Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Dilettante


__ADS_3

Gerak refleks Adriano sangatlah bagus. Sebelum pelatuk itu sempat ditarik oleh pria bertopeng di hadapannya, dia terlebih dulu membelit tangan pria misterius itu. Akhirnya, pria tadi gagal untuk memuntahkan peluru yang sudah diarahkan pada kepala Adriano, malah justru kini pistol itu berpindah dengan mudah ke tangannya. “Kau seorang amatir rupanya,” seringai Adriano seraya menodongkan senjata rampasan itu tepat pada kepala pria bertopeng tersebut.


Bukannya menanggapi ucapan Adriano, si pria bertopeng malah berusaha berteriak memanggil teman-temannya. Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi, secepat kilat Adriano lebih dulu memukul wajah pria di hadapannya dengan begitu keras, sehingga membuat pria itu terkapar tepat di dekat kakinya. Sigap, Adriano menarik kerah baju bagian belakang pria yang sudah tak sadarkan diri, serta menyeretnya masuk kembali ke sudut cafetaria. Salah seorang pria bertopeng tengkorak lainnya melihat apa yang Adriano lakukan. Namun, dia diam saja dan malah menjauh. Pria itu lebih memilih untuk mengejar seorang wanita paruh baya, hingga keluar dari area wisata akuarium.


Suasana di ruangan super luas itu akhirnya menjadi lengang. Sebagian besar pengunjung sudah berhamburan tak tentu arah, dan hanya menyisakan beberapa orang pegawai yang sibuk menelepon polisi serta petugas yang mengamankan lokasi tersebut.


Adriano setengah berjongkok dengan bertumpu pada lutut sebelah kanan yang ditekuk ke belakang. Sejenak, dia mengawasi sosok tak sadarkan diri itu. Sementara pistol yang tadi direbutnya, masih dia pegang menggunakan tangan kiri. Dengan kasar, Adriano menarik topeng yang terbuat dari kain, sehingga tampaklah wajah asli pria misterius tersebut.


Mata biru Adriano terus mengamati wajah yang terlihat masih sangat muda. Dia dapat memperkirakan bahwa pemuda itu masih berusia sekitar dua puluh tahunan, dengan ciri fisik berkulit putih dan berambut merah.


“Hmm, bukan tampang mafia ataupun penjahat,” gumamnya pada diri sendiri. Sebuah senyuman kecil tersungging di sudut bibirnya. Karena semakin merasa penasaran, Adriano pun menepuk pipi kiri pemuda itu sekeras mungkin, sehingga membuatnya seketika terbangun. Pemuda misterius tadi tampak begitu ketakutan, saat paras tampan Adriano berada dekat sekali dengan wajahnya.


“Apapun yang kau lakukan, aku tidak akan bicara!” tegasnya tanpa diminta. Pemuda itu lalu beringsut mundur sampai punggungnya menempel di dinding cafetaria.


Adriano tersenyum kalem. “Aku tidak akan memaksamu. Aku hanya ingin bertanya sesuatu. Apakah kau mengenalku dan juga istriku, sehingga berniat mengejar dan melukai kami?” tanyanya dengan intonasi datar.


Pemuda itu langsung menggeleng. “Aku hanya bermaksud untuk menakuti-nakuti kalian saja,” elaknya dengan tubuh gemetaran. Dia sadar, jika kali ini dirinya salah sasaran.


“Kau ingin menakuti kami dengan menggunakan ini?” Adriano mengangkat pistol itu, kemudian menodongkan tepat di depan kening pemuda tadi.


Sontak wajah pemuda tersebut pucat pasi dengan tubuh semakin menggigil ketakutan. Dia menggeleng begitu kencang. “Jangan sakiti aku,” pintanya setengah mengiba.


“Apa pistol ini milikmu?” tanya Adriano lagi masih dengan sikapnya yang tenang.


“Iya!" pemuda itu mengangguk. "Bukan! Eh … maksudku ... iya,” pemuda itu tergagap. Jelas sudah jika dirinya memang bukan dari kalangan penjahat kelas kakap.

