
Adriano terdiam memandangi nisan dengan nama Domenica Vallea D'Angelo. Tak pernah dia kira bahwa pencariannya selama ini akan berakhir di sebuah tempat pemakaman umum. Kembali disentuh nisan berlapis marmer hitam itu. Dia pun tertunduk demi menyembunyikan gejolak batin yang terus berkecamuk dalam hatinya.
Sementara itu, Mia tak berkata apa-apa. Ibunda dari Miabella tersebut hanya memberikan dukungan moril lewat sentuhan lembut di lengan sang suami. Sama halnya dengan Emiliano yang tak berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Pria tua itu terpaku dengan posisi sedikit di belakang Adriano. Sesekali dia menunduk dan menyentuh sudut matanya.
Beberapa saat keheningan menggelayuti mereka bertiga. Sementara cuaca terasa semakin panas. Adriano melirik sang istri yang mulai terlihat tidak nyaman. Titik-titik keringat tampak membasahi kening Mia. "Apa kau ingin pulang, Sayang?" tawarnya.
"Terserah kau saja," jawab Mia seraya tersenyum lembut.
"Kita bisa kembali lagi lain waktu. Lagi pula, aku takut Miabella mencari kita," ujar Adriano. Dia lalu menoleh kepada Emiliano yang masih terdiam. "Kau akan ikut ke Casa de Luca atau tidak?" tanyanya dingin.
"Aku harus pulang dulu. Claudia pasti cemas jika aku tidak segera kembali," jawab Emiliano pelan dan terdengar ragu.
Sedangkan Adriano menanggapi jawaban sang ayah dengan sebuah senyuman sinis. Dia terdengar berdecak kesal. "Kau pikir dia mencemaskanmu? Dengan membiarkan suaminya menjadi tameng, apa itu yang kau sebut cinta? Aku kira usia matang akan membuatmu bisa berpikir dengan lebih baik, tapi ternyata tidak. Mungkin karena itulah kau mengabaikan ibuku," ketus ucapan yang terlontar dari bibir sang ketua Tigre Nero tersebut, membuat Mia merasa tak nyaman saat mendengarnya. Mia tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia urungkan karena Adriano lebih dulu meraih pergelangan tangannya. "Ayo, Sayang," ajaknya sambil menuntun Mia melangkah.
"Adriano, ayahmu," Mia menahan langkah pria itu hingga dia tertegun. Adriano menoleh kepada sang istri yang terlihat tak setuju dengan sikapnya.
Sambil mengempaskan napas kasar, Adriano menoleh kepada pria tua yang masih terpaku di hadapan nisan Domenica. "Ayo kuantar pulang," ucapnya dengan agak nyaring, berhubung jarak mereka telah sedikit menjauh.
__ADS_1
Emiliano segera menoleh. Dia menatap putra yang telah diabaikannya selama ini dengan penuh haru. Namun, tak lama kemudian seutas senyuman muncul di sudut bibirnya. Tanpa banyak bicara, dia langsung menghampiri anak dan menantunya. Perasaan pria tua itu sedikit tenang, ketika dirinya melihat senyuman hangat Mia yang sangat bersahabat.
Tanpa berlama-lama, mereka melanjutkan perjalanan ke kota Milan, karena Adriano harus mengantarkan sang ayah untuk pulang. Selama di dalam perjalanan, pria bermata biru itu tak banyak bicara. Tatap matanya dingin menerawang ke depan, menatap jalanan yang mereka lalui. Akhirnya, perjalanan itu pun selesai dengan berhentinya mobil yang Adriano kendarai di depan rumah Emiliano. Pria tua itu sudah bermaksud untuk turun, tetapi suara Adriano telah berhasil membuatnya kembali duduk dan menatap ke depan.
"Jika nanti ada orang-orang dari Artiglio Di Corvo datang, maka persilakan saja mereka untuk masuk. Aku jamin mereka tak akan berani bertindak macam-macam. Mereka hanya akan mengambil barang yang telah membuatmu diculik," pesan Adriano tanpa menoleh sedikit pun. Tangan kanannya bahkan masih memegangi kemudi.
"Apa mereka orang-orang yang kemarin ...."
"Ya. Aku harap anakmu sudah kembali sehigga bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Untuk hal itu aku sama sekali tidak ingin ikut campur," ujar Adriano lagi masih dengan nada dingin, membuat Mia segera menyentuh paha dan mengusapnya perlahan. Untuk sejenak, Adriano terdiam dan memperhatikan tangan dengan jemari lentik Mia di atas pahanya. Dia paham dengan makna dari sentuhan lembut itu. Kembali ditariknya napas dalam-dalam agar dia bisa lebih menenangkan diri. "Itu saja ... Padre," tutupnya. Dia tak ingin banyak bicara lagi.
