
“Tidak, tidak! Jangan lakukan itu, Francy!” cegah Coco. Tak dipedulikannya rasa ngilu pada bagian perut yang semakin parah. “Jangan pernah meninggalkanku, atau ... atau .…” Coco meringis. Sekuat tenaga dia mencoba untuk kembali berdiri tegak di hadapan Francesca yang tengah menangis. Ingin sekali dia menarik tangan sang kekasih dan menggenggamnya erat, lalu menghapus air mata yang membasahi pipi mulus gadis tersebut.
Namun, apa daya karena saat itu Coco hanya sanggup membungkuk. “Francy, tolong,” ucapnya begitu tersadar saat kaus yang dia kenakan sudah basah oleh darah. Demikian pula dengan telapak tangan yang sedari tadi memegangi perut.
Francesca yang merasa penasaran, menyingkirkan tangan yang menutupi wajahnya. Seketika gadis cantik itu terbelalak. Dia begitu terkejut ketika darah sudah mengubah warna kaos putih calon suaminya menjadi merah. “Ya, Tuhan! Ricci!” pekik Francesca panik. "Kau kenapa?" Francesca segera merengkuh tubuh tegap Coco yang sudah limbung.
Perlahan, dituntunnya Coco ke arah ranjang. Dengan hati-hati Francesca lalu membaringkan pria itu di sana. “Kenapa kau selalu merepotkanku! Kau memang menyebalkan!” gerutu Francesca dengan tangisan yang terdengar semakin kencang, ketika dia menyibakkan kaos yang Coco kenakan. Dilihatnya dua jahitan di perut sang kekasih sudah terbuka lebar.
“Ya, Tuhan. Bagaimana ini?" Gugup, Francesca menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. “Bukankah dokter sudah berkali-kali mengatakan agar kau tak boleh bergerak terlalu kuat, dan juga jangan terlalu lelah? Lalu, bagaimana jika sudah begini? Apa kau memang tak berniat untuk menikahiku, Ricci?” omelnya tanpa henti. Francesca seakan tengah meluapkan segala emosi yang ada di dalam hatinya. Perasaan gadis itu bercampuk aduk, antara marah dan juga khawatir yang sangat besar.
“Francy, ma-maafkan aku,” sesal Coco. “Kau harus tahu jika aku sangat mencintaimu,” ungkapnya pelan dan mulai terbata.
"Jika kau memang benar-benar mencintaiku, kau tidak akan mencium wanita itu berkali-kali di saat kita masih menjalin hubungan!” protes Francesca penuh sesal. “Sudahlah, itu tidak penting untuk dibahas saat ini. Lukamu yang harus ditangani lebih dulu!” ucapnya kemudian.
Francesca bergegas menuju lemari dan membuka laci yang berada di dalamnya. Dia mengambil beberapa handuk kecil, lalu meletakkan benda itu di atas perut Coco yang terus mengeluarkan darah. Francesca kemudian menekan luka itu kuat-kuat dengan satu tangan. Sedangkan, satu tangan lainnya dia gunakan untuk menghubungi ambulans. Tak berselang lama, layanan darurat itu merespons panggilan Francesca dan berjanji akan segera tiba dalam waktu cepat.
“Aku tidak akan rela jika kau meninggalkanku. Kau dengar itu, Francy? Kita harus menikah! Kita akan menikah!” racau Coco di sela-sela ringisannya. “Jika kau membawaku ke rumah sakit, maka kau harus ikut denganku ke sana. Aku ingin agar dirimu yang menjagaku. Aku tidak mau sendirian,” pintamya dengan setengah memaksa.
Namun, Francesca justru menanggapi permintaan Coco dengan sebuah gelengan kepala. “Entahlah,” ucapnya pelan.
“Jika kau berani meninggalkanku, maka lebih baik aku mati saja, Francy. Tinggal kutembakkan saja satu peluru ke kepalaku, sehingga diriku tak perlu lagi merasakan kesakitan,” ancam Coco. “Demi Tuhan, Francy. Aku akan mati jika sampai kau meninggalkanku. Aku sudah tak memiliki siapa pun lagi selain dirimu,” ucapnya sambil sesekali mengerang karena menahan rasa sakit di perutnya.
