Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Kelahiran Baru


__ADS_3

Waktu berlalu dengan tanpa terasa. Bulan demi bulan terlewati begitu saja. Selagi Adriano memberikan latihan khusus kepada Carlo, usia kehamilan Mia pun kini telah tiba pada puncaknya.


Adriano sendiri sudah mengurangi segala kegiatan di organisasi Tigre Nero. Dia mewakilkan sepenuhnya hal itu pada Benigno. Adriano berjaga-jaga untuk persalinan Mia yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu.


Seperti siang itu, Mia yang senantiasa aktif meskipun perutnya sudah semakin membuncit, tengah sibuk menyiapkan hidangan makan siang bersama beberapa orang pelayan. Miabella juga terlihat membantu dengan ceria. Saat semua hidangan di atas meja makan sudah siap dan tertata rapi, Mia memutuskan untuk memanggil suaminya yang tengah melatih Carlo di halaman belakang.


“Aku akan menggandengmu, Ibu,” ucap Miabella seraya meraih tangan Mia.


“Terima kasih, Sayang,” balas Mia dengan wajah ceria. Wanita itu membungkuk dan mencium kening putri kesayangannya, lalu berjalan pelan sembari memegangi pinggang. Memang beberapa hari terakhir ini, Mia merasakan pegal-pegal di punggung bagian bawah.


Sesampainya di halaman belakang, tampak Carlo tengah serius berlatih menembak. Papan sasaran berbentuk lingkaran, terpasang jauh hingga tembok pembatas mansion. Sementara Adriano berdiri di sisi pemuda itu sambil sesekali memberikan arahan.


Carlo terlihat tenang. Sebelah matanya tertutup, sedangkan mata lainnya fokus pada sasaran. Satu jari pemuda tujuh belas tahun tersebut bergerak menarik pelatuk dan menembakkan peluru ke papan sasaran.


Setelah itu, Adriano segera meraih teropong dan mengamati papan sasaran yang berada cukup jauh di depannya. Pria rupawan itu pun tersenyum bangga. “Pelurumu mengenai sasaran, Carlo. Tepat berada di tengah-tengah,” ucapnya bangga.


Adriano kemudian meletakkan teropong tadi di bangku taman dan beralih memperhatikan Carlo dengan lekat. “Kurasa kau sudah sangat siap,” ucapnya lagi sambil menepuk-nepuk pundak remaja tampan itu.


“Siap untuk apa, Tuan?” tanya Carlo keheranan.


"Minggu depan Miabella mulai bersekolah. Aku akan memberi tugas padamu untuk menjaga putriku selama dia beraktivitas di luar rumah. Apa kau sanggup, Carlo?” tanya Adriano.


“Maksud Anda, aku akan menjadi bodyguard nona Miabella?” seru Carlo antusias.


“Ya,” jawab Adriano mengangguk sambil memamerkan senyuman lebar.


“Aku tidak akan mengecewakan Anda, Tuan! Aku akan menjaga nona Miabella sekuat tenaga!” sahut Carlo tanpa ragu.


“Bagus. Aku percaya padamu.” Adriano menepuk pundak Carlo sekali lagi, kemudian mengalihkan perhatian pada Mia yang berjarak semakin dekat ke arahnya.


“Ada apa, Sayang?” Adriano menghampiri sang istri, lalu mengecup keningnya lembut. Setelah itu, dia beralih pada Miabella yang seakan tak mau jauh dari sang ibu.

__ADS_1


“Makan siang sudah siap,” jawab Mia. Dengan lembut, dia melepaskan genggaman tangan putrinya, lalu mendekat pada sang suami. “Ayo, Carlo. Kau juga harus ikut makan siang bersama kami,” ajak Mia ketika dia merentangkan tangan, lalu memeluk tubuh atletis Adriano erat-erat. Wanita itu menjadi jauh lebih manja pada sang suami sejak usia kehamilannya semakin tua.


“Kau dengar apa kata sang ketua, Carlo?” kelakar Adriano seraya membalas pelukan istrinya.


“Ibu dan Daddy Zio, kalian jahat! Kenapa aku tidak ikut dipeluk!” protes Miabella sambil cemberut.


“Astaga, Sayangku. Maafkan ibumu.” Adriano terbahak lalu merengkuh tubuh mungil itu lalu dia gendong. Pria bermata biru tadi juga mencium pipi putri sambungnya berkali-kali.


