Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
A Kiss from Malibu


__ADS_3

Malibu, kota bernuansa pantai yang terletak di bagian utara Los Angeles, California, Amerika Serikat. Tempat itu menjadi tujuan Adriano dalam perjalanannya dalam rangka membawa Mia dan Miabella untuk menikmati liburan pertama mereka. Sementara Pierre memutuskan untuk tidak ikut. Dia lebih memilih menghabiskan kunjungan kali ini dengan menikmati suasana Florida bersama sahabat lamanya Genaro.


Iklim di Malibu yang hangat, terasa begitu nyaman. Miabella pun terlihat sangat antusias ketika mereka telah tiba di sebuah rumah pantai yang sudah Adriano sewa sebelumnya. Bangunan itu terdiri dari dua lantai dan berbentuk persegi. Ia berada tepat di dekat bibir pantai, dengan pasir berwarna cokelat keemasan yang terlihat sangat bersih. Ombak laut pun sesekali datang dan menyapu ke pinggiran, menghadirkan sensasi yang sungguh luar biasa bagi Mia yang seumur hidupnya hanya menghabiskan waktu dengan melihat kanal dan perkebunan anggur.


“Daddy Zio, aku suka tempat ini!" seru Miabella riang seraya berlarian ke beranda depan. Adalah sebuah bukaan yang menghadap langsung ke laut lepas. Gadis kecil itu berdiri di dekat pembatas. Tubuhnya yang mungil sedikit berjinjit agar dapat melihat pemandangan indah yang terhampar di hadapannya.


Adriano tersenyum melihat ekspresi bahagia yang Miabella tunjukan saat itu. Rasa sayangnya terhadap gadis kecil berambut cokelat tersebut begitu besar. Sesuatu yang sudah dirasakannya dari semenjak Miabella dilahirkan. Diraihnya pinggang kecil putri dari mendiang Matteo de Luca, kemudian diangkat tinggi-tinggi dan dia dudukan di atas pundak sebelah kiri. Miabella pun terlihat sangat senang. “Kau suka laut, Bella?” tanya Adriano.


“Iya. Aku ingin berenang di sana, Daddy Zio,” tunjuk Miabella polos dengan tatapan menerawang. Sepasang matanya yang bulat, tampak bersinar menyambut langit sore yang akan segera datang.


Sementara Mia baru selesai membereskan barang-barang mereka. Sedangkan Olivia terlihat cukup antusias, meskipun baginya sudah bukan merupakan sesuatu yang luar biasa saat melihat suasana pantai, berhubung kampung halamannya pun berada di pesisir laut yang tak kalah indah. Namun, ini pertama kalinya dia mengunjungi negara Amerika yang dulu hanya dapat dia lihat dari berita di televisi.


“Nyonya, apa menu makan malam kita hari ini?” Olivia yang biasanya tak banyak bicara kepada Mia, kini menyapa wanita itu.


Mia yang baru keluar dari kamar segera mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dia mencari keberadaan Adriano dan Miabella yang sedang menikmati matahari senja di lantai dua. “Entahlah, akan kutanyakan kepada Adriano,” jawab Mia dengan senyuman lembutnya. Dia lalu berjalan menuju tangga ke lantai atas. Di sana dirinya menemukan keberadaan putri dan juga sang suami. “Bagaimana untuk menu makan malam hari ini?” tanya Mia sambil berdiri di sebelah Adriano.


Pria itu menoleh dan menurunkan Miabella. “Jika kau tidak lelah, maka kita bisa berbelanja ke swalayan terdekat dan membeli bahan-bahan makanan serta kebutuhan lainnya,” jawab Adriano.


“Aku ingin es krim, Daddy Zio,” pinta Miabella manja.


“Tidak boleh. Sudah terlalu sore untuk makan es krim,” tolak Mia dengan segera, membuat putri kecilnya merengut. Miabella segera memeluk pinggang Adriano. “Ibu sangat menyebalkan,” ucapnya pelan, membuat Adriano tertawa.


“Aku mendengarmu, Bella,” balas Mia gemas.


“Ibumu benar, Sayang. Jika kau ingin makan es krim, maka akan kubelikan besok. Aku berjanji, kita akan makan es krim sama-sama setelah bermain di pantai,” ucap Adriano. Kata-katanya jauh lebih diterima oleh Miabella. Gadis kecil itu menurut. “Ayo, kita keluar sebentar,” ajak Adriano seraya menggendong Miabella beranjak dari


beranda yang segera diikuti oleh Mia.


“Apa kau ingin ikut bersama kami, Olivia?” tawar Mia.


Olivia yang sedang duduk sambil menonton televisi di lantai satu, segera menoleh. “Ikut ke mana?” tanyanya.


“Kita akan berbelanja bahan makanan. Mungkin kau juga ingin membeli sesuatu,” jawab Mia seraya memeriksa tas selempang kecilnya.


"Oh, baiklah," sahut Olivia terlihat antusias.

