Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
The Orphanage


__ADS_3

Carlo terpaku memperhatikan ukiran tulisan yang terdapat pada gagang pisau lipat tadi. Dia terus mengamati dengan saksama. Ingatannya yang sangat tajam, yakin betul bahwa tulisan itu sama persis seperti yang dia lihat pada gagang belati dari kelompok organisasi Fedor. "Krasnyy Volk," gumam Carlo pelan, tapi masih terdengar jelas di telinga Miabella.


"Carlo?" Miabella yang mendengar pria tadi bergumam, terus memperhatikannya. "Apa ada masalah?" tanya gadis itu lagi.


Akan tetapi, Carlo seakan tak dapat menangkap suara Miabella di telinganya. Pria tampan berambut gelap tersebut masih saja memfokuskan diri pada pisau lipat yang berada dalam genggaman. Barulah ketika Miabella menyentuh punggung tangan dengan hiasan tato kecil bergambar sebuah tulisan dalam bahasa Italia, Carlo menjadi tersentak. Dia seketika sadar dari lamunannya. Pria tampan bermata biru tersebut menoleh kepada Miabella, kemudian mengalihkan perhatian ke arah Miranda. "Apa kau yakin jika ini merupakan fotoku?" tanyanya ragu.


"Tentu saja, Carlo. Aku masih ingat betul dengan wajah bayi itu saat pertama kali seseorang mengantarkannya kemari," jawab Miranda dengan yakin.


"Siapa yang telah mengantar bayi itu? Apa kau masih mengingatnya?" tanya Carlo lagi setengah mendesak Miranda. Dia membungkuk sambil memegangi kedua lengan wanita tua tadi, hingga Miranda tampak meringis kecil. Walaupun saat itu cengkeraman tangan Carlo sebenarnya tidak sekuat seperti saat dia menghadapi musuh, tetapi bagi seorang wanita tetap saja itu sangat menyakitkan.


"Carlo, hentikan!" Dengan segera, Miabella menarik sang pengawal agar melepaskan Miranda dan sedikit menjauh darinya. Miabella tetap menahan pria tersebut, hingga dia menjadi jauh lebih tenang. Carlo pun seperti bukan dirinya saat itu. Sementara Miranda juga sangat terkejut atas sikap salah satu dari anak yang berada dalam asuhannya dulu. Wanita tua itu memegangi dada, serta mencoba untuk menenangkan diri.


"Maafkan aku, Miranda," ucap Carlo kemudian dengan raut penuh sesal.


"Mengapa kau terlihat sangat gelisah, Nak?" tanya Miranda tanpa menanggapi permintaan maaf dari Carlo.


"Aku ... aku hanya ...." Carlo tak tahu harus berkata apa. Dia memang tampak gusar saat itu. Ketenangan yang menjadi ciri khasnya, tak terlihat sama sekali. "Katakan seperti apa orang yang mengantarkanku kemari, Miranda," pinta Carlo kemudian setelah beberapa saat terdiam untuk menetralkan segala perasaan yang mulai mengganggunya.


Miranda tak segera menjawab. Wanita tua itu mengarahkan tatapan ke luar jendela. Di taman yang juga telah direnovasi, tampak anak-anak dengan rentang usia sekitar lima sampai dua belas tahun. Semuamya sedang asyik bermain. Mereka begitu ceria meskipun harus menanggung kenyataan, bahwa hidup yang dijalani tak senormal anak-anak pada umumnya. Seperti itu juga masa kecil seorang Carlo, yang dia habiskan di dalam rumah singgah sampai Adriano membawanya berkelana ke Monaco.

__ADS_1


"Malam itu, seorang wanita mengetuk pintu rumah singgah ini. Dia menggendong bayi tampan berusia sepuluh bulan yang tengah tertidur lelap. Wanita itu sangat cantik. Dia berambut gelap, sama seperti dirimu. Tanpa bersedia menyebutkan identitasnya, dia menyerahkanmu padaku," tutur Miranda mengawali cerita.


"Kau yang tengah tertidur nyenyak, kemudian terbangun dan menangis. Wanita itu sempat menyusuimu hingga kembali terlelap. Barulah dia memberikanmu padaku," tutur Miranda lagi.


"Jika memang ibuku masih hidup, lalu kenapa kau merahasiakannya? Kenapa kau mengatakan bahwa diriku sebatang kara?" protes Carlo dengan nada bicara penuh penekanan. Terlihat jelas bahwa pria itu tengah bergelut dengan amarah dalam dirinya.


"Ibumu yang memintaku untuk melakukan itu. Dia mengatakan agar dirinya dianggap mati, sehingga kau tak berusaha untuk mencari dan menemukannya. Dia tak berharap kau menemui untuk bertanya apapun," sahut Miranda menjelaskan.