“Kau sudah bersamaku sejak tadi, Sayang. Sekarang giliran Ibu bersama daddy Zio,” goda Mia, yang membuat semua orang tertawa.


Carlo memperhatikan kehangatan keluarga kecil yang kini sudah beberapa langkah di depannya itu. Kehangatan yang sudah lama tidak dia rasakan, semenjak kepergian ibunya sebelas tahun yang lalu. Sementara ayahnya meninggal lebih dulu, di saat dirinya masih bayi.


“Carlo, ayo!” seru Miabella tiba-tiba. Gadis kecil dalam gendongan Adriano itu memandang ke arahnya. Tangan kecil Miabella melambai-lambai kepada Carlo.


Pemuda beramabut gelap itu menjadi heran, karena semenjak bertemu dengan balita cantik tadi, Miabella selalu menjaga jarak dan terkesan tak ingin dekat dengannya.


“Aku datang,” sahut Carlo dengan setengah berlari menyusul pasangan suami istri yng sudah berada agak jauh. Namun, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba Mia merintih sambil membungkuk dan memegangi perut. “Nyonya, Anda kenapa?” tanya Carlo panik.


Adriano jauh lebih panik lagi. Dia buru-buru menyerahkan Miabella ke dalam gendongan Carlo dan merengkuh tubuh Mia. “Kau kenapa, Sayang? Apakah kau merasakan bayinya akan keluar?” tanya Adriano was-was.


“Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang,” putus Adriano. Dia membopong tubuh Mia, kemudian membawanya ke bagian depan mansion. Di sana dia menyuruh sopir untuk menyiapkan mobil.


“Aku ikut, Daddy Zio.” Bibir Miabella melengkung ketika dia menyaksikan ayah sambungnya mendudukkan sang ibu ke dalam kendaraan.


“Kau tunggulah di sini sebentar bersama Carlo. Aku harus menemani ibumu untuk menyambut adik bayi yang akan segera lahir,” bujuk Adriano. Dia mencium kening Miabella dengan tergesa-gesa, lalu bergegas duduk di samping Mia yang terlihat kesakitan.


“Aku juga ingin menyambutnya,” ucap Miabella lirih, saat mobil yang ditumpangi oleh kedua orang tuanya melesat meninggalkan mansion.


“Jangan khawatir, Nona. Kita bisa menyambut adik barumu di sini. Sambil menunggu, mungkin kita bisa sambil bermain. Apa kau suka main petak umpet?” ajak Carlo yang berusaha menghibur Miabella.


Balita cantik itu pun mengangguk. Sikap Carlo yang ceria dan menyenangkan membuat dia melupakan sejenak tentang kedua orang tuanya yang telah berangkat ke rumah sakit.

__ADS_1


Sementara itu di rumah sakit, para petugas medis sudah siap dengan brankar, ketika Adriano baru saja menurunkan tubuh Mia. Beberapa saat yang lalu, ketika masih dalam perjalanan menuju ke sana, Adriano sudah menelepon dokter kandungan langganan Mia. Semestinya dokter tersebut sudah siap berada di rumah sakit saat ini.


Para petugas medis membawa Mia ke ruang persalinan VIP sesuai permintaan Adriano sebelumnya. Mereka lalu memindahkan wanita itu dengan hati-hati ke atas ranjang bersalin. Tak terkira betapa paniknya pria rupawan itu ketika bagian bawah dress istrinya sudah basah oleh cairan bening bercampur darah. Selama ini, Adriano terkenal dengan karakternya yang kalem, sorot tajam, dan tak pernah takut akan apapun juga.


Akan tetapi, semuanya berbeda sekarang. Detik itu, Adriano merasakan ketakutan yang teramat sangat. Apalagi saat Mia mulai memekik kencang sambil mencengkeram pinggiran ranjang. “Di mana dokter Silvestro? Kenapa dia belum datang juga!” Adriano terlihat kalut. Dia hampir kehilangan kontrol karena pria itu berbicara sambil menarik salah satu perawat dan mencengkeram pundaknya.


“Do-dokter Silvestro sedang dalam perjalanan kemari, Tuan. Bersabarlah,” jawab petugas medis itu sedikit ketakutan kala melihat raut Adriano yang berubah bengis.