Emiliano kemudian membuka pintu dan bermkasud untuk keluar. Namun, hal itu kembali dia urungkan. Pria paruh baya tersebut menatap sang anak untuk sejenak, meskipun sejak tadi Adriano tak juga menoleh. "Lalu, bagaimana dengan Gianna?" tanyanya.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak, Nak," balas Emilino pelan. Sulit rasanya untuk meluluhkan hati Adriano. Namun, harapan itu akan selalu ada, dan membuatnya pantang untuk menyerah.
"Bagaimanapun juga Gianna adalah adikku," ucap Adriano kemudian. Walaupun suaranya terdengar pelan dan hanya seperti sebuah gumaman semata, tapi Emiliano masih dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Pria tua itu tersenyum lega. Setidaknya Adriano masih mengakui Gianna sebagai keluarga.
Setelah mengantarkan Emiliano, sepasang suami istri itu kembali melanjutkan perjalanan. Namun, ternyata Adriano tak langsung membawa Mia ke Casa de Luca. Dia mengajak sang istri untuk mencari angin terlebih dahulu.
__ADS_1
Bagi Mia ini adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Saat itu, Adriano mengendarai mobil jeep milik mendiang Matteo, karena tak memungkinkan untuk memakai Ferrari miliknya. Adriano memang tak menyimpan mobil lain di Brescia.
Perasaan Mia sungguh tak karuan. Dulu, Matteo lah yang selalu berada di belakang kemudi, sementara Mia dengan setia duduk di sebelahnya. Sekilas, yang Mia lihat di sampingnya adalah Matteo. Pria bermantel hitam dengan rambut yang tersisir rapi ke belakang. Penampilan terakhir dari kehidupan pria tersebut.
Sejenak Mia terpaku dengan tatapan penuh haru, ketika pria di sebelahnya menoleh lalu tersenyum. Sebuah senyuman khas seorang Matteo yang begitu menawan. Napas Mia seakan tercekat di tenggorokannya. Dia berusaha melawan dan menyadarkan dirinya, bahwa itu semua hanyalah sebuah halusinasi semata. Mia sadar dengan kenyataan yang sesungguhnya.
"Tidak," gumam Mia lirih. Dia segera mengalihkan pandangan ke samping untuk beberapa saat. Untungnya karena Adriano juga sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri, sehingga dia tak menyadari sikap aneh Mia. Pria itu mengenakan kaca mata hitam yang menyembunyikan sorot penuh keresahan yang tengah mengusiknya.
Sementara Mia, memilih untuk memejamkan matanya sejenak. Dia berusaha menghadirkan bayangan indah tentang Adriano yang telah mereka lewati bersama-sama. Mia kemudian tersenyum kecil seraya kembali membuka matanya. Dia lalu melirik pria di belakang kemudi. Wanita bermata cokelat itu akhirnya dapat merasa lega, karena kini paras tampan Adriano lah yang dia lihat.
"Ada apa? Apa kau baik-baik saja, Mia?" tanya Adriano yang saat itu menoleh dan melihat gelagat aneh dari istrinya. Sedangkan Mia berusaha untuk bernapas dengan teratur. Sesaat kemudian, ibu dari Miabella tersebut menggeleng pelan.
Melihat sikap aneh Mia, Adriano kemudian menghentikan laju mobilnya. Dia melepas sabuk pengaman, kemudian keluar dari mobil. Adriano segera berjalan ke pintu sebelah dan membukakannya untuk Mia. "Apa kau merasa cemas, Mia?" tanya pria bermata biru itu khawatir. Dia yang berdiri di luar, menangkup wajah cantik Mia. Wanita berambut cokelat itu masih duduk dengan sabuk pengaman yang melintang di dada.
Tanpa pikir panjang, Adriano melepas sabuk pengaman tersebut. Setelah itu, dia kembali menangkup paras cantik sang istri lalu menempelkan keningnya pada kening Mia. Keduanya memejamkan mata dengan napas yang saling berbaur. "Tenangkan dirimu, Sayang," ucapnya setengah berbisik. "Bernapaslah pelan-pelan," ucap Adriano lagi tanpa mengubah posisinya.
__ADS_1
Sedikit penyemangat dari ceuceu othor. Biar Adriano saja yang galau🙂.