__ADS_1


Adriano kembali memamerkan senyumnya yang terlihat sangat menawan. Dia menggaruk keningnya perlahan. “Astaga, kau polos sekali, Brother,” ledeknya. “Kau bahkan tak tahu ini pistolmu atau bukan? Sekarang biar kutanya lagi padamu, ada berapa peluru dalam senjata ini?” cecarnya.


“Empat belas!” jawab pemuda itu asal, tapi terdengar percaya diri, sehingga membuat Adriano seketika terbahak.


“Ini adalah jenis pistol revolver tipe double action berkaliber 22. Senjata jenis ini mampu menyimpan delapan sampai sepuluh peluru di dalam silindernya,” jelas Adriano.


Pemuda itu tak mampu berkata apa-apa dan hanya bisa terbelalak. “A-aku ….” sahutnya terbata. Dia pun kembali terdiam dengan tatapan penuh ketakutan pada Adriano, yang saat itu kembali mengalihkan perhatian pada pistol revolver keluaran lama dalam genggamannya. Dia membolak-balikan pistol tersebut sebelum mengarahkan pandangannya kepada si pemuda. Adriano seakan merasa senang untuk sedikit bermain-main dengan pemuda tersebut. Dia menempelkan senjatanya pada kening si pemuda yang masih menunjukan raut tegang. Tanpa ragu, Adriano menarik pelatuknya.


Seketika pemuda tadi langsung memekik dengan mata terpejam. Dia sudah membayangkan bahwa dirinya akan mati detik itu juga. Akan tetapi, ketika dirasa tak terjadi apa-apa bahkan tak terdengar bunyi letusan peluru sama sekali, pemuda berambut merah tersebut segera membuka mata. Dirabanya wajah dan seluruh tubuh dengan napas terengah-engah. Dia merasa bersyukur karena semuanya masih terasa normal dan baik-baik saja.


“Kau tidak mungkin terluka, karena pistol ini tak berisi peluru. Apa kau tak tahu itu, Nak?” ujar Adriano dengan setengah meledek, membuat wajah pemuda itu semakin memucat ketika mendengarkan penjelasannya. Terbukti sudah bahwa dia tak mengerti sama sekali tentang senjata.


“Siapa yang memberimu senjata ini?” tanya Adriano lagi.


“Aku tidak tahu,” jawab pemuda itu dengan segera. Rautnya tidak berubah sejak tadi. Dia masih menyiratkan rasa takut yang teramat besar.


"Baiklah, jika kau tak bersedia untuk menjawab,” Adriano menepuk punggung pemuda yang memakai kaus hitam berlengan panjang tersebut dengan cukup keras. “Pulanglah ke ibumu,” suruhnya. Namun, pemuda itu tampak kebingungan atas sikap Adriano. Dia menautkan alisnya dan seakan tak percaya dengan apa yang Adriano perintahkan. “Pulanglah. Aku tidak akan melukaimu,” pria bermata biru itu kemudian berdiri. Dengan tenang, Adriano memasukkan kedua tangannya pada saku celana panjang yang dia kenakan.


Antara yakin dan tidak, pemuda itu ikut berdiri. Dia menatap Adriano sejenak sebelum memutuskan untuk berlari sekencang mungkin dan menjauh dari pria rupawan tersebut. Bersamaan dengan itu, puluhan polisi masuk ke area cafetaria dan memaksa semua orang agar keluar. Adriano segera berbaur dengan yang lainnya, dan ikut keluar dari sana.


Pria bertubuh tegap itu bergegas menuju kantor polisi. Dengan sedikit was-was, dirinya memperhatikan sejenak lobby kantor polisi yang terlihat sesak oleh para pengunjung. Mereka juga ingin mencari tempat berlindung. Adriano harus berdesakan dengan orang-orang di sana. Dia bahkan kesulitan mencari sosok Mia dan Miabella. Namun, pada akhirnya pria tersebut bisa bernapas lega saat mendapati sang istri tengah duduk di sebuah ruangan sambil memangku putrinya. Tampak pula sosok Coco di sana. Pria berambut ikal itu berdiri di samping Mia.


“Mia!” panggil Adriano nyaring dengan senyum terkembang.