“Adriano, kemarilah! Sakit sekali rasanya. Adriano, aku takut,” racau Mia. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dengan wajah memerah.


Adriano melepaskan cengkeramannya, lalu bergegas mendekat pada sang istri. Digenggamnya jemari Mia yang berkeringat lalu dia kecup berkali-kali. Tak dipedulikan para perawat tadi yang sibuk memasang peralatan di lengan kanan Mia. Mereka lalu mengukur tekanan darah wanita itu dan mulai mencatat. Para petugas medis tadi juga melepas dress istrinya. Kini tubuh polos Mia hanya ditutupi oleh selimut tipis berwarna putih. Sementara itu perut buncit Mia juga dipasangi alat-alat kecil mirip kabel. Mereka terhubung pada sebuah monitor yang diletakkan di samping ranjang.


“Ada apa ini? Apa istriku baik-baik saja?” tanya Adriano was-was. Dia berdiri sedikit menjauh meskipun tangannya tetap tertaut pada jemari Mia.


“Ini prosedur biasa untuk mengetahui kondisi ibu dan janinnya, Tuan D’Angelo,” jelas seseorang yang tak lain adalah dokter kandungan. Dia baru saja tiba di ruangan itu. Sang dokter kemudian mengangguk penuh wibawa dan mulai merenggangkan kaki Mia. “Astaga. Kondisi mulut rahim sudah benar-benar terbuka. Sejak kapan istri Anda mengalami kontraksi pertama, Tuan?” tanyanya pada Adriano.


“A-aku tidak tahu. Tiba-tiba saja istriku kesakitan. Jadi, aku langsung membawanya kemari,” jawab Adriano. Sesekali dia melirik kepada Mia yang terdengar mengerang.


“Wow, rupanya bayi Anda sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ayahnya.” Dokter Silvestro tergelak. “Lihatlah, kepala bayinya sudah terlihat,” tunjuk pria paruh baya itu enteng. Dia sudah terbiasa melihat kondisi persalinan yang seperti itu.


“Nyonya, berusahalah untuk mendengar kata-kata dariku dengan baik. Anda harus mengatur napas dan mengejan sesuai dengan yang kuperintahkan. Anda mengerti?” tanyanya pada Mia yang sibuk menggeliat menahan sakit.


“Iya, aku mengerti. Ya Tuhan, ini jauh lebih sakit dibandingkan saat aku melahirkan Miabella,” keluh Mia.


“Bertahanlah, Sayangku. Aku akan selalu berada di sisimu,” bisik Adriano untuk menghibur sang istri. Sesuai janjinya, dia terus menemani Mia selama persalinan.


“Sekarang, Nyonya!” Dokter Silvestro memberi aba-aba kepada Mia untuk mengejan. Dalam sekali tarikan napas, bayi mungil itu berhasil keluar dari tempat ternyamannya selama sembialn bulan terakhir.


Bayi itu menangis kencang ketika dokter Silvestro memegang, lalu meletakkannya di dada Mia tanpa dibersihkan terlebih dulu. Semua itu dilakukan untuk membuat kontak fisik pertama kali antara bayi dengan ibunya. Selain itu, bayi juga dirangsang untuk proses inisiasi menyusui dini, di mana bayi akan berjuang untuk mencari put•ing ibunya.


“Selamat datang ke dunia, Malaikat Kecil,” ucap dokter Silvestro. “Selamat Tuan dan Nyonya D’Angelo, bayi perempuan Anda sangatlah cantik,” pujinya penuh bangga.

__ADS_1


Tak terkira betapa bahagianya Adriano saat itu. Dia memperhatikan bayi mungil tadi yang terus bergerak pelan. Tanpa terasa, air mata menetes begitu saja di sudut bibirnya. Namun, dengan segera dia hapus dan gantikan dengan sebuah senyuman.


Perasaan yang sama pun dirasakan oleh Juan Pablo. Untuk pertama kalinya pria itu tersenyum lebar, ketika memperhatikan Mattea. Dia tengah menggendong seorang bayi yang baru dilahirkan oleh Gianna beberapa jam lalu. "Terima kasih, Sayang. Kalian berdua, dan bayi mungil ini adalah pelengkap hidupku," ucap Mattea lirih.


__ADS_2