“Kau seharusnya berpikir seperti ini sebelum menyakitiku,” ucap Francesca kembali menangis. Tangannya gemetar saat menyadari bahwa handuk kecil yang tadi dia gunakan sudah basah oleh darah. Buru-buru dia menggantinya dengan handuk baru, lalu kembali menekan perut Coco kuat-kuat untuk mencegah agar darah yang keluar tidak semakin banyak.
“Aku bisa menjelaskan semuanya,” ucap Coco dengan nada dan raut wajah yang tampak memohon.
“Nanti saja jika lukamu sudah diobati,” tolak Francesca lirih. Segala amarahnya seketika luruh, sehingga yang tersisa hanyalah rasa khawatir. Sebuah perasaan yang demikian besar untuk pria yang amat dia cintai.
“Aku ....” Coco tak jadi melanjutkan kalimatnya saat dia melihat Daniella dan beberapa orang petugas medis berjalan memasuki kamar. Pandangannya mulai berkunang-kunang saat itu.
__ADS_1
“Ya, ampun! Kukira petugas medis ini salah alamat. Namun, mereka bersikeras mengatakan bahwa Francy yang menghubunginya. Ternyata … astaga ….” wanita bertubuh sintal itu tak sanggup berkata-kata.
“Ricci menendang pintunya terlalu kuat, sampai-sampai jahitannya terkoyak,” jelas Francesca. Dia lalu mundur untuk memberi jalan bagi para petugas medis yang hendak memeriksa kondisi Coco.
“Apakah suami Anda pernah menjalani operasi perut sebelumnya?” tanya salah seorang petugas medis setelah beberapa saat kemudian.
“Iya, betul. Dia sempat menjalani operasi pemotongan usus beberapa minggu yang lalu,” terang Francesca.
Petugas medis itu mendengarkan secara saksama penjelasan dari Francesca sebelum menoleh pada rekan-rekannya. “Kalau begitu kami akan membawa suami Anda secepatnya ke rumah sakit. Kami khawatir jika bukan hanya luka jahitannya saja yang terkoyak, melainkan luka pada usus pasca operasi,” tutur pria itu pelan dan hati-hati.
“Oh, Tuhan. Apakah dia akan baik-baik saja?” tanya Francesca. Tubuhnya gemetar saat membayangkan kondisi calon suaminya.
“Semakin cepat ditangani, maka akan semakin baik,” pungkas petugas medis tersebut. Mereka bermaksud untuk memindahkan tubuh Coco.
“Aku menolak pergi jika tidak didampingi oleh Francy,” tegas Coco dengan suara yang semakin melemah. “Lebih baik aku mati jika kau pergi, Francy,” imbuhnya.
“Bene, bene,” Francesca pun menyerah. Lagi pula, dia tidak akan tega berada jauh dari Coco dalam keadaan seperti itu.
“Ya, Tuhan! Ada apa ini, Francy?” seru Mia panik. Begitu pula Adriano yang segera mengikuti para petugas medis tersebut dari belakang.
“Luka Ricci terkoyak saat menendang pintu kamar yang kukunci,” jawab Francesca penuh sesal.
“Astaga, Francy.” Mia segera merengkuh pundak adik tirinya itu untuk sekadar menguatkan. Dia terus merangkul Francesca hingga tiba di depan ambulans.
Sementara Damiano yang baru kembali dari perkebunan menjadi ikut panik. Dengan langkah cepat, pria tua itu menuju ke halaman depan Casa de Luca. "Ada apa ini?" tanyanya.
"Luka yang dialami Ricci ...." Mia tak sempat melanjutkan kata-katanya.
"Astaga, anakku." Damiano sempat menyentuh tangan Coco dari luar ambulans. Namun, saat itu kondisi pria berambut ikal tersebut sudah sangat lemah
__ADS_1
“Masuklah, Nyonya,” suruh salah seorang petugas medis, sesaat setelah brankar yang membawa tubuh lemah Coco sudah berada di dalam ambulans. Francesca menurut dan segera naik. Dia lalu duduk di sebelah calon suaminya.
