Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Two Sisters


__ADS_3

"Baiklah. Aku tak akan banyak berbasa-basi, karena aku juga tak bermaksud untuk mengganggu kemesraan kalian berdua," ujar Miabella setelah mendengar ucapan sang ayah. Gadis itu kemudian menghela napas panjang dan mengempaskannya perlahan sebelum memulai untuk mengutarakan maksud dan tujuan dia menghadap sang ayah. Sedangkan Mia duduk anggun dengan posisi kedua betis yang saling menyilang di bawah. Dia tampaknya menunggu apa yang akan sang putri katakan kepada mereka.


"Bu, tolong katakan kepada tuan besar bermata biru itu bahwa aku ingin pergi ke Italia sekarang juga," ucap Miabella setelah beberapa saat. Dia berusaha untuk tak melihat kepada Adriano, meskipun ekor mata gadis itu sesekali mengarah kepada pria yang selama ini telah menjadi pengganti ayah kandungnya.


"Sekarang juga?" ulang Mia sambil mengernyitkan kening. "Bukankah kau baru akan berangkat ...."


"Aku berubah pikiran," sela Miabella dengan segera. "Aku ingin pergi ke Italia sekarang juga," tegas gadis itu. Sementara Adriano masih bersikap tak peduli. Dia lebih asyik dengan ponsel yang sedang dimainkannya. Hal itu tentu saja membuat Miabella menjadi semakin kesal.


"Kenapa sangat mendadak, Sayang?" tanya Mia heran. Tatapan wanita itu kemudian beralih kepada Carlo yang sejak tadi hanya terdiam. "Apa yang terjadi, Carlo? Sepertinya ada sesuatu yang telah membuat putriku mengambil keputusan dengan tiba-tiba." Mia meminta penjelasan kepada pria bertubuh tegap itu.


"Anda sudah tahu bahwa nona Miabella selalu sulit ditebak," jawab Carlo dengan sopan. Dia pun sebenarnya tak mengira jika Miabella akan mengambil keputusan demikian.


Mendengar jawaban dari Carlo, Mia pun terdiam sejenak. Dia berpikir, lalu kembali menoleh kepada sang suami yang masih saja sibuk dengan ponsel pintarnya. "Sayang, bagaimana ini?" tanya Mia meminta pendapat Adriano. Wajah cantiknya seketika terlihat gusar.


"Katakan saja pada tuan putri bermata abu-abu itu, bahwa aku baru bisa mengantarkannya ke Italia akhir pekan nanti," jawab Adriano tanpa mengalihkan perhatian dari gadget yang sejak tadi membuat dirinya sibuk. Padahal, di sana dia tidak sedang mengurus masalah pekerjaan, melainkan tengah bermain game. Mia pun dapat memahaminya dengan baik. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi antara Adriano dengan Miabella.


"Kau tenang saja, Daddy Zio. Aku tak akan memintamu untuk mengantarkanku ke Italia, karena Carlo yang akan melakukannya. Benar, bukan?" Miabella melirik pria tinggi bertato di sebelahnya sambil tersenyum manis. Dia berharap agar pria itu menjawab 'iya'.


Sedangkan Carlo tak segera menanggapi. Dia tak berani menjawab, karena telah terjadi perbincangan yang berakhir pada keputusan Adriano untuknya. Pria itu pun hanya menatap Miabella untuk sesaat, sebelum mengalihkan pandangan kepada Adriano yang mulai merasa terusik dengan ucapan putri sulungnya tadi.


"Carlo tak akan pergi ke manapun. Aku membutuhkan dia di sini untuk membantu segala urusan organisasi dan yang lainnya," tegas Adriano datar.


"Ayolah, Daddy Zio," protes Miabella dengan segera. Dia tak juga melepaskan genggaman tangannya dari Carlo. "Kau tak ada masalah sedikit pun saat Carlo menemaniku selama berada di Inggris. Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba menjadi keberatan seperti ini? Anak buahmu sangat banyak. Kenapa harus Carlo yang kau pilih. Bukankah dia sudah diputuskan untuk menjadi pengawal pribadiku?" Miabella begitu berani menentang ucapan dari Adriano.

__ADS_1


Sementara Carlo hanya dapat tertunduk sambil mengempaskan napas pelan. Sesekali, pria itu menggaruk kening yang tak gatal. Seharusnya dia sudah dapat memperkirakan hal seperti ini. Miabella akan tetap membuat onar. Carlo hanya memberi isyarat kepada Miabella dengan menggerakkan telunjuknya pada telapak tangan gadis itu. Namun, si gadis nyatanya tak mau peduli.


"Itu dua hal yang berbeda, Bella," sanggah Adriano. Pria itu meletakkan ponsel yang sejak tadi dia genggam di atas meja. Sang ketua Tigre Nero duduk dengan tenang dan penuh wibawa sambil menyilangkan kaki. Sementara tatapannya terfokus hanya kepada anak gadis yang kini mulai senang membangkang.


"Apanya yang berbeda? Menurutku Carlo tetaplah Carlo, dan aku tetap Miabella," bantah gadis cantik itu.


"Bisakah kalian untuk tidak berdebat?" lerai Mia. Akan tetapi, tak ada yang mendengarnya sama sekali, karena Adriano ternyata malah terus menanggapi Miabella.


