
Sementara itu, di sudut lain mansion tampaklah tiga pria rupawan yang tengah asyik berbincang santai. Di tangan mereka bertiga, tergenggam sebuah gelas anggur yang sesekali diteguk isinya. Entah apa yang tengah mereka bahas saat itu, tapi kelihatannya merupakan sesuatu yang cukup penting.
Tak berselang lama, Olivia datang menghampiri ketiga pria tadi bersama Mia, dengan gaunnya yang terkena noda minuman. "Astaga, Sayang. Apa yang terjadi?" tanya Adriano tampak cemas.
"Tidak apa-apa, Adriano. Ini hanya karena insiden kecil," jawab Mia mencoba menutupi kejadian yang sebenarnya dari sang suami.
"Di mana Pierre?" geram Adriano seraya mengarahkan pandangan ke segala arah. Namun, dia tak dapat menemukan sosok sang ajudan di mana pun. Adriano pun merogoh ke dalam tuksedo untuk mengambil ponsel, meski Mia telah melarang. Namun, sang ketua Tigre Nero tersebut tetap berusaha menghubungi ajudan setianya.
Sementara Pierre yang saat itu masih berada di halaman parkir, harus menghentikan adegan ciumannya bersama Bianca. "Kurang ajar kau, Pierre!" Bianca menutupi mulutnya dengan menggunakan punggung tangan. Dia bergegas masuk ke dalam mobil. Tanpa banyak bicara, wanita muda itu segera melajukan kendaraannya dan meninggalkan halaman luas mansion milik Juan Pablo.
Pierre tersenyum kecil seraya mengeleng pelan. Pria berambut pirang tersebut kemudian merogoh saku tuksedo yang dia kenakan. Diperiksanya panggilan yang tadi masuk. Pierre pun menghubungi sang majikan. "Tuan," sapanya membuka percakapan, seraya berjalan masuk ke dalam mansion. "Baik. Aku akan segera ke sana," balas pria bermata hijau itu kemudian menutup sambungan teleponnya. Tak berselang lama, dia sudah berada di hadapan Adriano yang telah berdiri bersama Mia. Pierre pun dapat menerka apa yang akan sang majikan tanyakan padanya.
"Apa yang terjadi. Kau kutugaskan untuk mengawasi istriku, tapi kau malah menghilang entah ke mana," tegur Adriano yang merasa kecewa akan kinerja sang ajudan.
"Maafkan aku, Tuan. Aku baru mengantarkan nona Alegra ke mobilnya. Dia agak mabuk, jadi harus kupastikan agar dirinya pulang dengan aman," jawab Pierre dengan tenang.
"Bianca?" Adriano mengernyitkan kening seraya menoleh kepada Mia yang memilih untuk tidak berkata apa-apa. Mia membiarkan Pierre dengan penjelasannya sendiri. Pria itu pasti jauh lebih tahu dengan apa yang dia katakan.
"Ya, Tuan. Entah bagaimana sehingga nona Alegra bisa begitu mabuk. Jadi, aku harus segera mengamankannya," jelas Pierre dengan senyuman kecil di paras tampan khas pira Perancis miliknya. Teringat dalam benak lajang empat puluh tahun tersebut, adegan yang tadi dia lakukan terhadap Bianca. Pierre pun tak menyangka bahwa dirinya akan berani bertindak sejauh itu. Terlebih dia pun tahu seperti apa watak dari seorang Bianca Alegra yang telah dikenalnya sekian lama.
"Apa dia juga yang telah menumpahkan minuman di atas gaunmu, Sayang?" tanya Adriano seraya kembali mengalihkan pandangan kepada Mia.
"Sudahlah, Adriano. Pierre telah menjelaskan padamu bahwa Bianca sedang mabuk. Lagi pula, aku tidak apa-apa. Gaun ini masih bisa dicuci bersih nanti." Mia langsung meredam amarah yang mungkin hadir dalam hati sang suami akibat ulah Bianca. "Bagaimana jika kita pulang saja? Aku mulai cemas dengan Miabella. Kau tahu bukan dia kerap terbangun dan langsung mencari kita."
