Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Pasangan Unik


__ADS_3

Juan Pablo menatap Coco dengan cukup tajam. Sorot matanya terlihat tidak bersahabat, tapi memang seperti itulah ciri khas dari pria keturunan Meksiko-Spanyol tersebut. "Apa kabar?" sapanya seraya mengulurkan tangan dan mengajak Coco bersalaman. Sementara Coco saat itu masih terpaku menatap pria yang sudah menyodorkan tangan padanya. Coco seperti tidak menyadarinya, membuat Adriano merasa perlu melakukan sesuatu. Dia mencubit paha Coco dengan diam-diam. Seketika pria bermata cokelat tersebut tersadar dan segera menyambut uluran tangan Juan Pablo. Mereka pun bersalaman. Namun, Coco tidak mengatakan apapun. Dia hanya menyunggingkan sebuah senyuman kecil. Dirinya masih merasa terkejut.


Perhatian Juan Pablo lalu kembali kepada Adriano. "Aku kemari untuk menyambut sekaligus menjemput nona Alegra. Dia mengatakan jika Anda dan keluarga akan tinggal di London terlebih dahulu," ucap pria itu tanpa ekspresi sama sekali.


"Ya. Aku ingin mengajak istri dan putriku untuk berjalan-jalan sebentar di London, setelah itu barulah berangkat ke Birmingham," jelas Adriano seraya melirik Mia yang tengah menggendong Miabella. Gadis kecil itu selalu menyembunyikan wajahnya saat bertemu dengan orang asing yang tidak dia kehendaki. Mia membalas lirikan sang suami, kemudian tersenyum lembut, membuat Juan Pablo menoleh dan memperhatikannya sesaat.


Tatapan pria keturunan latin tersebut dapat ditangkap baik oleh Bianca. Wanita muda itu pun tersenyum samar. "Bisakah kita berangkat sekarang, Juan? Kakiku sudah pegal berada di sini terus," Bianca yang selama dalam perjalanan tak mengeluarkan sepatah kata pun, akhirnya bersuara juga.


Juan Pablo yang masih memperhatikan Mia, segera mengalihkan pandangan kepada wanita muda dengan penampilan dan sikapnya yang elegant. Pria itu pun mengangguk pelan seraya kembali mengarahkan tatapan kepada Adriano. "Don Vargas sudah menyiapkan satu unit rumah yang sengaja dia sewa untuk Anda dan keluarga tempati selama di Birmingham. Seluruh biaya sudah ditanggung olehnya," terang Juan Pablo, masih tetap tanpa ekspresi. "Kami menuggu Anda di sana dengan segera, untuk mematangkan rencana yang sudah disusun sebelumnya," lanjut pria itu lagi. Dia lalu menoleh kepada Bianca. "Mari nona Alegra. Permisi semuanya," Juan Pablo mengangguk pelan lalu berbalik. Dia melangkah gagah ditemani dua orang pengawal di sisi kiri dan kanan.


Sementara Bianca segera maju sambil menggeret kopernya. "Aku duluan, Adriano," pamitnya. Tak lupa dia mencium pipi sebelah kanan pria bermata biru itu, membuat Mia segera memalingkan wajah.


"Hati-hati, Bianca. Aku akan segera menyusul," balas Adriano menanggapi.


Bianca tersenyum. Sebelum membalikan badan dan menyusul Juan Pablo, dia sempat melambaikan tangan kepada Adriano. Ya, hanya terhadap Adriano wanita muda itu bersikap ramah. Setelah itu, Bianca melangkah anggun bak seorang peragawati, dalam balutan pakaian cantik nan mahal dilengkapi high heels bermerk. Kepergiannya diiringi tatapan aneh Mia dan Coco.


"Rekan-rekan bisnismu sangat aneh, Adriano," celetuk Coco memecah kesunyian di antara mereka bertiga.

__ADS_1


"Aku tidak menyukai wanita itu," timpal Mia yang masih menggendong Miabella.


Adriano menggumam pelan. "Sebenarnya Bianca adalah orang yang baik dan nyaman untuk diajak bicara," Adriano menanggapi ucapan Mia seraya meraih tubuh Miabella. "Kemarilah, Sayang. Kasihan ibumu," ucapnya lagi. Dia memindahkan Miabella ke dalam pelukannya. Adriano tersenyum kalem seraya melirik Mia. Dia tahu jika wanita itu pasti akan langsung cemburu karena ucapannya. Adriano masih saja senang menggoda sang istri. Perkiraannya memang tidak salah. Mia tak menanggapi apapun yang dirinya katakan tentang Bianca.


"Jadi, itukah Juan Pablo yang pernah Arsen Moras ceritakan padaku?" gumam Coco seperti pada dirinya. Arsen ternyata tidak mengada-ada, saat dia mengatakan bahwa Juan Pablo seperti hantu dan sangat misterius. Pria tadi memang terlihat lebih dari sekadar misterius. Sikapnya jauh lebih dingin jika dibandingkan dengan mendiang sahabatnya Matteo.


"Aku tidak menyukai pria itu," ujar Adriano seraya berlalu menuju mobil jemputan yang telah siap mengantarkan mereka ke hotel. Dia sudah membooking dua kamar, beberapa hari sebelum keberangkatan mereka ke Inggris.


