
Carlo menoleh ke belakang, lalu mengamati sekitarnya menggunakan senter kecil yang terpasang menjadi satu dengan senapan yang telah dimodifikasi. Dia mendapati lubang besar menganga di puncak tangga yang membuat dirinya menjadi terpisah dengan Benigno beserta yang lain. “Aku bisa mengatasinya dari sini!” seru Carlo pada Benigno yang berjarak cukup jauh darinya.
“Aku akan mencari cara agar bisa menuju ke arahmu!” balas Benigno sambil berkoordinasi dengan anak-anak buahnya. Carlo mengangguk kemudian kembali menoleh ke depan. Tak tampak apapun di sana, selain kegelapan pekat yang menyelimuti.
Dengan langkah waspada dan penuh perhitungan, Carlo mengarahkan senternya ke segala arah. Sesosok bayangan hitam tertangkap oleh mata biru anak asuh Adriano tersebut. Pria tampan itu menajamkan penglihatan ketika melihat bayangan tadi bergerak cepat ke arahnya. Tak ingin mengambil risiko, Carlo segera melesakkan pelurunya dan merobohkan bayangan hitam itu seketika.
Suara berdebum terdengar hingga ke indra pendengarannya. Carlo mengarahkan senter pada bayangan yang ternyata tengah memegang belati dan sudah rebah di lantai. Saat itulah, Carlo merasakan pergerakan di belakangnya, sehingga dia membalikkan badan dan kembali memuntahkan tembakan.
Dua orang terkapar pada waktu yang bersamaan. Kedua orang itu juga tengah memegang belati dengan motif dan bentuk ukiran yang sama. Merasa penasaran, Carlo berjongkok, kemudian mengambil senjata tajam itu dari tangan yang sudah tak bernyawa. Dia mengamati ukiran belati dengan bantuan pencahayaan senter. Di sisi samping pegangan belati itu, terdapat tulisan Rusia yang tak dapat dia baca.
Carlo kemudian menyimpan belati itu ke dalam saku celananya sebagai bukti. Dia lalu berdiri dan kembali melanjutkan pencarian. Diamatinya dengan saksama kondisi di sekeliling lantai tujuh itu. Di sana sama seperti lantai apartemen pada umumnya.
Keadaan di sana terdiri dari lorong panjang dan pintu-pintu sejajar yang terletak di kanan kiri. Dari belasan pintu itu, hanya ada dua yang terbuka. Carlo lebih dulu memeriksa dua titik tersebut. Namun, tak ada apapun di sana selain ruangan luas yang kosong, bahkan perabot pun tak ada sama sekali.
Carlo akhirnya memutuskan untuk keluar lagi dan mulai memeriksa pintu demi pintu. Dari sisi kiri dan juga sisi kanan. Akan tetapi, seluruh ruangan itu juga kosong. “Ke mana semua orang? Apakah ini hanya jebakan?” gumamnya pada diri sendiri.
Pria itu kemudian berbalik ke arah tangga turun. “Tak ada apapun di sini!” serunya pada Benigno yang masih berada di lantai bawah.
“Cobalah ke atap.” Benigno menunjuk ke arah langit-langit gedung yang juga telah berlubang. Jelas terlihat bahwa bandul besi raksasa itu berasal dari balik atap bangunan.
__ADS_1
“Bagaimana caranya ke sana?” pikir Carlo. Dia segera memutar otak sambil menyapu pandangan ke sekeliling, demi mencari sesuatu yang bisa dirinya gunakan sebagai alat untuk melompat.
“Pakai ini!” Benigno melemparkan sebuah tali tampar panjang dengan ujung besi runcing dan melengkung, seperti ujung besi tombak. “Kappey baru saja melompat ke lantai bawah dan mengambilkan benda itu untukku,” jelasnya.
“Terima kasih.” Carlo mengalungkan senapan bertali itu ke balik punggung, lalu memutar tali tampar tadi sebelum melemparnya kuat-kuat ke atas. Ujung tali tampar itu tersangkut di tepi lubang pada atap. Carlo menariknya kuat-kuat supaya dia bisa mengetahui apakah tali yang dia lemparkan itu cukup aman untuk dipanjat ataukah tidak.
Dirasa aman, Carlo mulai bergelantungan pada tali tampar tadi agar bisa naik ke atas. Satu tangannya menggapai tepi atap yang telah berlubang, lalu mengangkat tubuh hingga satu kaki berhasil menjejak dengan sempurna.
Carlo kemudian berdiri sambil menepuk-nepuk tangan dan celananya yang berdebu. Saat itu pula dia menyaksikan pemandangan yang benar-benar menakutkan. Miabella dan Romeo duduk pada dua kursi yang posisinya saling membelakangi. Mereka berdua diikat menggunakan tali yang sama dengan mulut tersumpal. Di sana juga terdapat lima orang yang berdiri mengelilingi mereka berdua. Mereka semua memegang senjata.