“Aku akan menyusulmu!” seru Mia dari luar.
“Aku tidak bisa ikut ke sana,” sesal Daniella. “Marco demam. Mungkin akibat dari kakinya yang bengkak, ” terang ibu dua anak tersebut.
“Tidak apa-apa. Biar aku dan Mia saja yang pergi. Aku titipkan Miabella padamu dan Damiano,” putus Adriano.
"Tenang saja. Aku akan menjaganya," sahut Damiano.
Mia melotot ke arah sang suami sebagai tanda protes. “Aku tidak mau! Aku akan pergi sendiri!” tolaknya dengan tegas. Akan tetapi, Adriano tak menghiraukan penolakan dari wanita itu. Dia malah menarik dan menuntun tangan Mia, lalu membawanya menuju ke garasi.
“Telepon aku jika kalian butuh sesuatu!” seru Daniella dari kejauhan yang segera dibalas oleh Mia dengan lambaian tangan.
Setibanya di garasi, Mia hanya berdiri di samping jeep peninggalan Matteo dengan wajah cemberut. Dia tak berbicara atau melakukan apapun, bahkan setelah Adriano membukakan pintu untuknya. Karena Mia hanya berdiri mematung dan tak segera masuk, Adriano pun memutuskan untuk menggendong tubuh sang istri kemudian mendudukkannya. Dia juga memasangkan sabuk pengaman untuk wanita berambut cokelat tersebut. "Jangan melawanku, Sayang. Karena aku bisa mengeluarkan taring lalu menerkammu sewaktu-waktu. Kau tidak akan menyukainya," ucap Adriano dengan wajah yang berada tepat di hadapan Mia.
"Aku sangat takut," sahut wanita itu dengan bernada mencibir.
Namun, Adriano tak menanggapi sikap Mia. Dia tidak marah ataupun mengatakan apapun lagi. Cukup dengan menatap lekat wanita di hadapannya, telah membuat Mia seketika terdiam dan menjadi salah tingkah. Dari sana Adriano tahu bahwa Mia masih terpengaruh oleh pesonanya yang luar biasa, karena tak lama wanita cantik tersebut segera menyembunyikan wajahnya. Adriano pun tersenyum penuh kemenangan.
Setelah selesai menggoda Mia, pria bermata biru itu kemudian berjalan memutari kendaraan. Dia lalu duduk di samping sang istri sambil menyalakan mesin mobil. Tanpa banyak bicara, Adriano melajukan jeep itu, untuk menyusul ambulans yang sudah lebih dulu meninggalkan area Casa de Luca.
Pada waktu yang bersamaan, di depan bangunan butik mewah milik Christiabel Cantona, seorang pria berjaket hitam berdiri dengan gagah. Sepasang matanya yang tajam, terus menyorot ke bagian dalam butik. Pandangannya terkunci pada wanita cantik pemilik tempat itu yang melayani para pelanggan. Wanita itu tampak sesekali tertawa sambil berbincang akrab dengan pengunjung yang kesemuanya adalah perempuan. Pria itu baru masuk, ketika para pelanggan tadi telah selesai bertransaksi dan meninggalkan butik dengan wajah ceria. “Selamat siang,” sapanya ramah.
Christiabel yang saat itu tengah berkutat dengan gaun-gaun yang akan dia pajang, segera menoleh dan membalas sapaan pria asing tadi. “Selamat siang. Apakah ada yang bisa kubantu?” tanyanya dengan jauh lebih ramah.
“Nona Cantona? Namaku Jacob,” ucap pria yang tak lain adalah Jacob yang kemarin berbincang dengan Adriano saat di Kroasia. Pria itu mengulurkan tangan pada wanita cantik yang tengah menatapnya dengan keheranan.
“Aku rasa kita tidak pernah bertemu sebelumnya,” ucap Christiabel ragu. Meskipun begitu, dia tetap membalas jabat tangan dari Jacob.
__ADS_1
“Memang. Aku adalah salah seorang teman akrab Adriano D’Angelo. Aku kemari hanya untuk menyampaikan pesan darinya,” tutur Jacob dengan senyuman penuh arti.