"Aku hanya melaksanakan amanat, karena diriku pun tak tahu alasan ibumu bersikap demikian." Miranda menatap lekat Carlo yang terlihat sangat serius hingga otot-otot wajahnya menegang.


"Mengapa ada seorang ibu yang tega membiarkan anaknya sendirian?" tanya Miabella seperti pada dirinya. Adalah hal yang sama seperti yang dia alami, ketika Mia meninggalkan dirinya bersama Damiano.


"Sebelum wanita itu pergi, dia sempat menyebutkan namamu. Carlo. Itulah nama yang terlontar darinya. Dia juga memberikan ...." Miranda tertegun sejenak. "Oh, astaga!" keluhnya sesaat kemudian. Dia memijit kening yang mulai berkerut karena usia. "Ternyata ingatanku tak setajam seperti yang kau katakan, Carlo. Aku lupa bahwa ibumu memberikan bungkusan itu dan memintaku agar diriku menyimpannya dengan baik."


"Pada awalnya aku yang menyimpan benda tersebut, karena ibumu berpesan agar menyerahkanya padamu saat dirimu berusia remaja. Ketika kau pindah kamar, bungkusan tadi kuletakkan di bawah kasu. Aku benar-benar lupa. Maafkan aku, Carlo." Miranda menggeleng tak mengerti, karena dirinya telah merasa lalai dalam mengemban sebuah amanat.


Carlo yang sudah jauh lebih tenang, lalu kembali mendekat kepada Miranda. Dia menurunkan tubuh dengan posisi setengah berjongkok. Digenggamnya tangan berbalut kulit yang sudah keriput itu, lalu dicium penuh perasaan. "Aku yang seharusnya meminta maaf padamu," ucap Carlo pelan. "Kau adalah ibu terbaik bagi kami semua yang ada di tempat ini. Kesabaran serta ketelatenanmu, seharusnya mendapat penghargaan lebih dari apa yang kau dapatkan. Aku merasa beruntung karena tuan Adriano begitu baik kepada kita." Carlo kembali mengecup kedua tangan Miranda yang masih dia genggam.


Seusai perbincangan yang penuh dengan pergolakan batin bagi Carlo, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Terlebih karena Miranda harus minum obat dan beristirahat. Wanita tua itu benar-benar mandiri. Dia tak ingin dilayani oleh siapa pun selama dirinya masih sanggup untuk bergerak.

__ADS_1


Sementara Carlo bercerita banyak kepada Miabella. Dia menunjukkan sebagian besar dari masa kecil yang dilewatinya di rumah singgah tersebut. Carlo membawa Miabella berkeliling, meskipun seluruh bagian dari tempat itu sudah berubah total. Mereka bahkan sempat tersesat karena salah memilih jalan.


"Dasar payah!" cibir Miabella.


"Tempat ini sepenuhnya berubah, Nona. Aku baru datang lagi sekarang," kilah pria dengan Jaket biker berbahan jeans yang baru dia lepas, kemudian dirinya tenteng menggunakan tangan kiri.


"Ayo," ajak Carlo seraya menarik tangan Miabella.


"Ke mana?" tanya gadis itu sambil mengikuti langkah tegap Carlo yang cukup cepat.


"Aku punya tempat rahasia. Entah itu masih ada atau tidak," jawab Carlo tanpa melepaskan genggaman tangannya. Dia terus menuntun Miabella menuju pintu belakang bangunan megah yang Carlo rasa menjadi jauh lebih luas dibandingkan puluhan tahun yang lalu.


Dua sejoli itu menyusuri jalan setapak dengan rumput-rumput liar pada pinggirannya. Miabella tak tahu ke mana Carlo akan membawa dia, terlebih ketika mereka harus menerobos rumput-rumput yang cukup tinggi. Dengan cekatan, Carlo menyibakkannya, memberi jalan bagi Miabella.


"Kita akan ke mana?" tanya gadis itu. Namun, pertanyaannya segera terjawab, saat mereka tiba di dekat sebuah danau kecil dengan jembatan kayu yang menjorok ke tengah sepanjang beberapa meter. Miabella pun terdiam. Gadis cantik tersebut mengedarkan pandangan pada sekeliling tempat tersebut. Dia baru tahu bahwa di pinggiran kota besar seperti Milan, masih ada lokasi dengan nuansa alami seperti itu.


"Ini memang bukan danau alami. Setahuku, mereka sengaja membuatnya. Karena itu ukuran danau ini tidak terlalu luas," terang Carlo. "Dulu, aku dan dua orang teman sering menghabiskan sore di sini selama musim panas. Kami berenang. Entah Miranda mengetahuinya atau tidak," kenang Carlo dengan tatapan menerawang. Seutas senyuman terlukis di sudut bibir pria tersebut.


Namun, senyuman Carlo seketika memudar, ketika terdengar sapaan halus seorang gadis kepadanya. "Carlo, kaukah itu?"

__ADS_1


__ADS_2