Pelan dan hati-hati, Carlo meraih senapan yang menggantung di punggung. Akan tetapi, sebelum dirinya sempat memegang senapan itu, sebuah moncong pistol yang dingin sudah menempel di belakang kepalanya. “Letakkan senapan itu kalau tak ingin kuledakkan kepalamu” ancam seseorang dengan bahasa Italia yang terdengar amat kaku.
“Katakan pada Marco de Luca, kami hanya ingin agar dia menyerahkan kekuasaan kepada kami sebagai ganti nyawa anaknya,” ujar seseorang misterius itu.
Tiba-tiba terdengar suara Romeo tertawa. Entah bagaimana caranya sampai kain yang tersumpal di mulut pemuda tersebut bisa lepas begitu saja. “Jangan bermimpi, Teman,” ledeknya tanpa takut sama sekali
“Kau!” satu orang yang berdiri di samping Romeo, langsung menodongkan senjatanya pada kepala pemuda itu. Lagi-lagi, Romeo menunjukkan kualitas dirinya sebagai putra ketua mafia. Dia tak terlihat takut sama sekali.
“Jangan sampai dia tergores sedikit pun atau Czar akan marah!” cegah seseorang di belakang Carlo. Seseorang itu tampak sedang lengah karena perhatiannya tertuju pada Romeo.
__ADS_1
Melihat ada sebuah kesempatan emas, Carlo segera memanfaatkannya. Dia buru-buru merunduk dan berbalik ke arah pria yang menodongkan senjata tadi. Saat berbalik itulah, secepat kilat Carlo memutar senapan sehingga benda itu kini sudah berada di depan perut. Dia lalu menarik pelatuknya dan berhasil melubangi tubuh pria misterius itu.
Pria tinggi besar tadi roboh ke arahnya, bersamaan dengan berondongan peluru yang tertuju kepada Carlo. Tembakan itu berasal dari lima orang yang berdiri mengitari Miabella dan Romeo. Beruntung tubuh yang ambruk ke arahnya itu bisa Carlo jadikan sebagai tameng.
Carlo mengubah posisi jasad itu menjadi miring. Satu tangan menahan tubuh tak bernyawa tersebut, sementara tangan yang lain menarik pelatuk dan menembakkan pelurunya ke arah lima orang yang berjalan semakin mendekat padanya. Tak sia-sia Carlo berlatih menembak bersama Adriano, karena terbukti dengan tak ada satu pun tembakannya yang meleset. Kelima orang tersebut ambruk satu demi satu.
“Masih ada satu lagi, Carlo!” seru Romeo. Sekarang, pemuda itu telah berhasil melepas ikatan yang melilit tubuhnya. Tak ada yang tahu kapan dia melakukan hal itu. Tak ada yang menduga pula bahwa Romeo sudah menggenggam pistol kecil. Pemuda itu berdiri, lalu berlari ke tepi atap gedung.
Romeo melihat ke bawah dan menembakkan pistolnya sebanyak tiga kali.
Carlo buru-buru mendekat dan ikut melongok ke bawah. Ternyata di bagian belakang gedung, terdapat crane berukuran besar. Rupanya, kendaraan berat itulah yang digunakan untuk menjatuhkan bandul besi raksasa, yang tadi hampir saja melukai dirinya dan juga Benigno beserta seluruh orang di dalam sana.
Di dalam kendaraan Crane tersebut terdapat seorang operator yang kini berada dalam posisi tertelungkup. Rupanya peluru Romeo tepat sasaran mengenai pria asing tersebut.
“Kerja bagus, Tuan,” sanjung Carlo tertawa lebar sambil menepuk-nepuk pundak Romeo berkali-kali. Tawanya seketika terhenti saat terdengar suara Miabella yang berseru tertahan. “Astaga, Nona!” Carlo segera menghampiri gadis cantik itu, kemudian melepaskan semua ikatannya.
“Carlo, kau memang penyelamatku!” Tanpa ragu dan malu, gadis itu menghambur ke dalam pelukan dan mendekap tubuh tegap pengawalnya erat-erat. Tak jauh berbeda dengan Carlo. Tanpa rasa sungkan, dia balas memeluk Miabella. Rasa lega yang teramat sangat dia rasakan, karena melihat gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Carlo, bagaimana di sana?" terdengar seruan keras dari Benigno.
__ADS_1
"Semuanya aman, Benigno!" balas Carlo setelah mengurai pelukannya dari Miabella. Sedangkan Romeo hanya memperhatikan mereka berdua dengan tatapan aneh. "Aku senang kau baik-baik saja, Nona. Kita harus segera kembali, karena tuan Adriano dan nyonya Mia sudah menunggu di Casa de Luca," ucap Carlo membuat Miabella seketika terbelalak.