
Adriano menghentikan kendaraannya pada halaman salah satu restoran terkenal di Milan. Setelah membantu melepaskan sabuk pengaman dan menurunkan Miabella dari kursi khusus balita, Adriano membawa putri kecilnya itu memasuki bangunan restoran yang terlihat megah dengan gaya romawi. Dia lalu memilih satu meja di balkon lantai dua, sehingga baik Miabella maupun dirinya dapat menikmati pemandangan sekitar kota.
“Itu apa, Daddy Zio?” tanya Miabella antusias, dengan jari telunjuk mungil yang mengarah pada sebuah bangunan kuno. Bangunan itu tepat berhadapan dengan restoran tempat mereka berada.
“Itu namanya Cathedral Square, Principessa. Kita sekarang berada di alun-alun pusat,” jawab Adriano. “Kau lihat yang di sebelah sana?” tunjuknya ke arah bangunan yang memiliki ukuran jauh lebih besar.
“Apa itu?” Miabella yang awalnya duduk, segera berdiri mengikuti arah telunjuk ayah sambungnya tersebut.
“Itu juga katedral yang terkenal dengan nama Duomo di Milano” terang Adriano. Diam-diam, dia juga ikut mengagumi arsitektur gereja terbesar kedua di Italia yang bergaya gotik itu.
“Apakah itu tempat orang-orang berdoa, Daddy Zio?” tanya Miabella polos.
“Betul sekali, Sayang,” jawab pria rupawan itu sambil mencubit pipi balita cantik tadi dengan gemas.
“Ibuku sering mengatakan bahwa ayahku meninggal di depan tempat orang-orang berdoa. Mungkin ayahku meninggal di sana,” Miabella kembali menunjuk katedral megah tersebut.
Adriano terdiam untuk sesaat, lalu ikut menoleh ke arah katedral yang menjadi pusat perhatian Miabella. Dia lalu kembali mengalihkan pandangan pada putri sambungnya tadi, saat gadis kecil itu mencolek punggung tangannya. “Di mana es krimku, Daddy Zio? Kau sudah berjanji padaku,” tagih Miabella dengan nada yang lucu dan menggemaskan.
“Ya, ampun, Bella. Hampir saja aku lupa,” Adriano terkekeh sebelum mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hingga seorang pelayan datang menghampiri sambil menyodorkan buku menu. Miabella yang belum bisa membaca, ikut menirukan tingkah sang ayah. Dia berpura-pura mengeja huruf-huruf di dalam buku menu tersebut.
“Es krim!” serunya nyaring. “Aku pilih es krim!” Miabella mengetuk-ngetukkan jarinya pada gambar mangkok kristal yang penuh dengan es krim beraneka warna.
“Aku juga sama. Es krim dan tambahkan tiramisu,” timpal Adriano.
Pelayan tadi mengangguk dan mulai mencatat pesanan. Dia lalu berpamitan dengan sopan dan pergi sambil membawa kembali buku menu. Tak berapa lama, pesanan mereka datang. Miabella terbelalak ketika ukuran es krim yang datang jauh lebih besar dari yang dirinya lihat digambar buku menu. “Apakah ini untukku semuanya?” mata abu-abu gadis kecil itu berbinar indah, membuat gemas siapa saja yang melihatnya.
“Tentu saja, Sayang,” jawab Adriano seraya terkekeh. “Lihat, aku juga memesan yang sama denganmu,” Adriano mengangkat mangkuk es krimnya sambil tersenyum lebar.
Kehangatan begitu terasa dari meja yang ditempati Adriano bersama Miabella. Sesekali, gelak tawa keduanya terdengar hingga ke salah satu meja yang terletak di sudut balkon. Seorang pria berjas hitam duduk di sana sambil memperhatikan wajah tampan Adriano yang terlihat begitu ceria. Tak ingin menunggu terlalu lama, pria itu bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri meja Adriano.
“Selamat pagi menjelang siang, Tuan D’Angelo,” sapa pria yang tak lain adalah detektif Ignazio Ranieri. “Maafkan aku karena telah mengganggu makan siang Anda,” ucapnya kemudian menoleh pada Miabella. “Astaga, apakah ini putri Matteo de Luca? Dia cantik sekali,” tangan detektif Ignazio terulur, hendak menyentuh pipi gembul Miabella.
