Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Morte Facile


__ADS_3

“Jangan begitu, Don. Jangan bicara seolah-olah kau tak ikut mengeksekusi tuan de Luca. Kau juga menjadi salah satu dari empat penembak itu,” elak Lionel sambil menghunuskan belati yang dipegangnya. “Coba bayangkan seandainya psikopat bernama Adriano D'Angelo mengetahui hal ini. Wah, kira-kira akan seperti apa nasibmu? Dia pasti akan mencincangmu habis-habisan,” seringainya puas. Sedangkan Don Vargas tak menjawab. Mulutnya tertutup rapat. Sementara wajahnya tiba-tiba menyiratkan beban yang teramat berat.


“Oh,” mulut Lionel membulat, membentuk huruf O. Satu telunjuknya terangkat ke atas. “Aku mulai menyadari sesuatu, Don. Dulu kau pernah mengatakan padaku, bahwa aku akan bekerja sama dengan Elang Rimba untuk membunuh Matteo de Luca. Apakah itu artinya ….”


“Ya, memangnya kenapa? Kau masih penasaran dengan Elang Rimba?" cibir Don Vargas kemudian setelah beberapa saat dirinya terdiam.


"Kau tahu bahwa semua orang yang hidup dalam dunia hitam di daratan Amerika, begitu penasaran dengan sosok asli Elang Rimba. Kita semua tahu betapa berpengaruhnya orang itu. Namun, kemisteriusannya telah membuat banyak kalangan menjadi resah," tutur Lionel masih dengan senyuman culasnya.


"Elang Rimba. Bisnis dan kejahatan. Pembunuh berdarah dingin. Siapa pun yang dapat mengungkap identitas asli orang itu dan mampu menghabisinya, aku yakin pasti akan menjadi penguasa yang paling disegani. Apa kau tahu ada berapa banyak orang yang menginginkannya, Don?" Lionel kembali menunjukkan seringainya yang jahat.


Don Vargas terdiam saat mendengarkan penuturan dari pria yang ternyata merupakan seorang pengkhianat itu. Harus diakuinya bahwa Lionel memang orang yang telah lama malang melintang dalam dunia hitam, berhubung pria tersebut merupakan anggota dari sindikat pembunuh bayaran ternama di Amerika. Jadi, apa yang dia ucapakan pastilah bukan sebuah isapan jempol semata.


Sesaat kemudian, tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir Don Vargas. "Sebegitu besarkah reputasi Elang Rimba di mata orang-orang dalam dunia hitam? Oh, luar biasa sekali, padahal aku merasa biasa saja," ujarnya dengan enteng. "Akulah Elang Rimba! Aku dalang dibalik pembunuhan terhadap Matteo de Luca! Aku juga menjadi salah satu dari empat eksekutor yang telah menghabisi pria muda itu!” ucapnya dengan lantang dan penuh percaya diri.

__ADS_1


“Ya, ampun!” Nenad menggelengkan kepala seraya berdecak pelan. “Gara-gara kau, aku menjadi sasaran amukan sahabat Matteo!” sungutnya. “Lionel, aku tidak menyukai orang ini sejak dulu, terlebih dengan adanya kejadian ini! Habisi pria tua itu sekarang juga!” perintah Nenad seakan tanpa beban dengan telunjuk lurus tertuju kepada Don Vargas.


“Tunggu sebentar. Sebelum aku membunuhnya, sebenarnya aku sangat penasaran dengan sosok Elang Rimba yang sangat misterius. Jadi, benarkah jika Elang Rimba itu memang dirimu?” Lionel memiringkan kepala dan memperhatikan wajah Don Vargas dengan saksama. Dia mengamati pria paruh baya yang sudah terjebak di dalam gedung tua itu.


“Ya, benar sekali. Aku mengambil nama Elang Rimba dari julukan yang diberikan untuk seorang sahabat. Dia harus tewas karena melindungi nyawaku. Hal tersebut membuat diriku sangat berutang budi padanya. Karena itulah, aku ingin terus menggemakan namanya agar tetap disegani,” desis Don Vargas dengan raut wajah yang teramat meyakinkan.


