
"Lalu, apa masalahnya?" tanya Achiles lagi.
"Tidak ada," jawab Adriana enteng. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa?" Achiles menoleh sesaat.
"Apa kau sudah diizinkan pacaran oleh orang tuamu?" tanya Adriana seakan-akan dirinya dan Achiles sudah saling mengenal lama, karena gadis itu terlihat biasa saja dan tak merasa canggung sedikit pun.
"Aku belum tertarik," sahut Achiles tak acuh.
"Kau belum tertarik untuk pacaran, sedangkan teman-temanmu semuanya sudah memiliki kekasih. Itu sangat aneh," pikir Adriana heran.
Achiles tak ingin menanggapi celotehan gadis berambut gelap itu. Dia lebih memilih membuka ponsel dan mengambil beberapa foto.
"Kau yakin tidak ingin pacaran seperti teman-temanmu?" tanya Adriana lagi.
__ADS_1
"Belum ada gadis yang membuatku tertarik," sahut putra pasangan Arsen dan Olivia tadi.
"Oh." Adriana manggut-manggut. "Kalau begitu, ambil fotoku untuk kenang-kenangan. Kita tak tahu akan bertemu lagi atau tidak."