Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Carlo


__ADS_3

“Nona, tenanglah. Kau tahu sendiri jika aku tak boleh pergi ke manapun. Aku harus tetap berada di sini. Aku ... ah!” Carlo mengeluh pelan. Dia pun pada akhirnya menjadi ikut kalut. Perasaan pria tampan bertato tersebut menjadi begitu tak karuan, ketika mendengar Miabella menangis. Dia tak terbiasa berada jauh dari gadis cantik itu. Pikirannya menjadi sangat kacau, setelah mengetahui bahwa Miabella teramat membutuhkannya.


“Tunggu, Nona. Jangan khawatir. Tunggulah sebentar." Carlo menutup sambungan teleponnya begitu saja. Dia lalu beralih jadi menghubungi Adriano.


Hanya dengan dua kali nada sambung, hingga pria yang teramat dia hormati itu menjawab panggilan darinya.


“Pronto." Suara berat Adriano terdengar begitu berwibawa.


“Tuan, aku hendak meminta izin,” ucap Carlo tanpa banyak basa-basi.


“Ada apa, Carlo? Apakah ada sesuatu yang penting?” tanya Adriano sedikit was-was.


“Izinkan aku untuk menemui nona Miabella. Kumohon sebentar saja, tuan,” pinta Carlo.


“Kau sudah mengetahui bahwa itu tidak mungkin,” tegas Adriano dengan nada datar.


“Sebentar saja, tuan. Kumohon. Setelah itu, aku akan langsung kembali ke Monaco. Asalkan anda mengizinkanku untuk bertemu dengan nona Miabella,” desak Carlo tak putus asa. "Dia ... dia membutuhkanku," ucap pria berambut gelap itu lagi dengan agak ragu. Carlo mungkin merasa tak sewajarnya berkata demikian kepada Adriano.


“Lalu, apakah kau akan meninggalkan tugas yang sudah kuberikan padamu untuk menjaga keamanan mansion?” Adriano berkata dengan nada tak suka.


“Aku akan membicarakan ini dengan Louis dan juga Frans. Biar mereka yang menggantikan tugasku sebentar. Jika nanti ada kesalahan yang keduanya lakukan selama menjalankan tugas, maka aku yang akan menanggung semua konsekuensinya. Aku siap menerima hukuman apapun dari anda, tuan,” ujar Carlo tanpa ragu.


“Hukuman apapun?” ulang Adriano.


“Apapun itu, tuan. Aku siap,” jawab Carlo mantap.

__ADS_1


Untuk sesaat, Adriano menyunggingkan senyum penuh arti sebelum akhirnya memberikan keputusan pada Carlo. “Baik. Datanglah kemari dengan syarat kau harus tiba kembali di mansion sebelum tengah malam!” tegasnya.


“Baik, tuan. Aku sanggup!” sahut Carlo penuh semangat. Dia bahkan tak berpikir dua kali. Segera diakhirinya sambungan telepon itu, kemudian bergegas mengambil motor besar kesayangan beserta segala perlengkapannya.


Tak sampai setengah jam, Carlo sudah siap. Dia menggeber motor besarnya melewati jalan tol antar kota yang langsung menuju perbatasan Italia, dengan kecepatan tinggi. Sekitar empat jam perjalanan saja, Carlo telah tiba di depan gerbang Casa de Luca.


Pengawal yang bertugas menjaga gerbang, segera membukakan pintu untuk dirinya. Tak ingin membuang waktu, dia kembali melajukan motornya hingga tiba di bangunan utama.


Carlo lalu menghentikan laju motornya, saat melihat Miabella. Gadis itu baru kembali dari perkebunan. Entah apa yang dia lakukan di sana selama berjam-jam.


“Nona!” serunya sambil berlari mendekat. Miabella sendiri begitu terkejut dengan kedatangan Carlo yang sama sekali tak dia duga.


Tanpa memedulikan sekitar, Miabella ikut berlari menghambur ke arah Carlo. Dia memeluk pria itu erat-erat sembari menumpahkan segala kesedihan yang telah ditahan selama berhari-hari.


“Kau datang juga,” ucap gadis itu lirih. Air matanya menetes membasahi jaket biker yang Carlo kenakan.


“Astaga! Benarkah itu? Daddy zio sungguh keterlaluan!” sungut Miabella sambil mengurai pelukannya.


“Sst, jangan bicara begitu, Nona. Aku sangat berterima kasih karena tuan sudah mengizinkan untuk datang kemari dan bertemu denganmu,” hibur Carlo mencoba menenangkan Miabella. Dia hanya tersenyum kalem, saat Miabella mendengus kesal. Sebisa mungkin Carlo menghibur gadis itu dengan berbagai cara.