Wanita cantik itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Dengan perasaan lega, Mia berlari menghambur pada Adriano sambil tetap menggendong Miabella. Dia segera memeluk tubuh atletis sang suami erat-erat sambil terisak pelan. “Aku sangat mengkhawatirkanmu,” ucapnya di sela isakan.

__ADS_1


“Kau lihat sendiri, bukan? Aku tidak apa-apa,” Adriano merentangkan tangan lalu meraih Miabella dari gendongan Mia. “Bagaimana denganmu, Principessa? Apa kau baik-baik saja?” dia memeluk gadis mungil yang juga langsung melingkarkan tangannya di leher sang ayah sambung.


“Ibu menangis terus, Daddy Zio. Dia mengatakan ingin menjemputmu,” ucap Miabella sembari menyembunyikan wajahnya di leher Adriano.


“Kau tidak perlu menjemputnya, Mia. Di tubuh suamimu sudah kupasangi pelacak dan pendeteksi denyut nadi. Kau akan segera tau seandainya dia mulai tak bernapas,” jelas Coco yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Mia. Dalam situasi seperti itu pun, Coco masih sempat untuk bercanda.


“Itu sama sekali tidak lucu, Ricci!” Mia memprotes keras atas kelakar Coco yang tidak pada tempatnya.


“Astaga! Baiklah, baiklah! Aku meminta maaf,” ucap Coco sambil menggaruk kepalanya. “Jadi, ceritakan padaku apa yang terjadi, Amico?” Coco beralih pada Adriano.


“Aku berhasil menangkap salah satu anggota Tangan Setan. Akan tetapi, setelah aku membuka topengnya, ternyata dia sama sekali tidak seperti yang kubayangkan,” Adriano mengusap-usap dagunya. “Dia masih sangat muda dan sama sekali tak mengerti dengan senjata. Namun, aku sudah memasang alat pelacak di punggungnya. Setelah ini kau periksalah. Seharusnya titik keberadaan bocah itu sudah terlihat di laptopmu sekarang.”


“Wah, mencengangkan sekali. Apa perlu kita ikuti dia saat ini juga?” tawar Coco.


“Tidak! Jangan!” potong Mia yang tampak begitu cemas. “Kumohon, Adriano. Kita pulang saja ke hotel sekarang,” pintanya dengan setengah memohon.


Adriano tak segera menjawab. Sejenak, dia melirik ke arah Coco. Pria itu seakan tengah berkomunikasi melalui isyarat mata dengan sahabat dekat Matteo tersebut. “Turuti saja dulu kemauan Mia,” saran Coco pada akhirnya. Dia sudah dapat memahami apa yang Adriano inginkan, meskipun tanpa harus dijelaskan lewat kata-kata.


“Seperti yang kukatakan tadi, Mia. Aku akan membawamu ke manapun yang kau inginkan, termasuk pulang ke hotel,” Adriano mencoba mencairkan suasana dengan sedikit bercanda. Senyuman lembut terlukis di paras tampannya yang menawan. Tanpa membuang waktu, mereka bergegas pergi dari sana. Ketiganya berjalan beriringan ke lokasi hotel yang tak jauh dari kawasan jembatan Westminster. Sementara Miabella masih berada dalam gendongan Adriano.


Setibanya di hotel, mereka kemudian memasuki kamar masing-masing. Sebelum menutup pintu, Coco memberi kode yang dapat Adriano pahami dengan jelas.


Setelah berada di dalam kamar suite yang sudah Adriano pesan untuk dua hari ke depan, dia menghampiri Mia yang tengah menidurkan Miabella. “Tidurlah, Sayang. Ada beberapa anak buahku yang ikut berjaga di hotel ini. Mereka datang menyusul tadi siang. Kalian berdua akan aman,” ujarnya seraya mengecup kening dan bibir Mia dengan lembut.


“Aku tidak akan bisa tidur jika kau tidak memelukku,” sahut Mia dengan manja. Segala usaha akan dia lakukan untuk dapat mencegah sang suami, agar tidak keluar lagi dari kamar. Mia menarik bagian depan kemeja Adriano, sehingga pria itu semakin mendekat padanya.

__ADS_1


“Astaga, benarkah itu?” Adriano tersenyum menanggapi sikap manja Mia.


__ADS_2