
Siang harinya, Adriano yang sudah berpakaian rapi kemudian berpamitan pada Mia. Dia harus mengikuti meeting bersama Bianca. Mereka berencana akan menghadiri undangan Don Vargas di sebuah restoran mewah di pusat kota Monte Carlo.
Adriano dan Bianca datang tepat waktu. Bersamaan dengan itu, Juan Pablo pun tampak sudah memasuki ruangan. Pria tersebut tampak begitu gagah. Dia menoleh sesaat kepada Adriano tanpa senyum sedikit pun. Namun, tiba-tiba dia mengajak Adriano bersalaman.
“Kita akan memulai proyek pembangunan kasino minggu depan. Untuk lebih lengkapnya, akan dipaparkan oleh Don Vargas sebentar lagi,” ujar Juan Pablo dengan nada yang begitu datar. Raut wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Dia mengajak Adriano dan Bianca duduk di kursi yang telah dipersiapkan untuk mereka.
Tak berselang lama, datanglah Sergei Redomir. Gayanya terlihat begitu santai. Dia mengangguk pada semua orang, lalu memilih tempat duduk di samping Adriano.
“Kau ikut juga?” Adriano menoleh pada Sergei sambil berbisik.
“Don Vargas mengajakku. Dia ingin aku membantunya melobi para pemilik tanah di Birmingham untuk mendapatkan penawaran terbaik,” jelas Sergei sembari menyeringai.
“Kabarnya kalian akan berbagi modal secara seimbang. Apa betul begitu?” tanyanya pada Adriano.
“Sepertinya begitu,” Adriano segera menghentikan percakapannya saat Don Vargas memasuki ruangan. Dirinyalah yang disalami pertama kali oleh pria itu.
Setelahnya, Don Vargas begitu serius menjelaskan detail kerja sama dan penandatanganan kontrak antara dirinya dengan Adriano. Don Vargas juga menjelaskan secara rinci tentang tahapan pembangunan proyek tersebut yang akan dilaksanakan di Inggris.
Selama jalannya meeting, Adriano tak banyak bicara. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk sesekali. Dia baru bernapas lega ketika tiba jadwal santap siang tiba. Beberapa pelayan memasuki ruangan VIP yang telah disewa oleh Don Vargas sambil membawa troli makanan penuh dengan hidangan mahal.
Ketika semua orang tengah asyik bersantap sambil bercakap-cakap, Adriano lebih memilih memainkan ponselnya. Dia bahkan tak mempedulikan Bianca yang terus mengajaknya berbincang. Tatap mata Adriano lebih tertarik pada isi galeri ponselnya yang penuh dengan foto-foto Mia. Foto-foto itu sebagian besar dia ambil diam-diam saat mereka berlibur ke Malibu.
Adriano menyentuh satu foto Mia yang tengah menggendong Miabella di tepi pantai. Lalu, satu foto lagi saat wanita cantik itu berdiri sendirian. Dia memperbesar gambar itu dan mengamati lekuk tubuh indah sang istri yang terekspos jelas dalam balutan bikini two piece. Wanita itu bagaikan bidadari untuknya.
Setelah itu, Adriano harus lebih sering menarik napas dan melonggarkan dasi untuk menahan gejolak yang mulai timbul akibat foto indah tadi.
......................
Adriano baru kembali dari acara meeting bersama beberapa rekan bisnisnya. Ada sesuatu yang berbeda dari penampilannya sore itu. Tidak biasanya dia memakai setelan kemeja yang dilengkapi dasi. Ketika Mia masuk ke kamar, pria itu tampak baru akan melepas dasinya. “Aku pikir kau belum pulang,” sapa Mia seraya berdiri di hadapan sang suami. Tanpa diminta, dia membantu Adriano melepas dasi yang pria itu kenakan. “Akhirnya benda ini berguna juga,” ucap Mia dengan senyuman lembut.
__ADS_1
“Kau tahu apa fungsi lain dari dasi ini?” tanya Adriano menatap lekat Mia.
“Apa?” tanya Mia. Dia sudah merasakan sesuatu yang tak beres dengan hanya menafsirkan tatapan sepasang mata biru sang suami. Apa yang Mia pikirkan ternyata memang tidaklah keliru. Dengan gerakan cepat, Adriano membalikan tubuh Mia sehingga membelakangi dirinya. Dia lalu meraih tangan wanita berambut cokelat itu dan meletakannya di balik punggung. Dengan menggunakan dasi tadi, Adriano mengikat pergelangan tangan Mia. “Apa yang kau lakukan?” Mia berusaha untuk melepaskan tangannya, tetapi ikatan itu justru dirasa semakin kencang.