“Astaga, jadi begitu rupanya," sahut Nenad kembali berdecak pelan. "Kaulah sosok yang selama ini dicari oleh banyak orang untuk meminta perlindungan atas diri dan juga bisnis. Akan tetapi, lihat kenyataannya saat ini. Kau tidaklah sehebat yang kukira sebelumnya,” cibir Nenad merendahkan. “Lionel bahkan terlihat jauh lebih kuat darimu,” imbuh Nenad diiringi tawa penuh ejekan.


“Benarkah, Nenad?" Lionel menoleh kepada pria asal Kroasia itu sambil tersenyum aneh. "Ah, aku benar-benar tersanjung. Rasanya aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuatmu bahagia,” mata Lionel tampak berbinar. Tanpa aba-aba dari siapa pun, belati yang berubah merah akibat darah Don Vargas tadi melayang dan mencabik-cabik permukaan wajah Don Vargas yang lengah. Tak berhenti di situ, belati tadi kemudian berpindah ke dada pria tua yang tak sempat melawan dan akhirnya terkapar di dekat kaki Lionel. Tak cukup sekali, Lionel bahkan berkali-kali menusukkan senjata runcing dan tajam itu ke sekujur tubuh Don Vargas, hingga pria paruh baya tersebut benar-benar tak bernyawa. Don Vargas yang memiliki nama besar luar biasa hebatnya, mati dengan begitu mudah di tangan seorang ketua pembunuh bayaran seperti Lionel.


Beberapa saat kemudian, Nenad membuka mata kembali dan tersentak kaget, ketika Lionel ternyata sudah berdiri di hadapannya dengan wajah bengis. Ada banyak cipratan noda darah di sana. Pria jangkung tadi kembali memperlihatkan seringainya yang menakutkan.


“Lihatlah, Nenad. Pria tua itu sudah tumbang. Kerajaan bisnismu tak lagi memiliki saingan sekarang. Tak akan ada yang mampu melukaimu selain Adriano D’Angelo,” ucapnya datar.

__ADS_1


“Ka-kalau begitu, kau juga harus menghabisinya sebelum dia kembali untuk memburuku,” sahut Nenad terbata.


"Kau yakin dia akan kembali?" tatap mata Lionel terlihat semakin aneh dan sulit untuk diartikan oleh Nenad. Pria itu kemudian menoleh pada jasad Don Vargas yang berlumuran darah.


"Harus kita apakan mayat pria tua itu? Aku tidak mau jika sampai jasadnya tetap berada di sini. Aku sudah bosan mencium bau mayat yang membusuk," Nenad mengatur napasnya agar lebih teratur.


Lionel kembali mengarahkan pandangannya kepada Nenad. "Elang Rimba," gumam pria itu sambil memicingkan matanya. Tak lama, tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibirnya. "Don Vargas mempunyai seorang ajudan setia. Mereka seperti sepasang tangan kanan dan kiri. Tidak menutup kemungkinan jika ajudan setianya akan membalaskan dendam atas kematian pria tua itu," Lionel tertawa pelan. "Jika dia tahu bahwa pria tua itu mati atas perintahmu, maka kupastikan bahwa bukan hanya Adriano D'Angelo yang akan memburumu, Nenad," seringainya lagi membuat Nenad menelan ludah berkali-kali dengan wajah pucat.


"Kalau begitu ... kalau begitu ... kuperintahkan agar kau menghabisi mereka berdua. Secepatnya!" perintah Nenad dengan tegas. Meskipun rona kecemasan tampak begitu jelas pada dirinya, tapi pria tersebut masih tetap berusaha untuk menjaga wibawa di depan Lionel yang segera tertawa nyaring.


“Hm, bukan hal sulit bagiku. Namun, dengan satu syarat," sahutnya menanggapi perintah dari Nenad.


"Syarat apa lagi?" dengus bandar senjata itu seraya membuang muka.

__ADS_1


"Naikkan upahku, maka aku akan bersedia menghabisi Adriano sekaligus ajudan Don Vargas untukmu,” tegas Lionel kembali menyeringai puas.


__ADS_2