"Juan Pablo mengingatkanku pada seseorang," ucap Coco lagi masih terlihat penasaran terhadap pria latin itu. Dia berkata dengan setengah berbisik kepada Mia. Coco masih ingat, ketika Francesca menceritakan tentang pria yang disebutnya begitu mirip dengan Matteo. Kini, rasa penasarannya terjawab sudah setelah dirinya bertemu secara langsung dengan orang dimkasud oleh sang kekasih.


"Itulah yang membuat Adriano tidak menyukainya," sahut Mia seraya berlalu menyusul sang suami menuju mobil. Sedangkan Coco hanya tersenyum sambil menggaruk kepala. "Pasangan yang aneh," gumamnya heran.


"Bagaimana perjalananmu?" tanya Juan Pablo berbasa-basi, meskipun masih dengan sikap dan gaya bicara yang tidak pernah berubah sejak tadi.


"Membosankan," sahut Bianca seraya mengempaskan napas kesal. Sesaat kemudian, dia menoleh kepada Juan Pablo yang duduk di sebelahnya. Wanita cantik berwajah eksotis itu tersenyum kecil. "Kenapa kau menatap Mia dengan cara seperti itu, Juan?" godanya penuh curiga.


Pertanyaan Bianca terdengar sangat aneh di telinga Juan Pablo. Pria itu kemudian menoleh, dan memperlihatkan sepasang mata abu-abu yang tajam terhadap wanita cantik berpenampilan anggun itu. Akan tetapi, seberapapun cantiknya seorang Binaca, itu tak membuat Juan Pablo tertarik. "Seperti apa?" dia balik bertanya. Raut wajah pria itu teramat dingin. Nada bicaranya juga biasa saja, seakan tanpa emosi sama sekali. Entah bagaimana cara Juan Pablo mengekspresikan segala sesuatu yang dirasakannya, dengan sikap dia yang selalu seperti itu.

__ADS_1


"Kau pikir aku tidak melihatnya, Juan?" Bianca tertawa dengan agak meledek. "Jika kau tertarik dengan janda beranak satu itu, maka kusarankan agar kau mundur. Di balik wajah cantik dan sikapnya yang lembut, ternyata dia sangat berbahaya," ujar Bianca dengan puas.


"Aku menyukai tantangan yang berbahaya dan menguji adrenalin," balas Juan Pablo dengan tatapan yang terus tertuju lurus ke depan.


"Ah, sudahlah. Jadi, akan ke mana dulu kita sekarang?" tanya Bianca mengalihkan topik pembicaraan.


"Don Vargas memerintahkanku untuk menemui Timothy Dixon," jawab Juan Pablo.


"Siapa dia?" tanya Bianca lagi seraya menautkan alis. Wanita muda itu setengah menghadap kepada pria di sebelahnya.


"Dia merupakan arsitek yang akan mengerjakan proyek kita kali ini. Don Vargas mengenal orang itu atas rekomendasi seorang rekan bisnisnya yang lain," singkat, padat, dan jelas, begitulah cara bicara Juan Pablo. Dia seakan terlalu malas untuk berbicara terlalu banyak.


"Oh. Aku pikir kalian masih memakai jasa orang lama. Siapa? Pria Kroasia yang dulu sempat kau kenalkan padaku," Bianca membetulkan posisi duduknya.


"Tidak. Kami sudah lama memutuskan hubungan kerja sama. Lagi pula, Don Vargas ingin sentuhan baru dalam proyek kali ini. Karena itulah kami merekrut orang-orang baru," jelas Juan Pablo lagi datar.


"Aku ikut saja. Sejujurnya, aku tidak mengerti apa tujuan Don Vargas mengajakku dalam proyek kerja samanya dengan Adriano. Kau tahu sendiri jika aku tidak ikut serta dalam urusan kalian," ujar Bianca. Dia mengeluarkan bedak dari dalam tasnya dan merapikan riasan melalui cermin kecil dalam tempat bedak tersebut.

__ADS_1


Juan Pablo sempat meliriknya untuk sejenak. Sesaat kemudian, pria itu kembali menatap lurus ke depan. Sesekali, dia melihat ke luar jendela. Tak lama lagi, mereka akan tiba di tempat tujuan. Perjalanan panjang yang tidak terasa lama. "Kita tahu sendiri jika Don Vargas selalu memiliki pemikiran yang sukar ditebak. Ikuti saja, nanti juga kau pasti akan mengerti," jelas pria itu tanpa menoleh.


Sementara di tempat lain, Adriano dan yang lainnya sudah tiba di hotel. Dia memesan dua kamar, yang salah satunya diperuntukan bagi Coco. Pria berambut ikal tersebut langsung mengempaskan tubuh tegapnya ke atas kasur empuk berukuran besar. Tatapannya menerawang pada langit-langit kamar tersebut. Itu adalah sebuah ruangan yang sangat mewah baginya. Setidaknya saat ini dia mulai menyadari bahwa tidak ada ruginya mengenal seorang Adriano D'Angelo.


__ADS_2