Adriano terdiam sejenak. Setelah berpikir untuk beberapa saat, akhirnya pria itu memutuskan untuk kembali lebih cepat dari pesta. "Kalau begitu, ayo kita berpamitan dulu kepada tuan rumah pesta," ajaknya. Dia kembali ke dalam untuk menemui Juan Pablo yang telah masuk bersama Arsen. Di sana bahkan ada Mattea, ibunda dari Juan Pablo. Adriano pun berpamitan kepada mereka berdua, begitu juga dengan Mia dan Pierre.
"Senang bisa bertemu denganmu, Mia," ucap Mattea setelah dia memeluk Mia dan mencium keningnya.
"Aku juga, Nyonya. Rasanya seperti bertemu kembali dengan ibuku. Kuharapa Anda tinggal lebih lama di Monaco," balas Mia lembut dan sopan.
__ADS_1
"Akan kupertimbangkan," ujar Mattea, menanggapi ucapan Mia.
"Tolong jaga adikku," bisik Adriano kepada Juan Pablo. Sedangkan pria itu hanya tersenyum kecil saat menanggapinya. Sementara Gianna sendiri masih asyik bersama Carina. Mereka baru selesai membawakan beberapa buah lagu. Saat itu, keduanya tengah menikmati minuman dan sajian yang ada di sana.
Sepeninggal Adriano, Juan Pablo segera menghampiri kedua wanita yang tengah asyik bersulang. Kehadirannya di antara mereka, tentu saja langsung membuat Gianna menjadi salah tingkah. "Tuan D'Angelo baru saja berpamitan," ucapnya.
"Oh, kenapa dia pergi secepat itu?" pikir Carina seraya melirik Juan Pablo.
"Nyonya D'Angelo yang mengajaknya pulang," jawab pria bermata cokelat madu tersebut.
"Aku heran dengan Adriano saat ini. Bagaimana dia bisa semudah itu diatur-atur oleh seorang wanita." Carina berdecak tak mengerti.
"Itulah cinta. Siapa pun bisa berubah karenanya," ujar Gianna menimpali, membuat Juan Pablo kembali mengalihkan perhatian pada gadis berambut pirang tersebut.
Namun, nyatanya Carina justru malah tertawa saat mendengar ucapan Gianna. "Cinta? Menurutmu seseorang seperti Adriano bisa jatuh cinta?" tanyanya ragu.
"Kenapa tidak?" sela Juan Pablo. "Ayo, ibuku ingin bicara denganmu," ajaknya. Dia merebut gelas dari tangan Gianna, kemudian meletakkannya begitu saja. Setelah itu, dia menuntun gadis bermata biru tersebut meninggalkan Carina yang hanya terdiam tak percaya.
Sementara itu, Juan Pablo terus menuntun Gianna dengan erat menuju ke tempat di mana Mattea berada. Gianna pun tak banyak bicara. Gadis cantik tadi justru terlihat gugup dan agak kebingungan. "Ibu," sapa Juan Pablo. Dia menoleh kepada Gianna yang masih terlihat salah tingkah. "Perkenalkan, ini adalah nona Gianna Bice Moriarty. Dia adalah kekasihku," ucap Juan Pablo yang seketika membuat gadis cantik itu seakan tak mampu berkata-kata.
Mattea menoleh, kemudian menatap Gianna dengan lekat. Hal itu membuat Gianna merasa semakin gugup. Dia mere•mas kencang jemari Juan Pablo yang masih dipeganginya dengan erat. Pria itu pun seakan paham. Dia menggerak-gerakkan jari telunjuknya pada telapak tangan Gianna yang masih menggenggam tangannya, sebagai tanda agar sang kekasih tak perlu bersikap secara berlebihan.
Gianna tersenyum dan berusaha untuk tetap terlihat tenang, ketika Mattea mendekat padanya. Gadis cantik bermata biru itu tertegun sejenak, ketika Mattea tiba-tiba mengecup keningnya. "Kau gadis yang sangat cantik," sanjung wanita paruh baya tersebut.
"Terima kasih, Nyonya. Anda juga ... anda terlihat sangat cantik dan anggun," balas Gianna dengan sikap dan gaya bicaranya yang masih terkesan agak gugup, membuat Juan Pablo kembali bereaksi. Pria itu kembali menyentuh telapak tangan Gianna dengan diam-diam.
"Aku sangat bahagia, karena akhirnya Juan meyebutkan satu nama gadis yang membuat dirinya merasa tertarik. Kau gadis yang beruntung, Nak. Putraku pasti memilihmu dengan berbagai pertimbangan," ucap Mattea dengan tatapan penuh haru terhadap Gianna.
