
Sepeninggal Pierre, Bianca segera duduk di sofa sambil termenung. Dia memikirkan hal yang baru saja didengarnya dari pria berambut pirang itu. Tiba-tiba saja, Bianca merasa taring dan bisa yang biasa dia pamerkan terhadap semua orang hilang dengan seketika. Hal itu membuat dirinya merasa aneh.
Selagi Bianca merenungi apa yang dirasakannya, penghuni di mansion milik Adriano telah selesai sarapan. Carina muncul tepat ketika mereka sudah siap di meja makan. “Hei, apa aku melewatkan sesuatu? Astaga, inikah chef Lucas yang terkenal itu?” tanyanya antusias ketika koki mansion mendampingi para pelayan yang tengah membawakan hidangan penutup.
“Selamat menikmati, Nona,” ucap sang koki dengan senyuman ramahnya.
“Ah, aku suka milkshake blueberry. Apa kau sengaja menyuguhkan ini untukku, Adriano?” tanyanya penuh percaya diri.
“Astaga, Carina!” Gianna melotot sebagai tanda keberatan atas sikap temannya yang tak tahu diri itu. Akan tetapi, dia sama sekali tak memedulikan Gianna. Dia malah dengan santainya mencomot beberapa buah segar dari mangkuk kristal yang tersaji di atas meja makan besar berbentuk oval tersebut. Sikapnya sungguh lebih dari sang tuan rumah sendiri. Namun, Mia ataupun Adriano tak memedulikannya sama sekali. Pria rupawan itu malah asyik bercerita dengan Miabella.
Mia yang awalnya duduk di samping suaminya, segera berdiri dan menghampiri Gianna. Posisi Gianna saat itu tepat berada di sebelah Carina. Mia memilih duduk di sisi Gianna, sehingga adik tiri Adriano itu berada di antara Mia dan Carina.
“Sudahlah, Carina,” Mia mencondongkan badan ke depan, sehingga pandangannya pada penyanyi terkenal itu menjadi tak terhalang. “Tidak perlu mencari-cari perhatian suamiku. Apa kau lupa dengan yang kukatakan kemarin? Lihatlah, Adriano bahkan tak menoleh sama sekali ke arahmu,” lanjutnya dengan nada bicara yang sangat tenang.
Carina hanya melirik Mia sekilas lalu mendengus kesal. Tanpa menanggapi teguran dari sang nyonya rumah, wanita itu dengan santai menikmati hidangan yang ada di depannya. Hal itu membuat Gianna hanya dapat geleng-geleng kepala.
“Maafkan dia, Mia. Dia sudah terbiasa mendapat perlakuan istimewa dari semua orang di sekitarnya,” bisik Gianna begitu pelan, agar sahabatnya itu tak mendengar. “Setelah ini, aku akan mengajaknya bersiap-siap untuk kembali ke Italia,” sambung gadis itu.
“Kau boleh datang kemari kapan pun kau mau, Gianna. Asalkan jangan sampai mengajaknya serta,” balas Mia, membuat Gianna tersenyum simpul.
“Baiklah, Mia. Akan kuingat itu. Terima kasih,” ucapnya tulus.
“Kau sungguh manis, Gianna. Aku senang bisa akrab denganmu.” Mia memeluk gadis muda itu dengan hangat, lalu kembali ke tempat duduknya di samping Adriano. Semua berjalan begitu hening. Carina pun tak tampak ingin membuka mulutnya lagi hingga sarapan usai dan mereka membubarkan diri dari meja makan. Sesuai rencana, hari ini kedua tamu di mansion Adriano tersebut akan kembali ke Italia.
"Aku ke kamar dulu," pamit Gianna sambil berlalu ke kamar yang ditempatinya. Begitu juga dengan Carina. Sementara Mia memilih untuk bersantai di ruang keluarga, berbincang ringan dengan Adriano. Mereka tengah membahas rencana pesta ulang tahun Miabella, ketika tiba-tiba ponsel milik Mia berdering. Nama dan foto Francesca muncul di layar sebagai pemanggil.
__ADS_1
"Hai, Mia. Apa kabar?" sapa gadis cantik bermata hazel tersebut. Parasnya menghiasi layar ponsel Mia. Miabella yang tengah asyik bermain sendiri pun berlari mendekati sang ibu. Dia langsung saja duduk di atas pangkuan Adriano yang berada tepat di sebelah Mia. Sesekali, gadis kecil itu melongok ke layar ponsel untuk melihat orang yang tengah berbicara dengan sang ibu.