Entah apa yang Carlo katakan kepada Miabella, karena tak lama kemudian gadis bermata abu-abu itu terlihat mulai ceria. Miabella tersenyum lebar dan tampak sangat antusias mendengarkan apa yang Carlo katakan padanya. Segala kebersamaan manis itu terus berlangsung sambil berdiri. Saking senangnya, Miabella bahkan sampai lupa mengajak Carlo untuk masuk.


Namun, tanpa mereka sadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang mengawasi mereka dengan mata elangnya. Adalah Adriano yang memperhatikan interaksi mereka dari balkon lantai dua.


Sambil menyulut dan mengisap rokok dalam-dalam, Adriano memperhatikan Carlo yang bersikap begitu dewasa dan lembut terhadap Miabella. Gadis yang tadinya menangis sesenggukan, kini telah kembali ceria. Carlo bahkan berani mengusap pipi Miabella, kemudian membelai pucuk kepala putri sambungnya dengan penuh perasaan, membuat Adriano menarik napas panjang berkali-kali.

__ADS_1


“Apakah kau memikirkan apa yang kupikirkan, Amico?” tanya Coco yang tiba-tiba berdiri di belakang Adriano.


“Aku tidak memikirkan apapun,” sahut Adriano dengan nada datar, sambil terus mengisap rokoknya.


“Hm, begitukah?” Coco mengulum senyumnya. Dia ikut berdiri di samping sang ketua Tigre Nero sambil mengawasi Carlo, yang tampak bersalaman dengan Miabella sebelum menaiki motor besarnya. “Mau ke mana lagi dia?” tanyanya penasaran.


“Carlo harus pulang ke Monaco,” jawab Adriano dengan enteng.


“Hah? Bukannya dia baru saja datang?” tanya Coco lagi.


Adriano tak menanggapi. Dia hanya tersenyum samar, kemudian berbalik meninggalkan Coco yang menatapnya dengan sorot tak percaya. "Apa kau gila, Adriano!" tegur Coco dengan tegas.


Adriano yang saat itu sudah berjalan beberapa langkah, kemudian tertegun. Dia lalu menoleh kepada Coco yang masih menatapnya dengan raut aneh. "Carlo saja tidak ada masalah. Kenapa kau harus protes?" ujar pria bermata biru itu dengan tenang. Dia bermaksud untuk melanjutkan langkah. Namun, ucapan Coco kembali membuatnya tertegun.


"Pantas saja Miabella sering bersikap seenaknya, karena kau juga seperti itu. Ternyata bukan hanya karena faktor darah Matteo," ujar Coco. Dia tak bisa membayangkan seberapa lelahnya Carlo yang harus pulang-pergi dalam waktu teramat singkat.


"Sudahlah, Ricci. Usiamu terlalu tua untuk terus merecoki orang lain. Sebaiknya kita bersiap-siap untuk acara kremasi besok." Adriano kembali mengisap rokoknya, kemudian berbalik serta melanjutkan langkah. Dia tak memedulikan lagi meskipun Coco terus memprotes sikapnya terhadap Carlo.


Sementara Miabella hanya berdiri mematung, saat Carlo sudah kembali mengendarai motor besarnya melewati gerbang pertama. Makin lama, sosok sang pengawal tiga puluh empat tahun itu semakin tak terlihat. Suara deru knalpotnya pun terdengar kian lemah dan akhirnya menghilang sama sekali.


"Kau tidak ingin masuk, Bella?" tanya Adriano yang seketika membuat gadis cantik itu tersadar. Miabella segera menoleh. Adriano sedang berjalan menghampiri, kemudian berdiri di sebelahnya.


"Tidakkah kau sangat keterlaluan, Daddy Zio?" tanya Miabella lemas. Keceriaan yang tadi sempat muncul di wajah cantiknya, kini memudar seiring kepergian Carlo dari sana.


"Kau akan tetap di sini, atau kembali ke Monaco?" Adriano tak menanggapi pertanyaan Miabella yang lebih tepat disebut sebagai sindiran halus.

__ADS_1


Miabella tak segera menjawab. Dia sudah paham ke mana arah pertanyaan sang ayah. Gadis itu sadar bahwa tak setiap yang dirinya inginkan, pasti akan dia dapatkan. Selalu ada harga mahal untuk segala sesuatu yang istimewa. Tak jarang, semua itu diperoleh dengan sebuah pengorbanan yang sangat besar.


"Aku akan tetap berada di sini untuk melaksanakan amanat kakek Damiano. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk mengurus perkebunan peninggalan para terdahulu dari keluarga de Luca. Kau tenang saja, Daddy Zio. Uban di rambutmu tak akan segera muncul karena terlalu memikirkanku."


__ADS_2