__ADS_1


Setelah itu, mereka pun keluar dari rumah. Mia berjalan tepat di sebelah Adriano. Sementara Miabella berada di depan, bergandengan tangan dengan Olivia. Keduanya terlihat begitu takjub dengan suasana jalanan di sana yang dipenuhi oleh deretan rumah makan dan juga pertokoan. Adriano mengarahkan ketiganya menuju sebuah swalayan terdekat. Mereka lalu mulai berbelanja aneka bahan makanan dan barang-barang keperluan lainnya. Hingga matahari sudah terbenam, mereka berempat baru kembali ke rumah pantai tadi.


“Aku akan memasak untuk makan malam,” ucap Mia seraya berlalu ke dapur membawa semua belanjaan.


“Biar kubantu, Nyonya,” Olivia segera mengikuti Mia. Dia membantu membereskan semua bahan makanan dan belanjaan lainnya ke dalam lemari es. Sedangkan Adriano menghabiskan waktu sambil menunggu bersama Miabella. Entah apa yang tengah mereka lakukan.


“Sebenarnya aku bingung harus membuat apa. Aku belum pernah memasak menu khas Amerika,” ujar Mia. Sesekali dia menautkan alisnya.


“Aku pernah bekerja di rumah makan sewaktu masih di Piana. Ada banyak turis dari luar negeri termasuk Amerika yang datang ke sana. Aku memang bukan koki di rumah makan itu, tapi sedikit banyak mengetahui menu-menu khas dari luar negeri,” tutur Olivia. Dia tampaknya sudah mulai nyaman berada di dekat Mia. Gadis itu tak terlihat canggung lagi.


“Oh, ya? Itu pasti pekerjaan yang menyenangkan. Aku pun dulu menjaga kedai milik ayahku saat masih tinggal di Venice. Hampir setiap hari kedai kami kedatangan para turis dari dalam maupun luar negeri. Namun, kedai ayahku hanya menyajikan kuliner asli Italia,” Mia menanggapi cerita Olivia. Sebuah senyuman kecil muncul di sudut bibirnya. Sedangkan kedua tangan Mia sibuk menyiapkan beberapa bahan.


“Oh, jadi Anda berasal dari Venice? Aku selalu ingin pergi ke sana. Menurut cerita, Venice adalah kota kecil yang sangat indah dan bernuansa romantis,” ujar Olivia sambil senyum-senyum sendiri.


“Ah, kau benar sekali. Aku menghabiskan sebagian besar hidupku di sana. Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke Venice. Kapan-kapan ... Olivia,” balas Mia pelan. Setelah itu, dia lebih memilih fokus pada bahan makanan yang sudah disiapkannya. Mereka pun saling terdiam dan sibuk dengan tugas masing-masing, hingga beberapa saat kemudian menu makan malam pun sudah tersaji di atas meja makan.


Miabella makan dengan lahap. Tak lama setelah menghabiskan santap malamnya, gadis kecil itu tampak sudah mengantuk. Mia pun segera membawanya ke kamar. “Kau juga beristirahatlah, Olivia. Ini hari yang sangat melelahkan," ucap Mia yang segera ditanggapi dengan anggukan pelan oleh gadis muda itu. Olivia berlalu menuju kamar yang sudah disediakan untuknya. Sekitar satu jam kemudian, Mia telah selesai menidurkan Miabella dan keluar dari kamar. Kebetulan di rumah pantai itu hanya dilengkpai dengan dua kamar tidur, sehingga Miabella tidur di kamar yang sama dengannya dan juga Adriano.


Waktu sudah menunjukan pukul delapan tiga puluh, sedangkan Mia belum merasakan kantuk sama sekali. Lagi pula, terlalu sayang jika dia melewatkan suasana pantai di malam hari. Mia memutuskan untuk menuju beranda yang berada di lantai dua. Namun, langkahnya seketika terhenti ketika dirinya mendapati Adriano tengah berada di sana. Pria itu tampak sedang berdiri menatap lautan lepas berselimut pekat malam. Mia kemudian membalikan badan dan bermaksud untuk kembali. Akan tetapi, suara berat Adriano telah berhasil membuat wanita itu mengurungkan niatnya. “Kenapa, Mia?” tanya Adriano.


“Kemari dan lihatlah. Pemandangannya sangat indah,” ajak Adriano.


Seperti sebuah hipnotis, Mia yang tadinya bermaksud untuk menghindar justru malah menghampiri pria tersebut. Dia berdiri di sebelah Adriano yang saat itu berada dalam posisi setengah membungkuk dan meletakan kedua tangannya di atas pembatas. “Apa Miabella sudah tidur?” tanyanya lagi. Mia segera mengangguk untuk menanggapi pertanyaan itu.


“Makin hari aku semakin menyayanginya. Entah mengapa, karena meskipun dia bukan darah dagingku, tetapi rasanya sangat luar biasa ketika dia memanggilku ‘Daddy Zio’. Miabella seperti sebuah harta karun yang kutemukan tanpa sengaja. Ah, tidak. Dia lebih dari itu,” Adriano tersenyum nanar.


“Dia juga sangat menyayangimu. Kalian bisa akrab dengan sangat cepat,” ujar Mia tanpa menoleh kepada Adriano.


“Apa kau tidak menyukainya, Mia?” Adriano melirik kepada Mia seraya menegakkan posisi tubuhnya.