"Hai, Francy. Kabarku sangat baik. Bagaimana keadaan Ricci?" Mia balik bertanya. Namun, belum sempat Francesca menjawab pertanyaan Mia, terdengar suara ponsel Adriano berdering. Pria itu tampak menautkan alis, ketika nama Coco yang muncul sebagai pemanggil. Adriano pun menurunkan Miabella dari atas pangkuannya. Dia berpindah agak menjauh dari Mia yang tengah asyik berbincang dengan Francesca.
"Ricci melamarku. Untuk kali ini, aku tidak akan menunda-nunda apalagi menolaknya," ucap Francesca dengan yakin.
"Oh, itu berita bagus. Jadi, bagaimana?" tanya Mia dengan mata berbinar. Senyuman lebar pun tampak jelas di wajah cantiknya.
"Aku dan Ricci memutuskan untuk segera menikah. Kami telah sepakat akan melangsungkan pemberkatan awal bulan ini," terang Francesca.
"Secepat itukah? Apa tidak terlalu mendadak?" tanya Mia seraya mengernyitkan alisnya.
“Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi, Mia. Aku takut dia berpaling,” jawab Francesca, seraya melihat ke arah Coco yang tengah asyik berbincang dengan Adriano lewat sambungan telepon juga.
“Apa Zia Francy akan menjadi pengantin, Bu? Apa dia akan memakai gaun putih?” tanya Miabella sambil menoleh kepada Mia.
“Iya, Sayangku. Bersiaplah, karena kau akan kujadikan sebagai gadis pembawa bunga,” sahut Francesca dengan wajah berbinar.
Mendengar hal tersebut, Miabella langsung bersorak kegirangan.
Sementara itu, Adriano asyik berbincang dengan Coco di sudut lain ruangan. "Ya, Adriano. Nama daerahnya adalah Vukovar," ujar Coco dari seberang sana.
"Di mana itu?" tanya Adriano.
"Kroasia. Setidaknya itulah yang Monique katakan padaku. Dia menjelaskan tempatnya dengan detail. Dia bahkan membagi peta lokasinya melalui email,” jawab Coco.
__ADS_1
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” Pemikiran Adriano sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan Coco kali ini.
“Aku ingin menyelesaikan semua urusan sebelum hari pernikahanku di awal bulan nanti. Sedangkan tubuhku belum pulih sempurna. Jadi .…”
“Kau akan memintaku untuk ikut bersamamu. Begitukah?” tebak Adriano.
“Betul sekali,” Coco tertawa lebar dan lepas dari seberang sana, sampai-sampai Adriano harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Astaga. Kau selalu membuatku berada dalam posisi sulit, Ricci. Kau tahu bukan, kalau Mia …”
“Kita akan membuat alasan yang masuk akal, Adriano. Tenanglah.” Kini giliran Coco yang memotong kalimat suami dari Mia tersebut. “Lagi pula, istrimu akan sibuk selama beberapa hari terakhir. Francy akan meminta bantuannya untuk mempersiapkan pemberkatan dan resepsi,” imbuhnya.
“Jadi, maksudmu, Mia akan berada di Italia?” tanya Adriano pelan seraya melirik ke arah istrinya yang masih asyik melakukan panggilan video dengan Francesca.
“Iya, aku akan memaksa Francy untuk membujuk Mia agar tinggal di Casa de Luca untuk sementara waktu,” jawab Coco.
Adriano mengembuskan napas panjang sebelum menanggapi ide dari sahabat Matteo itu. “Entahlah, berat bagiku jika harus berbohong pada Mia,” sahutnya pelan.
“Astaga, Amico! Kupikir tidak masalah jika kau berbohong demi kebaikan Mia sendiri. Bukankah dirimu sudah membuat perjanjian hitam di atas putih, bahwa kau akan memburu pembunuh Matteo sampai habis dan membalaskan dendamnya?” bujuk Coco.
Adriano terdiam dan berpikir. Bayangannya kembali di saat dia bertemu dengan Lionel untuk terakhir kalinya. Teringat oleh Adriano ketika Lionel mengajaknya bekerja sama menghabisi Elang Rimba. “Nenad pernah menyewa jasa Lionel. Apakah itu artinya, Nenad juga mengetahui tentang apa yang diketahui pria itu?” gumamnya.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” gerutu Coco.
“Tidak apa-apa, Ricci. Baiklah, aku setuju. Setelah mengantarkan Mia ke Italia, kita akan berangkat ke Kroasia,” putus Adriano.
__ADS_1