__ADS_1
Akan tetapi, gadis kecil itu lebih dulu menghindar dengan turun dari kursinya. Dia lalu menyeret kursi itu hingga berdempetan dengan kursi yang diduduki oleh Adriano. Tak hanya itu, Miabella yang sudah berpindah duduk di samping sang ayah sambung, juga menyembunyikan wajah imutnya di balik lengan Adriano. “Maafkan putriku, Detektif. Dia tak bisa berdekatan dengan orang yang tak dikenal atau dikehendakinya,” ujar Adriano menjelaskan.
“Silakan duduk,” Adriano berdiri dan mempersilakan sang detektif. Setelah detektif Ignazio duduk, barulah dia duduk kembali. Sementara Miabella masih terus menyembunyikan wajahnya. “Bagaimana Detektif? Apakah ada perkembangan?” tanya Adriano yang telah memasang mimik serius.
“Ya. Sudah lumayan banyak informasi yang berhasil kuhimpun. Lionel, atau pria yang bernama asli Melker Eidef Kielman, bukanlah orang sembarangan. Dia merupakan mantan intelijen Amerika yang membelot ke Rusia. Dia kerapkali mengirimkan informasi rahasia ke atase mata-mata pihak Rusia. Sampai pada satu waktu, kedoknya terbongkar lalu dia ditangkap. Saat akan diadili, dia menghilang begitu saja seperti uap. Tak satu pun pihak pemerintah Amerika yang bisa menemukan keberadaannya hingga saat ini," jelas pria berjas itu.
Penuturan dari detektif Ignazio ditanggapi santai oleh Adriano. Dia malah asyik menyendokkan es krim ke mulut Miabella. “Aku sedikit kecewa jika hanya informasi itu yang kau miliki, Detektif. Karena aku pun sudah mengetahui hal tersebut. Aku menginginkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang Anda ceritakan tadi,” balas Adriano datar saat menanggapi semua penuturan sang detektif.
“Oh, jadi Anda sudah mengetahui akan hal itu? Namun, aku yakin Anda pasti akan terkejut jika mendengar bahwasanya dia kembali lagi ke Amerika dengan identitas dan wajah yang berbeda. Itulah kenapa awalnya aku tak dapat menemukan informasi apapun tentang pria bernama Lionel,” terang detektif Ignazio.
“Jadi, dia kembali ke Amerika dengan nama Lionel?” ulang Adriano.
“Tepatnya, Lionel Anderson. Dia mengubah namanya menjadi Lionel Anderson saat masuk kembali ke Amerika. Identitas baru, wajah baru, semuanya baru dan tak terlacak sampai dia mendirikan sebuah organisasi bernama Killer X,” beber detektif Ignazio.
“Killer X?” Adriano kini menghadapkan seluruh tubuhnya pada sang detektif. Saking tertariknya, dia bahkan menyuruh Miabella agar memakan es krimnya sendiri.
“Itu adalah organisasi super rahasia. Seluruh pembunuh bayaran di daratan Amerika, bergabung menjadi satu di sana. Uniknya, setiap orang yang masuk ke sana, mereka harus rela membunuh identitas lamanya. Dalam organisasi itu, mereka mendapat julukan yang sama, yaitu Killer X,” jelas detektif Ignazio berapi-api.
“Mereka berkembang begitu cepat dan sangat berbahaya hanya dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Sampai pada beberapa bulan yang lalu, seseorang menyewa Killer X untuk membunuh senator Amerika. Malangnya, saat melakukan pembunuhan itu, salah seorang Killer X tanpa sengaja telah meninggalkan jejak. Dari situlah akhirnya terungkap sosok seorang pria bernama Lionel Anderson,” tutur detektif Ignazio. “Mereka memburu pria itu, tapi lagi-lagi dia menghilang,” sambungnya.
“Pejabat pemerintah dan petugas federal, terus mencari keberadaan Lionel hingga ke seluruh pelosok Amerika. Namun, mereka semua gagal. Anda tahu kenapa?” detektif Ignaio mengangkat salah satu alisnya.
“Kenapa?” Adriano balik bertanya dengan raut wajahnya yang terlihat sangat penasaran.
“Daddy Zio, es krimmu kumakan juga, ya? Lihat, sudah hampir meleleh,” sela Miabella seraya membenamkan sendoknya pada mangkuk es krim milik Adriano.
“Astaga, habiskan saja, Sayang,” Adriano menggeser mangkoknya ke depan Miabella sambil tertawa geli. Dia anggap itu untuk mengalihkan perhatian bocah kecil tersebut agar dapat bersikap tenang.
