
Tak berselang lama, Adriano mengakhiri perbincangannya bersama Don Vargas. Pria itu juga mengembalikan ponsel milik Pierre. Namun, sebelum berlalu dari sana, sang ajudan setia sempat membisikkan sesuatu di telinga tuannya. Tanpa berkata apa-apa, Adriano hanya mengangguk. Barulah Pierre beranjak meninggalkan ruang makan itu. Sementara Adriano kembali melanjutkan sarapannya.
“Siapa yang menghubungimu sepagi ini, Adriano?” tanya Mia yang sudah hampir menghabiskan makanannya.
“Don Vargas. Dia menanyakan keadaanmu,” jawab sang pemilik mansion itu tanpa menoleh. Pria bermata biru tersebut sibuk dengan makanan di dalam piringnya.
“Oh, astaga,” keluh Mia pelan. Dia menggaruk kening perlahan. “Bella, apa rencanamu hari ini selain bermain petak umpet?” Mia mengalihkan perhatian kepada gadis kecil yang tengah menyantap buah apel. Gadis kecil itu sepertinya tak terlalu paham dengan maksud pertanyaan sang ibu. “Ah, maksudku ... apa lagi yang akan kau lakukan selain bermain petak umpet bersama kakek Damiano?” Mia meralat pertanyaannya.
“Tidak ada. Aku akan bermain petak umpet sepanjang hari bersama kakek,” jawab Miabella seenaknya, membuat Adriano hampir tersedak. Pria berambut gelap itu langsung saja meneguk minuman yang berada di sebelah piringnya.
“Oh, itu artinya kau tidak akan ikut denganku dan daddy zio berbelanja,” ujar Mia seraya memainkan kedua bola matanya.
“Aku akan ikut, tapi aku ingin bermain petak umpet dulu dengan kakek,” sahut gadis kecil itu. Gaya bicaranya yang masih cadel terdengar sangat menggemaskan.
“Hari ini aku harus ke tempat Don Vargas terlebih dulu,” ucap Adriano, “kita bisa berbelanja nanti setelah aku pulang dari sana,” lanjutnya.
“Memangnya kau tidak lelah? Tak apa, aku akan meminta Pierre untuk mengantar ....”
“Tidak boleh," larang Adriano dengan segera, "kita akan pergi bersama,” ucapnya lagi cukup tegas. Dia telah menyelesaikan sarapan, kemudian segera berdiri. “Aku akan bicara sebentar dengan Pierre di ruang kerja. Jika kau membutuhkan sesuatu, cari saja aku di sana,” pesannya. Seusai berkata demikian, Adriano pun meninggalkan ruang makan. Dia berjalan dengan gagah menuju ruang kerja di mana Pierre telah menunggunya.
“Ada masalah penting apa sehingga kau mengajakku bicara sepagi ini?” tanya Adriano ketika dirinya sudah berada di dalam ruangan dengan nuansa merah tersebut.
“Ini memang bukan masalah yang penting, Tuan. Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk membahasnya dengan Anda, “ ucap Pierre tampak ragu.
__ADS_1
“Jika kau sudah memutuskan untuk membicarakan hal itu denganku, maka artinya telah menjadi masalah yang penting,” Adriano menanggapi ucapan ajudan setianya dengan nada bicara yang datar dan begitu tenang. Dia lalu duduk di belakang meja kerja dengan penuh wibawa.
Sementara itu, Pierre terlihat sedikit gelisah. Pria asal Perancis tersebut berusaha untuk tersenyum di hadapan Adriano. “Begini, Tuan,” Pierre memulai ceritanya. “Beberapa hari ke belakang, aku melihat Bianca keluar dari sini dengan pakaiannya yang kotor,” ingatan Pierre kemudian menerawang pada hari itu, saat di mana dirinya yang tanpa sengaja berpapasan dengan wanita cantik tersebut. Cerita Pierre mengalir menuju pada beberapa minggu sebelumnya.
“Apa yang terjadi, Nona Alegra? Kenapa pakaianmu sangat kotor?” tanya Pierre yang tampak keheranan melihat penampilan Bianca. Baju mahal wanita muda yang selalu tampil elegant itu dipenuhi oleh tumpahan kue.
“Tanyakan pada tuanmu, Pierre!” Bianca terlihat sangat marah. Sepasang mata abu-abunya yang indah menyiratkan perasaan yang teramat kacau. Bianca bahkan terlihat meneteskan air mata. “Ini adalah sebuah penghinaan besar untukku! Aku tak akan pernah menerima hal memalukan seperti yang kualami sekarang. Tidak akan pernah!” tunjuk wanita muda itu dengan penekanan yang sangat dalam dan tegas.
“Baiklah, tapi katakan apa yang terjadi agar aku bisa memahaminya dengan baik,” pinta Pierre. Pria bermata hijau itu masih terlihat tenang.
“Kau ingin tahu, Pierre?” Bianca menyeka air matanya. Walaupun saat itu dirinya terlihat sangat kacau, tetapi Bianca masih tetap memerlihatkan bahwa dia adalah wanita yang tangguh dan tak mudah untuk dikalahkan. “Aku berusaha untuk bersikap peduli pada Adriano, tapi lihat apa yang dia lakukan padaku! Adriano malah membela wanita yang hampir membuat nyawanya melayang dan justru menyudutkanku. Tuanmu itu benar-benar keterlaluan!” gerutu Bianca. Terlihat jelas jika dia sangat kesal dan marah.