“Semakin kau berusaha untuk membebaskan dirimu dari ikatan ini, maka ia akan mengikatmu dengan semakin kencang,” bisik Adriano yang berdiri di belakang Mia. Dia lalu menyibakkan rambut panjang sang istri yang tergerai menutupi punggung, dan meletakkan mereka di atas pundak. Tampaklah bulu-bulu halus yang tumbuh di area leher belakang hingga ke pundak.
Adriano kemudian mengecupnya dengan mesra, menimbulkan debaran luar biasa dalam dada Mia.
Helaan napas pelan sedikit parau, meluncur dari bibir Mia. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu bidang sang suami, ketika merasakan tangan Adriano bergerak nakal menelusuri paha dari sisi kiri dan kanannya, lalu menaikan bagian bawah dress yang dia kenakan dengan perlahan. Tangan itu kemudian bergerak nakal ke belakang, mere•mas lembut pinggul indah berbalut pakaian dalam brokat halus berwarna hitam.
Mia tak dapat berbuat apa-apa, karena kedua tangannya terikat ke belakang. Namun, dia dapat menyentuh dan merasakan sesuatu yang membuat dirinya paham bahwa Adriano sedang menginginkannya. Akan tetapi, ternyata meski pertanda itu telah muncul dengan jelas dari tubuh Adriano, belum ada tanda-tanda pria tersebut akan melanjutkan penyatuan mereka. Adriano justru malah asyik bermain-main. Tangan kanan pria bermata biru itu kini berada di dalam segitiga brokat Mia dan tampak bergerak-gerak di sana, membuat wanita itu gelisah dan tak kuasa menahan dirinya.
Tubuh tegap Adriano, sigap menahan Mia yang terus bergerak dengan tak karuan. Wanita itu menggeliat dan terus menggelinjang, demi menahan hasrat ingin bercinta yang sudah begitu menguasai dirinya. Desah napas dan erangan-erangan pelan pun tak henti meluncur dari bibir Mia. Lemas, wanita cantik berpostur 170 cm tersebut tak kuasa lagi untuk segera melampiaskan gejolak rasa yang kian tak terbendung. Namun, Adriano tak juga memberikan apa yang Mia inginkan. Dia seakan ingin membuat sang istri tersiksa karena gairahnya yang semakin memuncak.
Terdengar tawa pelan dari pria bertubuh tegap itu. Suara napas beratnya membaur dengan lenguhan pendek Mia yang kemudian mencoba untuk menoleh padanya. “Aku sudah tidak kuat,” ucap Mia dengan setengah berbisik. Namun, Adriano masih bersikap tak peduli. Dia sepertinya belum puas, meskipun telah membuat sang istri semakin tersiksa.
Sedangkan Mia sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi, termasuk ketika telapak tangan sebelah kanan Adriano menelusuri dada, leher, dan berakhir di wajahnya. Perlahan Adriano memalingkan paras cantik Mia ke samping, kemudian segera dia sambut dengan sebuah luma•tan lembut. Sementara itu, tangan kirinya masih asyik bermain di antara pangkal paha sang istri.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Mia lesu.
“Menaklukkanmu,” bisik Adriano lagi.
Mia yang sudah terlihat lemas, menanggapi ucapan Adriano dengan sebuah tawa renyah. “Apa kau belum menyadari bahwa dirimu sudah berhasil menjerat bahkan membuatku begitu takluk padamu,” ujar Mia
“Kau yang terlebih dahulu menjeratku, Mia,” ucap Adriano seraya menurunkan tubuh Mia dengan posisi telungkup di atas kasur, dengan kedua tangannya masih terikat ke belakang. Mia lagi-lagi tak bisa berbuat apa-apa, termasuk ketika Adriano menyibakkan bagian bawah dressnya. Adriano menurunkan segitiga brokat yang Mia kenakan. Dia juga melepaskan ikatan dasi dari pergelangan tangan sang istri.
Adriano berdiri tegak di dekat tempat tidur. Diraihnya pinggul Mia hingga terangkat. Setelah itu, dia menurunkan resleting celana panjangnya. Tak berselang lama, terdengar suara helaan napas berat tertahan pria itu.