"Dulu Miabella masih merupakan gadis manis yang lemah lembut. Karena itulah dirimu membutuhkan seorang pengawal pribadi seperti Carlo. Namun, saat ini kau sudah berubah menjadi seseorang yang pemberani, mandiri, dan juga tangguh. Buktinya Lucas sampai tak berkutik di tanganmu. Selain itu, kau juga sudah berani melanggar peraturan yang telah kubuat. Jadi, aku rasa pengawal yang lain lebih dari cukup untukmu," jelas Adriano tanpa mengubah posisinya.


"Tidak bisa! Aku tidak ingin pengawal yang lain!" tolak Miabella dengan tegas.


"Sayangnya Carlo sudah setuju jika posisinya digantikan dengan yang lain," ujar Adriano masih terlihat tenang, meskipun melihat raut wajah Miabella yang sudah tampak merah padam.


"Aku tidak yakin itu. Kau pasti telah memaksanya hingga dia setuju. Kau benar-benar keterlaluan, Daddy Zio. Jika itu keputusanmu, maka aku akan pergi ke Italia detik ini juga!" Miabella mendengus kesal. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Carlo yang masih berdiri mematung.


Sementara Mia segera memalingkan wajah karena menyembunyikan senyum. Begitu juga dengan Carlo. Pria itu menundukkan kepala sambil menggaruk kening.


"Bagaimana, Daddy Zio? Suruh pilot helikoptermu untuk bersiap-siap agar bisa mengantarkanku ke Italia," pinta gadis itu setengah memohon. Namun, Adriano tak segera menanggapi permintaan gadis itu. Dia masih duduk tenang dengan tatapan yang tak teralihkan dari putri sulungnya tersebut.


“Tak semua hal yang kau inginkan bisa langsung kau dapatkan, Bella. Kuakui, selama ini aku telah salah dalam mendidikmu. Aku selalu saja menuruti segala yang kau inginkan. Aku terbiasa memberikan apapun padamu, baik yang kau butuhkan maupun tidak. Semua itu membuatmu tumbuh menjadi gadis yang keras kepala dan sedikit manja,” tutur Adriano panjang lebar.


“Jadi, mulai detik ini aku akan mengubah cara mendidikku kepadamu dan juga pada Adriana tentunya.” Kata terakhir yang Adriano ucapkan terdengar lebih nyaring. Pria itu tahu bahwa putri bungsunya tengah menguping pembicaraan mereka dari balik dinding penyekat ruangan.

__ADS_1


“Kalau kau ingin pergi ke Italia sekarang juga, kusarankan agar kau berangkat melalui jalan darat. Bukankah kau sudah lihai mengendarai mobil, Bella?” tawar Adriano dengan satu alis yang terangkat.


“Apa!” mata indah Miabella membulat. Tak bisa dia bayangkan jika harus menempuh perjalanan selama lebih dari empat jam sendirian.


“Bukankah kau gadis yang kuat dan mandiri? Kurasa menyetir mobil dari Monte Carlo hingga ke Brescia, tidak akan menjadi hal yang terlalu sulit bagimu.” Adriano menyunggingkan senyumnya yang terlihat begitu menawan. Biasanya ketika melihat sang ayah tersenyum, Miabella akan luluh dan menyudahi marahnya. Akan tetapi, sekarang berbeda. Muka gadis itu menjadi semakin merah padam.


“Bolehkah aku ikut, Daddy?” celetuk Adriana dari balik dinding. “Kebetulan aku sedang libur sekolah dan juga les," lanjut gadis belia itu sambil tersenyum manis. Miabella pun segera berbalik. Kini tatapan tajamnya beralih kepada Adriana.


“Ya, ampun,” gumam Mia menggeleng pelan seraya memijit pelipisnya. "Apa kau menguping lagi, Sayang?" Wanita cantik itu berdecak pelan.


“Aku bisa menemani kakakku menyetir,” ucap Adriana lagi tanpa menanggapi pertanyaan sang ibu.


“Memangnya kau bisa menyetir?” tanya Mia sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Tidak, Bu. Aku hanya menemani kakak dengan duduk di sampingnya agar dia tidak mengantuk,” jawab Adriana dengan polos.


Mia menggeleng lagi seraya mendekatkan tubuhnya pada sang suami. “Adriano, lakukan sesuatu. Kau tentu tak mau jika migrainku kambuh,” bisik Mia tepat di telinga pria rupawan itu.


“Astaga.” Kini giliran Adriano yang memijit pelipisnya. Tatkala Mia sudah bertitah, maka tak ada yang bisa dia lakukan selain menurut pada sang istri. “Kemasi barang-barangmu, Bella. Jika bukan karena ibumu, aku pasti sudah membiarkan kau menyetir sendiri ke Italia,” suruh Adriano sembari bangkit dari duduknya dan melangkah gagah menuju lantai teratas mansion.


“Apakah aku boleh ikut, Daddy?” tanya Adriana tak putus asa.


“Tidak!” tegas Adriano. “Kau temanilah ibumu,” ujarnya seraya berlalu dari ruang keluarga.

__ADS_1


“Lalu, bagaimana denganku, Tuan?” Carlo mengacungkan tangan dengan ekspresi kebingungan.


Adriano menghentikan langkahnya, kemudian berbalik. “Kau juga tetap tinggal di sini. Keputusanku tadi tetap berlaku,” tegasnya.


__ADS_2