“Apa dan siapa yang Anda maksud, Nona Alegra?” Pierre mengernyitkan keningnya. Dia masih belum memahami maksud dari ucapan Bianca.
“Ada apa dengan nyonya D’Angelo?” tanya Pierre lagi semakin penasaran.
“Kau benar-benar tidak tahu?” cibir Bianca dengan senyuman sinisnya. Sedangkan Pierre hanya menanggapi dengan sebuah gelengan pelan, membuat Bianca kembali menyunggingkan senyuman sinis. Wanita muda itu kemudian berjalan mendekat. “Mia adalah orang yang telah membuat Adriano dirawat di rumah sakit pusat Ajaccio,” terang Bianca membuat Pierre seketika terbelalak tak percaya.
“Apakah itu benar, Tuan?” pertanyaan Pierre mengakhiri kilas masa lalunya.
Akan tetapi, Adriano tak segera menjawab. Dia hanya membalas tatap mata Pierre untuk beberapa saat lamanya. “Dari mana Bianca mengetahui hal tadi?” Adriano malah balik bertanya.
“Aku tidak tahu tentang itu. Sebenarnya aku ingin menanyainya lebih jauh, tapi sepertinya nona Alegra sudah tidak tahan untuk segera pergi dari mansion,” jawab Pierre.
__ADS_1
Adriano menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. “Ya, itu memang benar,” ucap Adriano pada akhirnya. Dengan berat hati, dia harus mengakui hal tersebut di hadapan sang ajudan yang memiliki loyalitas tinggi terhadapnya.
Raut muka Pierre seketika berubah. Tangannya terkepal dengan wajah merah padam. “Apa yang telah Anda lakukan, Tuan? Anda sudah membawa musuh masuk ke dalam mansion. Ah, tidak! Tidak hanya mansion. Namun, Anda juga telah membawanya jauh lebih dalam kehidupan pribadi Anda dengan menjadikannya sebagai nyonya rumah. Sebaga istri dari Adriano D’Angelo,” Pierre berdecak tak percaya seraya menggelengkan kepalanya perlahan, demi meredam perasaan yang berkecamuk di dalam dada.
Melihat gelagat Pierre yang penuh emosi, Adriano segera berdiri dan berhadapan dengan ajudan setianya itu. Sorot mata Adriano tak kalah tajam jika dibandingkan dengan tatapan yang Pierre layangkan padanya. “Dengarkan aku baik-baik, Pierre Corbyn! Aku tak akan pernah mengizinkan kau berbuat apapun yang bisa mencelakai Mia. Dia adalah istriku dan selamanya akan tetap begitu! Tak peduli meskipun seluruh anggota klan akan berbalik melawanku. Aku mencintai Mia!” tegas Adriano penuh penekanan. Bola mata birunya terlihat berapi-api saat itu.
Pierre kembali menggeleng. “Aku sama sekali tidak bisa mengerti jalan pikiran Anda kali ini, Tuan. Mengertilah bahwa diriku sangatlah khawatir. Bagaimana jika dia kembali membahayakan nyawa Anda?” tanyanya penuh penekanan.
“Mia tidak mungkin melakukan hal itu lagi. Dia mencintaiku, bahkan sangat mencintaiku. Apa yang terjadi dulu hanyalah sebuah kesalahpahaman yang teramat disesalinya! Kau tak pernah tahu betapa berat hidup yang dia jalani, Pierre!” jawab Adriano dengan nada bicara yang semakin meninggi, membuat Pierre mundur beberapa langkah, lalu menumpukan tangan pada punggung kursi yang terletak di sebelahnya. Pria itu terdiam sambil menatap nanar lantai ruangan yang dia pijak.
“Sudahlah, Pierre. Jangan berpikir terlalu berat. Mia bukanlah ancaman. Biar kuulangi sekali lagi. Dia istriku! Jika sampai Mia terluka, maka aku yang lebih merasakan sakitnya. Jadi, jangan sampai berbuat macam-macam kepadanya, atau kau akan berhadapan denganku!” ancaman Adriano terdengar sangat serius.
Pierre segera mengalihkan pandangannya pada Adriano dengan sorot yang penuh arti. “Aku sama sekali tidak bisa mengerti akan hal ini, Tuan,” desisnya pelan.
“Karena itu, cobalah untuk merasakan jatuh cinta. Dengan begitu kau bisa memahami alasan yang kuambil,” balas Adriano seraya berdiri dan memutari meja kerja, lalu meninggalkan Pierre yang terpaku sendirian. Namun, sesaat kemudian Adriano kembali menoleh.
“Oh, ya. Kuperintahkan kau untuk menjaga Mia. Aku akan bertemu dengan Don Vargas sebentar,” imbuh Adriano sebelum keluar dari ruang kerjanya.
🍒🍒🍒
Hai, hai, ini ceuceu bawakan satu lagi rekomendasi novel keren.
__ADS_1