Dire•masnya pinggul Mia dengan sebelah tangan, sementara satu tangan lagi menahan punggung wanita yang kini dalam posisi bersujud sambil membelakanginya. Sesekali pria bermata biru itu memejamkan mata dengan deru napas memburu. Sedangkan Mia merintih pelan dengan wajah yang menempel di atas bed cover.
__ADS_1
“Daddy Zio!” teriakan Miabella terdengar nyaring dari balik pintu kamar. Anak itu datang pada saat yang tidak tepat. “Daddy Zio!” Miabella menggedor pintu kamar orang tuanya. Namun, Adriano tak memedulikan seruan gadis kecil itu. Dia harus menyelesaikan dulu ritual panasnya bersama Mia. Pria itu pun bergerak dengan semakin cepat. Pada akhirnya, terdengar sebuah helaan napas tertahan ketika Adriano telah berhasil memuntahkan seluruh hasratnya di dalam diri Mia dengan napas terengah. Sementara Mia langsung terkulai tak berdaya.
“Daddy Zio!” teriak Miabella lagi, membuat Adriano terkekeh. Dia segera menaikan resleting dan membantu merapikan diri Mia yang masih tergeletak di atas ranjang dengan napas terengah. Tak lupa ia menepuk lembut pinggul Mia sebelum beranjak ke pintu dan membukanya.
“Ada apa, Principessa?” sambut Adriano seraya berjongkok di depan tubuh mungil Miabella. Bukannya menjawab, Miabella malah memeluk Adriano erat-erat.
“Hei, ada apa?” Adriano keheranan lalu menggendong putri sambungnya itu dan mendudukkan dia di tepi ranjang, tepat pada saat Mia bangkit sambil merapikan rambutnya. Wanita itu sempat melirik nakal sambil mengulum senyum ke arah suaminya yang juga tengah melakukan hal yang sama.
“Kenapa kau murung, Sayangku?” tanya Mia.
Miabella berpindah dari dekapan Adriano menuju ke tubuh ibunya. Gadis kecil itu sempat menghirup aroma baju Mia, kemudian berkata, “Bau ibu seperti bau Daddy Zio.”
“Oh, ya? Mungkin itu karena ibu memakai parfum Daddy Zio,” jawab Mia asal seraya menahan tawa. “Sekarang, katakan kenapa kau murung?”
“Aku ingin gaun Cinderella, Bu. Daddy Zio sudah berjanji,” suara Miabella terdengar amat lirih karena dia menyembunyikan wajahnya di dada Mia.
“Oh, jadi itu rupanya yang membuatmu murung,” sahut Adriano. “Baiklah, Principessa. Bersiaplah, karena aku akan mengajakmu berjalan-jalan. Aku yakin kau sudah bosan terkurung terus di dalam mansion,” ajaknya. Tak terkira girangnya bocah kecil berpipi gembul itu. Dia melompat ke sana kemari, lalu berlari keluar kamar.
“Bella, tunggu! Kau haru mengganti bajumu,” Mia berdiri dan berniat untuk mengejar Miabella.
Namun, dengan segera Adriano menarik pergelangan tangan dan membawa tubuh ramping itu mendekat kepadanya.
“Jangan lupa, permainan kita belum selesai. Kita lanjutkan nanti malam,” ucap Adriano sambil mengecup pucuk hidung Mia.
Dia lalu meninggalkan Mia yang terpaku menatapnya. Adriano mengejar Miabella yang masih berlarian di dalam lorong.
Senyumnya makin terkembang ketika dia berhasil menangkap tubuh mungil Miabella dan mengangkatnya ke udara. Pria rupawan itu merasa menjadi sosok yang baru dan berbeda. Kenyataan bahwa Mia telah membuka hati dan menyerahkan diri seutuhnya, adalah anugerah terbesar yang pernah Adriano dapatkan di dalam hidup.
“Selamanya aku akan mencintai kalian. Kau dan ibumu,” bisiknya lembut sembari memeluk erat Miabella dalam gendongannya.
__ADS_1
Sementara itu di halaman depan mansion, seorang pria berjalan tergesa-gesa memasuki ruang tamu. Di sana, Pierre Corbyn telah berdiri menyambutnya. “Ada kabar apa, Benigno?” tanya Pierre.
“Kabar kurang bagus. Aku harus bertemu dengan bos sekarang,” jawab pria bernama Benigno itu dengan raut tegang.