Sedangkan Gianna tak tahu harus berkata apa. Usia muda membuatnya masih sedikit kebingungan akan hal itu. Gianna lagi-lagi hanya tersenyum, kemudian melirik Juan Pablo yang juga tengah memandang ke arahnya. Pria itu memberikan sebuah isyarat yang dapat diahami dengan mudah oleh gadis berambut pirang tersebut.
__ADS_1
"Juan pria yang baik. Anda memiliki putra yang sangat luar biasa, Nyonya," sanjung Gianna pada akhirnya memberanikan diri berbicara kepada Mattea.
"Panggil aku ibu, Nak," pinta Mattea dengan senyuman terkembang karena terlampau bahagia.
Begitu juga dengan Gianna yang pastinya merasa sangat bahagia karena mendapat sambutan hangat dari ibunda Juan Pablo. "Bolehkah aku memelukmu?"
"Kenapa tidak, Sayang? Sudah lama aku menginginkan seorang putri," balas Mattea dengan hangat. Dia memeluk Gianna penuh kasih. Sesekali, wanita itu juga mengecup kening Gianna. Tampak jelas rasa bahagia yang terpancar dari raut wajahnya.
Sementara Juan Pablo saat itu tampak menghampiri Carina. Entah apa yang dia katakan kepada artis cantik tersebut. Setelah dari sana, Juan Pablo kembali pada Gianna dan ibundanya. "Bolehkah kupinjam sebentar gadis cantik ini, Bu?" tanyanya dengan nada bicara yang biasa saja. Juan Pablo sepertinya memang tak memiliki selera humor sama sekali.
"Oh, tentu," sahut Mattea seraya tersenyum lebar. Dia mengiringi langkah tegap putra kesayangannya yang menuntun Gianna menuju ke bagian lain mansion. Pria tiga puluh lima tahun tersebut, membawa Gianna berkeliling mansion yang megah. Sambil terus berjalan, tak henti-henti dia melirik gadis cantik di sebelahnya.
"Mansion milikmu benar-benar luar biasa," sanjung Gianna. Gadis itu tak sungkan untuk menunjukkan kekagumannya.
Sementara Juan Pablo sendiri hanya tersenyum kalem. Dia tak melepaskan genggaman tangannya sama sekali. Namun, makin sering dia melirik gadis cantik itu, dirinya semakin tak mampu menahan diri. Juan Pablo pun menghentikan langkah kemudian mengarahkan Gianna hingga bersandar pada dinding. Dia lalu mendekat dan merapatkan tubuhnya.
"Juan ...." desah tertahan Gianna ketika pria rupawan itu mulai menciumi lehernya.
"Kau sangat menggodaku, Bice," bisik Juan Pablo yang kemudian mengakhiri ciuman itu pada permukaan bibir gadis pujaannya. Beberapa saat mereka menikmati pertautan manis tersebut, hingga Juan Pablo mengakhirinya. "Ayo, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," ajaknya. Dia kembali menuntun Gianna menuju ke bagian dalam mansion.
Di sana ada sebuah ruangan yang mirip dengan sebuah perpustakaan. Pada dindingnya terpajang sebuah foto seorang perwira yang terlihat gagah. Juan Pablo membawa Gianna untuk mendekat pada foto dengan bingkai berlapis emas tadi.
"Apa ini ayahmu, Juan?" tanya Gianna.
"Bagaimana kau bisa menebaknya?" Juan Pablo tersenyum kecil seraya melirik sang kekasih.
"Dia sama gagahnya denganmu, Juan," jawab Gianna. Ada rona kekaguman dalam sorot mata gadis itu.
"Ya. Dia sangat gagah. Dialah Sebastian Naldo Quentiero, sang Elang Rimba yang perkasa. Aku sangat bangga padanya. Dia ayah sekaligus pelatih terbaik. Dia memperlakukanku seperti putra kandungnya sendiri," tutur Juan Pablo dengan tatapan yang tertuju pada potret sang perwira.
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Gianna tak mengerti.
"Dia bukanlah ayah biologisku, Bice," jawab Juan Pablo dengan datar. "Ayahku kandungku hidup tenang dengan keluarganya. Di Italia."