“Tentu saja alasannya karena Lionel tidak berada di Amerika. Jawaban yang sangat mudah, bukan? Setelah itu, pihak berwenang Amerika selalu mengirimkan red notice sebanyak-banyaknya pada kepolisian interpol di seluruh dunia,” lanjut detektif Ignazio. “Namun, katanya beberapa hari yang lalu sosok Lionel Anderson sudah terlacak. Bisakah Anda menebak di mana?” tanya detektif Ignazio.
Jantung Adriano berdegup kencang ketika hendak menjawab. Dia berharap agar kali ini instingnya keliru. Namun, Adriano tetap menanggapi pertanyaan dari detektif tadi. “Apakah di Brescia?” Adriano menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
“Tepat sekali. Di alun-alun kota Brescia,” jawab detektif Ignazio dengan pasti.
Wajah Adriano seketika menegang. Dia benar-benar tidak menyukai informasi itu. Terbayang olehnya pada sosok sang istri yang sendirian tanpa dirinya di Casa de Luca. “Principessa, kita harus segera pulang,” ajaknya hati-hari. Beruntung saat itu, Miabella sudah menghabiskan semuanya sajian istimewa hari itu. Dua mangkok es krim dan juga sepiring tiramisu.
“Maaf, Daddy Zio. Aku menghabiskan makananmu semuanya,” bisik Miabella lirih ketika Adriano terbelalak tak percaya, saat melihat ulah putri sambungnya itu.
“Lindungilah orang-orang terdekat Anda, Tuan D’Angelo. Jangan menganggap remeh Lionel Anderson, karena dia memiliki kemampuan bertempur jauh di atas rata-rata,” tegas detektif Ignazio sebelum dia beranjak dari tempat duduknya.
Adriano sempat tertegun untuk beberapa saat, sampai Miabella kembali menyadarkannya. Gadis kecil itu menggerak-gerakkan tangan sang ayah . “Ayo kita pulang, Daddy Zio. Aku sudah siap,” ajaknya.
“Mari, Sayang,” Adriano segera tersadar dan menggandeng Miabella menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir. Setelah mendudukkan Miabella di kursi penumpang khusus dan memasang sabuk pengamannya, Adriano lalu berkata, “Ingat, ya, Principessa. Rahasiakan pertemuan kita dengan pak polisi hari ini. Jangan katakan apapun kepada ibumu," pesan Adriano.
“Polisi yang mana? Aku tidak melihat adanya polisi,” Miabella menggeleng kuat-kuat.
“Pria yang tadi duduk di meja kita adalah pak polisi, Bella,” ujar Adriano.
“Oh, jadi dia polisi? Kenapa dia tidak memakai seragam polisi? Kenapa dia malah berpakaian sama seperti kau, Daddy Zio?” cecar Miabella tanpa henti.
“Karena dia sedang menyamar, Principessa,” jawab Adriano yang sedikit bingung. Entah keputusannya menjelaskan tentang siapa detektif Ignazio kepada Miabella adalah benar atau justru keliru. Satu yang pasti, Adriano sudah mulai kehilangan konsentrasi. Dia pun segera berpindah ke belakang kemudi. Mobil mewah itu akhirnya melaju membelah jalanan kota Milan, menuju perkebunan de Luca.
Sesampainya di sana, Mia sudah menunggu cemas di teras depan bangunan Casa de Luca. Wanita cantik itu berjalan dengan setengah berlari menyambut Miabella yang lebih dulu diturunkan oleh Adriano. “Bagaimana jalan-jalannya? Apakah kau bahagia hari ini?” Mia menyentuh ujung hidung Miabella dengan gemas.
“Senang sekali, Bu. Aku makan es krim banyak. Milik daddy zio juga kumakan,” celotehnya riang. Mendengar penuturan putrinya, Mia langsung menatap tajam pada Adriano yang seakan menuntut jawaban.
Seketika Adriano yang berdiri di belakang Miabella terperanjat, lalu meringis. “Aku lupa pesanmu untuk tidak memesan es krim dalam jumlah banyak, Sayang,” kilahnya.
“Daddy Zio juga bertemu dengan seseorang, Bu!” celetuk Miabella lagi. Adriano langsung menepuk dahinya.
“Oh, ya? Siapa sayang? Laki-laki atau perempuan?” sorot mata Mia yang sempat meredup, kini kembali nyalang menatap Adriano dengan sorot marah.
“Laki-laki, Bu,” jawaban Miabella membuat wanita cantik itu tersenyum kecil seraya bernapas lega, “tapi dia seorang polisi,” lanjut balita cantik itu lagi.
__ADS_1
Sontak Mia kembali membulatkan mata indahnya, kemudian bersedekap tanpa senyum pada Adriano yang hanya bisa menggaruk kening sambil tertunduk.