“Entahlah, aku bingung. Namun, tentu saja aku senang melihat Miabella selalu tampak ceria saat di dekatmu. Ya, dia tak harus mengetahui apa yang terjadi pada ayahnya, meskipun saat itu dia melihat Matteo terkapar di dekat mobil dengan bersimbah darah,” ucap Mia lirih.


Adriano kemudian membalikan badan. Dia menyandarkan sebagian tubuhnya pada pembatas dan menghadap kepada Mia. Ditatapnya wanita cantik yang telah membuat dirinya begitu tergila-gila, tapi terasa begitu sulit untuk dia miliki. “Apa kau akan terus-menerus bersikap seperti ini, Mia? Sampai kapan kau akan meratapi kematian mendiang suamimu? Lambat laun, Miabella akan mengerti dengan keadaanmu yang menyedihkan. Bukankah kau tak ingin gadis kecil itu ikut merasakan penderitaan yang kau alami?”


Mia terdiam sejenak. Tak ingin menjadi pusat perhatian Adriano, dia pun membalikan badan dan mengikuti apa yang Adriano lakukan. Kini mereka berdua sama-sama membelakangi lautan lepas. “Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa pembunuh Matteo, meskipun itu pasti akan sulit," ucap Mia pelan.

__ADS_1


“Terlebih diriku, karena aku ingin menagih janjimu,” balas Adriano dengan dalam.


Mia bermaksud menghindar ketika topik pembicaraan berbelok ke arah perjanjian. Dia memutuskan untuk berlalu dari sana. Namun, dengan segera Adriano berdiri di hadapannya. Pria itu meletakan kedua tangan di sisi kiri dan kanan tubuh Mia yang kembali menyandarkan sebagian tubuhnya pada pembatas.


Adriano yang berpostur jauh lebih tinggi dari Mia, sedikit membungkuk hingga wajahnya berada tepat di hadapan wajah Mia yang lagi-lagi berpaling darinya. “Dengarkan aku, Mia,” ucap Adriano dengan suaranya yang begitu dalam dan terdengar seperti sebuah bisikan. “Aku sudah melakukan banyak hal untuk mencari informasi. Aku bahkan telah membawamu hingga sejauh ini. Apakah itu tidak berarti apa-apa bagimu?”


“Tentu saja aku sangat menghargainya, Adriano,” bantah Mia.


“Dengan cara seperti apa kau menghargaiku?” pertanyaan yang sebenarnya paling enggan untuk Mia jawab.


“Ingat perjanjian kita,” jawab Mia cukup tegas, tanpa berani menatap langsung wajah tampan di hadapannya.


“Kau tenang saja, karena aku tak akan mengingkari perjanjian itu. Namun, apakah kau tak ingin memberiku sebuah imbalan untuk semua waktu, tenaga, dan biaya yang telah kukeluarkan demi mendapatkan informasi dalam usaha mengungkap kasus ini?”


Mia semakin tak ingin membahas hal itu. Dia harus segera menghindari pria di hadapannya. “Maaf, Adriano. Aku sama sekali tak mengerti ....” Mia bermaksud untuk pergi.


Akan tetapi, Adriano kembali menahannya. “Kau tak ingin mengerti bahkan untuk sebuah ciuman kecil sekalipun,” ujar Adriano dengan napas yang menghangat di wajah Mia.


“Apa maksudmu?” Mia memilih untuk menundukan wajahnya.


“Ayolah, Mia. Sekali saja,” pinta Adriano semakin mendekatkan wajahnya kepada Mia. “Biarkan aku menciummu sekali saja. Aku ingin sebuah ciuman hangat seperti yang selalu kau berikan untuk Matteo de Luca,” bujuknya. Sementara Mia tak tahu harus menjawab apa. Kepalanya menggeleng lemah. Dia tak ingin melakukan hal itu. Akan tetapi, dirinya pun tak sanggup untuk menghindar, bahkan ketika Adriano menyentuh dagu dan mengangkat wajahnya perlahan. “Izinkan aku, Florecita Mia ....” ucap Adriano dengan bibirnya yang sudah hampir menyentuh bibir Mia.


Bagaikan terhipnotis, Mia hanya bisa diam dan membiarkan Adriano menyentuh bibirnya, melu•matnya dengan perlahan dan penuh perasaan. Pada awalnya, Mia tak membalas perlakuan pria itu. Namun, lama-kelamaan, wanita tersebut semakin terlena dan seakan lupa dengan segalanya.


Mia membuka mulutnya perlahan dan membiarkan lidah Adriano bergerak dengan semakin leluasa di dalam mulutnya. Untuk sesaat dia kembali tersadar. Mia segera melepaskan ciumannya. Akan tetapi, lagi-lagi dirinya tak dapat menghindar ketika pria bermata biru itu kembali meraih wajah, menangkupnya lembut dan melanjutkan permainan kecil mereka yang sempat terjeda.


🍒


🍒


🍒


Sambil menyimak Adriano dan Mia yang sedang berlibur di Malibu, mampir dulu ke novel ini.


__ADS_1


__ADS_2